بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-6
🎙️ Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
📗 | Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
🗓️ Al-khor, Sabtu, 19 Sya’ban 1447 / 7 Februari 2026
📗 | https://shamela.ws/book/9260/1546#p1



٥٥- باب فضل الزهد في الدنيا والحث على التقلل منها، وفضل الفقر

Bab 55: Keutamaan Zuhud Terhadap Kenikmatan Dunia Dan Perintah Untuk Hidup Sederhana Serta Keutamaannya

📖 Hadits ke-6/462: Hanya Sekali Celupan ke Neraka dan Surga

 

٦/٤٦٢- وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يُؤْتِيَ بَأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّه يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةُ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا، وَاللَّه، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ، وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

  1. Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:

“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’

Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.’

📃Pengesahan Hadits

Diriwayatkan oleh Muslim no. 2807.

📃 Kosa Kata Hadits

  • Makna أَنْعَمُ أَهْلِ الدُّنْيَا : Yang paling banyak mendapat kenikmatan dan kekayaan dunia.
  • Makna يُصْبَغُ : Dicelupkan/dimasukkan.
  • Makna بُؤْسًا : Kemiskinan dan penderitaan.

📃 Penjelasan:

Makna hadits ini: Pada hari kiamat nanti akan ada penghuni neraka yang ketika di dunia ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya, lalu ia dicelupkan ke dalam Jahannam sehingga ia pun terkena panasnya, nyalanya, anginnya yang membuatnya melupakan kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya.

Saat itulah Tuhannya bertanya kepadanya, sedangkan Dia sendiri lebih mengetahui keadaannya. “Apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?” Orang itu menjawab, “Tidak demi Allah, wahai Tuhanku.”

Sebaliknya, akan didatangkan seorang penghuni surga yang merupakan penduduk dunia paling sengsara, paling melarat, fakir dan membutuhkan, lalu ia dicelupkan di surga satu kali celupan sehingga dia melupakan kondisi yang pernah terjadi di dunia berupa keletihan, kesengsaraan, kesusahan, kefakiran dan kepayahan, saat dirinya mendapatkan kelezatan dan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan.

Saat itulah Tuhannya bertanya kepadanya, sedangkan Dia sendiri lebih mengetahui keadaannya. Dikatakan kepadanya, “Hai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan suatu kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan suatu penderitaan?” Orang itu menjawab, “Tidak demi Allah, aku tidak pernah merasakan suatu penderitaan pun yang menghampiriku dan aku pun tidak melihat suatu kesengsaraan pun”.

Ada di antara kita yang sangat senang dan menikmati dunia sampai lupa akhirat. Ada juga yang sedang merasakan beratnya dunia akan tetapi hatinya terhibur dengan surga.

Renungkan benar-benar dan sadarlah…

Manusia yang paling merasakan nikmat di dunia kemudian dicelupkan sekali saja ke neraka, ia berkata: TIDAK PERNAH merasakan nikmat sedikit pun.

Manusia yang paling sengsara di dunia kemudian dimasukkan surga sekali celupan, ia berkata: TIDAK PERNAH merasakan sengsara sedikit pun.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بشر

“Allah ﷻ berfirman: Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.” (HR Muslim)

Apakah kita akan menukarkan sesuatu yang tinggi (akhirat) dengan sesuatu yang rendah (dunia)?

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al-Baqarah: 61).

Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka sangat semangat mencari akhirat. Mereka saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga sebagian mereka yang miskin iri kepada golongan kaya mereka; bukan karena ingin menguasai harta, bermegah-megah, dan menikmati kekayaan. Tetapi iri mereka karena mereka tidak mampu bersedekah dan beramal besar yang butuh modal harta banyak. Niat mereka dengan harta tersebut untuk memperoleh pahala besar sebagai modal masuk surga.

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu,

ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ

Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan kepada mereka ada jalan lain untuk mendapatkan pahala sedekah,

أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih (suhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Al-hamdulillah) adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah s sedekah“. (HR. Muslim)

Semoga kita semua mendapatkan hidayah, taufik, dan kasih sayang Allah.

💡 Faedah Hadits:

  1. Dunia dengan segala kenikmatan dan penderitaannya akan berakhir dan musnah.
  2. Orang-orang non-Muslim yang mendapatkan kenikmatan di dunia akan menjadi orang-orang sengsara di akhirat kelak.
  3. Pemberian kenikmatan oleh Allah ü kepada para pelaku kerusakan di dunia bukan merupakan tanda cinta, tetapi hanya sekadar proses dan tahapan pemberian kebaikan terhadap mereka, sehingga apabila mereka bertemu dengan-Nya, maka mereka tidak akan memperoleh bagian kecuali adzab saja.
  4. Kenikmatan Surga menjadikan orang-orang yang beriman, bersabar, dan berkeyakinan lupa akan penderitaan dan kesengsaraan dunia.

 

📖 Hadits ke-7/463: Perbandingan Dunia dengan Akhirat

٧/٤٦٣- وَعَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بنِ شدَّادٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Daripada Al-Mustaurid Syaddad radhiyallahu‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perbandingan antara dunia dan akhirat, hanyalah seperti seseorang di antara kamu semua yang memasukkan jari-jarinya ke dalam lautan, maka perhatikanlah apa yang dapat dia perolehi?”

📃Pengesahan Hadits

  • Shahih Muslim no. 2858.

Perawi Al-Mustaurid Syaddad radhiyallahu‘anhu merupakan sahabat kecil, yang hanya meriwayatkan 7 hadits saja.

📃 Kosa Kata Hadits

  • Makna الْيَمُّ : Laut.
  • Makna بِمَا يَرْجِعُ: (Air) yang menempel pada jari itu.

📃 Penjelasan:

Makna hadis ini: Jika engkau ingin mengetahui hakikat dunia bila dibandingkan akhirat, maka letakkan jari telunjukmu ke lautan, kemudian angkatlah, lalu lihat apa yang masih tersisa (di telunjukmu)?!

Tidak ada artinya air yang tersisa dibandingkan lautan itu. Inilah arti dunia dibandingkan dengan akhirat dari sisi masanya yang pendek dan kelezatannya yang fana, serta kelanggengan akhirat dan kenikmatannya; hanya seperti air yang melekat pada telunjuk dibandingkan air laut yang tersisa.

Ingatlah hadits berikut, untuk membuktikan bahwa dunia tidak ada artinya. Yaitu Keutamaan shalat sunnah subuh yang secara khusus disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).

 

Allah -Ta’ālā- berfirman,

فَمَا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Maka tidaklah nikmat kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit.”  [Surat At-Taubah Ayat 38].

Sehingga, seluruh kenikmatan dan kelezatan dunia yang diberikan kepada seluruh makhluk, dinikmati oleh hamba dalam waktu singkat, diliputi dengan kekurangan dan dipenuhi oleh kekeruhan; digunakan manusia berhias dalam masa yang sebentar demi kesombongan dan ria, lalu ia akan binasa dengan cepat dan diikuti dengan kerugian dan penyesalan. “Dan apapun yang diberikan kepada kalian, maka (itu) hanyalah nikmat kehidupan dunia dan perhiasannya, dan apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan abadi. Tidakkah kalian menggunakan akal kalian?” Maka apa yang ada di sisi Allah berupa kenikmatan abadi, kehidupan yang menyenangkan, istana dan kegembiraan, itu lebih baik dan abadi; baik kualitas dan kuantitasnya. Ia kekal untuk selamanya.

💡 Faedah Hadits:

  1. Dunia ini tidak akan dapat memperdaya orang-orang yang berakal, akan tetapi dunia hanya bisa memperdaya orang-orang yang bodoh. Ketahuilah bahwasanya kenikmatan yang betebaran di dunia sedikit sekali apabila dibandingkan dengan kenikmatan yang kelak ditemui di akhirat, setelah ditegakkan hari Kiamat.
  2. Diperbolehkan bagi kita memperumpamakan sesuatu yang bersifat hissi atau inderawi (terkait panca indera) dengan tujuan memberi pemahaman kepada makna yang abstrak.

 

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم