ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Kajian Kitab Masail Jahiliyah (Perkara-perkara Jahiliyah)
Karya: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pemateri: Ustadz Isnan Efendi, Lc. MA. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 46: 21 Rajab 1447 / 10 Januari 2026
Telah berlalu pembahasan mengenai Masail Jahiliyah pada pertemuan sebelumnya : Masalah Ke-63, Ke-64 Ke-65, Ke-66, dan Ke-67: Mereka Menuduh Ahlul Haq Dengan Tuduhan yang Mereka Sendiri Berlepas Diri Darinya
Mereka menuduh ahli kebenaran dengan julukan-julukan yang buruk, menjuluki mereka sebagai perusak di muka bumi sebagaimana disebutkan dalam ayat, juga menuduh sebagai orang yang menghina agama Raja dan tuhan-tuhanya serta tuduhan mengganti agama.
📃 Penjelasan:
Diantara manhaj Jahiliyah yaitu mereka tidak hanya mengadu kepada penguasa dan pihak yang berwenang. Bahkan mereka menjuluki orang yang beriman dengan julukan para perusak di muka bumi. Sebagaiman mereka katakana kepada Fir’aun :
أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
” Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)?”. (QS. alA’raf : 127 ).
Mereka menyebut perbaikan sebagai perusakan. Padahal yang benar adalah sebaliknya. Sesungguhnya iman dan tauhid merupakan perbaikan di muka bumi, dan sesungguhnya kekufuran, kemaksiatan, kezaliman dan kesewenang-wenangan merupakan perusakan di muka bumi. Maka yang di jalankan oleh Musa dan pengikutnya merupakan perbaikan dan yang di jalankan oleh Fir’aun dan pengikutnya merupakan perusakan. Akan tetapi mereka memutarbalikan masalah. Mereka menyebut perbaikan sebagai perusakan, ini merupakan cara orang-orang kafir, kaum musyrik, dan kaum munafik selalu seperti itu. Mereka menyebut orang-orang yang melakukan perbaikan dan berdakwah kepada Allah di atas ilmu serta menyebut orang-orang yang beriman, bertauhid, yang mengajak agar mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya dengan sebutan perusak di muka bumi.
Ini merupakan perkara yang selalu berlangsung pada umat manusia hingga hari kiamat. Orang kafir, orang zalim dan para thagut menyebut orang-orang baik dengan sebutan para perusak.
Silakan merujuk pada recording pertemuan sebelumnya :
Masalah Ke – 68: Mereka Memuji Diri Sendiri Dengan Sesuatu yang Tidak Mereka Miliki
Mereka mendakwa telah melakukan kebenaran, sebagaimana perkataan mereka:
نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا
“Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. (QS. al-Baqarah : 91).
Padahal mereka meninggalkan kebenaran tersebut.
📃 Penjelasan:
Diantara perkara Jahiliyah yaitu pengakuan Yahudi yang telah menjalankan kebenaran yang mereka miliki padahal mereka meniggalkan kebenaran tersebut. Sebagaimana firman Allah :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”
( QS. al-Baqarah : 91 ).
“kepada apa yang diturunkan kepada kami”, disebutkan maknanya adalah dengan apa-apa yang diturunkan kepada para Rasul kami dari para Nabi bani Israil, karena ayat ini turun pada kaum Yahudi: “mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami “; yakni apa yang diturunkan kepada Bani Israil. Padahal apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad tidak menyelisihi apa yang dibawa oleh para Rasul; ” dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya “; yakni kufur kepada selainnya yang diturunkan kepada Isa dan Muhammad; ” sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka”.( QS. al-Baqarah : 91 ).
Maka apa yang diturunkan kepada Isa dan Muhammad sesuai dengan kebenaran yang dibawa oleh para Nabi, sekaligus menjelaskan perubahan, kedustaan dan kesesatan yang mereka masukkan ke dalam kitab mereka, ini dari satu sisi.
Dari sisi yang lain, mereka tidak jujur dalam perkara ini, dengan bukti mereka melakukan kejahatan yang disebutkan dalam firman Allah ketika membantah mereka:
قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ
” Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?. Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim “. ( QS. al-Baqarah : 91 – 92 ).
Ini ayat membantah mereka. Maka Allah membantah mereka dengan dua bantahan ;
- Pertama : bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad tidak bertentangan dengan yang dibawa oleh Musa, yaitu mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dengan ibadah serta meniggalkan ibadah selain-Nya, bahkan membenarkannya.
- Kedua : Bahwa mereka tidak jujur dengan pengakuan mereka sebagai orang yang beriman dengannya, karena mereka menyembah anak sapi serta membunuh para nabi. Dan perkataan mereka:
سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا
“Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. ( QS. al-Baqarah : 91 – 92 ).
Serta mereka tidak memenuhi janji yang telah mereka ikrarkan. Ini mencakup semua fanatisme yang tercela, yaitu orang yang mengatakan : ” saya tidak beramal kecuali sesuai dengan madzhab saya atau sesuai denga imam saya, karena wajib bagi seorang muslim mengikuti kebenaran pada madzhabnya atau madzhab yang lain, bersama imamnya atau tidak, ia harus menerima kebenaran dan jangan fanatik dengan fanatik yang tercela.
*****
Masalah Ke – 69 dan Ke – 70: Menambah dan Mengurangi Ibadah Yang Telah Disyariatkan Oleh Allah
Mereka menambah-nambah dalam ibadah seperti yang mereka lakukan pada hari Asyura, serta mengurangi ibadah seperti meniggalkan wukuf di Arafah.
📃 Penjelasan:
Adapun penambahan mereka dalam ibadah yaitu sebagaimana yang mereka lakukan pada hari Asyura, hari ke sepuluh bulan Muharram, yang di dalamnya telah terjadi perstiwa besar, yaitu tenggelamnya Fir’aun beserta bala tentaranya, serta selamatnya Musa beserta para pengikutnya. Hari itu adalah hari kemenangan hak dari kebatilan, serta Musa berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah, dan puasa ini tetap disyariatkan bagi umat Islam, karena ketika Nabi hijrah ke Madinah ia mendapati Yahudi berpuasa pada hari itu. Kemudian Nabi bertanya kepada mereka : ” Kenapa kalian berpuasa ? “, mereka menjawab : ” Karena pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta membinasakan Fir’aun dan balatentaranya, musa berpuasa pada hari ini maka kamipun berpuasa”. Maka Nabi berkata : ” kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian “. Maka Rasulullah pun berpuasa dan memrintahkan ( sahabat ) untuk berpuasa, serta memerintahkan untuk berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya untuk menyelisihi Yahudi.
Inilah yang disyariatkan pada hari Asyura, yaitu berpuasa. Akan tetapi kamu jahiliyah memberikan tambahan terhadap puasa. Yahudi menjadikannya sebagai hari untuk menghiasi rumah mereka, anak-anak mereka serta istri-istri mereka. Mereka menganggapnya sebagai hari raya. Mereka menambahkan sesuatu diluar syariat, maka penambahan terhadap puasa pada hari Asyura termasuk agama jahiliyah.
Demikian juga Rafidhah, sebagaimana yang mereka lakukan pada ibadah haji, dahulu pada masa jahiliyah mereka melakukan ibadah haji karena termasuk agama Ibrahim alaihissalam. Akan tetapi mereka memasukkan istilah-istilah syirik dalam haji, karena Allah mensyariatkan wukuf di Arafah namun mereka tidak melakukannya, akan tetapi mereka wukuf di Muzdalifah, ini merupakan pengurangan dalam ibadah. Tatkala Nabi melakukan haji mereka mengira beliau akan wukuf bersama mereka di Muzdalifah, namun Nabi melewatinya dan wukuf di Arafah dan mengembalikan cara ibadah haji menurut millah Ibrahim alaihissalam. Allah taala berfirman :
ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak “. (QS. al-Baqarah : 199 ).
Yakni dari Arafah. Ayat ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrikin yang wukuf di Muzdalifah. Mereka juga memberi tambahan dalam Talbiyah ucapan :
إلا شريكاً هو لك. تملكه وما ملك
“Kecuali sekutu milikmu yang Kau miliki dan dia miliki”.
Demikianlah, siapa saja yang mengurangi suatu ibadah maka termasuk agama jahiliyah. Demikian pula yang menambah-nambah dalam agama maka ia di atas agama jahiliyah, maka bid’ah dan khurafat termasuk agama jahiliyah.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

