بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-13
🎙️ Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
📗 | Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
🗓️ Al-khor, 9 Syawal 1447 / 28 Maret 2026
📗 | https://shamela.ws/book/9260/1546#p1



٥٥- باب فضل الزهد في الدنيا والحث على التقلل منها، وفضل الفقر

Bab 55: Keutamaan Zuhud Terhadap Kenikmatan Dunia Dan Perintah Untuk Hidup Sederhana Serta Keutamaannya

📖 Hadits ke-13/469: Belajar dari Kesederhanaan Ahlus Shuffah

 

١٣/٤٦٩- وعنه رضي الله عنه قال: لقد رأيت سبعين من أهل الصفة، وما منهم رجل عليه رداء؛ إما إزار، وإما كساء، قد ربطوا في أعناقهم، فمنها ما يبلغ نصف الساقين، ومنها ما يبلغ الكعبين، فيجمعه بيده كراهية أن ترى عورته” رواه البخاري.

13/469. Dan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh aku pernah melihat tujuh puluh orang dari kalangan Ahlus Shuffah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenakan ridā’. Pakaian mereka hanyalah izār atau kisā’ yang diikatkan di leher-leher mereka. Di antara pakaian itu ada yang panjangnya hanya sampai pertengahan betis, dan ada pula yang sampai ke kedua mata kaki. Maka salah seorang dari mereka menggenggam pakaiannya dengan tangannya, karena khawatir auratnya terlihat.”

(HR. Shahih al-Bukhari, no. 442).

📃 Kosa Kata Hadits

  • Ridā’ (رداء): pakaian yang hanya menutupi bagian atas tubuh.
  • Izār (إزار): pakaian yang menutupi bagian bawah tubuh, dari pusar hingga ke betis atau mata kaki. (sarung).
  • Kisā’ (كساء): sehelai kain yang digunakan dengan cara dililitkan pada tubuh.

📃 Penjelasan:

Shuffah adalah sebuah tempat di bagian belakang Masjid Nabawi, yang diberi naungan, dan disiapkan sebagai tempat tinggal bagi para pendatang (orang-orang asing) yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki keluarga. (Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 6, hlm. 595).

Ash-Shuffah—dengan shadd berharakat ḍammah dan fā’ bertasydid—adalah sebuah tempat berteduh yang berada di bagian belakang Masjid Nabi ﷺ. Tempat ini menjadi hunian bagi orang-orang miskin dan para pendatang (gharīb). Kepada tempat inilah dinisbatkan nama Ahlus Ṣuffah, menurut pendapat yang paling masyhur di kalangan para ulama.

Adapun para sahabat dari kalangan Muhājirīn, mereka biasanya tinggal di rumah orang-orang yang telah mereka kenal di Madinah. Sementara itu, siapa saja yang tidak memiliki kenalan sebelumnya dari kalangan Anṣār, maka ia tinggal di Masjid Nabawi.

Jumlahnya bervariasi, kadang 10 kadang 20, dan kadang 30. Pada hadits ini, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menjelaskan ada 70 orang.

Ahlus Shuffah adalah orang-orang fakir dari kalangan kaum Muhajirin. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Hal itu karena mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan miskin, tidak memiliki keluarga dan tidak pula harta. Maka dibangunlah untuk mereka sebuah shuffah di bagian belakang Masjid Rasulullah ﷺ, lalu mereka pun dikenal dengan sebutan Ahlus Shuffah. (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, jilid 3, hlm. 340).

Tragedi Sumur Ma’unah

Tragedi Sumur Ma’unah (4 H/625 M) adalah pembantaian sekitar 70 sahabat penghafal Qur’an (Qurra’) utusan Nabi Muhammad ﷺ di Najd oleh Bani Sulaim, dipimpin oleh Amir bin Thufail. Pengkhianatan ini terjadi setelah jaminan keamanan dilanggar, membuat Rasulullah ﷺ sangat berduka dan melakukan Qunut Nazilah selama sebulan.

Sekitar 70 sahabat, dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amr, dibunuh di Sumur Ma’unah. Sebagiannya merupakan Ahlu suffah.

Peristiwa ini merupakan salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah dakwah Islam di masa Nabi Muhammad ﷺ.

Kesabaran Ahlus Shuffah

Mereka datang bukan untuk dunia, mereka hijrah untuk menghindari kaum musyrikin dan belajar agama dengan kondisi yang sangat miskin.

Hingga pakaian mereka pun seadanya, hingga hanya mencukupi menutup auratnya. Sementara mereka makan seadanya, hingga suatu saat timbul kisah mukjizat air susu Nabi ﷺ yang mencukupi semuanya. Makanan mereka kebanyakan dari uluran sedekah kaum Anshar.

Tidak ada hasad pada diri mereka. Allah Ta’ala telah memuji mereka di dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman:

لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah: 273)

As-Sudi, Mujāhid, dan ulama lainnya berkata: yang dimaksud dengan orang-orang fakir dalam ayat ini adalah fakir miskin dari kalangan kaum Muhājirīn, baik dari Quraisy maupun selain mereka. Kaum fakir dari kalangan Muhājirīn disebutkan secara khusus karena pada masa itu tidak ada fakir miskin selain mereka, dan merekalah yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah.

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

💡 Faedah Hadits:

1. Bolehnya menggunakan satu pakaian.
2. Seorang mukmin wajib berusaha untuk menutup auratnya.
3. Bolehnya laki-laki tinggal di masjid.
4. Zuhudnya Ahlus Suffah yang hanya untuk menuntut ilmu dan berjihad.

  • Bukan maksudnya meniru Ahlus Suffah adalah dengan makan atau berpakaian seadanya, padahal secara materi dia mampu.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم