Artikel Islam
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Kumpulan video kajian dari beberapa asatidzah salaf yang layak kita ikuti dan dengarkan sebagai penambah ilmu agama kita.
Download materi e-book, media dan lainnya sebagai bahan referensi.
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Kitabnya Madarijus Salikin berkata: kecintaan kepada Allah ﷻ bagi para wali-Nya, nabi-nabiNya dan rasul-rasulNya adalah sifat tambahan dari kasih sayangNya, kebaikan-kebaikanNya dan juga pemberian-pemberianNya. Ini adalah dampak atau efek dari kecintaan tersebut. Maka tatkala Allah ﷻ mencinta mereka, mereka akan memperoleh rahmat-Nya, cintaNya dengan sempurna.
📖 Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
قَالَ الله تَعَالَى: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [آل عمران: 31]،
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah -wahai Muhammad-, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah saya, tentu engkau semua dicintai oleh Allah, serta Allah mengampuni dosamu semua dan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Ali-Imran: 31)
Ayat ini dinamakan ayat ujian, karena hati itu ketika mengaku cinta kepada Allâh, maka Allah ﷻ menurunkan ayat ini sebagai ujian. Untuk membedakan mana yang jujur dan yang mengaku saja.
Jika dia mengikuti Nabi ﷺ maka menunjukkan kebenaran yang ada padanya. Kalau seseorang mencintai Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan mencintainya. Inilah buah yang sangat besar, jika kita mencintai Nabi-Nya maka Allah ﷻ akan mencintai kita.
Pada ayat ini ada isyarat tentang cinta, buahnya dan faedahnya. Maka bukti dan cinta itu adalah ittiba kepada Nabi ﷺ. Faedahnya adalah cinta Allah ﷻ pada kalian. Maka seseorang yang ingin menunjukkan cintanya kepada Allah ﷻ, dia harus mencintai Rasulullah ﷺ, konsekuensinya Allah ﷻ akan mencintainya.
Ukuran kebaikan adalah sempurna di akhir bukan kurangnya di awal. Dalam sebuah riwayat disebutkan,
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607).
Begitu banyak ampunan di bulan Ramadhan, sehingga apabila ada yang tidak diampuni di bulan Ramadhan maka benar-benar “keterlaluan” jeleknya. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa orang yang tidak diampuni di bulan Ramadhan akan mendapatkan celaka dan kerugian yang besar.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” [HR. Ahmad, shahih]
Maka masuk sepertiga Ramadhan hendaknya lebih bersungguh-sungguh dalam mengisi amaliah di akhir Ramadhan, karena keutamaan Ramadhan yang paling besar adalah di sepuluh hari terakhirnya. Karena pada malam-malam akhir terdapat malam Lailatul Qadar.
Dalam hadits disebutkan,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Peranan Aqidah yang Benar dalam Islam
Aqidah adalah perkara yang urgent, karena berbicara tentang Allah ﷻ, Nabi-Nya dan hal-hal ghaib yang menjadi sebab keberuntungan seorang muslim.
1. Manusia dan jin diciptakan untuk beribadah.
Inilah tujuan penciptaan manusia yang Allah jelaskan dalam firmanNya:
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُون
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. [Adz Dzaariyaat/51:56].
Ibnu Abbas 𝓡𝓪𝓭𝓱𝓲𝔂𝓪𝓵𝓵𝓪𝓱𝓾’𝓪𝓷𝓱𝓾 mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Yakni kecuali untuk beribadah.
2. Tujuan Diutusnya para Nabi dan Rasul untuk Menyampaikan Aqidah.
▪️ Membenarkan aqidah yang shahih
▪️ Menyampaikan syari’at Allah kepada manusia dan menjelaskan aqidah yang shahih dari aqidah yang salah.
Dakwah kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah merupakan dasar dan jalan dakwah para rasul seluruhnya, sebagaimana dikhabarkan Allah dalam firmanNya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu. [An Nahl/16 :36].
Amalan jika bertepatan dengan waktu atau tempat tertentu, bulan yang mulia atau tempat yang mulia maka nilainya spontan akan naik nilainya.
Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallahu ta’ala dalam kedua kitab shahihnya dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ, , أ تدرى ما حقهم عليه ؟) قال : الله و رسوله أعلم, قال : (أن لا يعذبهم) و فى لفظ لمسلم : ( و حق العباد على الله عز و خل أن لا يعذب من لا يشرك به شيأ )
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (dan) tahukah engkau hak hamba terhadap Allah ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “Dia tidak akan mengadzab mereka”,
Dan dalam lafadz Imam Muslim : “bahwasanya Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya”.
Pintu-pintu Kebaikan
Suatu hari Muadz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang amal perbuatan yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka… Sampai pada nasehat Rasulullah ﷺ: Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam.” Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla , “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka, tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah/32:16-17) (HR. at-Tirmidzi)”
Karakter manusia berbeda-beda, ada yang terlalu serius dan ada yang suka riang dan bercanda. Jika terlalu kaku atau serius hendaknya membuka diri agar hidup lebih rileks dan segar. Ibarat garam dalam makanan, maka yang terlalu banyak bercanda, hendaknya dikurangi agar tidak berlebihan.
Tujuan-tujuan Bercanda
▪️ Menyegarkan suasana.
▪️ Menimbulkan senyuman dan rasa bahagia.
▪️ Mempermudah meluluhkan hati orang lain agar tunduk dan taat. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.
▪️ Mengobati hati yang lemah, terutama wanita dan anak-anak.
▪️ Meningkatkan semangat beraktivitas dan meningkatkan kemampuan menanggung beban hidup.
Rasulullah ﷺ juga Bercanda
Sebagai manusia biasa, kadang kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.
Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu anha. Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum. [Tafsir Ibnu Katsir]
Berbicara masalah aqidah adalah sesuatu yang sangat penting. Apabila disebut bahasan aqidah maka mencakup keseluruhan amalan hati.
Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan. Yaitu keyakinan yang kokoh akan sesuatu, tanpa ada keraguan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Adzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Ibadah kepada Allah ﷻ inilah inti aqidah. Dan ilmu aqidah merupakan ilmu yang paling utama.
Ilmu tentang aqidah merupakan ilmu yang sangat mulia, karena ilmu aqidah membahas tentang dzat Allâh Azza wa Jalla, sifat-sifat-Nya, hak-Nya untuk diibadahi, dan yang berkaitan dengannya. Al-Bazdawi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kemuliaan dan keagungan suatu ilmu tergantung pada apa yang diilmui, dan tidak ada yang lebih besar daripada dzat Allâh Azza wa Jalla dan sifat-sifatNya yang dibahas oleh ilmu (aqidah) ini”. (Kasyful Asrâr, 1/8).
Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]
Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!
Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.