Artikel Islam
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Kumpulan video kajian dari beberapa asatidzah salaf yang layak kita ikuti dan dengarkan sebagai penambah ilmu agama kita.
Download materi e-book, media dan lainnya sebagai bahan referensi.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid Syarah Riyadhus Shalihin Bab 53-1 🎙 Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱. 📖 Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱. 🗓 Al-khor, 14 Rabi’ul Awal 1447 / 06 September 2025 ٥٣ ـ باب الجمع بين الخوف والرجاء Bab 53: Mengumpulkan Khauf […]
Jika seorang hamba selamat dari fitnah syubhat dan syahwat, maka ia telah memperoleh dua tujuan yang agung, yang keduanya merupakan sumber kebahagiaan, kemenangan dan kesempurnaannya. Dua hal itu adalah petunjuk dan rahmat.
Dalam firman-Nya di atas, Allah menghimpunkan untuk hamba-Nya tersebut dua hal sekaligus, rahmat dan ilmu. Hal itu sama dengan ucapan para penghuni gua, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan berikanlah kepada kami ar-rusyd dalam urusan kami (ini).” (AlKahfi: 10).
Ar-Rusyd dalam ayat di atas berarti ilmu yang bermanfaat dan diamalkan. Di samping itu, ar-rusyd dan al-huda, jika disebutkan secara terpisah, maka masing-masing mengandung makna yang lain. Sedang jika disebutkan secara bersama-sama, maka al-huda berarti ilmu yang bermanfaat, sedang ar-rusyd adalah pengamalan daripadanya.
Keyakinan yang benar tentang tauhid asma’ wa shifat ini dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri dan juga yang Rasulullah tetapkan untuk Allah tanpa melakukan tahrif, ta’thil, tamtsil, dan takyif “ (Al-‘Aqidah Al-Waasitiyyah). Dalam menetapkan sifat Allah, kita dilarang melakukan tahrif, ta’thil, tamtsil, dan takyif.
Dan aqidah salaf menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah lafadz dan maknanya yang diketahui, yang tidak ditetapkan adalah kaifiatnya (caranya), sebagai contoh Allah ﷻ beristiwa, memiliki lafadz dan maknanya berdiam di suatu tempat yang tinggi, tetapi tidak menetapkan kaifiatnya.
Demikian juga sifat Allah ﷻ Nuzul yang mengandung makna turun, tetapi Wallohu’alam kita tidak menjelaskan bagaimana cara turunnya. Menetapkan makna tidak berarti menetapkan kaifiatnya (caranya), karena Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 11: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
Pengingkaran dalam sifat seperti dalam firman Allah ﷻ:
وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيراً مِمَّا تَعْمَلُونَ
“akan tetapi kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan “. (QS. Fussilat : 22 ).
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan sifat yakni sifat Allah yang ditetapkan untuk dirinya. Ilhad secara bahasa artinya: menyimpang (miring) dari istiqamah. (seperti halnya liang lahad yang artinya miring dalam kuburan).
Ilhad yang dimaksud dalam hal ini yaitu penyimpangan dalam sifat Allah ﷻ dari pemahaman yang benar yang sudah tetap, diantaranya meniadakan sifat tersebut dari Allah ﷻ. Maka, meniadakan sifat merupakan ilhad ( pengingkaran ), karena miring dari kebenaran dan menyimpang darinya. Kaum jahiliyah mengingkari sifat-sifat Allah, yakni mereka menolaknya dan meniadakannya dari Allah. Dalilnya adalah firman Allah:
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلا أَبْصَارُكُمْ وَلا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيراً مِمَّا تَعْمَلُونَ
“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (QS. Fussilat : 22 ).
Dari Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku mengampunkan dosa yang telah kamu lakukan, dan Aku tidak peduli berapa pun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon keampunan kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu mengharap kepada-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku, maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya itu.”
[HR. At-Tirmidzi no. 3540 Shahih Lighairihi karena banyak hadits penguat lainnya, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Sahihul Jami no. 4338 dan As-Sahihah no. 127
Dalam Mendekatkan Diri kepada Allah, Mereka Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram. Beribadah dengan mengharamkan yang halal, sebagaimana mereka beribadah dengan kesyirikan.
Termasuk perkara jahiliyah yaitu ibadah mereka, yakni mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mengharamkan perkara yang diewajibkan Allah ﷻ. Mereka mengharamkan menutup aurat dalam thawaf sebagaimana kondisi orang-orang musyrik dahulu.
Menjadikan Ulama dan Ahli Ibadah Sebagai Sesembahan Selain Allah ﷻ: Beribadah dengan menjadikan para pendeta sebagai Tuhan-tuhan selain Allah.
Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]
Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!
Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.