Bismillah
Daurah Qatar Ke-29 | Pertemuan Ke-10
- Tema: Manfaat Sisa Umur
- Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafidzahullah
- Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur.
- Tanggal: 6 Jumadil Awal 1448 H / 17 Oktober 2026 M
- Tempat: Grand Mosque Al-Khor Community Qatar
Pendahuluan: Bersyukur atas Ilmu dan Kesempatan
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Alhamdulillah, Allah masih memberi kita kesempatan untuk duduk di majelis ilmu. Harapan kita, semoga Allah menerima amal ibadah kita, menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, memberikan taufik untuk beramal saleh, dan mengampuni dosa-dosa kita.
Imam Abu Hanifah rahimahullah disebutkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim halaman 38 karya Az-Zarnuji sebagai orang yang memperoleh ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Diriwayatkan dalam ungkapan yang dinukil di majelis:
إِنَّمَا أَدْرَكْتُ الْعِلْمَ بِالْحَمْدِ وَالشُّكْرِ
“Aku memperoleh ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.”
Beliau juga dinukil mengatakan bahwa setiap kali memahami suatu ilmu atau menemukan suatu faedah, beliau mengucapkan alhamdulillah, lalu ilmunya bertambah. Karena itu, jangan hanya bersyukur setelah makan atau minum. Ketika memahami satu masalah agama, ucapkanlah alhamdulillah. Pujian kepada Allah adalah bentuk syukur sekaligus zikir.
1. Umur adalah Modal Utama
Tema kajian ini adalah memanfaatkan sisa umur. Umur merupakan modal; seseorang tidak dapat menjalankan usaha tanpa modal. Namun, tidak seorang pun mengetahui berapa lama sisa umurnya. Kita boleh berharap panjang umur, tetapi yang lebih penting adalah umur yang diisi dengan amal saleh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. al-Tirmidzi No. 2330, Ahmad, dan al-Hakim
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa banyak orang tertipu oleh dua nikmat: kesehatan dan waktu luang.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ».
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam memanfaatkannya: kesehatan dan waktu luang.”
Sumber: Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6412.
Kesehatan sering baru disadari nilainya ketika seseorang jatuh sakit. Demikian pula waktu luang; banyak orang baru menyesal setelah kesempatan berlalu. Ada orang yang sehat tetapi sibuk mencari penghidupan sehingga tidak memiliki kelapangan waktu. Ada pula yang memiliki waktu luang, tetapi sakit. Keadaan yang paling merugikan ialah ketika kesehatan dan waktu tersedia, tetapi keduanya tidak dipakai untuk ketaatan.
Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan dalam pembahasan tentang menjaga umur bahwa seseorang bisa saja sehat, tetapi tidak memiliki kelapangan karena sibuk dengan urusan penghidupan; atau memiliki waktu luang, tetapi tidak sehat. Kerugian yang nyata adalah ketika dua nikmat itu terkumpul, tetapi seseorang tetap malas beramal.
Saat menjelaskan hadis tentang dua nikmat yang sering memperdaya manusia (sehat dan waktu luang). Al-Manawi rahimahullah menukil analogi dari Imam Ath-Thibi rahimahullah yang mengibaratkan manusia sebagai pedagang, modalnya adalah kesehatan dan waktu luang, sedangkan dunia adalah pasar tempat meraup untung untuk akhirat, sementara umur sangat terbatas dan rintangan sangat banyak.
كيف والدنيا سوق الأرباح والعمر أقصر والعوائق أكثر
Bagaimana tidak, padahal dunia adalah pasar keuntungan, sedangkan umur lebih pendek (singkat) dan penghalang lebih banyak.
2. Keberkahan Waktu adalah Tanda Kebaikan
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madārij as-Sālikīn dinukil menjelaskan bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah menolongnya melalui keberkahan waktu. Waktu menjadi cukup untuk melakukan kebaikan dan mendukungnya menuju tujuan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika seseorang dibiarkan merugi, waktunya justru terasa menghalangi setiap kali ia hendak menuju kebaikan.
Pesan praktisnya: jangan hanya menghitung banyaknya waktu, tetapi perhatikan keberkahannya. Waktu yang singkat bisa menghasilkan banyak amal apabila Allah memberkahi dan seseorang mengaturnya dengan baik. Sebaliknya, waktu yang panjang akan berlalu tanpa hasil jika dihabiskan dalam kelalaian.
3. Allah Mengagungkan Perkara Waktu
Waktu adalah umur manusia. Karena itu, Allah mengagungkan waktu dengan bersumpah atas nama masa dalam Surah Al-‘Ashr.
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3).
Surah ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya merugi, kecuali jika memenuhi empat sifat: beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Iman dan amal saleh perlu diwujudkan dalam kehidupan, sementara kebenaran dan kesabaran perlu disampaikan serta diteguhkan bersama.
Allah juga berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
“Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan [25]: 62).
Pergantian malam dan siang memberi kesempatan baru untuk mengingat Allah, mengambil pelajaran, memperbaiki kekurangan, dan bersyukur. Hari yang telah berlalu tidak akan kembali dengan amal yang sama; hari esok belum tentu kita jumpai; sedangkan hari ini adalah kesempatan yang berada di tangan kita.
4. Waktu Terasa Semakin Cepat Menjelang Kiamat
Penceramah mengingatkan hadits tentang tanda-tanda kiamat berupa semakin dekatnya zaman, sehingga waktu terasa berlalu dengan cepat. Perasaan ini dapat kita rasakan ketika membandingkan hari-hari yang berlalu dengan pengalaman masa lalu. Karena itu, jangan menunda ketaatan dengan alasan masih banyak waktu.
Di antara hadis yang berkaitan dengan Dajjal, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari: satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari selebihnya seperti hari biasa. Para sahabat bertanya apakah salat sehari cukup pada hari yang terasa setahun. Nabi menjawab agar mereka memperkirakan waktu salatnya.
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا لَبْثُهُ فِي الْأَرْضِ؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ يَوْمًا؛ يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ، وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ». قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ؟ قَالَ: «لَا، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ».
Terjemahan ringkas: “Masa tinggalnya empat puluh hari: sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan hari-hari lainnya seperti hari kalian.” Para sahabat bertanya apakah salat sehari cukup untuk hari yang seperti setahun. Beliau menjawab, “Tidak. Perkirakanlah kadar waktunya.”
Sumber: Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa‘ah, hadits tentang Dajjal (no. 2937).
5. Manusia Akan Ditanya tentang Umurnya
Umur yang diberikan Allah akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, jangan sampai satu bagian umur berlalu tanpa ketaatan. Jika waktu terbatas, seseorang perlu mendahulukan amal yang lebih utama berdasarkan ilmu, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau keinginan.
Nabi ﷺ bersabda bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan; ilmunya, bagaimana diamalkan; hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tubuh atau masa mudanya, untuk apa digunakan.
Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Pada hari kiamat, manusia akan berbicara langsung dengan Rabbnya tanpa penerjemah di antara mereka. Hal ini seharusnya menumbuhkan rasa takut sekaligus mendorong persiapan.
Kekhawatiran utama Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu (yang memiliki nama asli ‘Uwaimir) mengenai pertanggungjawaban ilmu di akhirat:
“Yang paling aku takutkan pada hari kiamat kelak ialah bila aku dipanggil (ditanya) di depan semua orang (makhluk), ‘Wahai Uwaimir, apakah engkau telah berilmu?’ Lalu aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku ditanyai lagi, ‘Lalu apa saja yang telah engkau amalkan dari ilmu yang telah engkau ketahui itu?’” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Kitab Az-Zuhd).
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.
“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang (usia bertambah), namun amalanku tidak bertambah.” [Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar].
6. Umur adalah Aset Paling Berharga
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam Al-Jawāb al-Kāfī bahwa berbagai kemaslahatan manusia berkaitan dengan waktu. Ketika waktu disia-siakan, kemaslahatan itu ikut hilang; waktu yang berlalu tidak dapat dikembalikan. Hari Senin akan datang lagi, tetapi bukan hari Senin yang sama. Jumat berikutnya bukan Jumat yang telah berlalu.
Dalam Al-Fawā’id dinukil ungkapan:
إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ؛ لِأَنَّ إِضَاعَةَ الْوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْمَوْتُ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا.
“Menyia-nyiakan waktu lebih berat daripada kematian. Sebab, menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”
Rujukan: Ibnul Qayyim, Al-Fawā’id, hlm. 31; dan Al-Jawāb al-Kāfī, hlm. 208–209.
Karena itu, isi sela-sela waktu dengan zikir yang mudah dilakukan: subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu akbar, la hawla wa la quwwata illa billah, istigfar, dan doa-doa yang sahih. Jangan menunggu waktu khusus untuk mengingat Allah.
7. Umur Umat Muhammad ﷺ Relatif Pendek, tetapi Banyak Peluang Amal
Umur umat Nabi Muhammad ﷺ pada umumnya berada di antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan hanya sedikit yang melampaui itu. Nabi ﷺ bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melampaui itu.”
Sumber: Jāmi‘ at-Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, hadis no. 2331.
Namun, umur yang hakiki bukan sekadar jumlah tahun, melainkan waktu yang diisi dengan ketaatan. Allah memuliakan umat ini dengan kesempatan amal yang besar. Salah satunya adalah Lailatulqadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 3).
Karena itu, Nabi ﷺ menganjurkan umatnya mencari Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kesempatan ini hendaknya tidak dilewatkan hanya karena semangat beribadah melemah di akhir Ramadan.
Dalam menghitung umur, perlu diingat bahwa sebagian besar waktu digunakan untuk tidur, kelalaian, mencari nafkah, mengurus keluarga, atau menghadapi sakit dan usia tua. Semua itu tidak otomatis sia-sia; aktivitas yang mubah dapat bernilai ibadah apabila diniatkan dengan benar dan dilakukan sesuai tuntunan. Namun, seseorang perlu menata niat dan rutinitas agar kehidupan sehari-harinya tidak terputus dari ketaatan.
Abu Sa’id Sallam bin Abi Mutia al-Khaza’i al-Basri berkata:
نَوْمٌ عَلَى سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَقُومَ عَلَى بِدْعَةٍ
“Tidur di atas Sunnah lebih baik daripada bangun beribadah di atas bidah.”
Kutipan ini disebut dalam ceramah; sumber kitab dan redaksi persisnya perlu ditelusuri kembali sebelum digunakan sebagai kutipan ilmiah.
8. Jaga Sisa Umur dan Perbanyak Istigfar
Pesan utama kajian bukanlah berputus asa karena umur telah berlalu, melainkan memperbaiki sisa umur. Jangan hanya menginginkan umur panjang; mintalah umur yang panjang dalam ketaatan. Kehidupan yang tersisa mungkin singkat, tetapi dapat menjadi sebab kebahagiaan abadi di surga atau—semoga Allah melindungi kita—kerugian di akhirat.
Ibnul Qudamah rahimahullah berpesan:
اِغْتَنِمْ حَيَاتَكَ النَّفِيسَةَ، وَاحْفَظْ وَقْتَكَ الْعَزِيزَ
“Manfaatkanlah kehidupanmu yang berharga dan jagalah waktumu yang mahal.”
Beliau juga mengingatkan bahwa umur seluruhnya singkat dan yang tersisa lebih sedikit. Maka jangan sia-siakan permata umur tanpa amal. Berusahalah agar setiap tarikan napas diisi dengan ketaatan semampu kita.
Perbanyaklah istigfar. Rasulullah ﷺ bersabda:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Beruntunglah orang yang mendapati dalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (Shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3818) dari sahabat Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu).
Surah An-Nashr juga mengajarkan agar Nabi ﷺ bertasbih dengan memuji Rabb dan memohon ampun ketika pertolongan dan kemenangan datang.
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nashr [110]: 1–3).
Dalam penjelasan yang dinukil dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, turunnya surah ini menjadi isyarat dekatnya wafat Rasulullah ﷺ. Karena itu, akhir kehidupan hendaknya dipenuhi tasbih, pujian, dan istigfar.
Umur yang pendek tetapi diisi dengan amalan mulia lebih baik daripada umur panjang yang dipenuhi keburukan. Orang yang istiqamah justru semakin bersungguh-sungguh menjelang akhir hidupnya. Ibnul Qayyim berkata:
وَأَهْلُ الِاسْتِقَامَةِ فِي نِهَايَاتِهِمْ أَشَدُّ اجْتِهَادًا مِنْهُمْ فِي بِدَايَاتِهِمْ
“Orang-orang yang istiqamah, pada akhir perjalanan mereka lebih bersungguh-sungguh daripada pada permulaannya.”
Rujukan: Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn, jilid 3, hlm. 118.
Contohnya, pada sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ lebih bersungguh-sungguh beribadah, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya. Akhir perjalanan adalah bagian yang sangat menentukan; karena itu, mohonlah kepada Allah agar diberi husnul khatimah.
Kesimpulan Materi
- Umur adalah modal utama dan nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban.
- Kesehatan dan waktu luang sering disia-siakan; gunakan keduanya sebelum hilang.
- Allah mengagungkan waktu, dan manusia berada dalam kerugian kecuali beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
- Dahulukan amal yang paling utama berdasarkan ilmu, bukan semata-mata keinginan atau kebiasaan.
- Umur yang hakiki adalah umur yang diisi dengan ketaatan, bukan sekadar angka tahun.
- Jangan tenggelam dalam penyesalan atas masa lalu; perbaiki sisa umur, perbanyak zikir dan istigfar, serta tingkatkan amal menjelang akhir kehidupan.
Sesi Tanya Jawab
1. Mengapa sebagian penuntut ilmu sulit menerima nasihat?
Kenali karakter manusia. Nasihat hendaknya disampaikan dengan cara yang baik dan secara pribadi jika memungkinkan. Namun, tugas pemberi nasihat adalah menyampaikan kebenaran, bukan memaksa orang lain menerimanya. Hidayah berada di tangan Allah. Bahkan Nabi ﷺ tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang beliau cintai tanpa kehendak Allah. Karena itu, sampaikan nasihat dengan ikhlas, berdoalah, dan jangan mengukur keberhasilan hanya dari respons langsung orang yang dinasihati.
2. Bagi wanita, mana yang lebih utama: hadir kajian atau mengikuti siaran langsung jika terkendala jarak dan mahram?
Jika perjalanan menghadirkan kendala yang nyata, seperti jarak atau tidak adanya pendamping yang dibutuhkan, mengikuti kajian melalui siaran langsung dapat menjadi pilihan. Jika aman dan memungkinkan, menghadiri majelis ilmu memiliki keutamaan tersendiri. Penceramah mengingatkan hadis tentang orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu serta pujian Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada wanita Ansar yang tidak terhalang rasa malu untuk memahami agama. Keputusan tetap mempertimbangkan keamanan, kewajiban, dan ketentuan syariat.
3. Jika khawatir saling menzalimi atau dizalimi, apakah perlu memaafkan dengan syarat?
Nasihat penceramah adalah memaafkan tanpa menjadikan maaf sebagai transaksi bersyarat. Berharaplah agar Allah mengampuni kita sebagaimana kita berusaha mengampuni orang lain. Dalam urusan hak, utang, atau kerugian yang nyata, tetap selesaikan tanggung jawab secara adil dan jangan sampai memaafkan dipahami sebagai mengabaikan hak pihak lain tanpa pertimbangan.
4. Bagaimana menasihati istri yang banyak menghabiskan waktu untuk media sosial dan mengikuti kehidupan selebritas?
Mulailah dengan mendoakan hidayah untuknya. Kemudian berikan motivasi kepada kebaikan dan jelaskan bahaya menyia-nyiakan waktu dengan cara yang lembut. Bisa jadi ia lalai atau belum menyadari dampaknya. Setelah berusaha menasihati, serahkan hasilnya kepada Allah dan teruslah menjadi teladan dalam memanfaatkan waktu.
5. Bagaimana mengatasi kebiasaan scrolling yang sulit dihentikan?
Akui bahwa kebiasaan itu dapat menjadi candu dan memanfaatkan keinginan mata untuk terus melihat hal baru. Ketika menyadari diri mulai lalai, segera berhenti, beristigfar, dan alihkan perhatian kepada kegiatan bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an.
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur [24]: 30).
Ayat ini menjadi pengingat agar seorang muslim menjaga pandangan, termasuk ketika menggunakan ponsel dan media sosial.
Berdoalah agar Allah melindungi dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Secara praktis, batasi waktu, matikan notifikasi, dan jauhkan ponsel ketika hendak beribadah atau bekerja.
6. Bagaimana mengganti waktu muda yang telah disia-siakan?
Perbaiki sisa umur. Masa lalu tidak dapat dikembalikan, tetapi kesempatan untuk bertobat dan beramal masih terbuka selama Allah memberi kehidupan. Dalam ceramah dinukil ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
لَيْسَتِ الْعِبْرَةُ بِالنَّقْصِ فِي الْبِدَايَاتِ، وَإِنَّمَا الْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَاتِ
“Yang menjadi ukuran bukanlah kekurangan pada permulaan, melainkan kesempurnaan pada akhir perjalanan.”
(Al-‘Ibratu bi kamalin-nihāyāti lā bi nuqshānil-bidāyāti)
7. Seberapa penting tawaduk ketika manusia sering mencari validasi?
Orang yang merendahkan hati karena Allah akan diangkat derajatnya oleh Allah. Dalam urusan akhirat, yang utama bukan pengakuan manusia, melainkan keridaan Allah. Tawaduk berarti menerima kebenaran dan tidak meremehkan orang lain. Adapun untuk urusan dunia yang memang perlu dikenalkan, seperti produk atau layanan, boleh menjelaskan kelebihan secara jujur tanpa berlebihan.
8. Apakah sedekah dapat menunda kematian atau memperpanjang umur?
Penceramah menjelaskan bahwa ajal berada dalam ketetapan Allah dan manusia tidak boleh memastikan mekanisme takdir berdasarkan dugaan. Terdapat hadis tentang menyambung silaturahmi sebagai sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur. Para ulama menjelaskan makna panjang umur dengan beberapa cara, antara lain keberkahan umur atau makna yang sesuai dengan ilmu Allah tentang takdir. Bagaimana hakikatnya, urusannya kembali kepada Allah. Jangan menjadikan sedekah atau amal tertentu sebagai jaminan bahwa ajal pasti tertunda.
9. Apa empat landasan iman kepada takdir dan hubungannya dengan doa?
Empat landasan yang dijelaskan penceramah adalah:
(1) ilmu Allah meliputi segala sesuatu;
(2) Allah telah mencatat takdir;
(3) segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah; dan
(4) Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Doa juga termasuk bagian dari takdir Allah dan merupakan sebab yang diperintahkan untuk ditempuh. Karena itu, seorang muslim tetap berdoa, berusaha, dan bertawakal, tanpa menganggap doa bertentangan dengan iman kepada takdir. “tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”.
Doa adalah ibadah dan sebab yang diperintahkan. Iman kepada takdir tidak menghapus kewajiban berdoa dan berusaha.
10. Apakah pahala ibadah pada Lailatulqadar di Masjidilharam dilipatgandakan lagi karena kemuliaan tempat?
Kemuliaan waktu dan tempat dapat menjadi sebab keutamaan amal. Penceramah menganjurkan untuk berharap kepada Allah atas pahala yang besar, tetapi tidak menetapkan angka penggandaan tertentu tanpa dalil yang jelas. Keutamaan khusus setiap amal dan tempat harus didasarkan pada dalil yang sahih.
11. Bagaimana menasihati orang tua berusia lanjut agar lebih fokus kepada akhirat?
Jangan putus mendoakan mereka dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Tugas anak adalah menyampaikan nasihat dengan adab, bukan memaksa orang tua menerima. Selain berbicara, tunjukkan teladan melalui amal, pelayanan, dan komunikasi yang baik. Jangan menjadikan penolakan mereka sebagai beban yang membuat anak berhenti berbuat baik.
12. Apakah berkumpul setelah kajian untuk berbincang atau minum teh dilarang?
Penceramah menyampaikan bahwa tidak ada larangan umum untuk berkumpul setelah kajian selama aktivitasnya mubah dan tidak mengandung kemungkaran. Tidak ada pula kewajiban untuk selalu berkumpul. Pertimbangkan manfaat, adab, waktu, dan jangan sampai pertemuan mengganggu kewajiban.
13. Apakah menonton hiburan setiap hari termasuk menyia-nyiakan umur?
Hal itu bergantung pada jenis hiburan, kadar, dan dampaknya. Jika mengandung hal haram, hukumnya bermasalah. Jika mubah, tidak otomatis berdosa, tetapi perlu dijaga agar tidak melalaikan salat, kewajiban keluarga, pekerjaan, atau pencarian ilmu. Aktivitas rekreasi yang dibolehkan dapat membantu seseorang beristirahat selama dilakukan secara proporsional.
14. Apakah orang yang pulang dari umrah bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir?
Penceramah membedakan keutamaan yang disebut dalam hadis tentang haji mabrur dari klaim umum mengenai umrah. Hadis yang disebutkan berbicara tentang orang yang berhaji dan tidak melakukan rafats maupun kefasikan, lalu pulang seperti hari ketika dilahirkan ibunya. Jangan menyamakan semua ibadah atau memastikan penghapusan seluruh dosa tanpa memperhatikan dalil dan syarat-syaratnya.
15. Bolehkah mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” ketika seorang nonmuslim meninggal?
Menurut jawaban penceramah, kalimat istirja’ boleh diucapkan sebagai pengakuan bahwa semua milik Allah dan semua akan kembali kepada-Nya. Hal itu berbeda dengan mendoakan ampunan dan rahmat akhirat bagi orang yang meninggal dalam kekafiran, yang memiliki hukum tersendiri.
16. Bagaimana pasangan suami istri menyadari kewajiban rumah tangga sebagai ibadah?
Kunci utamanya adalah ilmu. Suami dan istri perlu mempelajari hak serta kewajiban masing-masing agar pelayanan rumah tangga tidak dipandang sekadar urusan dunia. Suami hendaknya membimbing keluarga dalam agama, menyediakan sarana belajar, dan mengajak istri menuntut ilmu. Nafkah penting, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab membimbing keluarga dalam kebaikan. Penceramah mengingatkan agar pasangan saling mendukung untuk belajar dan mengamalkan agama.
17. Apakah usia 40 tahun berkaitan dengan persiapan menuju akhirat?
Penceramah menjelaskan bahwa usia 40 tahun dapat menjadi momentum untuk semakin serius mempersiapkan akhirat. Beliau mengaitkannya dengan QS. Al-Ahqaf ayat 15, yang memuat doa ketika seseorang mencapai usia matang dan berusia empat puluh tahun.
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai.’” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).
Ini merupakan dorongan untuk bersyukur, memperbaiki amal, dan menyadari bahwa kekuatan fisik tidak akan terus meningkat. Namun, usia 40 bukan berarti seseorang harus menunggu sampai usia tersebut untuk bertobat atau beramal.
Penutup Kajian
Penceramah menutup kajian dengan mengingatkan agar para peserta tetap bersemangat menuntut ilmu, mengamalkan apa yang diketahui, dan meningkatkan kesungguhan dalam ketaatan. Ilmu yang sedikit tetapi diamalkan dapat menjadi keberkahan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, keluarga, anak-anak, dan pasangan kita; memudahkan urusan kita; melindungi kita dari musibah; serta mengumpulkan kita di surga-Nya. Majelis ditutup dengan doa kaffaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
*****
Poster Kajian
*****
E-book Materi ini: Ebook Manfaat Sisa Umur – Ustadz Mizan Qudsiah
*****







