ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Syarah Kitab Tauhid – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
🎙️┃ Pemateri : Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc, MA.  hafizhahullahu.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Jum’at [Sebelum Maghrib], 25 September 2026 M / 15 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕌┃Tempat : Izighawa – Doha Qatar




مَنْ حَقَّقَ التَّوْحِيْدَ دَخَلَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابِ

BAB-3: Memurnikan Tauhid Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

Pembuka

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.

Ustadz mengawali kajian untuk melanjutkan kajian rutin dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas taufik-Nya kita dapat kembali bertemu dan melanjutkan kajian Kitab At-Tauhid.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat sebagai bekal dalam meniti kehidupan sampai akhir hayat.

Mewujudkan Tauhid dengan Sebenar-benarnya

Kita masih berada pada bab ketiga, yaitu Man Haqqaqa At-Tauhida Dakhalal Jannata Bighairi Hisab, tentang orang yang mewujudkan tauhid dengan sebenar-benarnya akan masuk surga tanpa hisab.

Terkait makna haqqaqa, yaitu mewujudkan atau merealisasikan tauhid, kita telah membawakan keterangan dari Syaikh Al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala dan Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullahu ta’ala melalui syarah mereka terhadap Kitab At-Tauhid.

Setelah memberikan judul bab, beliau membawakan beberapa ayat dan hadis. Di antara ayat yang telah kita baca Adalah:

Surah An-Nahl ayat 120 dan Surah Al-Mu’minun ayat 59: Ayat-ayat tersebut berkaitan langsung dengan bab yang beliau tulis. Ayat tersebut menjelaskan contoh dan sifat orang yang benar-benar mewujudkan dan mengamalkan tauhid.

Dalam Surah An-Nahl ayat 120, kita mengetahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu wassalam adalah bapak tauhid. Untuk mengetahui bagaimana tauhid itu diwujudkan, kita melihat amalan, ketundukan, dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan.

Demikian pula dalam Surah Al-Mu’minun disebutkan sifat orang-orang yang mewujudkan tauhid, yaitu mereka tidak menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala, seseorang tidak akan mencapai predikat sebagai orang yang benar-benar mewujudkan tauhid kecuali melalui beberapa proses:

  1. Ilmu
  2. Keyakinan
  3. Ketundukan dan pengamalan

Jika salah satu dari tiga unsur tersebut tidak ada, maka perwujudan tauhid belum sempurna.

Ilmu diperoleh dengan menuntut ilmu, sebagaimana yang kita lakukan dalam kajian ini. Setelah mengetahui, kita harus meyakini apa yang telah kita ketahui. Setelah itu, yang tidak kalah penting adalah mengamalkannya, tunduk dan patuh terhadap ilmu yang telah kita yakini.

Hadis tentang 70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Sa’id bin Zubair, lalu ia bertanya: “siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam? kemudian aku menjawab: “aku”, kemudian kataku: “ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku: “lalu apa yang kau lakukan? aku menjawab: “aku minta diruqyah”, ia bertanya lagi: “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu? aku menjawab: “yaitu: sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi: “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu? aku menjawab: “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib:

(( لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ ))

“Tidak ada Ruqyah kecuali karena ain) atau terkena sengatan”. Sa’id pun berkata: “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

(( عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ مَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِيْ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذَا مُوْسَى وَقَوْمُهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ، ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ، فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ أُوْلَئِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ r، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِيْ الإِسْلاَمِ فَلَمْ يُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا، وَذَكَرُوْا أَشْيَاءَ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ r فَأَخْبَرُوْهُ، فَقَالَ: (( هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ )) فَقَامَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِىْ مِنْهُمْ، فَقَالَ: (( أَنْتَ مِنْهُمْ )) ثُمَّ قَالَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ، فَقَالَ r : (( سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ))

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang  yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.” kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang- orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada di antara mereka yang berkata: “barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: “barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka.” kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata: mohonkanlah kepada Allah  agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: mohonkanlah kepada Allah  agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran Husain bin Abdurrahman

Dalam riwayat ini terdapat pelajaran tentang kejujuran Husain bin Abdurrahman ketika menjelaskan keadaannya kepada Sa’id bin Jubair. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya sedang salat ketika melihat bintang jatuh. Ia menjelaskan keadaan yang sebenarnya: ketika itu ia tidak sedang salat, tetapi sedang disengat kalajengking.

Kemudian Sa’id bin Jubair bertanya apa yang ia lakukan. Husain menjawab bahwa ia meminta rukyah. Ketika ditanya apa yang mendorongnya meminta rukyah, ia menjawab bahwa ia memiliki dasar dari hadis yang ia dengar melalui Asy-Sya’bi dari Buraidah bin Al-Hushaib.

Ini menunjukkan bagaimana para salaf dahulu berbicara dengan ilmu dan riwayat. Percakapan mereka banyak dikaitkan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan ketika ditanya tentang suatu perkara, jawabannya adalah riwayat. Demikian pula ketika menjelaskan suatu amalan, mereka menyandarkannya kepada dalil.

Hal ini menunjukkan keutamaan generasi awal umat Islam yang kehidupan mereka sangat dekat dengan ilmu dan riwayat.

Kedudukan Para Sahabat

Dalam sanad hadis tersebut terdapat Buraidah bin Al-Hushaib, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat tidak perlu dinilai tsiqah sebagaimana para perawi setelah mereka. Seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terpercaya.

Adapun perawi dari kalangan tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan generasi setelahnya, maka diperlukan penelitian terhadap keadaan mereka untuk mengetahui apakah mereka terpercaya atau tidak.

Buraidah bin Al-Hushaib termasuk sahabat yang masuk Islam pada masa awal, sebelum Perang Badar, meskipun beliau tidak ikut dalam Perang Badar.

Rukyah dan Tawakal

Hadis yang menjadi sebab Husain meminta rukyah berbunyi bahwa rukyah berkaitan dengan ‘ain atau sengatan. Karena Husain terkena sengatan kalajengking, ia meminta rukyah berdasarkan hadis yang ia ketahui.

Sa’id bin Jubair kemudian memuji perbuatannya karena ia mengamalkan ilmu yang telah ia dengar. Namun setelah itu Sa’id menyampaikan hadis Ibnu Abbas yang menjelaskan sifat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Para Nabi Tetap Menunaikan Amanah

Dalam hadis tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para nabi dengan keadaan umat yang berbeda-beda. Ada nabi yang memiliki banyak pengikut, ada yang hanya memiliki satu atau dua pengikut, bahkan ada nabi yang tidak memiliki seorang pun pengikut.

Ini menunjukkan bahwa seluruh nabi telah menunaikan amanah mereka. Mereka telah menyampaikan dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun jumlah orang yang menerima dakwah bukanlah ukuran keberhasilan seorang nabi dalam menjalankan amanahnya. Hasilnya merupakan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu, kita hanya berkewajiban menyampaikan dan berusaha semampu kita. Adapun hasilnya kembali kepada Allah. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi para pengajar, ustaz, panitia kajian, dan siapa pun yang berdakwah. Jika sebuah kajian hanya dihadiri satu atau dua orang, jangan berkecil hati. Para nabi saja ada yang hanya memiliki sedikit pengikut, bahkan ada yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Yang penting adalah terus mengamalkan amalan yang telah jelas tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umat Nabi Muhammad dan 70.000 Orang

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kelompok manusia yang sangat banyak. Beliau mengira mereka adalah umatnya, tetapi ternyata mereka adalah Nabi Musa dan kaumnya.

Setelah itu beliau melihat kelompok manusia yang lebih besar lagi. Dikatakan kepada beliau bahwa mereka adalah umatnya. Di antara umat tersebut terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Para sahabat kemudian membicarakan siapakah 70.000 orang tersebut.

Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sifat mereka:

  • Mereka tidak meminta rukyah.
  • Mereka tidak melakukan tathayyur.
  • Mereka tidak meminta dilakukan kay.
  • Mereka bertawakal kepada Rabb mereka.

Makna Tidak Meminta Rukyah

Sifat pertama adalah tidak meminta rukyah.

Maksudnya adalah seseorang tidak meminta kepada orang lain agar dirinya dirukyah.

Meminta rukyah bukan berarti haram. Hukum asal rukyah adalah boleh, selama rukyah tersebut tidak mengandung kesyirikan. Akan tetapi, hadis ini menjelaskan keutamaan orang yang tidak meminta rukyah karena hal tersebut menunjukkan kuatnya tawakal kepada Allah.

Jika seseorang membutuhkan rukyah, orang lain dapat merukyahnya tanpa ia meminta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah dirukyah oleh orang lain.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah merukyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, yang menjadi perhatian adalah kebiasaan meminta rukyah kepada orang lain, bukan rukyahnya itu sendiri.

Bahkan merukyah orang lain merupakan bentuk memberikan manfaat kepada saudara. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa saja yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, hendaknya ia memberikan manfaat tersebut. Nabi juga bersabda bahwa tidak mengapa melakukan rukyah selama rukyah tersebut tidak mengandung kesyirikan.

Sifat kedua adalah tidak melakukan tathayyur.

Tathayyur adalah merasa pesimis, menganggap sial, atau meramal nasib buruk berdasarkan sesuatu yang dilihat, didengar, atau terjadi.

Pada zaman dahulu, tathayyur berkaitan dengan burung. Jika burung terbang ke arah tertentu, mereka menganggapnya sebagai pertanda baik atau buruk. Kemudian hukum tersebut dapat berlaku pada berbagai bentuk keyakinan terhadap pertanda-pertanda lain.

Seorang muslim tidak boleh menggantungkan nasibnya kepada pertanda semacam itu.

Sifat ketiga adalah tidak meminta dilakukan kay

Yaitu pengobatan dengan menggunakan besi yang dipanaskan. Pada zaman dahulu, kay merupakan bentuk pengobatan yang cukup ekstrem. Seseorang menggunakan besi panas pada bagian tubuh tertentu sebagai metode pengobatan.

Hukum asal pengobatan tersebut adalah boleh, tetapi meminta untuk dilakukan kay merupakan sesuatu yang menunjukkan kurangnya kesempurnaan tawakal.

Para ulama kemudian membahas apakah pengobatan ekstrem pada masa sekarang dapat dianalogikan dengan kay. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Mengapa Mereka Mendapat Keutamaan?

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala menjelaskan beberapa alasan mengapa sifat-sifat tersebut menjadi sebab seseorang memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

1. Kuatnya Sandaran kepada Allah

Mereka memiliki kekuatan tawakal dan ketergantungan kepada Allah. Mereka tidak meminta rukyah, tidak melakukan tathayyur, dan tidak meminta kay. Semua itu menunjukkan kuatnya sandaran hati mereka kepada Allah.

2. Tingginya Harga Diri

Mereka memiliki jiwa yang tinggi sehingga tidak merendahkan diri kepada selain Allah. Meminta kepada manusia menunjukkan adanya unsur meminta dan bergantung. Adapun orang yang sempurna tawakalnya lebih menjaga hatinya agar tidak bergantung kepada makhluk.

3. Tidak Bergantung kepada Selain Allah

Di antara masalah utama adalah ta’alluq, yaitu keterikatan hati kepada selain Allah.

Seseorang yang meminta rukyah bisa saja memiliki ketergantungan kepada orang yang merukyahnya, meskipun secara lisan perukyah mengatakan bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya ucapan lisan, tetapi keadaan hati.

Berobat Tidak Berarti Bertentangan dengan Tawakal

Penting untuk dipahami bahwa berobat, meminta bantuan dokter, atau menggunakan obat bukan berarti bertentangan dengan tawakal. Dokter hanyalah sebab dan sarana. Kesembuhan tetap berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu, seseorang boleh memilih dokter, rumah sakit, obat, maupun metode pengobatan tertentu berdasarkan pertimbangan yang masuk akal. Yang perlu dijaga adalah hati agar tidak bergantung kepada sebab tersebut. Dokter hanyalah sebab. Obat hanyalah sebab. Rumah sakit hanyalah sebab.

Jika Allah menghendaki kesembuhan, kesembuhan itu terjadi melalui sebab yang Allah tetapkan. Karena itu, ketika mendapatkan manfaat melalui seseorang, kita cukup bersyukur dan mendoakannya.

Di antara doa yang dapat diberikan adalah: “Jazakallahu khairan.” Jika mampu membalas kebaikan dengan kebaikan, maka itu baik. Jika tidak, mendoakannya dengan kebaikan sudah merupakan bentuk balasan.

Jangan Sampai Ketergantungan kepada Manusia Mengurangi Tauhid

Masalahnya bukan pada penggunaan sebab, tetapi pada hati yang bergantung kepada sebab.

Seseorang boleh berobat kepada dokter tertentu karena ilmunya, komunikasinya, fasilitas rumah sakitnya, atau pertimbangan medis lainnya.

Namun jangan sampai muncul keyakinan bahwa hanya dokter tertentu yang mampu menyembuhkan. Begitu pula seseorang tidak boleh merasa bahwa hanya rumah sakit tertentu yang bisa memberikan kesembuhan.

Kita harus terus menanamkan dalam diri bahwa kesembuhan hanya berasal dari Allah. Adapun dokter, obat, rumah sakit, dan berbagai metode pengobatan hanyalah sebab. Ini yang dimaksud dengan menjaga setting hati.

Jangan sampai kita mampu menjaga hati ketika membahas rukyah, tetapi ketika berhadapan dengan obat tertentu kita justru merasa bahwa obat itulah yang pasti menyembuhkan.

Panadol adalah sebab. Obat lain juga sebab. Dokter adalah sebab. Rumah sakit adalah sebab. Yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segera Mengambil Peluang Kebaikan

Pelajaran berikutnya yang sangat penting adalah kisah Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sifat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, Ukasyah segera berdiri dan berkata: “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Engkau termasuk golongan mereka.”

Ukasyah tidak menunda. Ia segera mengambil kesempatan yang ada di hadapannya. Ini merupakan pelajaran penting: jangan menunda kebaikan. Ketika kita melihat peluang kebaikan, segera ambil. Kebaikan itu bisa berupa:

  • Menghadiri kajian.
  • Bersedekah.
  • Membantu orang lain.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Melakukan amal saleh.
  • Mengambil kesempatan untuk belajar.
  • Melakukan berbagai bentuk kebaikan yang mampu kita kerjakan.

Jangan selalu mengatakan, “Nanti saja.” Karena kita tidak mengetahui apakah kesempatan itu akan datang kembali.

Ukasyah dan Gerak Cepat dalam Kebaikan

Ukasyah menunjukkan contoh bagaimana seorang muslim harus segera mengambil kesempatan. Dalam bahasa kita bisa disebut “gerak cepat” dalam kebaikan. Orang yang datang setelah Ukasyah meminta hal yang sama, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Ukasyah telah mendahuluimu.”

Perbedaan waktunya sangat singkat. Namun Ukasyah telah lebih dahulu mengambil kesempatan. Kita tidak mengetahui siapa sahabat yang datang setelah Ukasyah dan mengapa Nabi tidak memberikan jawaban yang sama kepadanya. Ada beberapa penjelasan dari sebagian ulama, tetapi kebenaran penjelasan tersebut tidak dapat dipastikan.

Yang jelas, hadis ini mengajarkan agar kita tidak lambat ketika ada peluang kebaikan.

Jangan Menunda Kebaikan

Dalam kehidupan kita banyak sekali kesempatan kebaikan. Ada kajian, ada kesempatan bersedekah, ada kesempatan membantu orang lain, ada kesempatan membaca Al-Qur’an, dan berbagai amal saleh lainnya.

Di sisi lain, banyak pula hal yang dapat mengalihkan perhatian kita. Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan berbagai kesibukan dan ujian. Karena itu, kita perlu menentukan mana yang benar-benar bermanfaat bagi akhirat kita.

Jika kita terus menunda, bisa jadi kesempatan tersebut hilang. Setan justru bergerak cepat untuk menghalangi manusia dari kebaikan. Karena itu, kita perlu melatih diri agar cepat mengambil peluang amal saleh. Dunia ini sementara dan umur kita terbatas. Jika kita terus lambat dalam kebaikan, kita bisa kehilangan banyak kesempatan.

Kesempatan Masuk Surga Tanpa Hisab

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Ukasyah, “Engkau termasuk golongan mereka”, ini tidak berarti bahwa Ukasyah adalah orang terakhir yang dapat memperoleh keutamaan tersebut.

Masih ada peluang bagi orang lain untuk memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Siapa yang termasuk di dalamnya merupakan perkara yang Allah ketahui. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi orang yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Kita semua tentu menginginkan surga. Jika seseorang masuk surga setelah melalui hisab pun merupakan nikmat yang sangat besar. Maka bagaimana lagi jika seseorang memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab? Karena itu, hendaknya kita berusaha mewujudkan tauhid dan memperkuat tawakal kepada Allah.

******

Ringkasan Tanya Jawab

1. Apakah Kekaguman Bisa Menyebabkan ‘Ain?

Jawaban:

Ya, ‘ain itu benar adanya sebagaimana bersabda Nabi  bahwa ‘ain adalah sesuatu yang nyata.

  • Sebab Terjadinya ‘Ain:
    • Pandangan yang disertai hasad (kedengkian).
    • Pandangan yang didasari kekaguman tanpa mendoakan keberkahan bagi orang yang dikagumi.
  • Kisah Pada Zaman Nabi : Terdapat seseorang yang kagum pada keadaan fisik orang lain. Kekaguman yang lupa disertai doa keberkahan tersebut menjadi sebab orang yang dilihat mengalami sakit.
  • Anjuran Mendoakan Keberkahan: Ketika melihat sesuatu yang dikagumi, hendaknya mendoakan keberkahan dengan ucapan seperti:
    • “Barakallah”
    • “Barakallahu fih”
    • “Barakallahu ‘alaik”
    • Doa-doa keberkahan semisalnya.
  • Catatan Ulama tentang “Masya Allah”:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ucapan “Masya Allah” tidak secara khusus mengandung doa keberkahan. Oleh karena itu, menggabungkan ucapan “Masya Allah” dengan doa keberkahan adalah hal yang lebih baik.

  • Penerapan dan Etika di Dunia Maya:
    • Akun Pribadi: Jangan terlalu mudah memamerkan hal-hal pribadi (anak, harta, keadaan diri) tanpa ada kebutuhan yang kuat, karena kekaguman orang lain yang melihatnya dapat memicu ‘ain. Jika tidak ada kebutuhan, hendaknya lebih berhati-hati.
    • Keperluan Bisnis: Menampilkan barang yang memang bertujuan untuk dijual merupakan hal yang berbeda dan diperbolehkan sesuai kebutuhannya.

2. Bolehkah Menggeser Puasa Ayyamul Bidh?

Pertanyaan:

“Jika ingin puasa Ayyamul Bidh tetapi waktunya bertepatan dengan akhir pekan, apakah boleh digeser ke hari kerja ketika suami bekerja?”

Jawaban:

Bolehkah? Jawabannya, boleh.

  • Prinsip Utama: Pokok dari amalan ini adalah berpuasa 3 hari dalam satu bulan.
  • Keutamaan Tanggal 13, 14, dan 15: Berpuasa tepat pada tanggal 13, 14, dan 15 (Ayyamul Bidh) adalah yang paling utama apabila seseorang mampu melaksanakannya.
  • Fleksibilitas Pelaksanaan: Jika tidak mampu melaksanakannya tepat pada tanggal Ayyamul Bidh, seseorang tetap dapat berpuasa 3 hari pada hari-hari lainnya dalam bulan tersebut.
  • Keutamaan Niat: Memilih berpuasa pada hari kerja saat suami tidak berada di rumah—dengan niat agar pada akhir pekan bisa fokus melayani suami dan melangsungkan kewajiban rumah tangga—merupakan niat yang sangat baik.

3. Panduan Rukyah: Kapan, Bagaimana, dan Ayat Apa yang Dibaca?

1. Kapan dan Bagaimana Melakukan Rukyah?

  • Secara Umum: Pada dasarnya, berbagai penyakit dapat dirukyah (misalnya membacakan Surah Al-Fatihah).
  • Kondisi Khusus: Apabila seseorang mengalami keadaan yang tidak biasa atau keluhan fisik yang sebabnya tidak ditemukan secara medis, kita dapat berinisiatif merukyahnya tanpa menunggu ia meminta, atau mengajaknya membaca Al-Qur’an bersama-sama.

2. Ayat Apa yang Dibaca untuk Rukyah?

  • Seluruh Al-Qur’an Adalah Syifa’: Secara umum, seluruh ayat Al-Qur’an dapat digunakan untuk rukyah. Tidak harus ayat yang secara spesifik membahas tentang penyakit, jin, atau sihir. Membaca ayat tentang pernikahan, perang, talak, maupun perkara lainnya tetap bisa digunakan.
  • Ayat/Surah yang Memiliki Riwayat Khusus: Ada beberapa surah/ayat yang memiliki riwayat khusus berkaitan rukyah, seperti:
    • Surah Al-Baqarah
    • Surah Ali ‘Imran
    • Ayat Kursi, dan lainnya.
  • Buku-Buku Pengelompokan “Ayat Rukyah”: Daftar ayat dalam buku-buku tersebut umumnya merupakan hasil pengelompokan ulama berdasarkan makna dan konteks ayat, bukan batasan kaku dari riwayat khusus. Maka, kita tidak perlu membatasi rukyah hanya pada ayat-ayat tersebut.
  • Tidak Bergantung kepada Rukyah Center: Pergi ke tempat/pusat rukyah perlu diperhatikan karena dikhawatirkan menimbulkan ketergantungan hati kepada sang perukyah.
  • Rukyah Mandiri: Setiap muslim sebaiknya mampu merukyah dirinya sendiri atau keluarga terdekatnya (suami merukyah istri, istri merukyah suami, orang tua merukyah anak, atau antar saudara).
  • Kemudahan: Cukup dengan membaca Surah Al-Fatihah, seseorang sudah dapat melakukan rukyah.
  • Tujuan Utama: Agar hati tetap murni bergantung hanya kepada Allah, bukan kepada orang yang merukyah.

4. Hukum Memilih Dokter & Rumah Sakit dalam Pandangan Tauhid

Pertanyaan:

“Jika seseorang memahami bahwa kesembuhan hanya berasal dari Allah, tetapi ia memilih dokter tertentu (karena ilmu, komunikasi, pilihan terapi) atau memilih rumah sakit tertentu (karena fasilitas dan penanganan darurat), bagaimana hukumnya?”

Jawaban:

Memilih dokter atau rumah sakit berdasarkan pertimbangan kualitatif hukumnya boleh, wajar, dan dianjurkan.

  • Pertimbangan yang Dibenarkan:
    • Memilih dokter karena ilmunya luas, komunikasinya baik, dan mampu menjelaskan pilihan terapi beserta konsekuensinya.
    • Memilih rumah sakit karena memiliki fasilitas medis yang lebih lengkap, termasuk kesiapan menangani kondisi darurat.

Menjaga Hati dalam Menggunakan Sebab (Esensi Tauhid)

Hal terpenting yang menjadi pembahasan utama dalam tauhid adalah keterikatan hati:

  1. Perbedaan yang Sangat Tipis: Seseorang bisa saja memahami secara teori bahwa Allah-lah Yang Maha Menyembuhkan. Namun saat menghadapi kenyataan sakit, hatinya rentan bergeser dan terlalu bergantung kepada sebab materi.
  2. Melatih Hati: Melatih tauhid berarti menempatkan segala sarana fisik sesuai porsinya:
    • Dokter adalah sebab.
    • Obat adalah sebab.
    • Rumah sakit adalah sebab.
    • Kesembuhan mutlak berada di tangan Allah .

3. Prinsip Utama: Kita diperbolehkan ikhtiar menggunakan berbagai sebab, namun jangan sampai sebab tersebut mengambil tempat di dalam hati yang seharusnya hanya milik Allah.

Penutup

Demikianlah pembahasan kita. Kandungan bab ini insya Allah akan kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Semoga Allah  memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, menguatkan tauhid kita, menjadikan hati kita selalu bergantung kepada-Nya, dan memberikan kepada kita keistiqamahan dalam mengamalkan ilmu.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mewujudkan tauhid dengan sebenar-benarnya dan memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Wallahu ta’ala a’lam.

Poster Ringkasan

*****

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم