بسم الله الرحمن الرحيم
🎙Bersama: Al Ustadz Isnan Efendi Lc., M.A Hafidzahullah
📘 Materi : Kitab Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah) – Mukadimah
🗓 Hari : Jum’at, 8 Dzulqa’dah 1447 / 24 April 2026
🕰 Waktu: Ba’da Ashar – Maghrib’
🕌 Tempat: Izghowa – Qatar
Bab-1: Hakikat dan Kedudukan Tauhid
Kewajiban mengesakan Ibadah kepada Allah bagi seluruh makhluk jin dan manusia
Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ -٥٦
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 ).
📃 Penjelasan:
Sisi pendalilan penulis dari ayat ini yaitu bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Dan ibadah tentu yang dimaksud adalah tauhid, yaitu peribadatan hanya untuk Allah, karena tidak mungkin Allah memerintahkan untuk beribadah kepada selain Allah.
Ayat ini adalah dalil bahwa jin juga mukallaf (dibebani oleh syari’at), karena para nabi juga diutus kepada mereka, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga diutus kepada golongan jin. Karenanya mereka juga mendapatkan balasan di dunia dan juga balasan di akhirat, dengan masuk surga atau masuk neraka.
Meskipun ayat ini bersifat umum, tetapi dibatasi dengan adanya kata مَا (penafian) dan إِلَّا (pengecualian) atau istisna’, yang ini menunjukkan batasan. Pembatasannya adalah hanya untuk beribadah. Adapun yang lain seperti menikah, bekerja atau lainnya adalah wasilah untuk beribadah. Dengan istilah lain Istisna’ Mufarrogh (إِستِثْنَاء مُفَرَّغ) (Pengecualian yang bersifat Umum).
Sementara pada kata لِيَعْبُدُونِ ada Lam At-Ta’lil (لام التعليل) – keterangan yaitu huruf vokal kasrah (li..) yang digunakan dalam tata bahasa Arab untuk menunjukkan alasan, sebab, atau tujuan (‘illah dan ghayah) suatu tindakan. Dan pada ayat ini Lam At-Ta’Lil-nya adalah sebagai ghayah (Tujuan).
Jika Lam At-Ta’Lil-nya adalah sebagai ghayah (tujuan) maka sebagai keterangan tujuan saja, tidak berkonsekunsi harus dilakukan tujuan tersebut.
Maka dalam kata لِيَعْبُدُونِ karena Lam At-Ta’Lil-nya adalah sebagai ghayah (Tujuan) maka ada manusia yang beribadah dan ada yang menyimpang (kufur).
Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya (benar-benar) Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut” . (QS. An – Nahl: 36).
📃 Penjelasan:
Sisi pendalilannya adalah ayat ini sebagai keterangan bagi dalil pertama. Dalil pertama menjelaskan bahwa ibadah adalah tujuan penciptaan manusia dan jin.
Adapun dalil yang kedua ini menjelaskan bahwa ibadah yang dimaksud adalah ibadah yang disertai dengan meninggalkan thaghut. Bahkan demi mewujudkan hal ini maka Allah mengutus para rasul untuk menyerukan hal ini kepada kaumnya.
Dalam ayat ini banyak kata ta’kid yaitu penekanan, seperti لم، قد، بَعَثْنَا. Fungsinya untuk penekanan apa yang disampaikan setelahnya. Yaitu bahwasanya Allah ﷻ benar-benar telah mengutus Rasul-Nya dan risalah-Nya, maka wajib bagi kita untuk mewujudkan Tauhid.
Dalam ayat ini disebutkan risalahnya: أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ. Inilah makna dua syahadatain.
Kandungan maknanya
- Makna Al-Itsbat (Menetapkan) pada kalimat: أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ – Ibadah hanya kepada Allah ﷻ.
- Makna Nafi (Mengingkari) pada kalimat: وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ – Mengingkari adanya thaghut.
Thaghut ialah : setiap yang diagungkan – selain Allah – dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun setan. Sebagian ulama memberi syarat bahwa thaghut adalah yang melampaui batas (disembah selain Allah) dan dia ridha akan hal tersebut.
Tauhid yang sebenarnya mengandung dua unsur ini menetapkan dan menafikan. Kalau Nafi (Mengingkari) saja tanpa itsbat maka akan menghasilkan pengingkaran (tidak mengakui) seperti kalimat, tidak ada satupun manusia di ruangan ini.
Tetapi jika ada itsbat (menetapkan) saja maka hasilnya tidak menutup celah keikutsertaan yang lain. Seperti pada kalimat: Khalid hadir di majelis ini, maka tentu ada individu yang lain yang hadir di majelis tersebut.
Maka adanya itsbat (penetapan) mengharuskan adanya nafi (pengingkaran). Inilah kesempurnaan Tauhid yang sebenarnya.
Konsekuensinya, kita harus mempelajari Tauhid dan syirik agar Tauhid kita menjadi sempurna.
Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ﴿٢٣﴾ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al – Isra’: 23-24).
📃 Penjelasan:
Sisi pendalilannya ayat ini adalah pada firman Allah (Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya), ada an-Nafyu (penafian) pada أَلَّا تَعْبُدُوا dan al-itsbaat (penetapan) pada إِلَّا إِيَّاهُ , dan sama seperti Laa ilaah illallahu (tidak ada yang berhak disembah dengan hak kecuali Allah).
Ayat ini menunjukkan akan agungnya kedudukan kedua orang tua karena Allah menggandengkan perintah bertauhid kepadaNya dengan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua.
Kata وَقَضَىٰ maknanya menetapkan atau memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk beribadah kecuali kepada Allah ﷻ. Kata Qada mengandung makna qadar. Seperti halnya kata Iman dan Islam atau fakir dan miskin.
Dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
“Maka Dia menjadikannya tujuh langit… .” [Fushshilat/41 : 12]
Yakni, menciptakan semua itu.
Qadha’ dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha’. Barangsiapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut. (Lisaanul ‘Arab, (XV/186) dan an-Nihaayah, (IV/78).
Makna قَضٰى atau ketetapan/qadha’ Allah ini ada yang Kauniyyah dan Syar’iyyah.
- Qadha’ Kauniyyah pasti terjadi, berkaitan dengan kehendak Allah secara mutlak sehingga ada yang dicintai dan tidak dicintai. Seperti halnya sakit, miskin, musibah dan lainnya.
- Qadha’ Syar’iyyah adalah ketetapan yang Allah cintai, dalam hal ini ada yang Allah cintai tapi tidak terjadi. (Tidak semua melakukannya) seperti perintah shalat, berbakti kepada orang tua, ada yang melakukan dan ada yang meninggalkannya. Tetapi perlu diperhatikan bahwa setiap apa yang dicintai Allah pasti ada hikmah dibalik itu.
Pada وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ mengandung perintah Berbuat baiklah kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Faedah lainnya adalah urutan pemenuhan hak dalam berbuat ihsan, yaitu diawali dengan pemenuhan hak Allah ﷻ dari hamba-Nya (menyembah dan tidak menyekutukanNya) dan hak hamba kepada hamba lainnya (berbakti kepada orang tua).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

