Mutiara SalafBagaimana Doa Salaf saat Fitnah

Ibrahรฎm At-Taimy (w: 192H) berdoa,

 ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุนู’ุตูู…ู’ู†ููŠ ุจูุฏููŠู†ููƒูŽ ูˆูŽุจูุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ู†ูŽุจููŠู‘ููƒูŽุŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ูุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูุŒ ูˆูŽู…ูู†ู ุงุชู‘ูุจูŽุงุนู ุงู„ู’ู‡ูŽูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุณูุจูู„ู ุงู„ุถู‘ูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูุจูู‡ูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑูุŒ ูˆูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ุฒู‘ูŽูŠู’ุบู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูุตููˆู…ูŽุงุชู

โ€œYa Allah, jagalah saya dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, mengikuti hawa nafsu, jalan-jalan kesesatan, dan kerancuan dalam segenap perkara, serta dari penyimpangan dan perdebatan.โ€ [Disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jรขmi Bayรขn Al-โ€˜Ilm no. 2333, Asy-Syรขthiby dalam Al-Iโ€™tishรขm 1/143 (Tahqรฎq Masyhรปr Hasan)]

 

Mati Yang Mulia di Kalangan Kaum Salaf

Imam Abdullah bin Al-Mubarak Al-Khurasรขny berkata,

ุงุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ููŠ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุฉูŒ ู„ููƒูู„ู‘ู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ูŽู‚ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู , ููŽุฅูู†ู‘ูŽุง ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽุงุฌูุนููˆู†ูŽ , ููŽุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุดู’ูƒููˆ ูˆูŽุญู’ุดูŽุชูŽู†ูŽุง , ูˆูŽุฐูŽู‡ูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ู , ูˆูŽู‚ูู„ู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ูˆูŽุงู†ู , ูˆูŽุธูู‡ููˆุฑูŽ ุงู„ู’ุจูุฏูŽุนู , ูˆูŽุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุดู’ูƒููˆ ุนูŽุธููŠู…ูŽ ู…ูŽุง ุญูŽู„ู‘ูŽ ุจูู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ู…ูŽู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุงุจู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู , ูˆูŽุธูู‡ููˆุฑู ุงู„ู’ุจูุฏูŽุนู

โ€œKetahuilah bahwa saya melihat kematian pada hari ini adalah suatu karamah bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah di atas Sunnah. Innรข Lillรขhi wa Innรข Ilaihi Rรขjiรปn โ€˜Sesunggunya kami adalah milik Allah, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nyaโ€™. Kepada Allah kami mengeluhkan kehambaran kami, berpulangnya segenap kawan, sedikitnya penolong, dan tampaknya bidโ€™ah-bidโ€™ah. Kepada Allah kami mengeluhkan besarnya (musibah) yang menimpa umat ini dengan kepergian ulama dan ahlussunnah, dan tampaknya berbagai bidโ€™ah.โ€ [Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhรขh dalam Al-Bidaโ€™ no. 97]

Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara

Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata, โ€œWahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, โ€˜Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalianโ€™. Sudah sekian lama kami berdoa tapi tidak dikabulkan?โ€

Beliau menjawab,

ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุตู’ุฑูŽุฉูุŒ ู…ูŽุงุชูŽุชู’ ู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูููŠ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉู ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกูŽุŒ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูู‡ูŽุง: ุนูŽุฑูŽูู’ุชูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆู„ูŽู…ู’ ุชูุคูŽุฏู‘ููˆุง ุญูŽู‚ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ: ู‚ูŽุฑูŽุฃู’ุชูู…ู’ ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆู„ูŽู…ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆุง ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู„ูุซู: ุงุฏู‘ูŽุนูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุญูุจู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุฑูŽูƒู’ุชูู…ู’ ุณูู†ู‘ูŽุชูŽู‡ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุงุจูุนู: ุงุฏู‘ูŽุนูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุนูŽุฏูŽุงูˆูŽุฉูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽูˆูŽุงููŽู‚ู’ุชูู…ููˆู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุงู…ูุณู: ู‚ูู„ู’ุชูู…ู’ ู†ูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ูˆู„ูŽู…ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆุง ู„ูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุงุฏูุณู: ู‚ูู„ู’ุชูู…ู’ ู†ูŽุฎูŽุงูู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ ูˆูŽุฑูŽู‡ูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนู: ู‚ูู„ู’ุชูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุณู’ุชูŽุนูุฏู‘ููˆุง ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู…ูู†ู: ุงุดู’ุชูŽุบูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูุนููŠููˆุจู ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ููƒูู…ู’ ูˆูŽู†ูŽุจูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุนููŠููˆุจูŽูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนู: ุฃูŽูƒูŽู„ู’ุชูู…ู’ ู†ูุนู’ู…ูŽุฉูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูู…ู’ ูˆู„ูŽู…ู’ ุชูŽุดู’ูƒูุฑููˆู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงุดูุฑู: ุฏูŽููŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูŽูˆู’ุชูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุนู’ุชูŽุจูุฑููˆุง ุจูู‡ูู…ู’

โ€œWahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,

Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.

Kedua, kalian membaca Al-Qurโ€™an, tapi kalian tidak mengamalkannya.

Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallรขhu โ€˜alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.

Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.

Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.

Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.

Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.

Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.

Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.

Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.โ€

[Diriwayatkan oleh Abu Nuโ€™aim dalam Hilayatul Auliyรข` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jรขmi Bayรขn Al-โ€˜Ilm no. 1220, Asy-Syรขthiby dalam Al-Iโ€™tishรขm 1/149 (Tahqรฎq Masyhรปr Hasan), dan Al-Absyรฎhy dalam Al-Mustathraf 2/329.]

 

Contoh dari Lembaran Kaum Salaf Menjaga Keikhlasan

Al-Qรขdhi โ€˜Alรข`uddin Ibnul Lahhรขm berkata, โ€œPada suatu saat, Syaikh (Ibnu Rajab Al-Hanbaly) menyebutkan sebuah masalah kemudian beliau sangat meluas dalam (menjelaskan)nya. Saya sangat kagum terhadap beliau dan penguasaan beliau yang sangat kuat terhadap masalah itu. Setelah itu, terjadi (pembahasan) masalah tersebut dihadiri oleh pembesar-pembesar dari berbagai madzhab, dan (Ibnu Rajab) tidak berucap satu kalimat pun. Begitu (Ibnu Rajab) berdiri, saya berkata kepadanya, โ€˜Bukankah engkau telah menjelaskan (masalah tersebut) dengan pembicaraan (yang telah lalu)?โ€™ (Ibnu Rajab) menjawab, โ€˜Saya hanya berbicara pada hal yang saya harapkan pahalanya, dan sangat khawatir untuk berbicara dalam majelis ini.โ€™โ€ฆโ€ [Dzail โ€˜Alรข Dzail Thabaqรขt Al-Hanรขbilah karya Ibnul Mibrad hal. 39, dengan perantara beberapa sumber.]

 

Menghadapi Orang Jahil

Imam Asy-Syafiโ€™iy berkata,

ูŠูุฎูŽุงุทูุจูู†ููŠ ุงู„ุณู‘ูŽูููŠู’ู‡ู ุจููƒูู„ู‘ู ู‚ูุจู’ุญู โ€ฆ ููŽุฃูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽูƒููˆู’ู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูุฌููŠู’ุจู‹ุง

ูŠูŽุฒููŠู’ุฏู ุณูŽููŽุงู‡ูŽุฉู‹ ููŽุฃูŽุฒููŠู’ุฏู ุญูู„ู’ู…ู‹ุง โ€ฆ ูƒูŽุนููˆู’ุฏู ุฒูŽุงุฏูŽู‡ู ุงู„ู’ุฅูุญู’ุฑูŽุงู‚ู ุทููŠู’ุจู‹ุง

โ€œOrang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

Akupun enggan untuk menjawabnya

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.โ€ [Diwรขn Imam Asy-Syรขfiโ€™iy]

 

Nikmat Membawa Petaka

Abu Hazim Salamah bin Dรฎnรขr Al-Aโ€™raj berkata,

ูƒูู„ู‘ู ู†ูุนู’ู…ูŽุฉู ู„ุง ุชูู‚ูŽุฑู‘ูุจู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ููŽู‡ููŠูŽ ุจูŽู„ููŠู‘ูŽุฉูŒ

โ€œSetiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.โ€ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyรข dalam Asy-Syukr Lillรขh]

 

Tiga Pokok Keimanan

โ€˜Ammรขr bin Yรขsir radhiyallรขhu โ€˜anhumรข berkata,

ุนูŽู…ู‘ูŽุงุฑูŒ ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูŽู†ู’ ุฌูŽู…ูŽุนูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽ ุงู„ุฅูู†ู’ุตูŽุงูู ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ุŒ ูˆูŽุจูŽุฐู’ู„ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ู„ูู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ู ุŒ ูˆูŽุงู„ุฅูู†ู’ููŽุงู‚ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅูู‚ู’ุชูŽุงุฑู

โ€œAda tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.โ€ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhรขry secara Muโ€™allaq dan Al-Baihaqy]

 

Di Atas Sunnah Adalah yang Terbaik

Ibnu Masโ€™รปd radhiyallรขhu โ€˜anhu berkata,

ุงู‚ู’ุชูุตูŽุงุฏูŒ ูููŠ ุณูŽู†ูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู ุงุฌู’ุชูู‡ูŽุงุฏู ูููŠ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู

โ€œHemat dalam suatu sunnah adalah lebih baik dari bersungguh-sungguh dalam suatu bidโ€™ah.โ€ [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarรขny]

 

Ucapan โ€˜Saya Tidak Tahuโ€™

Umar bin Al-Khaththab radhiyallรขhu โ€˜anhu berkata,

ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŒ: ูƒูุชูŽุงุจูŒ ู†ูŽุงุทูู‚ูŒุŒ ูˆูŽุณูู†ูŽู‘ุฉูŒ ู…ูŽุงุถููŠูŽุฉูŒุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑููŠู’

โ€œIlmu ada tiga: Kitab (Al-Qurโ€™an) yang berbicara, Sunnah (Nabi) yang terus berlaku, dan (upacan) โ€˜saya tidak tahuโ€™.โ€ [Iโ€™lamul Muwaqqiโ€™in karya Ibnul Qayyim]

 

Yang Menghancurkan Agama

Dari Ziyรขd bin Hudair, beliau berkata, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu โ€˜anhu berkata kepadaku, โ€œApakah engkau tahu apa yang menghancurkan (agama) Islam?โ€ Saya menjawab, โ€œTidak.โ€ Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata,

ูŠูŽู‡ู’ุฏูู…ูู‡ู ุฒูŽู„ูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ูุŒ ูˆูŽุฌูุฏูŽุงู„ู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ู ุจูุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูุŒ ูˆูŽุญููƒู’ู…ู ุงู„ู’ุฃูŽุฆูู…ูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ู…ูุถูู„ูู‘ูŠู†ูŽ

โ€œ(Agama Islam) dihancurkan oleh ketergelinciran seorang alim, jidal kaum munafiqin dengan Al-Qurโ€™an, dan hukum para pemimpin yang sesat.โ€ [Diriwayatkan oleh Ad-Darimy dan selainnya]

 

Hakikat Takwa

Abdullah bin โ€˜Umar radhiyallahu โ€˜anhumรข berkata,

ู„ูŽุง ูŠูŽุจู’ู„ูุบู ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŽ ุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฏูŽุนูŽ ู…ูŽุง ุญูŽุงูƒูŽ ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุฏู’ุฑู

โ€œTidaklah seorang hamba mencapai hakikat takwa hingga dia meninggalkan apa yang berseteru dalam hatinya.โ€ [Disebutkan oleh Al-Bukhary dalam Shahihnya secara Muโ€™allaq]

 

Dari Bagian Keimanan

Abdullah bin Masโ€™รปd radhiyallรขhu โ€˜anhu berkata,

ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู ู†ูุตู’ูู ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูƒูู„ูู‘ู‡ู

โ€œSabar adalah seperdua keimanan, dan Yakin adalah keimanan seluruhnya.โ€ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikhnya sebagaimana dalam Taghlรฎq At-Taโ€™lรฎq, dan Al-Hakim]

 

Lisanku Ini yang Telah Menyeretku kepada Berbagai Prahara

Suatu hari, Umar bin Al-Khaththab radhiyallรขhu โ€˜anhu masuk menjumpai Abu Bakr radhiyallรขhu โ€˜anhu, dan Abu Bakr sedang menarik lisannya. Umar berkata, โ€œAda apa? Semoga Allah mengampunimu.โ€ Abu Bakr menjawab,

ุฅูู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽูˆู’ุฑูŽุฏูŽู†ููŠ ุงู„ู’ู…ูŽูˆูŽุงุฑูุฏูŽ

โ€œSesungguhnya (lisan) ini telah menyeretku ke berbagai prahara.โ€ [Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa` dengan riwayat Yahya bin Yahya]

 

Rasa Malu di Kalangan Shahabat

Abu Bakr Ash-Shiqqรฎq radhiyallรขhu โ€˜anhu berkhutbah kepada manusia,

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽุŒ ุงุณู’ุชูŽุญู’ูŠููˆุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ููŽูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ุฅูู†ูู‘ูŠ ู„ูŽุฃูŽุธูŽู„ูู‘ ุญููŠู†ูŽ ุฃูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุทู ูููŠ ุงู„ู’ููŽุถูŽุงุกู ู…ูุชูŽู‚ูŽู†ูู‘ุนู‹ุง ุจูุซูŽูˆู’ุจููŠ ุงุณู’ุชูุญู’ูŠูŽุงุกู‹ ู…ูู†ู’ ุฑูŽุจูู‘ูŠ ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘

โ€œWahai kaum muslimin sekalian, malulah kalian kepada Allah. Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh saya pergi membuat hajat di tanah lapang (tempat membuang hajat) dalam keadaan berkudung baju karena malu kepada Rabbku โ€˜Azza wa Jalla.โ€ [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]

 

Kalimat-kalimat Indah di awal Pemerintahan Abu Bakr

Setelah terangkat menjadi Khalifah, Abu Bakr Ash-Shiqqรฎq radhiyallahu โ€˜anhu berkhutbah,

โ€œAmma Baโ€™du, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya telah dijadikan pemimpin terhadap kalian, sedang saya bukan orang yang terbaik di antara kalian. Apabila saya berbuat baik, bantulah saya. Apabila saya berbuat jelek, luruskanlah saya. Kejujuran adalah amanah dan dusta adalah khiyanat. Orang yang lemah di tengah kalian adalah kuat di sisiku hingga saya memberikan haknya, insya Allah. Orang yang kuat di tengah kalian adalah lemah di sisiku hingga saya mengambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan memukul mereka dengan kehinaan. Tidaklah suatu kekejian tersebar di suatu kaum kecuali Allah akan meratakan mereka dengan bala. Taatilah saya selama saya menaati Allah dan Rasul-Nya. Apabila saya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya tidak ketaatan untukku terhadap kalianโ€ฆโ€ [Diriwayatkan oleh Ibnu Ishรขq dalam As-Sรฎrah]

 

Nasihat Imam Asy-Syafiโ€™iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

Imam Al-Muzany bercerita:

โ€œAku menemui Imam Asy-Syafiโ€™iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, โ€œBagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?โ€

Beliau menjawab, โ€œPagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.โ€

Aku berkata, โ€œNasihatilah aku.โ€

Asy-Syafiโ€™iy berpesan kepadaku, โ€œBertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah โ€˜Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.โ€

Aku berkata, โ€œTambahlah (nasihatmu) kepadaku.โ€

Beliau melanjutkan, โ€œHendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.โ€

Kemudian, Asy-Syafiโ€™iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan taโ€™bir. Lalu beliau bersyaโ€™ir,

Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-

kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa

Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku

kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku

Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu

kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus

Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam

Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,

walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar

[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]

 

Nasehat untuk Yang Meremehkan Dosa

Bilรขl bin Saโ€™d rahimahullรขh berkata,

ู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ุธูุฑู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุตูุบูŽุฑู ุงู„ู’ุฎูŽุทููŠุฆูŽุฉูุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู ุงู†ู’ุธูุฑู’ ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุตูŽูŠู’ุชูŽ

โ€œJanganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah terhadap siapa engkau bermaksiat.โ€ [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]

 

Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Dari Yahya bin Abi Katsรฎr rahimahullah, beliau berkata,

ู„ูŽุง ูŠูุณู’ุชูŽุทูŽุงุนู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุจูุฑูŽุงุญูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูุณู’ู…ู

โ€œIlmu itu tidaklah didapatkan dengan jasad yang santai.โ€ [Diriwayatkan oleh Muslim]

 

Sebab yang Menurunkan dan Mengangkat Musibah

Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallรขhu โ€˜anhu, beliau berkata,

ู…ูŽุง ู†ูŽุฒูŽู„ูŽ ุจูŽู„ูŽุงุกูŒ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุฐูŽู†ู’ุจู ูˆูŽู„ูŽุง ุฑูููุนูŽ ุจูŽู„ูŽุงุกูŒ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุชูŽูˆู’ุจูŽุฉู

โ€œTidaklah petaka turun, kecuali karena dosa, dan tidaklah petaka diangkat, kecuali dengan taubat.โ€ [Ad-Dรข` wa Ad-Dawรข` hal. 118]

 

Musibah pada Kendaraan dan Istri Karena Maksiat

Berkata Al-Fudhail bin โ€˜Iyรขdh,

ุฅูู†ูู‘ูŠ ู„ุฃูŽุนู’ุตููŠ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ููŽุฃูŽุนู’ุฑููู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุฎูู„ูู‚ู ุฏูŽุงุจูŽู‘ุชููŠ ูˆูŽุฌูŽุงุฑููŠูŽุชููŠ

โ€œSesunggunya aku bermaksiat kepada Allah, hal tersebut aku ketahui (pengaruh jeleknya) dari akhlak kendaraan dan istriku.โ€ [Shaidul Khรขthir karya Ibnul Jauzi dan Al-Jawรขb Al-Kรขfi karya Ibnul Qayyim]

 

Allah Menyiksamu Karena Menyalahi Sunnah

Imam Para Tabiโ€™in, Saโ€™id bin Musayyab rahimahullah melihat seorang melakukan shalat sunnah dua rakaโ€™at setelah shalat subuh, kemudian Saโ€™id melarangnya. Orang tersebut berkata, โ€œWahai Abu Muhammad, apakah Allah menyiksaku karena suatu shalat?!โ€ Saโ€™id menjawab,

ู„ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูŠูุนูŽุฐูู‘ุจููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู‘ุฉู

โ€œTidak, tapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah.โ€ [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ad-Darimy dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwรข` 2/236]

 

Di Antara Petaka Dosa

Ibnu Abbas radhiyallรขhu โ€˜anhumรข berkata,

ุฅูู†ูŽู‘ ู„ูู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ุถููŠูŽุงุกู‹ ูููŠ ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ูุŒ ูˆูŽู†ููˆุฑู‹ุง ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูุŒ ูˆูŽุณูŽุนูŽุฉู‹ ูููŠ ุงู„ุฑูู‘ุฒู’ู‚ูุŒ ูˆูŽู‚ููˆูŽู‘ุฉู‹ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฏูŽู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู‹ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ู„ูู„ุณูŽู‘ูŠูู‘ุฆูŽุฉู ุณูŽูˆูŽุงุฏู‹ุง ูููŠ ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุธูู„ู’ู…ูŽุฉู‹ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูุŒ ูˆูŽูˆูŽู‡ู’ู†ู‹ุง ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฏูŽู†ูุŒ ูˆูŽู†ูŽู‚ู’ุตู‹ุง ูููŠ ุงู„ุฑูู‘ุฒู’ู‚ูุŒ ูˆูŽุจูุบู’ุถูŽุฉู‹ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ู

โ€œSesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada kejelekan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.โ€ [Al-Jawรขb Al-Kรขfy hal. 62]

 

Takwa adalah Jalan Keselamatan dari Fitnah

Dalam menghadapi fitnah, Thalq bin Habib menasihatkan agar berlindung dengan ketakwaan. Ketika ditanya, โ€œApa takwa itu?โ€ Beliau menjawab,

ุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู ุจูุทูŽุงุนูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ููˆู’ุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฑูŽุฌูŽุงุกูŽ ุซูŽูˆูŽุงุจู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆูŽุชูŽุฑู’ูƒู ู…ูŽุนูŽุงุตููŠ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ููˆู’ุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ู…ูŽุฎูŽุงููŽุฉูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู„ู‡ู

โ€œTakwa adalah beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, mengharap rahmat Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, takut akan siksaan Allah.โ€ (Siyรขr Aโ€™lam An-Nubalรข` dan selainnya)

 

Keberkahan Pada Ucapan Ulama Salaf

Ditanyakan kepada Hamdรปn bin Ahmad Al-Qashshรขr, โ€œMengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?โ€

Hamdรปn menjawab, โ€œKarena mereka berbicara untuk keagungan Islam, keselamatan jiwa-jiwa (manusia), dan (meraih) ridha Ar-Rahman. Sedang kita berbicara untuk kemulian diri sendiri, mencari dunia, dan penerimaan manusia.โ€ [Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan Al-Baihaqy dalam Syuโ€™abul รŽmรขn]

 

Panah-Panah Kematian

Ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid memintah nasihat ringkas, Abul โ€˜Atรขhiyah menasihatinya dalam beberapa untaian syair,

 

ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ู…ูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ูููŠู’ ุทูŽุฑู’ูู ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูŽููŽุณู โ€ฆ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุชูŽู…ูŽู†ูŽู‘ุนู’ุชูŽ ุจูุงู„ู’ุญูุฌูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุณู

ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุจูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ุณูู‡ูŽุงู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ู‚ูŽุงุตูุฏูŽุฉูŒ โ€ฆ ู„ููƒูู„ูู‘ ู…ูŽุฏูŽุฑูŽู‘ุนู ู…ูู†ูŽู‘ุง ูˆูŽู…ูุชูŽุฑูŽู‘ุณู

ุชูŽุฑู’ุฌููˆ ุงู„ู†ูŽู‘ุฌูŽุงุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุณู’ู„ููƒู’ ู…ูŽุณูŽุงู„ููƒูŽู‡ูŽุง โ€ฆ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุณูŽู‘ูููŠู’ู†ูŽุฉูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุฑููŠู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูŠูŽุจูŽุณู

 

โ€œJanganlah merasa aman dari kematian dalam sekejam maupun senafas

walaupun engkau berlindung dengan tirai dan para pengawal.

Ketahuilah bahwa panah-panah kematian selalu membidik

setiap dari kita, yang berbaju besi maupun yang berperisai.

Engkau menghendaki keselamatan, sedang engkau tidak menempuh jalan-jalannya,

sesungguhnya perahu tidak akan berjalan di atas daratan kering.โ€

[Raudhatul โ€˜Uqalรข` karya Ibnu Hibban hal. 285]

 

Sunnah Allah Pada Suatu Kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘ ู…ูŽู†ู’ุตููˆู’ุฑูŒ ูˆูŽู…ูู…ู’ุชูŽุญูŽู†ูŒ ููŽู„ูŽุง

ุชูŽุนู’ุฌูŽุจู’ ููŽู‡ูŽุฐููŠู’ ุณูู†ูŽู‘ุฉู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุงู†ู

โ€œKebenaran itu akan selalu menang dan mendapat ujian, maka janganlah

heran, sebab ini adalah sunnah Ar-Rahman (sunnatullah).โ€

[Al-Kรขfiyah Asy-Syรขfiyah 1/52 (Syarah Syaikh Shalih Al-Fauzan)]

 

Cara Mengenal Pendusta

Harun bin Sufyรขn Al-Mustamly bertanya kepada Imam Ahmad, โ€œBagaimana cara engkau mengetahui para pendusta?โ€ Imam Ahmad menjawab, โ€œDengan (melihat) janji-janji mereka.โ€

[Dirwayatkan oleh Ibnu โ€˜Ady dalam Al-Kamil dan As-Samโ€™รขny dalam Adabul Imlรข`]

 

Juallah Dia, Walaupun Hanya dengan Harga Segenggam Debu

Muhammad bin Abdillah Al-Baghdรขdy bersenandung,

ุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุฃูŽุฎู’ุทูŽุฃูŽู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŒ โ€ฆ ููŽุจูุนู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุจููƒูŽููู‘ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุงุฏู

ุณูŽู„ูŽุงู…ูŽุฉู ุตูŽุฏู’ุฑูู‡ู ูˆูŽุงู„ุตูู‘ุฏู’ู‚ู ู…ูู†ู’ู‡ู โ€ฆ ูˆูŽูƒูุชู’ู…ูŽุงู†ู ุงู„ุณูŽู‘ุฑูŽุงุฆูุฑู ูููŠ ุงู„ู’ููุคูŽุงุฏู

 

โ€œApabila seorang kehilangan tiga (sifat),

Juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu.

(Tiga sifat itu adalah) keselamatan hati, kejujuran jiwa,

dan menyembunyikan rahasia (orang lain) di dalam hati.โ€

[Raudhatul โ€˜Uqalรข` karya Ibnu Hibban hal. 53]

 

Mengukur Keikhlasan

Muhammad bin Abdawaih berkata, Saya mendengar Al-Fudhail bin โ€˜Iyรขdh rahimahullah berkata,

ุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฑููŠูŽุงุกูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุดูุฑู’ูƒูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูุฎู’ู„ูŽุงุตู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนูŽุงูููŠูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง

โ€œMeninggalkan amalan karena manusia adalah riya`, dan beramal karena manusia adalah kesyirikan. Ikhlas adalah Allah menyelamatkan engkau dari dua perkara tersebut.โ€

[Diriwayatkan oleh Abu Nuโ€™aim dan Ibnu Asรขkir, sebagaimana dalam kitab Al-ร‚tsรขr Al-Wรขridah โ€˜Anil Aimmah fi Abwรขbil Iโ€™tiqรขd 1/159]

 

Hakikat Kehidupan Hamba

Al-Marrudzy berkata, โ€œSuatu hari aku masuk menjumpai (Imam) Ahmad, lalu saya bertanya, โ€˜Bagaimana engkau di pagi ini?โ€™ Beliau menjawab, โ€˜Aku masuk di waktu pagi dalam keadaan Rabbku menuntut (diriku) untuk menunaikan kewajiban, Nabi-Nya menuntutnya untuk menunaikan sunnah, dua malaikat menuntutnya untuk memperbaiki amalan, jiwanya menuntut (mengikuti) hawa nafsu, Iblis menuntutnya untuk kekejian, Malakul Maut menuntut nyawanya, dan keluarganya menuntut nafkah.โ€™.โ€

[Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Yaโ€™lรข 1/570, dengan perantara kitab Kasykรปl karya guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Aqil]