Bismillah
Kajian Ummahat Doha – Senin Pagi
Tanggal: 23 Rajab 1447 / 13 Januari 2026
Bersama: Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc, M.A Hafidzahullah
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 213 | Tujuan Diutusnya Nabi dan Diturunkannya Kitab
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
📃 Penjelasan:
Ayat ini diawali dengan Khabar kana yaitu setiap khabar mubtada yang dimasuki oleh kana atau oleh salah satu saudaranya.
Lafadz Umat berbeda-beda makna sesuai dengan konteksnya, Ada lima tempat dalam Al-Qur’an:
1. Dalam surat Al-Baqarah ayat 213 di atas bermakna umat (sekelompok orang).
2. Dalam An-Nahl Ayat 120 bermakna imam:
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ ١٢٠
Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.
3. Dalam Yusuf ayat 45, maknanya adalah waktu atau zaman.
وَٱدَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ
dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya.
4. Dalam surat Az-Zuhruf ayat 22: maknanya tariqah atau Jalan atau jejak.
بَلْ قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ ٢٢
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka.”
5. Dalam surat Hud ayat 8, maknanya waktu tertentu (ajal).
وَلَىِٕنْ اَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ اِلٰٓى اُمَّةٍ مَّعْدُوْدَةٍ لَّيَقُوْلُنَّ مَا يَحْبِسُهٗۗ
Sungguh, jika Kami tangguhkan azab dari mereka sampai waktu tertentu, niscaya mereka akan berkata, “Apakah yang menghalanginya?”
Dalam tafsir Ibnu Katsir rahimahullah dijelaskan:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Antara nabi Nuh dan nabi Adam terdapat sepuluh abad, semuanya mengikuti hukum yang benar. Lalu mereka berselisih, dan Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”
Diriwayatkan dari Qatadah mengenai firmanNya, (Manusia itu adalah umat yang satu) dia berkata,”Mereka dahulu berada di atas petunjuk bersama-sama, kemudian mereka berbeda-beda (maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan) dan utusan pertama adalah nabi Nuh. Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas pertama.
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah (Manusia itu adalah umat yang satu), dia berkata, mereka ingkar (maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan). Ungkapan pertama yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas itu lebih shahih secara sanad dan maknanya, karena orang-orang berada pada agama nabi Adam sampai mereka menyembah berhala, lalu Allah mengutus kepada mereka nabi Nuh alaihissalam, dan menjadi utusan pertama yang diutus oleh Allah untuk penduduk bumi.
Dalam ayat disebut nabi, dan kalau disebut nabi maka otomatis termasuk di dalamnya Rasul.
Perbedaan Mendasar antara nabi dan Rasul:
Rasul:
- Menerima wahyu (syariat) dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya.
- Diutus untuk kaum yang ingkar dan membawa perubahan, seringkali dengan syariat baru (misal: Musa, Isa, Muhammad).
Nabi:
- Menerima wahyu, tetapi tidak diwajibkan untuk menyampaikannya secara umum, bisa hanya untuk dirinya atau kaumnya yang sudah beriman.
- Seringkali bertugas melanjutkan atau memperkuat syariat yang dibawa oleh rasul sebelumnya (misal: Nabi Yusuf melanjutkan syariat Nabi Ibrahim).
Jumlah Para Nabi dan Rasul
Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan jumlah Nabi dan Rasul. Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
قلتُ : يا رسولَ اللهِ ! أيُّ الأنبياءِ كان أولُ ؟ ! قال : آدمُ، قلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ونبيٌّ كان ؟ ! قال : نعم نبيٌّ مُكلَّمٌ، قلتُ : يا رسولَ اللهِ : كم المرسلونَ ؟ ! قال : ثلاثُ مئةٍ وبضعةَ عشرَ ؛ جمًّا غفيرًا
“Aku bertanya: wahai Rasulullah, siapa Nabi pertama? Rasulullah menjawab: Adam. Aku bertanya: wahai Rasulullah, apakah beliau (Adam) seorang Nabi? Rasulullah menjawab: benar, ia seorang Nabi yang diajak bicara oleh Allah. Aku bertanya: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah para Rasul? Rasulullah menjawab: 300 sekian belas, mereka sangat banyak” (HR. Ahmad no.21586, Al Hakim [2/652], Al Baihaqi no.18166. Dishahihkan Ahmad Syakir dalam Umdatut Tafsir [1/309] dan Al Albani dalam Takhrij Al Misykah no.5669. Dan sebagian ulama mendhaifkan hadits ini).
Dalam riwayat lain dari Abu Dzar juga:
قلت : يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الْأَنْبِيَاءُ ؟ قَالَ: ( مِائَةُ أَلْفٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا)، قُلْتُ :يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ : (ثَلَاثُ مِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا)
“Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi? Rasulullah menjawab: Nabi ada 120.000 orang. Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Rasul? Rasulullah menjawab: Rasul ada 313 orang, mereka sangat banyak” (HR. Ibnu Hibban no.361, didhaifkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [2/79]).
Keutamaan Umat Muhammad ﷺ
- Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat terbaik. Sebagaimana terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 110.
- Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat pertama yang masuk Surga. Dalam Hadits Riwayat Muslim disebutkan bahwa, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kita (Muhammad dan umatnya) adalah umat yang terakhir, dan yang paling pertama pada hari kiamat, kami adalah orang yang pertama masuk surga.”
- Umat Nabi Muhammad merupakan umat yang tidak sepakat dalam kesesatan. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku (umat nabi Muhammad) atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi)
Hari Jum’at merupakan keistimewaan dan hidayah yang Allah berikan kepada umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat lain sebelumnya. Seperti dijelaskan dalam hadits:
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فَهَدَانَا اللهُ لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ، فَهَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ هَدَانَا اللهُ لَهُ –قَالَ: يَوْمُ الْجُمْعَةِ-، فَالْيَوْمُ لَنَا وَغَداً لِلْيَهُوْدِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى.
Kita adalah umat yang datang terakhir tapi paling awal datang pada hari kiamat, dan kita yang pertama kali masuk surga, cuma mereka diberi Kitab sebelum kita sedangkan kita diberi Kitab setelah mereka. Kemudian mereka berselisih, lalu Allah memberi kita hidayah terhadap apa yang mereka perselisihkan. Inilah hari yang mereka perselisihkan, dan Allah berikan hidayah berupa hari ini kepada kita (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari Jum’at). Maka hari (Jum’at) ini untuk kita (umat Islam), besok (Sabtu) untuk umat Yahudi dan lusa (Ahad) untuk umat Nasrani.[HR Muslim, no. 855]
Dalam riwayat lain dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz:
أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ اْلأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَاْلأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَاْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيَّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلاَئِقِ.
Allah telah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jum’at, maka umat Yahudi memperoleh hari Sabtu, umat Nasrani memperoleh hari Ahad. Lalu Allah mendatangkan kita dan memberi kita hidayah untuk memperoleh hari Jum’at. Maka Allah menjadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad, dan mereka (umat sebelum kita) berada di belakang kita pada hari kiamat. Kita datang paling akhir di dunia, tetapi paling awal datang di hari kiamat yang telah ditetapkan untuk mereka sebelum diciptakan seluruh makhluk. [HR Muslim, no. 856]
Ini juga menunjukkan terdepannya umat Nabi ﷺ dilihat juga dari urutan hari umat Islam: hari Jum’at dilanjutkan hari mereka sabtu dan minggu.
Tugas kita adalah mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang telah beliau bawa agar kita dapat mengikuti beliau di surgaNya kelak.
📚 Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah
213. Maksudnya, mereka bersatu di atas petunjuk, kondisi itu selama 10 abad setelah Nabi Nuh, dan ketika mereka berselisih dalam perkara agama, lalu sekelompok dari mereka kafir, sedangkan sisanya masih tetap di atas petunjuk dan terjadi perselisihan, maka Allah mengutus kembali rasul-rasulNya untuk melalui antara manusia dan menegakkan hujjah atas mereka.
Pendapat lain mengatakan, bahwa justru (sebaliknya) dahulu manusia bersatu di atas kekufuran, kesesatan, dan kesengsaraan, mereka tidak memiliki cahaya dan tidak pula keimanan, hingga Allah merahmati mereka dengan mengutus para rasul kepada mereka, “sebagai pemberi kabar gembira” bagi orang-orang yang taat kepada Allah dengan hasil ketaatan mereka seperti Rizki, kekuatan tubuh, kekuatan hati, serta kehidupan yang baik, dan yang paling tinggi dari itu semua adalah kemenangan dengan keridhaan Allah dan surga.
“Juga pemberi peringatan” bagi orang yang bermaksiat kepada Allah dengan akibat buruk kemaksiatan mereka seperti menahan rezeki untuk mereka, kelemahan, kehinaan, serta kehidupan yang sempit, dan yang paling besar dari semua itu adalah kemurkaan Allah dan neraka. Allah menurunkan kitab-kitab suci kepada mereka yang membawa kebenaran, yang isinya adalah berita-berita benar dan perintah-perintah yang adil.
Segala hal yang dikandung dalam kitab-kitab suci itu adalah suatu kebenaran yang membedakan antara orang-orang yang berselisih dalam pokok-pokok maupun cabang-cabang. Inilah yang wajib dilakukan ketika terjadi perselisihan dan perdebatan yaitu mengembalikan perselisihan itu kepada Allah dan rasulNya. Sekiranya tidak ada di dalam kitabullah dan sunnah rasulNya suatu hal yang mampu melalui perselisihan, niscaya tidak akan diperintahkan untuk kembali kepada keduanya.
Dan ketika Allah menyebut nikmatNya yang besar dengan menurunkan kitab kepada ahli kitab, dimana hal ini mengharuskan kesepakatan mereka dengannya dan persatuan mereka, lalu Allah mengabarkan bahwa sebagian mereka telah berlaku zhalim terhadap sebagian yang lain, hingga terjadi pertentangan, perselisihan dan banyak perseteruan, mereka berselisih terhadap kitab itu yang sepatutnya mereka adalah orang yang paling pertama bersatu padanya. Hal itu setelah mereka mengetahui dan meyakini dengan adanya tanda-tanda yang jelas dan dalil-dalil yang kuat, lalu mereka tersesat karenanya dengan kesesatan yang jauh, dan Allah memberikan hidayahNya kepada “orang-orang yang beriman” dari umat ini, “kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu.”
Setiap perkara yang diperselisihkan oleh ahli kitab dan mereka menyalahi yang hak dan yang benar padanya, Allah memberikan hidayah untuk umat ini kepada yang benar dari padanya “dengan kehendak-Nya,” dan memudahkannya serta merahmati mereka.
“Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” Seruan kepada jalan yang lurus itu mencakup seluruh manusia sebagai keadilan dariNya dan penegakan hujjah atas manusia agar mereka tidak berkata bahwa tidak ada pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan yang diutus kepada kami, dan Allah memberikan hidayahNya dengan anugerah, rahmat, bantuan, dan kasih sayangNya kepada orang-orang yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Inilah anugerah dan kebaikanNya, sedangkan yang lainnya adalah keadilan dan kebijaksanaan Allah.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

