• Alquran-Sunnah 1
    Ahlan wa Sahlan
    Selamat Datang di situs Al-Qurán Sunnah, Jika antum menemukan kesalahan, mohon kiranya untuk mengingatkan kami... Kami sampaikan Jazaakumullohukhoiron atas kunjungan antum wabarokallohufiikum...
  • Alquran-Sunnah 2
    Kenapa Al-Qurán dan Sunnah?
    Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Rawatlah Hati!
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,"Karena hati itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya... maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”.

Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari.

Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847)

⚠ Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak orang.

Akhlak tidak bisa dipisahkan dari agama dan keimanan, ia adalah penentu agama seseorang.

Akhlak adalah sifat manusia yang menentukan perangainya. Apabila sifat itu baik maka perangainya pun baik. Sebaliknya, jika sifat Itu buruk, maka perangainya pun buruk.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah dalam Madarijus Salikin mengatakan agama itu seluruhnya akhlak, orang yang mampu mengalahkanmu dari segi akhlak, maka dia pun mengalahkanmu dalam segi agama.

Setengah ayat adalah bagian dari Al-Qur’an pada surat Al-A’raf ayat 31.

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Ayat ini adalah petunjuk kehidupan. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini.

Tujuan berpuasa adalah menjadi muslim yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa berasal dari hati yang sehat.

Orang-orang yang menjaga hati adalah orang yang berbahagia. Dia akan menjaga hati agar tetap lurus. Karena hati selalu berbolak balik.

Maka kita harus selalu berdo’a, Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu.” (HR. An-Nasai)

Berkumpul bersama dengan anggota keluarga adalah cita-cita setiap keluarga, baik di dunia apalagi di akhirat.

Akan tetapi sejarah melukiskan kisah nabi Nuh alaihissalam yang berpisah dengan anaknya. Sementara Fir’aun meskipun kejam memiliki isteri shalehah yang keduanya tidak bisa berkumpul di akhirat. Demikian juga nabi luth dan isterinya pun tidak bisa berkumpul di akhirat.

Ketiganya tidak bisa bersama karena kekafiran mereka. Dihalangi oleh tabir keimanan.

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menjelaskan berkumpulnya anggota keluarga di akhirat kelak.

Mutiara Salaf