بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 𝕀𝕘𝕙𝕠𝕥𝕤𝕒𝕥𝕦𝕝 𝕃𝕒𝕙𝕗𝕒𝕟 𝕄𝕚𝕟 𝕄𝕒𝕤𝕙𝕠𝕪𝕚𝕕𝕚𝕤𝕪 𝕊𝕪𝕒𝕚𝕥𝕙𝕒𝕟
(Penolong Orang yang Terjepit – Dari Perangkap Syaitan)
Karya: Ibnul Qayyim al-Jauziyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
Pemateri: Ustadz Isnan Efendi, Lc. MA. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan: 4 Sya’ban 1447 / 23 Januari 2025
Permainan Syaitan kepada Kaum Nasrani
Selanjutnya Allah mengutus hamba, rasul dan kalimat-Nya, Al-Masih putera Maryam untuk memperbaharui agama mereka, menjelaskan tanda-tanda-Nya, untuk mengajak mereka beribadah hanya kepada Allah semata, serta berlepas diri dari berbagai hal baru (dalam agama) dan pendapat-pendapat batil. Tetapi kaumnya memusuhinya, mendustakannya serta menuduhnya, juga menuduh ibunya dengan sesuatu yang amat besar, kemudian mereka ingin membunuhnya, tetapi Allah menyucikannya dari mereka dan mengangkatnya ke hadirat-Nya, sehingga mereka tidak bisa menimpakan keburukan terhadapnya.
Ada dua istilah Al-Masih (Mengusap) :
- Al-Masih Isa: Manusia utusan Allah (Nabi), jujur, membawa petunjuk, dan memiliki mukjizat (menyembuhkan buta, kusta, menghidupkan orang mati dengan izin Allah). Artinya mengusap mata yang buta untuk menyembuhkan, maka disebut Al-Masih.
- Al-Masih Dajjal: Makhluk sesat, pembohong besar (al-kadzdzab), buta matanya, dan membawa fitnah terbesar di akhir zaman. Berasal dari kata yang berarti buta matanya, atau penjelajah yang menutup (mengusap) kebenaran dengan kejahatan/sihir. Berjalan dengan cepat di atas muka bumi.
Singkatnya, Al-Masih Isa adalah simbol kebenaran, sedangkan Al-Masih Dajjal adalah simbol kebatilan.
Allah juga memberikan penolong-penolong bagi Al-Masih yang menyeru kepada agama dan syariatnya, sehingga menanglah agamanya atas setiap orang yang menyelisihinya. Dan raja-raja pun masuk ke dalam agamanya. Lalu, dakwahnya pun menjadi tersebar. Demikian terus berlanjut hingga sepanjang tiga ratus tahun.
Selanjutnya ada upaya-upaya untuk mengubah agama Al-Masih, hingga ia benar-benar hilang substansinya, sampai tak berbekas suatu apa pun di tangan orang-orang Nasrani dari agama mereka sendiri. Mereka mencampuradukkan agama Al-Masih dengan agama para ahli filsafat penyembah berhala. Dengan hal itu mereka berdalih untuk lebih adaptif dengan manusia dalam mengajak mereka ke dalam agama Nasrani. Karena itu mereka mengubah penyembahan patung kepada penyembahan gambar yang tidak punya bayangan. Mereka juga mengubah dari sujud kepada matahari kepada sujud ke arah timur. Termasuk pula mereka mengubah pendapat dari bersatunya orang yang berakal, sesuatu yang masuk akal dan akal kepada pendapat tentang bersatunya bapa, anak dan Ruhul Qudus.
Inilah yang dimaksud dengan bid’ah dalam agama. Mereka merubah ajaran agama Nasrani dari yang lurus, maka, Nabi ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak seperti mereka, memodifikasi agama yang telah sempurna. Sabdanya:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Dalam hadits lainnya:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Pada awalnya, mereka masih memiliki sebagian dari ajaran Al-Masih. Misalnya masalah khitan, mandi karena jinabat, mengagungkan hari Sabtu, mengharamkan babi dan berbagai hal yang diharamkan oleh Taurat, kecuali apa yang dihalalkan untuk mereka berdasarkan kitab suci mereka. Tetapi selanjutnya syariat itu pudar, sampai mereka menghalalkan babi, menghalalkan hari Sabtu dan menggantinya dengan hari Minggu. Mereka juga meninggalkan khitan dan mandi karena jinabat. Dan dahulunya Al-Masih shalat menghadap ke Baitul Maqdis, tetapi mereka kemudian shalat menghadap ke timur. Mereka tidak saja mengagungkan Al-Masih yang disalib, tetapi mereka juga mengagungkan salib itu sendiri dan menyembahnya. Demikian pula Al-Masih tidak pernah berpuasa sebagaimana puasa mereka, tidak pula pernah mensyariatkan atau memerintahkannya, tetapi mereka menentukannya sendiri bilangannya, dan mereka ganti puasa itu pada saat musim semi. Mereka menambahkan bilangan hari-hari tersebut sebagai ganti dari pengubahan mereka menggunakan bulan-bulan berdasarkan peredaran bulan kepada bulan-bulan Romawi (berdasarkan peredaran matahari). Lalu, mereka juga beribadah dalam keadaan najis, padahal Al-Masih Alaihis-Salam senantiasa berada dalam kesucian, wewangian dan kebersihan. Beliau adalah makhluk Allah yang sangat jauh dari najis.
Orang-orang Nasrani melakukan berbagai hal tersebut dengan maksud untuk mengubah agama Yahudi. Untuk itulah kemudian mereka mengubah agama Al-Masih, dan mereka lalu lebih dekat dengan para ahli filsafat dan penyembah berhala. Mereka menyesuaikan diri dengan orang-orang tersebut. Ini dimaksudkan agar mereka menyukainya, dan dengan demikian mereka akan membantu untuk mengalahkan orangorang Yahudi.
Ketika agama Al-Masih Alaihis-Salam telah berubah dan rusak, orang-orang Nasrani berkumpul dalam beberapa konsili yang jumlahnya lebih dari delapan puluh kali. Selanjutnya, mereka saling berpecah-belah dan saling melaknat satu sama lain, bahkan sebagian orang berakal mengatakan, “Seandainya sepuluh orang Nasrani berkumpul untuk membicarakan hakikat apa yang ada pada mereka (dalam masalah agama), tentu mereka akan terpecah menjadi sebelas madzhab.”
Demikian itulah keadaan orang-orang Nasrani dahulu, padahal mereka begitu dekat dengan zaman Al-Masih, mereka mendengar beritaberitanya. Di samping negeri tersebut adalah negeri mereka sendiri (Nasrani) dan kalimat tersebut adalah kalimat mereka. Belum lagi pada saat itu begitu banyak jumlah ulama mereka, begitu intens perhatian mereka terhadap agama dan begitu sering perkumpulan diadakan untuk membahasnya. Tetapi, tetap saja mereka bingung dan ragu-ragu, sesat dan menyesatkan banyak orang. Mereka tidak pernah memiliki pendirian tetap, bahkan ucapan mereka tentang Tuhan pun senantiasa berubah-ubah. Masing-masing menetapkan tuhannya berdasarkan hawa nafsunya. Padahal mereka menegaskan untuk berlepas diri dari orang yang mengikuti hawa nafsunya. Mereka benar-benar telah berpecah belah dalam banyak pendapat tentang nabi dan tuhan mereka. Mereka itu adalah sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Qur’an,
قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِࣖ ٧٧
“Mereka adalah orang-orang yang telah sesat sejak dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 77).
Seandainya engkau bertanya kepada satu keluarga Nasrani tentang agama dan kepercayaan mereka dalam hal tuhan dan nabi mereka, niscaya engkau dapati sang suami memiliki jawaban sendiri, sang istri memiliki jawaban sendiri, anak memiliki jawaban sendiri dan pembantu memiliki jawaban sendiri. Jika itu terjadi pada zaman dahulu, lalu bagaimana jadinya pada zaman sekarang, di mana mereka adalah sisa-sisa, keterserakan dan sampah orang-orang masa lalu yang bingung? Telah begitu jauh jarak waktu memisahkan mereka dengan zaman Al-Masih dan agamanya.
Mereka itulah orang-orang yang mewajibkan kepada para musuh rasul -yang terdiri dari ahli filsafat dan atheis- agar berpegang teguh dengan agama Nasrani. Tetapi mereka menjelaskan agama Al-Masih tersebut dengan cara mereka sendiri. Tentu, agama ini tak bisa diterima oleh orang yang berakal, sehingga para ahli filsafat dan atheis itu saling mengingatkan agar tetap menempuh jalan mereka sendiri. Selanjutnya, mereka berprasangka buruk kepada para rasul dan kitab-kitab suci. Mereka berpendapat bahwa pendapat-pendapat mereka lebih bisa diterima akal daripada agama tersebut. Para ahli agama Nasrani yang ragu-ragu dan bingung itu berkata kepada mereka, “Inilah agama yang benar yang dibawa oleh Al-Masih.” Pernyataan ini semakin menguatkan prasangka buruk mereka terhadap para rasul dan semakin menguatkan sangka baiknya terhadap diri mereka sendiri.
Kesesatan Orang-orang Nasrani
Telah dimaklumi bahwa umat ini melakukan dua dosa besar yang tidak bisa diterima oleh orang berakal dan memiliki pengetahuan.
- Yang pertama, berlebih-lebihan terhadap makhluk, hingga menjadikannya sebagai sekutu Tuhan, sebagai bagian daripada-Nya, sebagai tuhan lain bersama-Nya dan mereka tunduk sebagai hamba baginya.
- Kedua, mencerca dan melecehkan Tuhan, menuduh-Nya dengan berbagai masalah besar.
Misalnya, mereka mengira -dan sungguh Allah Mahasuci dan Mahatinggi dari apa yang mereka katakan- Tuhan turun dari Arasy dari Kursi-Nya yang agung, lalu masuk ke dalam vagina wanita, dan tinggal di dalamnya selama sembilan bulan. la bercampur dengan air kencing, darah dan kotoran. la terbungkus oleh beberapa lapis rahim dan perut. Lalu la keluar dari tempat la masuk, bayi, kanak-kanak, menyusu dan dibalut dengan kain bedong, ditinggal di kasur, menangis, lapar, dahaga, kencing, buang air besar, dibawa dengan tangan dan di atas pundak. Sampai kemudian orang Yahudi menampar kedua Pipi-Nya, meludahi Wajah-Nya dan menampar Tengkuk-Nya, disalib secara terang-terangan di antara para pencuri, dikenakan pada-Nya mahkota dari duri, kedua tangan dan Kaki-Nya dipaku.
Demikianlah mereka menimpakan padaNya berbagai bentuk siksaan. Inilah Tuhan mereka yang haq, yang menciptakan alam semesta secara teliti, yang disembah dan kepada-Nya sujud diarahkan.
تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْاَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّاۙ ٩٠
“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh.” (Maryam: 90).
Al-Masih berkata, “Manusia mencelaku, padahal itu tidak pantas dilakukan, mereka juga mendustakanku, padahal itu juga tidak pantas dilakukan. Adapun celaan mereka kepadaku adalah perkataan mereka, ‘Allah mengambil (mempunyai) anak. Dan bahwa aku adalah Yang Mahaesa, tempat bergantung, di mana aku tidak melahirkan dan juga tidak dilahirkan dan bahwa tidak seorang pun yang menyamaiku.’ Adapun pendustaan mereka terhadapku yaitu ucapan mereka, ‘la tidak akan mengembalikanku sebagaimana la menciptakanku.”
Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Hinakanlah mereka, tetapi jangan menzalimi mereka. Sungguh mereka telah mencerca Allah dengan cercaan yang tidak seorang manusia pun pernah melakukannya.”
Dan demi Allah, sungguh para penyembah berhala, meskipun mereka adalah para musuh Allah yang sesungguhnya, musuh para RasulNya serta manusia yang paling kufur kepada Allah, tetapi mereka enggan menyifati tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah -yang terdiri dari batu, besi dan kayu- seperti apa yang disifatkan oleh orang-orang Nasrani terhadap Tuhan semesta alam, Tuhan langit dan bumi. Dalam hati mereka, Allah adalah Mahaagung dan Mahabesar untuk disifati demikian, atau dengan hal-hal yang mendekatinya. Adapun syirik mereka, adalah karena mereka menyembah makhluk yang diciptakan Allah. Mereka mengira bahwa makhluk itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka sama sekali tidak menjadikan tuhan-tuhan mereka itu sama dengan Allah, tidak juga sebanding, dan tidak pula beranak. Mereka tidak mencela Allah sebagaimana orang-orang Nasrani.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

