بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Al-Khor Sabtu Pagi

📗 | #2 Kitab Al-Wasail Al-Mufidah Lil-Hayatis Sa’idah ( الوسائل المفيدة للحياة السعيدة ) Karya Sheikh Abdul Rahman bin Nasser Al-Saad Rahimahullah
🎙️ | Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc. MA. Hafidzahullah
🗓️ | Al-khor, 15 Rabi’ul Akhir 1448 / 26 September 2026



Iman dan Amal Saleh sebagai Fondasi Kebahagiaan

Alhamdulillah, kita masih diberikan taufik oleh Allah Azza wa Jalla pada hari ini untuk membuka dan melanjutkan kembali kajian rutin kita.

Pada kesempatan ini kita melanjutkan pembahasan kitab Miftah Daris Sa’adah au Al-Wasail Al-Mufidah lil Hayatis Sa’idah karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala. Sebelumnya kita telah membaca mukadimah beliau dan sekarang kita sampai pada paragraf terakhir dari mukadimah tersebut.

Kebahagiaan Tidak Diukur dengan Kesehatan dan Dunia

Sebagaimana pernah kita sebutkan, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menulis risalah ini dalam keadaan sakit keras, bahkan ketika beliau berada di pembaringan di rumah sakit. Pada waktu itu dokter melarang beliau menulis dan membaca karena dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya.

Namun keadaan tersebut justru menunjukkan bahwa kebahagiaan seseorang tidak semata-mata diukur dengan kesehatan, kedudukan, kekayaan, atau kondisi duniawi lainnya. Kebahagiaan hakiki berkaitan dengan iman dan hal-hal yang akan beliau jelaskan dalam risalah ini.

Manusia telah menempuh berbagai cara untuk mendapatkan ketenangan hati dan kebahagiaan serta menghilangkan kegelisahan, stres, dan kesedihan. Berbagai teori dan metode telah dibuat. Sebagian di antaranya mungkin sejalan dengan petunjuk Al-Qur’an sehingga menghasilkan sedikit kebahagiaan. Namun banyak pula teori yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah sehingga tidak menghasilkan kebahagiaan yang mereka cari.

Buktinya, kita mendapati orang-orang yang secara duniawi memiliki banyak hal tetapi tetap hidup dalam ketakutan, tekanan, kegelisahan, bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Syaikh As-Sa’di kemudian menjelaskan bahwa sebab-sebab untuk memperoleh kebahagiaan itu bermacam-macam. Ada sebab yang bersifat tabiat, sebab yang dapat diketahui melalui akal, dan sebab yang berkaitan dengan akidah serta keimanan.

Beliau mengatakan:

“Aku akan menyebutkan dalam risalahku ini apa yang terlintas dalam pikiranku berupa sebab-sebab untuk mencapai tujuan yang tinggi yang diusahakan oleh setiap orang.”

Ungkapan beliau “ma yahdhuruni” menunjukkan bahwa beliau menyebutkan apa yang ada dalam ingatan dan pikirannya pada saat itu. Beliau menulis dalam keadaan sakit dan tidak sedang membuka berbagai referensi. Karena itu, apa yang beliau tuangkan dalam risalah ini merupakan intisari dari ilmu dan pengalaman beliau.

Tidak mengherankan jika para ulama memberikan perhatian terhadap risalah ini. Meskipun ukurannya kecil, kandungannya menghimpun banyak faedah yang berkaitan dengan kebahagiaan, yang jarang ditemukan secara lengkap dalam kitab-kitab lain.

Semakin kita mengenal penulisnya, sejarah penulisan risalahnya, kandungannya, dan pujian para ulama terhadapnya, semoga kita semakin mencintai risalah ini. Yang paling penting, kita berusaha mengamalkan nasihat-nasihat yang terdapat di dalamnya karena pembahasannya berkaitan dengan al-mathlab al-a’la, yaitu tujuan yang paling tinggi.

Tujuan Tertinggi: Kebahagiaan yang Abadi

Al-mathlab al-a’la adalah tujuan yang paling tinggi yang diusahakan oleh setiap manusia. Tujuan tersebut adalah as-sa’adah al-abadiyyah, kebahagiaan yang abadi.

Kebahagiaan yang abadi tidak mungkin diperoleh di dunia. Kebahagiaan yang abadi terdapat di akhirat. Karena itu, setiap manusia hendaknya menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai tujuan tertingginya.

Syaikh As-Sa’di kemudian menjelaskan bahwa manusia dalam memperoleh sebab-sebab kebahagiaan terbagi menjadi beberapa keadaan:

  1. Ada yang mendapatkan banyak sebab kebahagiaan.
    Mereka mengamalkan banyak sebab yang mengantarkan kepada kebahagiaan sehingga hidup dalam kehidupan yang baik dan bahagia.
  2. Ada yang gagal mendapatkan sebab-sebab tersebut.
    Akibatnya, mereka menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan dan penderitaan.
  3. Ada yang berada di antara keduanya.
    Keadaan mereka sesuai dengan kadar taufik yang Allah berikan kepada mereka.

Allah-lah yang memberikan taufik dan pertolongan untuk mendapatkan segala kebaikan serta menolak segala keburukan.

Ini adalah kenyataan yang kita lihat. Ada orang yang Allah berikan taufik sehingga mampu mengamalkan sebab-sebab kebahagiaan dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Ada pula yang tidak mendapatkan taufik sehingga tidak mengamalkan sebab-sebab tersebut dan akhirnya hidup dalam kesengsaraan.

Ada juga yang berada di tengah-tengah. Kadang ia mengamalkan sebab-sebab kebahagiaan dan kadang meninggalkannya. Semangatnya naik turun sesuai dengan keadaan imannya.

Tentu kita berharap termasuk golongan pertama: orang-orang yang berusaha mengamalkan berbagai sebab kebahagiaan. Kita tidak ingin menjadi golongan kedua dan tidak pula ingin terus berada dalam kondisi yang naik turun tanpa kesungguhan.

Semakin Tinggi Tujuan, Semakin Ringan Pengorbanan

Dalam kehidupan, semakin besar tujuan yang ingin dicapai, biasanya semakin ringan seseorang dalam memandang pengorbanan yang harus diberikan.

Jika tujuan yang hendak dicapai besar, maka pengorbanan yang dikeluarkan akan terasa ringan. Hal ini berlaku dalam kehidupan secara umum.

Apalagi tujuan yang sedang kita kejar adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat merupakan al-mathlab al-a’la, tujuan yang paling tinggi.

Secara teori hal ini mudah dipahami, tetapi dalam praktiknya tentu tidak ringan. Jalan menuju kebahagiaan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Namun apabila seseorang benar-benar menginginkan tujuan tersebut, insyaallah Allah akan memberikan taufik sehingga pengorbanan itu terasa lebih ringan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut ayat 69).

Kesungguhan seseorang menjadi sebab Allah memberikan petunjuk dan memudahkan jalan yang ditempuhnya.

Sebab Kebahagiaan yang Paling Agung

Setelah mukadimah selesai, kita masuk kepada isi risalah.

Syaikh As-Sa’di rahimahullahu ta’ala mengatakan bahwa sebab yang paling agung, paling utama, sekaligus asal dan pondasi kebahagiaan adalah iman dan amal saleh.

Beliau berdalil dengan firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 97:

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”

Dengan demikian, sebab atau wasilah pertama untuk memperoleh kebahagiaan adalah:

  • Al-Iman — iman
  • Al-‘Amal Ash-Shalih — amal saleh

Inilah pondasi kebahagiaan.

Ukuran Kebahagiaan Bukan Sekadar Dunia

Di luar sana, manusia memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Sebagian orang menjadikan ukuran duniawi sebagai standar utama kesuksesan.

Ada yang mengukur kebahagiaan dari:

  • Harta: jika sudah kaya, dianggap sukses dan bahagia.
  • Kedudukan: semakin tinggi jabatan, semakin dianggap sukses dan dihormati.
  • Gelar: banyaknya gelar akademik dijadikan ukuran keberhasilan.
  • Penghormatan manusia: seseorang dianggap berhasil ketika mendapatkan penghormatan dari orang lain.

Tentu kita tidak mengatakan bahwa harta, jabatan, atau gelar itu tidak bernilai. Jika seseorang memiliki iman dan amal saleh kemudian Allah memberikan kepadanya harta, kedudukan, atau ilmu, maka itu merupakan karunia Allah.

Namun semua itu bukan ukuran utama. Ukuran utama seorang mukmin adalah iman dan amal saleh.

Para sahabat Nabi juga ada yang kaya dan ada yang memiliki kedudukan. Namun ukuran utama mereka tetap iman dan amal saleh.

Iman dan Amal Saleh dalam Al-Wala’ wal Bara’

Iman dan amal saleh juga menjadi dasar dalam al-wala’ wal bara’. Tali keimanan yang kuat di antaranya adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

Jika seseorang secara lahiriah tampak beriman dan beramal saleh, maka kita mencintainya karena Allah. Sebaliknya, ketika seseorang melakukan kemaksiatan secara lahiriah, maka kita tidak menyukai kemaksiatan tersebut.

Bukan berarti harta, jabatan, atau gelar tidak memiliki nilai sama sekali. Namun semua itu berada di bawah ukuran utama, yaitu iman dan amal saleh.

Karena itu, seseorang bisa saja memiliki harta yang banyak, jabatan tinggi, dan gelar akademik yang panjang. Jika semua itu disertai iman dan amal saleh, maka itu merupakan tambahan nikmat dari Allah. Namun tolok ukurnya tetap iman dan amal saleh.

“Surgaku Ada di Dadaku”

Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala:

“Apa yang dapat dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada di dadaku. Mereka tidak mampu mencabutnya dariku.”

Kemudian beliau menjelaskan:

“Jika mereka mengasingkanku, pengasinganku adalah perjalanan. Jika mereka memenjarakanku, penjaraku adalah khalwah. Jika mereka membunuhku, kematianku adalah syahadah.”

Dalam dada beliau terdapat Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perkataan ini menunjukkan kuatnya keyakinan dan keimanan beliau kepada Allah. Apa pun yang dilakukan oleh musuhnya, beliau melihatnya dari sisi yang berbeda.

Jika diasingkan, beliau menganggapnya sebagai perjalanan. Jika dipenjara, beliau menjadikannya kesempatan untuk berkhalwah dan beribadah. Jika dibunuh, beliau menganggapnya sebagai syahadah.

Ini menunjukkan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan berada dalam hati.

Jika ketenangan telah ada dalam diri seseorang, berbagai keadaan yang datang kepadanya tidak otomatis membuatnya kehilangan kebahagiaan.

Tentu tingkatan manusia berbeda-beda. Tingkatan Ibnu Taimiyah berbeda dengan kita. Namun kita tetap berusaha mendekati keadaan tersebut sesuai kemampuan kita.

Banyak ulama dahulu yang mengalami penjara, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Namun mereka tetap memiliki ketenangan karena kebahagiaan dan keimanan mereka tidak bergantung pada tempat dan keadaan.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk meneladani mereka.

Iman dan Amal Saleh Tidak Dapat Dipisahkan

Iman dan amal saleh merupakan satu kesatuan. Iman berkaitan dengan batin, sedangkan amal saleh tampak pada lahiriah.

Karena itu, tidak tepat seseorang memisahkan keduanya dengan mengatakan, misalnya:

“Yang penting hati saya baik. Tidak perlu memperhatikan amal lahiriah.”

Contohnya, seseorang mengatakan bahwa tidak perlu berhijab karena yang penting hatinya berhijab. Atau seseorang melihat orang yang berhijab tetapi masih melakukan ghibah, kemudian berkata bahwa lebih baik tidak berhijab asalkan hatinya bersih.

Ini merupakan pemahaman yang keliru.

Yang benar adalah:

  • Berhijab secara lahiriah.
  • Menjaga hati secara batiniah.
  • Meninggalkan ghibah.
  • Menjalankan seluruh perintah Allah sesuai kemampuan.

Jika seseorang memiliki kekurangan dalam satu sisi, bukan berarti sisi yang lain kemudian ditinggalkan.

Amal saleh merupakan cerminan iman. Ketika seseorang meninggalkan amal saleh, hal itu menunjukkan adanya kekurangan dalam imannya sesuai dengan kadar amal yang ditinggalkannya.

Jadi, iman dan amal saleh merupakan satu paket yang tidak boleh dipisahkan.

Merasakan Manisnya Iman

Di antara hadis yang menjelaskan tentang iman adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman apabila ia ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.

Manisnya iman tidak berarti rasa manis secara fisik seperti madu atau gula. Maksudnya adalah adanya kenikmatan dan ketenangan ketika menjalankan ketaatan kepada Allah.

Seseorang yang merasakan manisnya iman akan menikmati ketaatan dan merasa senang menjauhi larangan Allah.

Misalnya, menghadiri majelis ilmu. Jika seseorang merasa senang dan menikmati kehadirannya di majelis ilmu, itu merupakan salah satu tanda adanya kenikmatan iman.

Sebaliknya, jika setiap ketaatan selalu terasa berat, maka seseorang perlu mengevaluasi keimanannya.

Tiga Perkara yang Mengantarkan kepada Manisnya Iman

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa ada tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman:

  1. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya.
  2. Ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah.
  3. Ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam api.

Tiga perkara ini menunjukkan bagaimana iman memberikan pengaruh terhadap hati dan perilaku seseorang.

Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Allah dan Rasul-Nya harus menjadi yang paling dicintai. Konsekuensinya, seseorang akan berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika seseorang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ketaatan tidak semestinya menjadi sesuatu yang selalu ia benci dan hindari.

Mencintai karena Allah

Seseorang mencintai saudaranya karena Allah, bukan karena keuntungan duniawi atau kepentingan pribadi. Persahabatan dan loyalitas tidak dibangun semata-mata karena ada manfaat yang ingin diperoleh.

Membenci kekufuran dan kemaksiatan

Seseorang yang telah merasakan manisnya iman tidak ingin kembali kepada kehidupan lamanya yang penuh kekufuran, kemusyrikan, kemaksiatan, dan kelalaian. Ia berusaha membuka lembaran kehidupan yang baru. Jika ada teman yang mengajaknya kembali kepada kemaksiatan, ia harus mampu menolaknya meskipun teman tersebut merupakan orang dekat.

Menjaga Lingkungan yang Membantu Kebaikan

Jika kita telah mendapatkan teman, komunitas, atau lingkungan yang membantu kita dalam kebaikan, maka hendaknya kita menjaganya. Tidak harus banyak. Yang penting adalah lingkungan tersebut membantu kita berada di atas kebenaran.

Kita harus menentukan prioritas. Waktu libur dan akhir pekan sangat terbatas. Kita bisa menggunakannya untuk berbagai kegiatan yang mubah, tetapi jika tujuan kita adalah mengejar as-sa’adah al-abadiyyah, maka majelis ilmu dan amal kebaikan perlu mendapatkan perhatian.

Ini bukan berarti seseorang tidak boleh berolahraga, bersepeda, bermain badminton, bermain padel, atau melakukan aktivitas mubah lainnya. Pembahasannya adalah tentang prioritas dan pengorbanan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kebahagiaan duniawi bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan akhirat adalah kebahagiaan yang abadi.

Karena tujuan akhirat sangat tinggi, jalan menuju ke sana juga membutuhkan pengorbanan. Kita bisa hadir di majelis ilmu karena Allah telah memberikan taufik. Allah yang menggerakkan hati dan langkah kita sehingga kita mampu mengalahkan berbagai godaan. Karena itu kita bersyukur kepada Allah dan memohon agar diberikan istiqamah.

Iman yang Manis Harus Disertai Amal Saleh

Iman yang menjadi sebab kebahagiaan adalah iman yang terasa manisnya dan mendorong seseorang untuk menikmati amal-amal saleh.

Jadi:

Al-iman wal-‘amalus shalih tidak dapat dipisahkan.

Pembahasan mengenai karakteristik iman yang membawa kepada kebahagiaan serta penjelasan lebih lanjut tentang Surah An-Nahl ayat 97 akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, insyaallah.

Tanya Jawab

Bersyukur Ketika Mendapat Nikmat dan Bersabar Ketika Mendapat Musibah

Pertanyaan:

Ada yang membahas hadis tentang seorang mukmin, yaitu ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur dan ketika mendapatkan ujian ia bersabar. Namun ada yang mengatakan bahwa derajat yang lebih tinggi adalah membaliknya: ketika mendapatkan kesenangan ia bersabar dan ketika mendapatkan musibah ia bersyukur. Bagaimana penjelasannya?

Jawaban:

Nash-nya sudah jelas. Seorang mukmin bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika mendapatkan musibah.

Kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat.

Karena itu, jangan memandai-mandai dengan mengubah sesuatu yang sudah jelas dari Nabi.

Memang seseorang bisa saja membuat teori bahwa ketika mendapatkan nikmat ia harus bersabar, misalnya bersabar agar mampu menggunakan nikmat tersebut pada tempatnya. Namun jika demikian, sebenarnya menjalankan nikmat Allah pada tempatnya juga merupakan bentuk syukur.

Syukur yang benar juga mengandung kesabaran. Sabar mencakup:

  • Sabar dalam menjalankan ketaatan.
  • Sabar dalam meninggalkan maksiat.
  • Sabar menghadapi takdir Allah yang tidak menyenangkan.

Jadi dalam pengertian yang luas, syukur yang benar juga mengandung kesabaran.

Namun kita tidak perlu mempersulit sesuatu yang sudah jelas. Ambillah petunjuk Nabi sebagaimana adanya.

Memulai dari Hal-Hal yang Kecil

Salah satu penyakit sebagian kaum muslimin adalah meremehkan sunnah-sunnah yang dianggap kecil.

Ada yang mengatakan bahwa pembahasan tentang perkara kecil tidak perlu karena yang harus dibicarakan adalah perkara-perkara besar.

Padahal sesuatu yang besar dibangun dari hal-hal yang kecil.

Jika seseorang tidak mampu melakukan perkara yang ringan, bagaimana ia akan mampu melakukan perkara yang besar?

Karena itu, kita mengambil hadis Nabi sebagaimana adanya dan mengikuti penjelasan para ulama.

Mengapa Para Sahabat Meminta kepada Allah Bahkan untuk Perkara Kecil?

Ada riwayat tentang sebagian sahabat yang meminta kepada Allah bahkan untuk perkara yang kecil, seperti ketika tali sandal mereka putus.

Hikmah dari hal tersebut adalah melatih ketergantungan kepada Allah dan menjauhkan ketergantungan kepada makhluk.

Hukum asal meminta bantuan kepada manusia adalah boleh. Namun teladan para sahabat mengajarkan kepada kita untuk membangun ketergantungan hati kepada Allah.

Jika seseorang sedikit-sedikit meminta bantuan kepada manusia, lama-kelamaan ia dapat terbiasa bergantung kepada makhluk.

Sebaliknya, latihan bergantung kepada Allah dimulai dari perkara-perkara kecil.

Kemuliaan jiwa seseorang terletak pada sejauh mana ia menggantungkan dirinya kepada Allah.

Hal ini juga berkaitan dengan orang-orang yang mendapatkan keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Di antara sifat mereka adalah kuatnya ketergantungan kepada Allah dan menjauhi ketergantungan kepada makhluk.

Tidak ada sesuatu yang instan. Semuanya membutuhkan latihan.

Selama kita masih hidup, kita terus berlatih:

  • Melatih iman.
  • Melatih amal saleh.
  • Melatih tawakal.
  • Melatih ketergantungan kepada Allah.
  • Melatih diri untuk tidak bergantung kepada manusia.

Ketika menghadapi perkara besar, latihan-latihan kecil tersebut akan sangat membantu.

Berbuat Baik tetapi Disalahpahami Orang Lain

Pertanyaan:

Bagaimana jika kita mencintai seseorang karena Allah dan ingin berbuat baik kepadanya, tetapi kebaikan tersebut justru dianggap salah oleh orang tersebut sehingga ia membenci kita? Kita bahkan sudah meminta maaf jika memang dianggap melakukan kesalahan.

Jawaban:

Fenomena seperti ini biasa terjadi dalam kehidupan sosial. Kadang kita menasihati seseorang, tetapi ia salah memahami nasihat tersebut. Akhirnya kita justru dianggap melakukan kesalahan.

Dalam keadaan seperti ini, kita harus kembali kepada prinsip yang telah dibahas:

Kita bertanggung jawab terhadap apa yang berada dalam kendali kita, bukan terhadap sesuatu yang berada di luar kendali kita.

Yang berada dalam kendali kita antara lain:

  • Niat kita.
  • Amal kita.
  • Cara kita menyampaikan nasihat.
  • Usaha kita untuk berbuat baik.

Sedangkan yang berada di luar kendali kita antara lain:

  • Respons orang lain.
  • Apakah ia menerima atau menolak.
  • Apakah ia memahami atau salah memahami.
  • Apakah ia menyukai atau membenci kita.

Jika kita telah berusaha berbuat baik dan bahkan sudah meminta maaf ketika diperlukan, maka selesai sampai di situ. Jangan terus-menerus kecewa karena orang lain salah memahami kita.

Hal yang sama berlaku dalam dakwah. Berdakwah adalah perintah Allah. Adapun apakah orang menerima atau tidak, itu bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai. Hidayah berada di tangan Allah.

Karena itu, kita terus melakukan kewajiban kita dan tidak larut dalam kekecewaan.

Fokus pada Wilayah yang Berada dalam Kendali Kita

Prinsipnya sederhana:

Apa yang berada dalam kendali kita, itulah yang kita maksimalkan. Apa yang berada di luar kendali kita, jangan kita jadikan sumber kekecewaan.

Misalnya kita mengajak seseorang menghadiri kajian. Ajakan itu berada dalam kendali kita. Apakah ia datang atau tidak, itu berada di luar kendali kita.

Maka jangan sampai kita berkata:

“Mengapa dia tidak mau datang? Padahal saya sudah berbuat baik kepadanya.”

Pertanyaan semacam itu justru dapat membuat kita kecewa.

Kita harus memahami bahwa kehidupan akan terus berjalan. Setiap orang akan mendapatkan faedah sesuai dengan apa yang ia lakukan.

Tetap Mengajak kepada Kebaikan

Jika seseorang salah memahami ajakan kita, apakah kita berhenti mengajaknya?

Tidak. Tetap ajak dengan cara yang baik.

Bisa dengan memberikan informasi kajian, mengirim poster, memberikan hadiah, atau mengajaknya dalam kegiatan yang baik.

Namun kita tetap tidak memaksakan hasil.

Kita melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Prinsip dan Metode Dakwah

Selain prinsip wilayah kendali, ada hal lain yang juga penting, yaitu uslub atau metode dalam berdakwah.

Misalnya, kita ingin mengajak seorang teman ke masjid.

Cara pertama: “Jam segini kok belum ke masjid?” Cara lain: “Ayo ke masjid.”

Keduanya memiliki tujuan yang sama, tetapi cara penyampaiannya berbeda.

Karena itu, kita perlu memperhatikan kondisi orang yang kita ajak. Ada orang yang sensitif terhadap sindiran. Kalimat yang halus mungkin lebih mudah diterima.

Ini merupakan bagian dari hikmah dalam berdakwah.

Jadi ada dua hal yang harus diperhatikan:

  1. Prinsip: fokus pada apa yang berada dalam kendali kita.
  2. Metode: menyampaikan kebaikan dengan cara yang hikmah dan sesuai dengan keadaan orang yang diajak.

Keduanya harus berjalan bersama.

Kadang ada kalimat yang secara substansi benar, tetapi cara menyampaikannya kurang tepat. Karena itu, seorang dai perlu memperhatikan metode dan pilihan kata.

Jangan Bergantung pada Respons Orang

Kekecewaan juga dapat muncul karena seseorang terlalu bergantung pada respons orang lain.

Misalnya seseorang membagikan sebuah nasihat di grup WhatsApp. Ia telah memilih materi yang bagus, tetapi tidak ada yang memberikan tanda suka, komentar, atau ucapan terima kasih.

Kemudian ia kecewa.

Padahal semua itu berada di luar kendalinya.

Yang berada dalam kendalinya adalah:

  • Memilih konten yang baik.
  • Memastikan isi yang dibagikan benar.
  • Memperhatikan cara penyampaian.
  • Mempertimbangkan kondisi orang yang menerima.

Adapun apakah orang memberikan tanda suka, komentar, mengucapkan terima kasih, atau mengikuti nasihat tersebut, semuanya berada di luar kendalinya.

Maka jangan menjadikan respons manusia sebagai tujuan.

Jangan Asal Meneruskan Informasi

Dalam membagikan materi dakwah, kita juga harus memperhatikan hikmah.

Jangan sekadar forward tanpa memeriksa terlebih dahulu.

Walaupun materi tersebut berasal dari ustadz atau sumber yang kita percaya, tetap perlu dilihat apakah materi tersebut sesuai dengan konteks orang yang akan menerimanya.

Materi yang cocok untuk satu kelompok belum tentu cocok untuk kelompok yang lain.

Karena itu:

  • Periksa isi sebelum membagikan.
  • Periksa konteksnya.
  • Perhatikan bahasa yang digunakan.
  • Sesuaikan dengan kondisi penerima.
  • Gunakan metode yang hikmah.

Semua itu berada dalam kendali kita.

Adapun respons orang setelah menerima materi tersebut, berada di luar kendali kita.

Latihan Tawakal Dimulai dari Hal-Hal Kecil

Tawakal berarti menyandarkan diri kepada Allah.

Karena itu, latihan tawakal dimulai dari perkara-perkara kecil.

Seseorang yang berada dalam keadaan genting tidak akan tiba-tiba mampu memiliki ketergantungan yang kuat kepada Allah jika sebelumnya tidak pernah melatih dirinya.

Para sahabat Nabi telah melatih diri mereka sejak awal dengan perkara-perkara kecil. Ketika menghadapi perkara besar, seperti peperangan, tawakal mereka telah matang.

Karena itu, kehidupan kita juga merupakan latihan yang panjang.

Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa dirinya telah sempurna. Selama hidup, kita terus berusaha memperbaiki iman dan amal saleh.

Kesimpulan

Pembahasan utama risalah ini dimulai dari satu prinsip yang sangat penting:

Sebab yang paling agung untuk memperoleh kebahagiaan adalah iman dan amal saleh.

Iman dan amal saleh tidak boleh dipisahkan. Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk beramal saleh, dan amal saleh merupakan salah satu cerminan iman.

Iman yang membawa kebahagiaan adalah iman yang terasa manisnya. Tandanya antara lain:

  • Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada segala sesuatu.
  • Mencintai seseorang karena Allah.
  • Membenci kekufuran dan tidak ingin kembali kepada kehidupan yang penuh kemaksiatan.
  • Menikmati ketaatan kepada Allah.
  • Merasa senang menghadiri majelis ilmu dan melakukan amal saleh.
  • Berusaha meninggalkan maksiat.

Selain itu, kita perlu memahami bahwa kebahagiaan membutuhkan perjuangan. Tujuan yang tinggi membutuhkan pengorbanan yang tinggi pula.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu terus melatih:

  • Iman dan amal saleh.
  • Tawakal kepada Allah.
  • Ketergantungan kepada Allah.
  • Kesabaran dan syukur.
  • Kemampuan membedakan perkara yang berada dalam kendali kita dan yang berada di luar kendali kita.
  • Hikmah dalam berdakwah dan berbuat baik.

Jika kita melakukan apa yang berada dalam kendali kita dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, insyaallah kita akan lebih tenang dan tidak mudah kecewa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik untuk mengamalkan apa yang telah kita pelajari, menguatkan iman kita, menjadikan kita orang-orang yang senantiasa beramal saleh, serta memberikan kepada kita as-sa’adah al-abadiyyah, kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

Poster Ringkasan

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم