Artikel Islam
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Kumpulan video kajian dari beberapa asatidzah salaf yang layak kita ikuti dan dengarkan sebagai penambah ilmu agama kita.
Download materi e-book, media dan lainnya sebagai bahan referensi.
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,
“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla dengan mempelajari laa ilaaha illaAllahu dan Tauhid adalah amalan pertama seseorang masuk ke dalam islam dan yang paling terakhir keluar dari dunia, maka ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling wajib di awal dan di akhir”.
Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir.
Thaharah secara bahasa berarti bersih dan bebas (hissi) dari kotoran fisik atau najis, seperti air kencing dan cairan tubuh lainnya, dan dari hadats dalam sisi maknawi, seperti kesalahan dan dosa.
Tath-hir (Penyucian) berarti pembersihan, yaitu menegakkan kebersihan di suatu tempat (Al-Lubab Sharh al-Kitab (10/1) dan Ad-Durr al-Mukhtar (79/1)).
Thaharah dari sisi syara’ berarti menghilangkan apa saja yang menghalangi shalat, seperti najis hadats atau najis fisik, dengan air [atau cara lain] atau menghilangkan pengaruh hukumnya dengan tanah atau debu (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (12/1)).
Adapun hukum Thaharah: Menyucikan diri dari najis dan menghilangkannya adalah wajib apabila seseorang ingat dan mampu. Allah ﷻ berfirman:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ
Dan Pakaianmu, bersihkanlah! (Al-Muddaththir : 4).
13/469. Dan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh aku pernah melihat tujuh puluh orang dari kalangan Ahlus Shuffah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenakan ridā’. Pakaian mereka hanyalah izār atau kisā’ yang diikatkan di leher-leher mereka. Di antara pakaian itu ada yang panjangnya hanya sampai pertengahan betis, dan ada pula yang sampai ke kedua mata kaki. Maka salah seorang dari mereka menggenggam pakaiannya dengan tangannya, karena khawatir auratnya terlihat.”
(HR. Shahih al-Bukhari, no. 442).
Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.
Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.
Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:
“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’
Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.'” [HR. Mus;lim]
Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:
“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’
Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.'” [HR. Mus;lim]
Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]
Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!
Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.