بسم الله الرحمن الرحيم

🎙Bersama: Al Ustadz Isnan Efendi Lc., M.A Hafidzahullah
📘 Materi : Kitab Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah) – Mukadimah
🗓 Hari : Jum’at, 15 Syawal 1447 / 03 April 2026
🕰 Waktu: Ba’da Ashar – Maghrib’
🕌 Tempat: Izghowa – Qatar



Mukadimah

Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.

Selanjutnya kita akan mulai membahas kitab Tauhid, karena pentingnya ilmu akidah ini. Istilah Tauhid sama dengan akidah. Inilah ilmu yang terbaik untuk dipelajari, mengingat umur kita yang pendek, sementara kemampuan kita untuk belajar terbatas. Maka, ulama selalu mengulang mempelajari ilmu Tauhid ini.

Tauhid secara bahasa berasal dari bahasa Arab wahhada-yuwahhidu-tauhidan yang berarti mengesakan, menyatukan, atau menjadikan satu.

Secara istilah, tauhid adalah meyakini keesaan Allah ﷻ dalam hal yang menjadi kekhususanNya dari rububiyah (penciptaan/pengaturan), uluhiyyah (ibadah), serta asma wa sifat (nama dan sifat-Nya), yang menegaskan Allah tidak memiliki sekutu. (Syekh Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid).

Akidah secara bahasa berasal dari bahasa Arab al-‘aqdu yang berarti ikatan, simpul, perjanjian, dan kokoh.

Secara istilah, akidah adalah keyakinan hati yang teguh, pasti, dan kokoh tanpa ada keraguan sedikit pun, yang mendasari iman kepada Allah ﷻ dan rukun iman lainnya. Akidah menjadi fondasi utama dalam agama Islam yang mengikat jiwa seorang muslim.

Nama-nama lain Tauhid

Ulama banyak memberi nama dengan nama yang semakna antara lain: Akidah, At-Tauhid, As-Sunnah, Ushuluddin, Al-Fiqhul Akbar dan Al-Iman.

Maka, kitab Tauhid karya Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah (wafat 1115 H) adalah bukan kitab yang baru, banyak kitab sejenis yang dikarang para ulama seperti:

  • Kitab Aqidatus Salaf wa Ash-habul Hadits karya Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni (wafat 449 H)
  • Kitab Tauhid dalam Shahih Bukhari (Wafat 256 H)
  • Kitab Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabbi ‘Azza wa Jalla karya Imam Ibnu Khuzaimah (Wafat 311 H)
  • Kitab At-Tauhid karya Imam Ibnu Mandah (Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq) (Wafat 395 H)
  • Kitab Ushul Assunnah karya Imam Ahmad (241 H) Dan juga anaknya Imam Ibnu Ahmad.
  • Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari (wafat 329 H)
  • Kitab Ushuluddin karya Imam Junaid al-Baghdadi (wafat 429 H)
  • Kitab Syarhun wal Ibaanah ‘an Ushuluddin karya Imam Ibnu Battoh (Wafat 378H)
  • Kitab Al-Ushul Ad-Diyaanah Al-Ibaanah Karya Imam Al-Asy’ari (324 H) Sebagai cikal bakal Akidah Asy’ariyah. Maka keliru, jika imam Asy’ari yang pertama menulis Kitab akidah.
  • Kitab Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah (wafat 150 H).
  • Kitab Asy-Syariah karya Imam Al-Ajurri (Abu Bakar Muhammad bin al-Husayn al-Ajurri) (Wafat 360 H)
  • Kitabul Iman karya Imam Ibnu Mandah (Wafat 395 H).

Keutamaan Ilmu Tauhid

Ilmu Tauhid merupakan ilmu yang paling mulia

Keutamaan ilmu, yaitu:

شرف العلم تابع لشرف المعلوم

Keutamaan ilmu mengikuti keutamaan obyek yang dipelajari dalam ilmu tersebut.

Semakin mulia obyek yang dikaji, semakin utama pula ilmu tersebut. Berarti tidak ragu lagi bahwa ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ilmu yang paling agung. Karena tidak ada yang lebih mulia dan lebih tinggi dibandingkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sisi kemuliaan pembahasan ilmu Tauhid meliputi:

1. Maudhu (Bahasan): terkait pembahasan iman, akidah, hal ghaib dan lainnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: ‘Apakah amalan yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. (HR Bukhari no. 26 dan Muslim no. 53).

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh rasul (dari awal sampai akhir) diutus dengan satu inti dakwah yang sama, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, yang terangkum dalam kalimat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan).

Nabi Nuh alaihisalam menyeru kaumnya:

اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ

sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 36:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ… ۝٣٦

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”

2. Ma’lum (tujuannya): Sesungguhnya tujuan ilmu Tauhid adalah menunjukkan keinginan Allah ﷻ yang Syar’i atas wahyuNya, atas kalamNya yang sebenarnya seperti terkait dengan hukum-hukum akidah, iman kepada Allah ﷻ, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, hari akhir serta hari kebangkitan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah/5: 3

3. Al-Haajah (Keperluannya):

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : keperluan seorang hamba kepada risalah (wahyu) lebih besar daripada seorang yang sakit kepada dokter, karena jika sakit badan pada akhirnya adalah kematian badan, tapi jika seorang hamba tidak mendapatkan cahaya risalah (wahyu) maka hatinya akan mati dan tidak hidup kembali. Dia akan mendapatkan kesengsaraan dan tidak bahagia selamanya.

Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,

“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla dengan mempelajari laa ilaaha illaAllahu dan Tauhid adalah amalan pertama seseorang masuk ke dalam islam dan yang paling terakhir keluar dari dunia, maka ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling wajib di awal dan di akhir”.

Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah laa ilaaha illallah pasti masuk surga.”

(HR. Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim, dia mensahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya) (lihat Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 35).

Kewajiban Fardhu ‘ain ini terbatas pada pembahasan yang bersifat umum, adapun pembahasan yang rinci bersifat fardhu kifayah.

Yang umum, maksudnya adalah jika orang membacanya maka dia akan paham, seperti hukum beramal dengan ria, haramnya berdoa kepada selain Allah ﷻ. Baik berupa amalan-amalan hati maupun lisan.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم