بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Online – Teams Awqaf
Wakra, 19 Syawal 1445 / 28 April 2024
Bersama Ustadz Syukron Khabiby, Lc M.Pd 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱



Kiat Menjaga Hati di Bulan Syawal

Di bulan Ramadhan, setiap muslim akan dimudahkan untuk menjaga hati dan Allah ﷻ memudahkan hamba-Nya untuk menyucikan diri dari dosa-dosa. Sedangkan setelah Ramadhan, banyak kaum muslimin mengabaikan penyucian jiwa dari maksiat dan syahwat. Padahal tujuan berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa, bersih dari dosa dan maksiat.

Semoga kita tidak termasuk golongan yang disebut Ka’ab Al Ahbar rahimahullah (tabiin) dimana beliau berkata:

“Barangsiapa puasa Ramadhan sedangkan dalam hati dia berniat seusai bulan Ramadhan dia tidak akan bermaksiat, dia akan masuk Jannah tanpa ditanya dan tanpa dihisab. Dan barangsiapa puasa Ramadhan sedangkan dalam hati dia berniat setelah Ramadhan akan kembali maksiat, maka puasanya tertolak (tidak diterima Allah).” (Lathoif al-maarif, hal 136-137).

Baik buruknya perilaku seorang manusia sangat bergantung pada hatinya. Jika hatinya baik maka perilakunya akan baik. Sebalikmya, bila hatinya buruk maka akan berakibat pada buruknya perilaku manusia tersebut.

Allah tidak memandang rupa, wajah, atau kulit hamba-Nya. Yang dipandang darinya hanyalah hatinya. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ :

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amalan kalian. Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian hanyalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa (HR Al-Thabrani).

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Beberapa kiat untuk tetap menjaga kebersihan hati:

1. Tetap Rajin Membaca Al-Qur’an dan Kandungannya

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat Muhammad [47] ayat 24;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS: Muhammad [47]: 24)

Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya tentang ayat ini bahwa pada hati manusia terdapat kunci. Jika hati telah terkunci maka ia akan mati. Tak satu pun dapat masuk ke dalamnya untuk menghidupkannya kembali kecuali Allah Ta’ala.

“Dan Sungguh Beruntunglah orang yang membersihan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syam [91]: 9-10)

Dalam surat Yunus ayat 57 Allah ﷻ berfirman:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُمۡ مَّوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوۡرِۙ وَهُدًى وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

Dalam surat al-Isra’ ayat 82, Allah ta’aala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan jiwa. Beliau berkata

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ

“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yanh shahih dan masyhur” (Tafsir Adhwaul Bayan).

2. Berpuasa

Ibadah puasa mendidik pelakunya agar memiliki keimanan yang kuat, puasa mendidik pelakunya untuk berbuat ikhlas, syukur dan sabar. Puasa mendidik pelakunya dengan sifat khusyu’ (tenang) dan tawadhu’ (rendah hati), puasa mendidik pelakunya dengan sifat cinta, kasih sayang dan kelembutan serta kepedulian terhadap sesama, puasa mendidik pelakunya dengan sifat yaqin dan jiwa optimisme (raja’). Puasa juga mendidik pelakunya dengan sifat jujur dan amanah. Puasa juga mendidik pelakunya untuk selalu dekat dan terbiasa dengan nilai-nilai Rabbaniyah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shalllallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامَ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ، وَجَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa itu bukan hanya dari makan dan minum, namun puasa itu juga dari laghwun (hal yang tidak bermanfaat) dan rafats (semua perbuatan yang buruk). Jika ada orang yang mencelamu atau berbuat suatu kebodohan kepadamu, maka katakanlah: saya sedang berpuasa“[1. Al Mustadrak, 1/595, no. 1570].

Dalam hadits disebutkan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“betapa banyak orang yang puasa, yang ia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan haus. Dan betapa banyak orang yang shalat malam, yang ia dapatkan dari shalatnya hanyalah begadang“[Musnad Ahmad, 2/374, no. 8842]. Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’.

Sungguh penyebab utama yang mengantarkan orang-orang pilihan tersebut untuk mendapatkan hati yang lurus adalah kuatnya hubungan mereka dengan Allah dan kuatnya rasa ridha mereka kepada Allah. Ibnul Qayyim mengatakan: “Ridha itu membuka pintu salamah (kelurusan hati dan perilaku). Ridha menyebabkan hati lurus dan bersih dari kecurangan, khianat dan kebencian. Dan tidak ada orang yang selamat dari adzab Allah kecuali orang yang datang menghadap-Nya dengan hati yang lurus. Maka mustahil orang mendapatkan hati yang lurus dengan adanya kemurkaan terhadap Allah dan tidak adanya ridha. Dan setiap kali bertambah keridhaan hamba kepada Allah, maka hatinya semakin lurus. Sedangkan kedengkian, khianat, dan kecurangan, itu pertanda adanya rasa marah kepada Allah. Sedangkan lurusnya hati dan baiknya hati, merupakan pertanda ridha. Demikian juga hasad, ia adalah buah dari rasa marah kepada Allah. Dan lurusnya hati merupakan buah dari rasa ridha kepada Allah” [Madaarijus Salikin, pada pasal “manzilatu iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in manzilatur ridha”].

Maka, dengan berpuasa Syawal akan membersihkan hati kaum muslimin.

3. Banyak Berdo’a

Dan diantara yang bisa membantu seorang Muslim agar dapat memiliki hati dan lisan yang lurus terhadap saudaranya adalah: kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan memohon kepada-Nya dengan tulus dan ikhlas agar diluruskan hatinya. Serta mengingat-ingat akibat yang baik dan buah yang berkah dari hal tersebut di dunia dan akhirat. Demikian juga mengingat-ingat akibat yang buruk dan buah yang pahit yang dihasilkan dari hati yang penuh kebencian atau dendam atau dengki dan semisalnya.

Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam doa-doa beliau yang banyak, bahwa beliau meminta hidayah kepada Allah agar diluruskan dan dikokohkan hatinya. Semisal sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

“Ya Allah, jadikanlah hati ini bertaqwa, dan bersihkanlah ia, sungguh Engkau sebaik-baiknya yang dapat membersihkan hati” [HR. Muslim no. 2722, An Nasa’i no. 5460, Ahmad no. 19204].

Dan sabda beliau:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ

“Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk“[HR. At Tirmidzi no. 3482, An Nasa’i no. 5460].

Dan sabda beliau:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai pembolak-balik hati, kokohkan hatiku dalam menetapi agama-Mu” [At Tirmidzi no. 2140].

Dan sabda beliau:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي فِي قَلْبِي نُورًا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku” [HR. Bukhari no. 6316, Muslim no. 763].

Sebagaimana Firman Nya agar kita termasuk kalangan orang-orang yang Allah puji dan Allah sucikan, dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”” (QS. Al Hasyr: 10).

Buah dari lurusnya hati, yang ia sendiri adalah salah satu buah dari ridha kepada takdir Allah, sungguh tidak terhitung dan tidak terhingga. Lurusnya hati adalah kebahagiaan di dunia, kelegaan dan ketenangan.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyuk, dan lisan yang senantiasa berdzikir, dan jiwa yang tenang dan taat, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan jiwa kami dan keburukan amal kami, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari kejahatan setan dan sekutunya, dan kami juga berlindung dari kejahatan kami kepada jiwa kami atau kami menyeret kaum Muslimin untuk melakukan kejahatan itu.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم