Kajian Sabtu – Barwa Village Doha
Barwa Village, 22 Rabi’ul Akhir 1448 / 03 Oktober 2026
Bersama Ustadz Syukron Khabiby, Lc M.Pd Hafidzahullah E-book Hadits:Lihat di Sini
Kitab Al-Lu’lu wal Marjan – Muhammad Fu’ad Abdul Baqi
(Kumpulan hadits yang disepakati Bukhari Muslim)
📖 Hadits ke-462: Sunnah Belajar Al-Qur’an Kepada yang Pandai dan Mulia
Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla atas segala nikmat yang terus dilimpahkan kepada kita. Alhamdulillah, kita dipertemukan di salah satu rumah Allah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan kita kelak di akhirat dengan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
Dalam kitab Lu’lu’ wal Marjan, terdapat pembahasan penting mengenai sunnah belajar Al-Qur’an kepada orang yang pandai dan mulia. Ini merupakan sebuah kaidah dasar: jika seseorang ingin memiliki kualitas bacaan Al-Qur’an yang baik sebagaimana para qurra (ahli Al-Qur’an), maka ia harus belajar langsung kepada ahlinya.
Terdapat perbedaan besar saat seseorang belajar kepada Syekh yang kompeten dibandingkan dengan orang yang tidak mumpuni. Guru yang ahli akan mengoreksi bacaan secara mendetail. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada para sahabat mengenai siapa saja figur yang ahli dalam Al-Qur’an. Beliau menyebutkan empat nama sahabat, di antaranya Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallohu’anhum.
Penunjukan tersebut bertujuan agar para sahabat dan umat Islam belajar langsung dari figur yang tepat. Sebagian orang enggan belajar kepada ustaz atau muqri yang ketat karena merasa malu saat dikoreksi. Akibatnya, mereka memilih belajar kepada orang yang belum teruji keahliannya. Kendati niat belajar tetap mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tindakan tersebut menyelisih sunnah dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu Al-Qur’an hendaknya dilakukan kepada guru yang fokus dan memiliki spesialisasi (takhassus) di bidang Al-Qur’an, terutama mereka yang fasih berbahasa Arab (lisanun ‘arabiyyun mubin).
Keagungan menuntut ilmu Al-Qur’an dari ahlinya tercermin dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأُبَي بنِ كعْب رضي الله عنه : «إن الله عز وجل أمَرَني أن أَقْرَأَ عَلَيك: (لم يكن الذين كفروا…) قال: وسمَّاني؟ قال:«نعم» فبكى أُبي. وفي رواية: فَجَعَل أُبَي يَبكِي.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada Ubay bin Ka’ab, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu surah Lam Yakunil-ladzina Kafaru (Surah Al-Bayyinah).” Ubay bertanya, “Apakah Allah menyebut nama hamba?” Beliau menjawab, “Ya.” Maka Ubay pun menangis. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis mulia ini mengisahkan kedudukan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu’anhu yang namanya diabadikan dan disebut langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu’anhu adalah sosok ahli ibadah yang lembut hatinya. Ia sering menangis saat membaca atau merenungi ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi peringatan. Ketika mendengar bahwa Allah sebut namanya secara khusus di hadapan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, beliau tidak merasa sombong atau membanggakan diri, melainkan menangis karena haru dan rasa takut kepada Allah.
Keutamaan Penuntut Ilmu di Majelis Al-Qur’an
Nama seorang hamba juga bisa disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat-Nya melalui amalan hadir di majelis ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Imam Muslim:
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), mereka diliputi rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)
Keutamaan yang diperoleh peserta majelis ilmu Al-Qur’an antara lain:
Ketenangan Hati: Allah menurunkan rasa tenteram dan damai (sakinah) ke dalam jiwa mereka.
Limpahan Rahmat: Allah menyiramkan rahmat-Nya kepada setiap orang yang berada di dalam majelis.
Naungan Malaikat: Para malaikat mengelilingi majelis serta memohonkan ampunan bagi orang-orang yang hadir di dalamnya.
Sebutan Muliya di Langit: Nama-nama mereka disanjung dan disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat.
Kemuliaan yang diraih seseorang berbanding lurus dengan keikhlasan hatinya. Semakin ikhlas seseorang dalam belajar, mengajar, maupun berdakwah, semakin tinggi derajat yang Allah berikan padanya. Al-Qur’an adalah sarana utama untuk meninggikan derajat, mempermudah urusan, dan menghapus dosa-dosa.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai kriteria orang yang bertakwa:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
******
📖 Hadits ke-463: Keutamaan Mendengarkan, Menangis dan Mentadaburi Al-Qur’an
Selain membaca, mendengarkan lantunan Al-Qur’an dari orang lain memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi jiwa. Hal ini ditunjukkan dalam riwayat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu:
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur’an untukku.” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, apakah aku membacakannya untukmu padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Maka aku membacakan Surah An-Nisa hingga sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. An-Nisa: 41). Beliau bersabda, “Cukup.” Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata. (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800)
Mendengarkan Al-Qur’an dengan khusyuk dapat menyentuh hati dan meningkatkan keimanan. Ciri-ciri orang beriman apabila didengarkan ayat-ayat Allah dijelaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Bahaya Menafsirkan Al-Qur’an Tanpa Ilmu
Al-Qur’an harus dipahami dan ditafsirkan menggunakan metodologi yang benar, bukan berdasarkan logika semata atau hawa nafsu. Pemahaman Al-Qur’an wajib merujuk pada:
Tafsir Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya.
Tafsir Al-Qur’an dengan hadis-hadis Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam.
Tafsir Al-Qur’an berdasarkan pemahaman para sahabat Radhiyallohu’anhum.
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam memberi peringatan keras terhadap sikap menafsirkan Al-Qur’an secara sembarangan: “Barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri (tanpa dasar ilmu), meskipun tafsirannya benar, ia tetap dianggap bersalah.” (HR. Tirmidzi no. 2952)
Contoh kekeliruan akibat menafsirkan Al-Qur’an tanpa kaidah yang benar adalah munculnya klaim-klaim lokalitas historis yang tidak berdasar (seperti mengaitkan Negeri Saba’ dengan nama daerah tertentu tanpa dalil sahih) atau penyimpangan dari kelompok Qur’aniyyun (ingkar sunnah) yang menolak hadis Nabi.
Sebagai gambaran pentingnya merujuk pada pemahaman sahabat, ketika turun firman Allah:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Para sahabat sempat merasa khawatir karena mengira kata “kezaliman” di ayat tersebut mencakup seluruh perbuatan dosa atau maksiat harian. Namun, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam meluruskan pemahaman mereka dengan merujuk pada ayat lain, yaitu perkataan Luqman kepada anaknya:
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Hadis ini menunjukkan bahwa tafsir Al-Qur’an memerlukan ilmu mendalam. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam secara khusus mendoakan Abdullah bin Abbas Radhiyallohu’anhumا agar dianugerahi pemahaman tafsir yang mendalam: “Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (tafsir Al-Qur’an).” (HR. Ahmad)
Begitu pula sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu yang menguasai riwayat, tempat, dan asbabun nuzul dari ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga keilmuan mereka menjadi rujukan utama umat dalam memahami Kitabullah secara benar.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk terus belajar Al-Qur’an dari guru yang tepat, mengamalkan reaches teaches-nya, serta menjaga keikhlasan hati dalam setiap majelis ilmu.
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم