Kitab Zaadul Ma’ad #11

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📗 | Kajian Kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad | Karya: Syaikhul Islam Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah
🎙| Bersama Ustadz Nefri Abu Abdillah, Lc. M.A 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
📌 | Grand Mosque Al-Khor Community Qatar
🗓 | Al-Khor, 21 Syawal 1447 / 8 April 2026



Zaadul Ma’ad #11 : Peperangan, Tunggangan dan Alat Perang Nabi ﷺ

Fiqih Ghazwah

Ghazwah secara bahasa berarti serangan, serbuan, atau perjuangan. Dalam sejarah Islam, ghazwah adalah peperangan yang diikuti dan dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah ﷻ – Tauhid dan memberantas kesyirikan. Ini berbeda dengan Sariyyah, di mana Nabi tidak ikut serta dalam peperangan.

Tujuan perang:

1. Membela diri.

Surat Al-Hajj Ayat 39:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا۟ ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.

Allah mengizinkan orang-orang beriman untuk memerangi musuh-musuh yang memerangi mereka, sebab mereka telah dizalimi dengan menghalangi mereka dari agama dan mengusur mereka dari tempat tinggal mereka. Maka mereka diperbolehkan untuk membela diri dan menuntut hak mereka kembali. Sungguh hanya Allah yang mampu menolong hamba-hamba-Nya.

2. Memberantas kedzaliman

Dan kedzaliman yang terbesar adalah syirik. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 193:

وَقٰتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ لِلّٰهِۗ

Perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama (ketaatan) hanya bagi Allah semata.

Fitnah di sini maknanya syirik. Maka, tujuan jihad bertujuan untuk menjadikan manusia mentauhidkan Allah ﷻ dan menjauhi syirik. Bukan untuk agresi kekuasaan.

Prinsip dasar dan etika dalam perang:

1. Dilarang membunuh orang-orang sipil: Haram hukumnya membunuh wanita, anak-anak, orang tua, pekerja, dan pemuka agama yang tidak ikut bertempur.
2. Wajib memperlakukan tawanan dengan baik, tidak boleh mencincang mayat musuh, dan dilarang berkhianat dalam perjanjian.
3. Dilarang menebang pohon, membakar ladang, merusak fasilitas umum, dan membunuh hewan ternak tanpa alasan konsumsi.

Pasal: Perang di Zaman Nabi ﷺ

Peperangan, ekpedisi militer, dan patroli yang dilakukan oleh beliau ﷺ , semuanya terjadi setelah hijrah, dalam jangka waktu 10 tahun.

Peperangan yang terjadi sebanyak 27 kali. Sebagian lagi mengatakan 25 kali, 29 kali, dan lain-lain. Beliau ﷺ turut terlibat langsung di dalamnya sebanyak 9 peperangan; Badar, Uhud, Khandaq, Quraizhah, Al-Mushthaliq, Khaibar, Al-Fath (penaklukan kota Mekah), Hunain, dan Thaif. Versi lain mengatakan, beliau ﷺ turut pula dalam peperangan bani An-Nadhir, Al-Ghabah, dan lembah Al-Qura’ (wilayah pinggiran Khaibar).

Ekspedisi-ekspedisi militer beliau ﷺ dan patroli-patrolinya berjumlah sekitar 60 kali. Adapun peperangan besar dan utama ada tujuh, yaitu; Badar, Uhud, Al-Khandaq, Khaibar, penaklukan kota Mekah, Hunain, dan Tabuk. Berkenaan dengan perang-perang inilah ayat-ayat Al-Qur’an turun. Surah Al-Anfal turun berkenaan dengan perang Badar, akhir surah Ali Imran dari firman-Nya, “Dan ketika engkau berangkat dari keluargamu dan mengatur barisan orang-orang Mukmin untuk berperang,” sampai menjelang akhir surat ini, turun berkenaan dengan perang Uhud. Adapun kisah perang Al-Khandaq, Quraizhah, dan Khaibar, turun surah Al-Ahzab. Sedangkan surah Al-Hasyr berkenaan dengan perang bani An-Nadhir. Kisah Al-Hudaibiyah dan Khaibar disebutkan pada surah Al-Fath. Pada surah ini juga telah disitir tentang peristiwa Al-Fath (penaklukan kota Mekah). Adapun penjelasan peristiwa Al-Fath secara transparan terdapat pada surah An-Nashr. Nabi ﷺ menderita luka hanya satu kali, yaitu ketika perang Uhud.

Malaikat turut berperang bersama beliau ﷺ pada perang Badar dan Hunain. Demikian pula para malaikat turun pada perang Al-Khandaq. Malaikat-malaikat tersebut menggoncang kaum musyrikin dan menimbulkan kekalahan pada mereka. Beliau ﷺ melemparkan batu kerikil di wajah-wajah kaum musyrikin sehingga mereka lari tunggang langgang. Kemenangan telah terjadi pada dua peperangan: Badar dan Hunain. Beliau ﷺ pernah menggunakan manjaniq (sejenis meriam, pelontar batu) hanya pada perang Thaif. Berlindung dengan menggunakan parit pada satu perang, yaitu perang Ahzab. Ide pembuatan parit tersebut dikemukakan oleh Salman Al-Farisi Radhiyallahu’anhu.

Pasal: Senjata dan Peralatan Beliau

Beliau ﷺ memiliki 9 bilah pedang, yaitu; Ma’tsur (inilah pedang pertama beliau ﷺ yang diwarisi dari ayahnya), Al-Adhb, Dzulfiqar atau Dzulfaqar. Pedang ini hampir tidak pernah berpisah dari beliau ﷺ, bagian-bagian dari pedang ini terbuat dari perak. Al-Qal’i, Al-Battar, Al-Hataf, Ar-Rasub, Al-Mikhdzam, dan Al-Qudhaib. Gagang pedang beliau terbuat dari perak dan selebihnya terbuat dari lingkaran perak. Pedang beliau ﷺ, Dzulfiqar didapatkannya dari rampasan perang Badar. Pedang inilah yang diperlihatkan kepada beliau dalam mimpinya. Beliau ﷺ masuk saat penaklukan kota Mekah sementara pada pedangnya terdapat emas dan perak.

Beliau ﷺ juga memiliki 7 baju perang, yaitu; Dzatul Fudhul. Baju Ini pernah digadaikan kepada Abu Asy-Syahm (seorang yahudi) karena beliau ﷺ mengutang sya’ir (salah satu jenis gandum) untuk keluarganya.

Jumlahnya 30 sha’ dengan tempo satu tahun. Baju ini terbuat dari besi. Baju perang beliau ﷺ yang lain adalah Dzatul Wisyah, Dzatul Hawasyi, As-Sa’diyah, Fidhah, Al-Batraa’, dan Al-Khirniq. Beliau memiliki enam Al-Qissiy (baju terbuat dari sutra), yaitu; Az-Zaura’, Ar-Rauha’, Ash-Shafra’, Al-Baidha’, Al-Katum, rusak saat perang Uhud lalu diambil oleh Qatadah bin An-Nu’man dan As-Saddad.

Beliau ﷺ memiliki ja’bah (tempat anak panah) yang diberi nama Al-Kafur, ikat pinggang terbuat dari kulit dan terdapat padanya tiga lingkaran terbuat dari perak, gesper dari perak, dan ujungnya juga dari perak. Demikian yang dikatakan sebagian ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tak pernah sampai kepada kami bahwa Nabi ﷺ melingkarkan ikat pinggang di pinggangnya.”

📖 Note:

1. Nabi ﷺ menggunakan alat-alat perang yang canggih sesuai dengan zamannya.
2. Nabi ﷺ memiliki alat-alat perang yang memadai untuk menjaga dirinya. Beliau adalah manusia biasa.

Setiap lelaki yang mampu untuk berperang dan menemui ajal tanpa berperang dan tidak ada niat dalam dirinya untuk itu. Yakni, dia sendiri tidak membicarakan perang dalam hatinya. Artinya tidak bertekad untuk berjihad maka hal itu mengandung kemunafikan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «من مات ولم يَغْزُ، ولم يُحدث نفسه بالغزو، مات على شُعْبَةٍ من نِفَاقٍ»
[صحيح] – [رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak pernah berperang (di jalan Allah), dan tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” [Hadis sahih] – [Diriwayatkan oleh Muslim]

Pasal: Hewan Ternak Nabi ﷺ

Hewan ternak beliau ﷺ dari jenis kuda adalah; As-Sakb. Dikatakan, ia adalah kuda pertama yang pernah dimiliki Nabi ﷺ. Namanya pada Arab Badui -yang Nabi ﷺ membeli darinya dengan harga 10 uqiyah- adalah Adh-Dhars. Kuda ini memiliki rambut putih di bagian kepala serta rambut putih yang melingkar di kaki. Kencang berlari dan warnanya hitam kemerah-merahan. Ada pula yang mengatakan hitam pekat.

Kuda milik beliau ﷺ yang lain adalah; Al-Murtajaz, berwarna kelabu. Inilah kuda di mana Khuzaimah bin Tsabit syahid di atasnya.

Beliau juga memiliki kuda Al-Luhaif, Al-Lizaz, Azh-Zharib, Sabhah, dan Al-Ward. Ketujuh nama ini disepakati oleh para ulama. Semuanya dirangkum Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ishak bin Jamaah Asy-Syafi’i dalam bait sya’ir.

Adapun kudanya adalah; Sakb, Luhaif, Sabhah, dan Zharib. Lizaz, Murtajaz, dan Ward, yang memiliki rahasia.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ memiliki 15 kuda yang lain. Akan tetapi kuda-kuda ini masih diperselisihkan oleh para ulama. Adapun kedua tepi pelana beliau ﷺ terbuat dari tali.

Bagal milik beliau ﷺ adalah; Duldul, seekor bagal berwarna kelabu, dihadiahkan kepadanya oleh Al-Muqauqis. Beliau ﷺ juga memiliki satu bagal lain bernama Fidhah yang dihadiahkan oleh Farwah Al-Juzami.

Nabi memiliki 45 unta perahan dan memiliki satu unta yang mahir. Unta ini dikirimkan kepadanya oleh Sa’ad bin Ubadah dari unta-unta bani Uqail.

Beliau memiliki pula 100 ekor kambing dan beliau tidak ingin lebih dari itu. Setiap kali lahir anak kambing maka beliau menyembelih seekor kambing dewasa. Di samping itu, beliau ﷺ memiliki pula 7 ekor kambing perahan yang digembalakan Ummu Aiman.

📖 Note:

1. Bolehnya pemimpin memelihara hewan-hewan ternak dan tunggangan.
2. Bolehnya menggunakan kendaraan dan alat transportasi yang modern untuk berperang, bisa bervariasi sesuai dengan perkembangan zaman asal tidak melanggar syariat.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم