Kitab Zaadul Ma’ad #9

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📗 | Kajian Kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad | Karya: Syaikhul Islam Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah
🎙| Bersama Ustadz Nefri Abu Abdillah, Lc. M.A 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
📌 | Grand Mosque Al-Khor Community Qatar
🗓 | Al-Khor, 9 Sya’ban 1447 / 28 Januari 2026



Zaadul Ma’ad #9 : Budak dan Pembantu Nabi ﷺ

Pasal Saraariyyi [Istri-istri dari Budak yang Tidak Dimerdekakan]

Abu Ubaidah berkata, “Beliau memiliki 4 isteri budak, yaifu:  Mariyah al-Qibtiyah (ibu anak beliau ﷺ yang bernama lbrahim); Raihanah; lalu seorang wanita budak cantik yang didapatkan di antara tawanan perang; dan seorang budak wanita yang dihibahkan kepadanya oleh Zainab binti Jahsy.”

Istilah Saraariyyi (bentuk jamak dari Sariyyah/Surriyah) merujuk pada budak perempuan yang dimiliki oleh seorang laki-laki dan dijadikan sebagai istri oleh tuannya. Pada saat itu, hukum membolehkan budak boleh dinikahi oleh tuannya. Statusnya budak yang tidak merdeka dan termasuk dalam ummahatul mukminin (Menurut sebagian pendapat).

*****

Pasal Mantan Budak-budak Beliau yang Dimerdekakan [مواليه]

Mawālī (مَوَالِي) adalah bekas-bekas budak yang telah dimerdekakan.

Di antara mantan budak beliau ﷺ adalah Zaid bin Haritsah bin syarahil, kesayangan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ memerdekakan dan menikahkannya dengan wanita mantan budaknya, ummu Aiman. Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak yang diberi nama Usamah.

Di antaranya pula; Aslam, Abu Rafi’, Tsauban, Abu Kabsyah sulaim, syuqran yang bernama Shalih, Rabah Nubi, yasar Nubi, dialah yang dibunuh oleh orang-orang dari bani Uraniyah, Mid’am, Kirkirah, dan Nubi. Beliau bertugas mengurus tsaqalt,o mirik Nabi ﷺ. pernah juga memegang kendaraan Nabi ﷺ dalam peperangan pada peristiwa Khaibar. Dalam shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa ia adalah orang yang mencuri mantel dalam peristiwa tersebut lalu dibunuh. Maka, Nabi ﷺ bersabda, “sesungguhnya mantel itu mengobarkan api untuknya”. Kisah Mid’am diriwayatkan lmam Al-Bukhari,7l375 dan lmam Muslim, no. 115.

Dalam kitab Al-Muwatha, bahwa orang yang mencuri adalah Mid’am. Dan keduanya sama-sama terbunuh di Khaibar. Wallahu A’lam.

Di antaranya, Anjasyah Al-Hadi dan Safinah bin Farukh (yang bernama Mahran). Rasulullah ﷺ memberinya nama Safinah karena mereka membebankan kepadanya bawaan mereka saat safar. Maka, beliau ﷺ bersabda, “Engkaulah safinah (perahu).” (lmam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad, 51221 dari hadits Sa’id bin Jumhan). Abu Hatim berkata, “Rasulullah memerdekakannya.” Sementara ulama selain beliau berkata, “Dia dimerdekakan Ummu Salamah.” Di antaranya lagi adalah Anasah dengan kunyah Abu Misyrah, Aflah, Ubaid, Thahman (yakni Kaisan), Dzakwan, Mahran, dan Marwan. Dikatakan, ini adalah perbedaan mengenai nama Thahman. wallahu A’lam.

*****

Pasal: Pelayan atau Pembantu (Khadim) Nabi

Khadim berasal dari bahasa Arab yang berarti pelayan, pembantu, atau orang yang mengabdi. Tetapi yang dibantu adalah seorang yang terbaik di muka bumi, utusan Allah.

Di antara mereka adalah Anas bin Malik yang bertugas mengurusi keperluan-keperluan beliau ﷺ, Abdullah bin Mas’ud pengurus sandal dan siwak beliau ﷺ. Uqbah bin Amir Al-Juhani pengurus bagal (turunan kuda jantan dengan keledai betina) beliau ﷺ dan menuntunnya saat safar, Asla’ bin Syarik pengurus untanya, Bilal bin Rabah sang mu’adzin, Sa’ad mantan budak Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abu Dzar Al-ghifari, Aiman bin Ubaid, dan ibunya Ummu Aiman mantan budak Nabi ﷺ. Ummu Aiman bertugas mengurusi perlengkapan bersuci beliau ﷺ dan hajatnya.

****

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لمَّا قدِم النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ أخذت أمُّ سُليمٍ رضِي اللهُ عنها بيدي فقالت يا رسولَ اللهِ هذا أنسٌ غلامٌ لبيبٌ كاتبٌ يخدُمُك فقَبِلني رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم

Tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama tiba di Madinah, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha datang kepada beliau dengan membawaku. Kemudian mengatakan, ‘Ya Rasulullah, ini Anas putraku, seorang anak yang cerdas dan siap melayanimu.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menciumku.” (HR. Al-Bazzar no. 6597)

Beliau diberi kunyah oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan Abu Hamzah.

Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu membantu nabi selama 10 tahun. Anas bin Malik radhiallahu’anhu menyatakan :

لَقَدْ خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَشَرَ سِنِيْنَ, فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ وَلَا قَالَ لِشَيْئٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ؟, وَلَا لِشَيْئٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا؟

Sungguh aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku sekalipun, “Aah”, tidak pernah berkomentar tentang apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu lakukan (ini)”, dan tentang apa yang tidak aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan demikian (saja.)” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau didoakan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ibunda beliau (Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mendoakan beliau dengan,

اللهم! أكثر ماله وولده. وبارك له فيما أعطيته

Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahi apapun yang Engkau berikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 2480).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu wafat di Bashrah dalam usia +/- 91 tahun.

*****

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu  adalah salah satu pahlawan Islam, dan salah satu sahabat yang termasuk As-Sabiqun Al-Awwalun. Beliau senantiasa menemani Nabi ke mana pun Nabi pergi. Dari menyiapkan sandal, siwak, hingga alas duduk Nabi, beliau kerjakan. Pengabdian seperti beliau maknanya memuliakan ulama, bukan mensucikan ulama (Yang hukumnya haram).

Beliau termasuk salah satu dari empat Abdullah yang masyhur, selain Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas. Beliau adalah Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah bin Mas’ud dikenal sebagai salah satu di antara sahabat yang paling tinggi ilmunya dan paling sering memberikan fatwa setelah wafatnya Nabi. Adz-Dzahabi memuji beliau dengan mengatakan, “Ibnu Mas’ud termasuk di antara deretan ulama yang paling cerdas.”

Qais bin Abi Hazim berkata, “Aku melihat Ibnu Mas’ud memiliki tubuh yang kurus.” Diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْنَ مَسْعُودٍ فَصَعِدَ عَلَى شَجَرَةٍ مَرَهُ أَنْ يَأْتِيَهُ مِنْهَا بِشَيْءٍ، فَنَظَرَ أَصْحَابُهُ إِلَى سَاقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ حِينَ صَعِدَ الشَّجَرَةَ، فَضَحِكُوا مِنْ حُمُوشَةِ سَاقَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا تَضْحَكُونَ؟ لَرِجْلُ عَبْدِ اللهِ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أُحُدٍ

Nabi memerintahkan Ibnu Mas’ud (untuk suatu perkara, -pen.), maka ia pun memanjat sebuah pohon yang Nabi suruh untuk membawakan sesuatu dari pohon tersebut untuknya.  Maka, para sahabat yang lain melihat betis Abdulullah bin Mas’ud tatkala memanjat pohon tersebut. Mereka pun tertawa melihat betisnya yang kecil. Rasulullah menanggapi, ‘Apa yang kalian tertawakan? Sungguh kaki Abdullah lebih berat dibandingkan gunung Uhud di timbangan hari kiamat kelak.’” (HR. Ahmad no. 876, sanadnya dinilai hasan oleh Syekh Syu’aib Al-Arnauth)

Para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:

قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ

“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali.

Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali.

Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.

Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!

Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”.

Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).

Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.

Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:

كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً

“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).

*****

Uqbah bin Amir Al-Juhani pengurus bagal (turunan kuda jantan dengan keledai betina) beliau ﷺ. ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu seorang yang berilmu, ahli qirâ`ah, berlisan fasih, faqih, ahli faraidh, penyair dan mempunyai kedudukan tinggi.

‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu juga mempunyai kehandalan di bidang peperangan. Ia dikenal sebagai pemanah ulung.

Yang menarik, semua itu ia dapatkan dalam segala keterbatasan, karena ia termasuk salah seorang penghuni Suffah, sebuah tempat di dalam Masjid Nabawi waktu itu yang menjadi tempat menginap orang-orang fuqara dari kaum Muhajirin dan orangorang yang tidak memiliki tempat tinggal.

*****

Bilal bin Rabah sang mu’adzin. Jika dilihat dari status, beliau adalah budak dari Habasyah (Ethiopia) yang tidak berkeluarga. Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang paling dikenang sepanjang sejarah Islam. Ia terkenal sebagai muadzin pertama, orang yang pertama kali mengumandangkan adzan dalam Islam, yang dipilih langsung oleh Rasulullah ﷺ karena suara dan keteguhan imannya. Kisah hidup Bilal merupakan simbol keberanian, keteguhan iman, dan kesetiaan dalam memperjuangkan Islam, meski berasal dari status sosial yang rendah sebagai budak di Makkah sebelum Islam berkembang.

Berikut rincian empat muadzin Nabi Muhammad :

  • Bilal bin Rabah (Radhiyallahu Anhu): Muadzin utama dan yang pertama kali mengumandangkan azan, dikenal suaranya merdu dan setia mendampingi Nabi, baik saat safar maupun mukim.
  • Abdullah/Amr bin Ummi Maktum (Radhiyallahu Anhu): Sahabat buta yang sering mengumandangkan azan subuh di Madinah, terutama saat Bilal azan di waktu sepertiga malam.
  • Sa’ad al-Qarazh (Radhiyallahu Anhu): Mantan budak yang dimerdekakan oleh Ammar bin Yasir, bertugas sebagai muadzin di Masjid Quba dan kemudian di Masjid Nabawi setelah Nabi wafat.
  • Abu Mahdzurah (Aus bin Mughirah Al-Jumahi): Ditunjuk langsung oleh Nabi SAW untuk menjadi muadzin di Mekkah (Masjidil Haram) setelah peristiwa Fathul Makkah.

Itulah Bilâl bin Rabâh Radhiyallahu anhu , hamba sahaya yang selanjutnya berubah menjadi Muslim yang taat dan dijanjikan masuk surga. Dalam sebuah riwayat yang shahîh dinyatakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلاَلٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِي اْلإِسْلاَمِ أَرْجَى عِنْدِيْ مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لاَ أَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلاَ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasulullâh bersabda kepada Bilâl setelah menunaikan shalat Subuh, ‘Wahai Bilâl, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ Bilâl Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.‘ [HR Muslim]

Keutamaan Muadzin

Allah ta’ala berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 33:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Termasuk dakwah ilallah pula adalah mengumandangkan azan, karena di dalamnya terdapat seruan mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah. [Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an].

Di antara keutamaan yang lainnya dari muadzin, bahwa semua yang mendengar suara adzannya kelak nanti pada hari kiamat akan bersaksi. Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari hadits Abu Sa’id Al-Hudhri -semoga Allah meridhainya-, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku melihat kamu suka sekali berada di pedesaan dan menggembalakan kambing. Kalau kamu sedang berada di kambing-kambingmu atau berada di pedesaan sana, lalu masuk waktu shalat, maka adzanlah untuk shalat, maka angkat suaramu saat adzan tersebut. Karena tidak ada yang mendengar panjangnya suara muadzin (artinya sejauh suara muadzin terdengar) baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali nanti pada hari kiamat mereka akan bersaksi untuknya.” Kata Abu Sa’id: “Aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari)

Demikian pula muadzin itu diampuni dosanya sejauh suaranya terdengar (tanpa speaker). Ini berdasarkan hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari hadits Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ

“Akan diampuni untuk muadzin sejauh suaranya terdengar, dan akan dimohonkan ampunan oleh setiap yang basah maupun yang kering.” (HR. Ahmad)

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم