Kitab Zaadul Ma’ad #12
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Zaadul Ma’ad #12 : Pakaian, Celana, Cincin dan Sandal Nabi ﷺ
1. Sorban hitam dan Kopiah
Beliau memiliki satu sorban yang bernama As-Sahab. Sorban ini pernah dipakaikannya kepada Ali Radhiyallahu’anhu.. Beliau ﷺ biasa memakainya dan melapisinya dengan kopiah. Terkadang pula beliau ﷺ memakai kopiah tanpa sorban dan sebaliknya. Apabila beliau ﷺ memakai sorban, maka dijulurkan ujung sorbannya di antara kedua bahunya. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dari Amr bin Harits, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah di atas mimbar memakai sorban hitam seraya menjulurkan kedua ujungnya pada kedua bahunya.”
HR. Muslim, no. 1359, Kitab Al-Hajj, Bab Jawaaz Dukhul Makkah Bighairi Ihram, Abu Dawud no. 4077, Kitab Al-Libas, Bab Fil ‘Ama’im, An-Nasa’i, 8/211, Kitab Az-Zinah, Bab Labsu Al-‘Ama’im Al-Harqaniyah, Ibnu Majah, no. 1104, Kitab Al-Iqamah, Bab Maa Jaa’a fii Al-Khutbah Yaumal Jumu’ah, dan no. 2821, Kitab Jihad, Bab Labsul ‘Ama’im fii Al-Harb, dan Imam Ahmad, Al-Musnad, 3/307 dari hadits Amr bin Harits Radhiyallahu’anhu.
Imam Muslim menukil pula dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ masuk Mekah seraya mengenakan sorban hitam. 1) Dalam hadits Jabir tidak disebutkan tentang jambulnya. Hal ini menunjukkan bahwa jambul (ujung sorban) beliau tidak selamanya dijulurkan pada kedua bahunya. Sebagian sumber mengatakan beliau ﷺ masuk Mekah sambil memakai perlengkapan perang dan mighfar 2) (topi baja) di atas kepalanya. Beliau ﷺ memakai di setiap kesempatan apa yang sesuai dengannya.
- HR. Muslim, no. 1358, Kitab Al-Hajj, Bab Jawaaz Dukhul Makkah Bighairi Ihram, At-Tirmidzi, no. 1679, Kitab Al-Jihad, Bab Maa Jaa’a fii Al-Uluwiyyah, dan no. 1735, Kitab Al-Libas, Bab Maa Jaa’a fii Al-Imamah As-Sauda’, Abu Dawud, no. 4076, Kitab Al-Libas, Bab Fil Ama’im, An-Nasa’i, 5/201, Kitab Al-Hajj. Bab Dukhul Makkah Bighairi Ihram, dan 8/211, Kitab Az-Zinah, Bab Labsu Al ‘Ama’im As-Suud, Ibnu Majah, no. 2822, Kitab Al-Jihad, Bab Labsul ‘Ama’im fil Al-Harb, dan Imam Ahmad, Al-Musnad, 3/363 dan 387, dari hadits Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu.
- Mighfar dengan wazan (pola kata) mimbar. Zirah terbuat dari besi yang dipakai di atas topi, atau lingkaran dari besi yang digunakan sebagai perisai kepala.
2. Gamis, Jubah, Qaba’ dan Farujiyah.
Beliau ﷺ memakai gamis dan ini adalah pakaian yang paling disukainya. Lengannya sampai ke pergelangan tangan. Beliau ﷺ pernah pula memakai jubah, Al-Faruj (semacam Al-Qaba’), dan Al-Farujiyah. Di samping itu, beliau ﷺ memakai pula Al-Qaba’ (pakaian luar sejenis mantel). Ketika safar, beliau memakai jubah yang sempit kedua lengannya. Nabi ﷺ juga memakai sarung dan selendang. Menurut Al-Waqidi bahwa selendang dan selimutnya berukuran panjang 7 hasta dan lebar 3 hasta 1 jengkal. Sedangkan sarungnya terbuat dari tenunan Oman, ukuran panjangnya 4 hasta 1 jengkal dan lebarnya 2 hasta 1 jengkal.
Beliau ﷺ pernah memakai hullah berwarna merah. Adapun hullah adalah sarung dan selendang. Hullah tidak digunakan kecuali untuk dua pakaian sekaligus (satu stel-penerj.). Sebagian orang keliru ketika mengatakan bahwa hullah ini berwarna merah murni tanpa dicampuri warna lainnya. Hanya saja hullah merah adalah; dua selimut Yaman yang ditenun dengan garis-garis merah dicampur hitam, seperti umumnya selimut buatan Yaman. Pakaian ini dikenal dengan nama hullah merah karena terdapat padanya berupa garis-garis merah.
3. Celana (Sarawil), Khuf, Sandal dan Topi Baja.
Nabi ﷺ pernah membeli sarawil (celana), dan secara lahirnya, beliau membelinya untuk dipakai. Lalu, dinukil dalam beberapa hadits bahwa beliau ﷺ memakai sarawil. Para sahabat pun memakai sarawil atas izin beliau .
Begitu pula, beliau ﷺ pernah memakai khuf (sejenis sepatu bot) dan memakai sandal yang diberi nama At-Tasumah. Beliau ﷺ juga memakai cincin. Hanya saja terjadi perbedaan di antara hadits-hadits yang menukilnya. Apakah beliau ﷺ memakai di tangan kanan atau tangan kirinya? Tapi, semua hadits tersebut memiliki sanad shahih.
Beliau ﷺ juga memakai Al-Bidhah (topi baja) yang diberi nama Al-Khaudzah. Sebagaimana beliau memakai baju besi yang biasa disebut Az-Zardiyah. Beliau muncul pada perang Uhud dengan memakai dua baju besi.
Faedah:
- Hukum mengusap khuf: Mengusap khuf itu boleh dengan tiga syarat yaitu:
- Kedua khuf dipakai setelah bersuci sempurna.
- Kedua khuf menutup bagian kaki yang wajib dibasuh.
- Kedua khuf terbuat dari bahan kuat dipakai untuk berjalan.
Orang yang mukim boleh mengusap khufnya selama sehari semalam. Sedangkan, musafir boleh mengusap khufnya selama tiga hari tiga malam. Waktunya dimulai ketika berhadats setelah memakai kedua khuf. Jika seseorang mengusap khuf ketika mukim, kemudian melakukan safar, atau mengusap khuf ketika melakukan safar, kemudian mukim, maka ia menyempurnakan waktu mengusap khuf seperti orang mukim. Tentang dalil pensyariatan mengusap khuf adalah dari berbagai hadits Nabawiyah. Di antaranya dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.
“Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun, sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Daud, no. 162. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih)
- Mengusap Imamah atau kerudung: mengusap imamah dalam istilah fikih adalah melewatkan tangan yang basah tanpa pengaliran (air) pada pakaian yang dibalutkan di kepala dengan cara melingkar ketika berwudu. Pendapat yang sahih adalah diperbolehkan mengusap imamah dengan hanya mencukupkan dengannya, tanpa mengusap kepala.
Cincin Nabi ﷺ
Nabi pernah memakai cincin terbuat dari emas, kemudian beliau ﷺ melemparkannya, dan melarang memakai cincin emas. Setelah itu, beliau memakai cincin perak dan tidak melarang memakainya. Adapun hadits Abu Dawud bahwa Nabi ﷺ melarang beberapa perkara, di antaranya; melarang memakai cincin kecuali untuk penguasa. Aku tidak tahu status hadits itu dan pengertiannya. Wallahu A’lam. [Ini adalah penggalan hadits panjang yang diriwayatkan Abu Dawud, no. 4049, Kitab Al-Libas, Bab Man Kariha lubsil Harir, dan An-Nasa’i, 8/143, Kitab Az-Zinah, Bab An-Natf,. Dalam sanadnya terdapat perawi majhul. Abu Dawud berkata setelah menukilnya].
Beliau menempatkan mata cincinnya pada bagian dalam tangannya. At-Tirmidzi menyebutkan bahwa apabila Nabi ﷺ memasuki tempat buang hajat, beliau ﷺ melepaskan cincinnya. Riwayat ini dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi, namun Abu Dawud mengingkarinya. [HR. At-Tirmidzi, no. 1746, Kitab Al-Libas, Bab Maa Jaa’a fii Lubsil Khatim fii Al Yamin, Abu Dawud, no. 19, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Khatim Yakuunu fiihi Dzikrullah Yadkhulu bihi Al-Khalaa’, An-Nasa’i, 8/178, Kitab Az-Zinah, Bab Al Khatim Inda Dukhul Al-Khala’, Ibnu Majah, no. 303, Kitab Ath-Thaharah, Bab Dzikrullahi &5 alaa Al-Khalaa’ wa Al-Khatim fii Al-Khala’].
Faedah:
- Emas adalah perhiasan yang tidak diperbolehkan bagi kaum laki-laki mukmin dan memakainya termasuk perbuatan munkar bagi mereka baik emas yang dipakai itu berupa cincin, jam tangan atau kalung, karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkenan dengan larangan tentang pemakaiannya bagi kaum laki-laki mukmin itu bersifat umum, di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Emas dan sutera dihalalkan bagi kaum wanita dari kalangan umat kami, dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya”. [An-Nasa’i, bab Perhiasan 5148, Ahmad 19008-19013]
- Pakaian yang dipakai oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berupa jubah, gamis, imamah dan lainnya, bukan beliau gunakan dalam rangka tasyri‘ (menjelaskan syari’at). Namun dalam rangka mengikuti pakaian masyarakat setempat. Maka, boleh menggunakan masyarakat setempat selagi tidak bertentangan dengan syariat. Misal di Indonesia menggunakan sarung atau batik.
Pakaian Beliau dan Para Sahabat Umumnya Terbuat dari Katun
Umumnya pakaian yang digunakan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terbuat dari katun. Terkadang pula mereka memakai pakaian dari wol dan rami. Syaikh Abu Ishaq Al-Ashbahani menyebutkan dengan sanad shahih dari Jabir bin Ayyub, ia berkata, Ash-Shalt bin Rasyid datang menemui Muhammad bin Sirin dan dia mengenakan pakaian wol, sarung wol, dan sorban wol. Muhammad merasa tidak senang kepadanya dan berkata, “Aku kira orang-orang memakai wol lalu berkata, ‘Ia telah dipakai Isa putra Maryam.’ Padahal, telah diceritakan kepadaku oleh orang yang tidak aku tuduh berdusta, bahwa Nabi ﷺ memakai rami, wol, dan katun. Sunnah Nabi kita lebih patut untuk diikuti.” Maksud Ibnu Sirin dengan perkataannya ini, bahwa sebagian orang menganggap memakai wol selamanya lebih utama daripada pakaian lainnya. Oleh karena itu, mereka senantiasa menggunakannya dan tidak mau menggunakan bahan lain. Demikian pula, mereka sengaja memilih satu model pakaian. Menetapkan tanda-tanda, potongan, dan bentuk, yang bila dilanggar maka dianggap sebagai kemungkaran. Padahal, hakikat kemungkaran adalah merasa terpaku padanya, memeliharanya, dan tidak mau meninggalkannya.
Sunnah Memakai Apa yang Mudah Didapatkan
Sikap yang benar, bahwa jalan paling utama adalah jalan Rasulullah ﷺ yang dicontohkan, diperintahkan, dianjurkan, dan senantiasa beliau ﷺ lakukan. Petunjuk beliau ﷺ dalam hal pakaian adalah mengenakan apa yang mudah didapatkan. Sekali waktu dari bahan wol, pada kesempatan lain dari bahan katun, dan sesekali pula dari bahan rami. Nabi pernah memakai selimut buatan Yaman dan selimut hijau. Beliau memakai pula jubah, Qaba’ (pakaian luar sejenis mantel), gamis, sarawil (celana), sarung, selendang, khuf (semacam sepatu bot), dan sandal. Sesekali beliau menjulurkan ujung sorbannya ke belakangnya dan sesekali tidak menjulurkannya.
Apabila beliau mendapat kain baru, beliau pun memberinya nama. Beliau biasa berdoa:
اللَّهُمَّ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْ هَذَا القَمِيْصَ أَوِ الرِّدَاءِ أَوِ العِمَامَةَ، أَسْألُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, Engkau yang memakaikan kepada hamba gamis, atau selendang, atau sorban ini, hamba mohon kepadamu kebaikannya dan kebaikan yang dibuat untuknya, dan hamba berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat untuknya.” [HR. Abu Dawud, no. 4020, Kitab Al-Libas, At-Tirmidzi, no. 1768, Kitab Al-Libas, Bab Maa Yaquulu Idza Labisa Tsauban Jadidan, Ahmad, Al Musnad, 3/30 dan 50, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri. Sanadnya shahih. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, no. 1442, dan At-Tirmidzi].
Apabila beliau memakai pakaian, beliau memulainya dari bagian kanan. Beliau pernah juga memakai pakaian dari bulu hitam. Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya, Ash-Shahih, dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah ﷺ keluar memakai mirth bergaris terbuat dari bulu hitam.” [HR. Muslim, no. 2081, Kitab Al-Libas, Bab At-Tawadhu’ fii Al-Libas wa Al-Iqthishar alaa Al-Ghalizh Minhu wa Al-Yasir, At-Tirmidzi, no. 2814, Kitab Al-Adab, Bab Maa Jaa’a fii Ats-Tsaub Al-Aswad, Abu Dawud, no. 4032, Kitab Al-Libas, Bab fii Lubsi Ash-Shuf wa Asy-Sya’ar].
Al-Mirth adalah pakaian yang terkadang terbuat dari wol, terkadang dari bulu, terkadang dari rami, dan terkadang pula dari sutra. Ath-Thahawi berkata, “la adalah pakaian yang biasa digunakan sebagai sarung.”
Petunjuk Beliau dalam Hal Makanan
Demikian pula petunjuk dan sirah beliau dalam hal makanan. Beliau tidak menolak yang ada dan tidak memaksakan diri mencari yang tidak ada. Tak pernah didekatkan kepadanya makanan yang baik-baik melainkan disantapnya kecuali jika beliau tidak berselera. Pada kondisi demikian, beliau ﷺ meninggalkannya tanpa mengharamkannya. Beliau ﷺ tidak pernah mencela suatu makanan; jika beliau menyukai niscaya
dimakannya, dan jika tidak maka ditinggalkannya. Sebagaimana beliau ﷺ pernah meninggalkan makan adh-dhabb (sejenis biawak) karena tidak terbiasa memakannya, namun beliau tidak mengharamkan makanan itu kepada umat. Bahkan, makanan itu disantap di hadapannya sementara beliau ﷺ memperhatikan.
Nabi ﷺ pernah makan kue dan madu yang merupakan makanan favoritnya. Beliau ﷺ pemah pula makan daging unta, daging domba, daging ayam, daging hubara (salah satu jenis burung yang leher dan paruhnya agak panjang, berwarna abu-abu), daging keledai liar, kelinci, dan makanan hasil laut.
Begitu pula Nabi ﷺ makan daging panggang, ruthab (kurma yang belum dijemur), dan tamr (kurma kering). Beliau ﷺ pernah minum susu murni dan susu bercampur, sawiq (makanan terbuat dari tepung hinthah
dan sya’ir), madu, dan air, dan pernah minum air rendaman kurma kering. Beliau ﷺ pernah makan khazirah (sup yang terbuat dari susu dan tepung).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
