بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-15
Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
| Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
Al-khor, 23 Syawal 1447 / 11 April 2026
| https://shamela.ws/book/9260/1546#p1



٥٥- باب فضل الزهد في الدنيا والحث على التقلل منها، وفضل الفقر

Bab 55: Keutamaan Zuhud Terhadap Kenikmatan Dunia Dan Perintah Untuk Hidup Sederhana Serta Keutamaannya

Hadits ke-15/471: Hiduplah di Dunia seperti Orang Asing

١٥/٤٧١- وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنكبي، فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل)) .

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua bahuku, seraya bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”

وكان ابن عمر رضي الله عنهما يقول: إذا أمسيت، فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك” رواه البخاري.

Ibnu Umar juga berkata, “Apabila kamu berada pada petang hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan apabila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu petang. Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu dan gunalah waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.”

[Sahih Bukhari no 6416]

Kosa Kata Hadits

  • Kata أَخَذَ : Memegang
  • Kata بِمَنْكِبَيَّ : Kedua bahuku. Maksudnya di atas otot bertemu dengan ujung bahu.
  • Kata إذَا أَمْسَيْتَ : Jika engkau berada pada waktu sore. Maksudnya masuk waktu sore.
  • Kata وَإِذَا أَصْبَحْتَ : Jika engkau berada pada pagi hari. Maksudnya masuk waktu pagi.

Penjelasan:

Hadits ini menjelaskan, bahwa hidup di dunia ini hendaknya jangan dijadikan tempat menetap (wathan) tetapi tempat bersinggah dan jangan terbersit akan lama tinggal di dalamnya.

Juga jangan terlalu mementingkan dunia, bergantung darinya kecuali ketergantungan orang asing bukan pada tempat tinggalnya. Jangan sampai menyibukkan diri padanya, seperti orang-orang yang asing ingin kembali kepada keluarganya.

  • Gharib: orang asing dari negerinya, ada waktu berdiam, namun hanya sebentar.

Perawi, Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma adalah salah satu pendiri madrasah di Madinah, setelah Zaid bin Tsabit. Beliau adalah termasuk ulama di Madinah, diantara murid-muridnya adalah Imam Malik yang menghasilkan murid Imam Asy-Syafi’i dan beliau melahirkan murid Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahumullah.

Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu, bapaknya merupakan salah satu pemimpin yang adil. Dengannya infrastruktur pemerintahan dibentuk dengan begitu baik dan teratur, termasuk pengelolaan keuangan negara dan keadilan hukum. Namun, dibunuh oleh Kaum Syiah yang melaknatnya hingga sekarang.

Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua bahunya dengan tujuan, agar memperhatikan karena ada perkara yang penting untuk disampaikan.

Hadits ini merupakan landasan agar manusia tidak memiliki angan-angan yang panjang di dunia. Orang yang beriman tidak sepantasnya menganggap dunia ini sebagai tempat tinggalnya yang abadi. Namun, Seyogyanya ia menganggap hidup di dunia ini seperti musafir yang sedang menyiapkan bekal bepergian menempuh perjalanan yang teramat panjang.

Jika dunia bukan negeri domisili dan tempat yang abadi bagi orang Mukmin, maka orang Mukmin harus bersikap dengan salah satu dari dua sikap:

  • Pertama, seperti orang asing yang menetap di negeri asing dan obsesinya (tujuan dan cita-citanya) ialah mencari bekal untuk pulang ke tanah airnya.
  • Kedua, seperti orang musafir yang tidak menetap sama sekali, dia terus melanjutkan perjalanannya siang dan malam menuju negeri abadi.

Barangsiapa sikapnya seperti ini di dunia, berarti dia menyadari tujuannya yaitu mencari bekal untuk perjalanan dan tidak disibukkan dengan memperkaya diri dengan perhiasan dunia. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada sejumlah Sahabatnya agar bekal mereka dari dunia seperti bekal pengendara atau musafir.

Orang mukmin yang pintar adalah orang yangselalu ingat kepada kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk akhirat, karena seorang Mukmin itu yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa dia pasti akan mati dan pasti akan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, dia selalu mempersiapkan bekal dengan takwa kepada Allâh dan melakukan amal shalih sebaik-baiknya dengan ikhlas dan mengikuti contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allâh sebanyak-banyaknya.

Perkataan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhma.

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari

Wasiat Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma dalam hadits ini berisi tentang:

  • Pendeknya angan-angan dan jika seseorang berada di sore hari maka tidak perlu menunggu pagi hari serta jika ia berada di pagi hari maka tidak perlu menunggu sore hari. Ia membayangkan ajal kematian menjemputnya sebelum itu.
  • Jika seseorang mampu melakukan ketaatan, pekerjaan, atau melakukan suatu amal kebaikan, maka hendaklah ia bersegera melakukannya.

Jangan ditunda atau diakhirkan, misalnya dengan mengatakan, “Saya akan melakukannya di waktu lain.” Atau mengatakan, “Saya akan melakukan itu nanti saja.” Atau “Saya akan melakukannya besok.” Atau “Saya akan sedekah besok.” Atau “Saya akan ngaji pekan depan.” Atau “Saya akan umrah tahun depan.” Kalau ada waktu dan harta kenapa ditunda?! Dan semua perkataan-perkataan di atas merupakan pintu masuk setan untuk memalingkan manusia dari berbuat kebaikan. Sehingga waktunya terbuang sia-sia tanpa ada manfaatnya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam menerangkan sifat orang-orang Mukmin:

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya. [Al-Mu’minûn/23:61]

Faedah Hadits:

1. Nabi memegang kedua bahu Abdullah bin Umar, ini menunjukkan kecintaan beliau kepada Sahabat ini sekaligus memberi penekanan terhadap pentingnya apa yang hendak beliau utarakan kepadanya itu. Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya bagi seorang pengajar agar memegang anggota tubuh siswa/anak didiknya saat belajar atau waktu memberi nasihat. Tujuannya tidak lain memberi penekanan dan peringatan.
2. Kegigihan Nabi Mihammad dalam upaya memberikan kebaikan kepada umatnya.
3. Perintah untuk bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia dan agar membatasi diri pada kebutuhan-kebutuhan yang primer saja. Barang siapa yang menghendaki hal itu maka dia seperti pengembara, yakni dia tidak membekali dirinya kecuali sebatas kemampuan. Karena itu dia akan memperingan bawaan serta beban yang dapat mempersulit dan memberatkan perjalanannya serta mengganggunya mencapai ke tujuan akhir.
4. Seorang Mukmin di dunia ialah (diibaratkan seperti) seorang yang asing, karena Surga adalah negeri pertamanya yang dia dikeluarkan darinya oleh musuhnya (Iblis), maka oleh karena itu dia membekali diri dengan sesuatu yang dapat mengantarkannya sampai pada tempat yang tertinggi.
5. Berkenaan dengan makna tersebut, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah mempunyai beberapa bait sya’ir berikut ini:

وَحَيَّ عَلَى جَنَّاتِ عَدْنٍ فَإِنَّهَا٠ مَنَازِلُكَ الْأُوْلَى وَفِيْهَا الْمُخَيَّمُ
وَلْكِنَّنَا سَبْيُ الْعَدُوِّ فَهَلْ تَرَى” نَعُوْدُ إِلَى أَوْطَانِنَا وَنَسْلَمُ
وَأَيُّ اغْتِرَابٍ فَوْقَ غُرْبَتِنَا الَّتِيْ . لَهَا أَضْحَتِ الْأَعْدَاءُ فِيْنَاتَحْكُمُ
وَقَدْ زَعَمُوْا أَنَّ الْغَرِيْبَ إِذَا نَأَى · وَشَطَّتْ بِهِ أَوْطَانُهُ لَيْسَ يَنْعَمُ
فَمِنْ أَجْلِ ذَا لَا يَنْعَمُ الْعَبْدُ سَاعَةً” مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا بَعْدَ مَا يَتَأَلَّم

mari kita berangkat menuju Surga ‘Adn, karena ia
merupakan tempatmu yang pertama dan di sana terdapat kemah.
tetapi kita adalah tawanan musuh, lalu apakah engkau mengetahui,
bahwa kita akan kembali ke negeri kita dan selamat.
adakah keasingan di atas keasingan kita yang
karenanya para musuh menguasai kita?
mereka mengklaim jika seseorang jauh dari negerinya
maka ia tidak akan merasa aman dan tidak bisa bersenang-senang.
dan oleh sebab itu, tidaklah seorang hamba bersenang-senang sesaat
dari masa hidupnya melainkan setelah ia merasakan rasa sakit.

6. Bersegera mengerjakan segala sesuatu pada waktunya.
7. Perintah agar memanfaatkan kesempatan demi menambah ketaatan dan tidak berlambat-lambat.
8. Kesehatan serta kehidupan adalah kesempatan bagi orang Mukmin yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik. Tidak selayaknya mengabaikan dan menggunakan keduanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم