Bismillah

Ringkasan Kitab Zaadul Ma’aad Karya Ibnul Al Qayyim, dengan Tema: ‘Amul Huzni – Tahun Kesedihan
Bersama: Ustadz Nefri Abu Abdillah, Lc., MA. Hafidzahullah
Pertemuan: 23 September 2026 / 12 Rabi’ul Akhir 1448
Tempat: Grand Mosque Al-Khor Community


https://ia600906.us.archive.org/20/items/kajian-zaadul-maad-ustadz-nefri/Amul%20Huzni%20-%20Ustadz%20Nefri%20Abu%20Abdillah%2023092026.mp3?_=1

 


Pengantar

‘Am artinya tahun, sedangkan al-huzn artinya kesedihan. Jadi, ‘Amul Huzni berarti tahun kesedihan. Ini merupakan salah satu fase yang sangat berat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam pembahasan ini ada beberapa poin besar yang akan kita bicarakan.

  • Pertama, bagaimana fase boikot kaum Quraisy terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau.
  • Kedua, bagaimana fase boikot tersebut berakhir.
  • Ketiga, bagaimana perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Thaif serta apa saja pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa tersebut.

Kita mulai dengan narasi yang dibawakan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, beliau mengatakan bahwa Hamzah, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memeluk Islam dan diikuti oleh banyak tokoh besar dari kalangan Quraisy.

Masuk Islamnya Hamzah dan Menguatnya Dakwah

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pembahasan ini disebutkan bahwa beliau masuk Islam pada tahun keenam.

Pada tiga tahun pertama dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dakwah dilakukan secara terbatas kepada orang-orang atau tokoh-tokoh yang diperkirakan memiliki kemungkinan besar menerima dakwah. Kemudian setelah itu turun perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.”

Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menjangkau orang-orang besar dari kalangan Quraisy dan mengajak mereka kepada Islam.

Jadi, perlu dicatat bahwa pada fase awal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara terbuka. Hanya saja, beliau mempertimbangkan siapa yang akan menjadi sasaran dakwah dan siapa yang kemungkinan besar menerima ajakan tersebut.

Ketika perintah untuk memperingatkan kerabat terdekat turun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mengajak paman-pamannya. Di antara mereka adalah Abu Lahab.

Abu Lahab adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saudara dari ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib. Abu Lahab sendiri merupakan kunyah, sedangkan nama yang disebutkan dalam pembahasan adalah Abdul Uzza.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan kunyah tersebut dalam Al-Qur’an:

تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.” (Al-Lahab:1)

Dalam pembahasan ini disebutkan salah satu faedah mengapa Allah tidak menyebut nama aslinya, tetapi kunyahnya. Para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak ingin menggandengkan nama seseorang dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah. Karena itu, ia disebut dengan kunyah Abu Lahab.

Ada pula yang menyebutkan bahwa Abu Lahab disebut demikian karena wajahnya yang tampan dan bercahaya.

Adapun Hamzah bin Abdul Muthalib adalah saudara Abu Lahab. Beliau juga merupakan paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hamzah kemudian menerima dakwah Islam dan dikenal dengan gelar Asadullah, Singa Allah.

Quraisy Mulai Merasa Terancam

Setelah Islam mulai tersebar dan semakin banyak orang yang tertarik kepada agama Allah, kaum Quraisy melihat perkembangan tersebut sebagai sesuatu yang mengancam kepentingan mereka.

Mereka kemudian berkumpul dan membuat kesepakatan untuk menghadang perkembangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka membuat sebuah perjanjian yang diumumkan kepada kaum Quraisy. Di antara isi perjanjian tersebut adalah:

  1. Tidak boleh melakukan jual beli dengan Bani Hasyim dan Bani Muthalib.
  2. Tidak boleh melakukan pernikahan dengan mereka.
  3. Tidak boleh bergaul dan duduk bersama mereka.

Dengan demikian, boikot tersebut bukan hanya menyentuh persoalan ekonomi, tetapi juga hubungan sosial dan keluarga.

1. Embargo Ekonomi

Larangan jual beli berarti Bani Hasyim dan Bani Muthalib mengalami embargo ekonomi. Mereka tidak boleh melakukan transaksi dengan kaum Quraisy. Padahal kehidupan di Makkah pada masa itu sangat bergantung pada perdagangan.

Bayangkan seseorang berada di sebuah tempat yang tidak memungkinkan dirinya bercocok tanam atau mendapatkan kebutuhan makanan dengan mudah. Jika perdagangan dihentikan, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup?  Inilah tekanan yang dirasakan oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

2. Larangan Pernikahan

Mereka juga dilarang saling menikah dengan kabilah-kabilah Quraisy lainnya. Tidak boleh ada hubungan pernikahan antara keluarga mereka dengan keluarga yang lain.

3. Tekanan Sosial

Larangan yang ketiga adalah tidak boleh duduk dan bergaul bersama mereka. Ini merupakan tekanan sosial yang sangat berat.

Seseorang masih berada di tengah masyarakat, tetapi diperlakukan seakan-akan tidak ada. Ketika bertemu tidak disapa, salam tidak dijawab, tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial, dan berbagai bentuk pengucilan lainnya.

Tekanan seperti ini berat karena seseorang berada di tengah komunitasnya sendiri, tetapi keberadaannya tidak dianggap. Itulah yang dirasakan oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka mengalami boikot karena mempertahankan dan melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tujuan Boikot: Menyerahkan Nabi

Kesepakatan tersebut tidak berhenti pada embargo ekonomi dan sosial.

Tujuan mereka adalah agar Bani Hasyim dan Bani Muthalib menyerahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Quraisy.

Mereka ingin Nabi diserahkan dalam keadaan hidup, kemudian mereka akan membunuh atau memenjarakan beliau.

Dalam riwayat yang disebutkan dalam pembahasan, kaum Quraisy bahkan pernah menawarkan kepada Abu Thalib agar menyerahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Sebagai gantinya, mereka akan menyerahkan pemuda dari kalangan mereka kepada Abu Thalib.

Tentu Abu Thalib menolak tawaran tersebut.Bagaimana mungkin seorang paman menyerahkan keponakannya sendiri kepada orang-orang yang ingin membunuhnya, kemudian sebagai gantinya menerima pemuda lain untuk dipelihara?

Itu bukan pertukaran yang adil.

Kesepakatan boikot tersebut kemudian ditulis dan digantungkan di Ka’bah sebagai bentuk pengumuman resmi.

Dengan demikian, seluruh Quraisy mengetahui bahwa Bani Hasyim dan Bani Muthalib sedang diboikot.

Bani Hasyim dan Bani Muthalib Mengasingkan Diri

Setelah kesepakatan tersebut ditetapkan, Bani Hasyim dan Bani Muthalib memilih untuk mengasingkan diri ke sebuah tempat yang dikenal sebagai Syi’b Abi Thalib. Hal ini terjadi pada tahun ketujuh setelah kenabian, sebagaimana disebutkan dalam pembahasan.

Perlu dibedakan antara tahun kenabian dan tahun Hijriah. Tahun kenabian dihitung sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, sedangkan tahun Hijriah berkaitan dengan hijrah Nabi ke Madinah.

Di Syi’b Abi Thalib, seluruh keluarga yang mendukung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul. Di antara mereka ada yang telah beriman dan ada pula yang belum beriman, tetapi tetap memberikan perlindungan kepada Nabi karena ikatan keluarga.

Mereka membawa perlengkapan seadanya dan tinggal di tempat tersebut dalam keadaan terisolasi. Boikot berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Mereka hidup dalam kondisi yang sangat berat. Mereka mengalami kesulitan mendapatkan makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan hidup.

Inilah salah satu fase yang sangat berat dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau.

Sikap Keluarga Nabi

Dalam keadaan tersebut, tampak bagaimana kuatnya ikatan keluarga dan perlindungan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bani Hasyim dan Bani Muthalib bersama-sama menghadapi tekanan tersebut. Ada di antara mereka yang telah beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Hamzah dan Al-Abbas. Ada pula yang belum beriman tetapi tetap membela dan melindungi Nabi sebagai anggota keluarga.

Hal ini menunjukkan bahwa seseorang dapat berbeda dalam persoalan keyakinan, tetapi tetap memiliki sikap melindungi anggota keluarga dari kezaliman.

Namun ada satu orang yang justru tidak ikut membela Nabi, yaitu Abu Lahab. Abu Lahab mengambil posisi yang berbeda dan tidak bergabung dalam pembelaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Jahal dan Penolakan terhadap Kebenaran

Di antara tokoh Quraisy yang paling keras menentang dakwah adalah Abu Jahal. Abu Jahal bukan paman Nabi. Ia berasal dari kabilah Quraisy yang berbeda. Pada masa sebelum Islam, ia dikenal dengan nama atau kunyah Abul Hakam. Ia merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar di Makkah.

Dalam pembahasan ini dijelaskan bahwa masyarakat jahiliyah sangat menghargai pengaruh, kekayaan, dan kedudukan seseorang. Abu Jahal memiliki pengaruh dan kemampuan berbicara yang membuatnya didengar oleh banyak orang.

Namun setelah Islam datang, ia menjadi salah satu tokoh yang paling keras menolak dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengetahui bahwa dakwah Nabi membawa kebenaran, tetapi tetap menolaknya. Karena itu, dalam pembahasan disebutkan bahwa Abu Jahal menjadi salah satu gambaran kejahiliyahan: bukan karena tidak memiliki kecerdasan, tetapi karena menolak kebenaran yang telah tampak.

Orang yang cerdas tidak otomatis menerima kebenaran apabila hatinya menolak.

Peristiwa yang Menunjukkan Kebenaran Nabi

Dalam pembahasan juga disebutkan sebuah kisah tentang seseorang yang memiliki persoalan keuangan dengan Abu Jahal. Orang tersebut datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta bantuan. Nabi kemudian mendatangi Abu Jahal untuk meminta agar hak orang tersebut diberikan. Ketika Abu Jahal melihat Nabi berdiri di hadapannya, ia memenuhi permintaan tersebut. Setelah itu Abu Jahal keluar dalam keadaan ketakutan.

Ketika ditanya oleh orang-orang Quraisy mengapa ia tampak takut, ia mengatakan bahwa ketika Muhammad mengetuk pintunya, ia melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain, berupa sesuatu yang mengancam dirinya jika tidak memenuhi permintaan Nabi.

Peristiwa tersebut disebutkan dalam pembahasan sebagai salah satu sisi yang menunjukkan pertolongan dan kebenaran yang Allah berikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Abu Jahal tetap berada dalam penolakannya.

Berakhirnya Boikot

Setelah kurang lebih tiga tahun berlangsung, boikot tersebut akhirnya berakhir. Sebagian tokoh Quraisy mulai merasa bahwa boikot tersebut tidak dapat terus dipertahankan. Di antara orang yang disebutkan memiliki sikap keberatan terhadap boikot adalah Mut’im bin ‘Adi.

Kemudian terjadi peristiwa yang menjadi sebab berakhirnya kesepakatan tersebut. Dokumen yang digantungkan di Ka’bah ditemukan telah rusak dan dimakan oleh serangga, sementara bagian yang berkaitan dengan nama Allah masih tersisa sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan dalam kajian.

Dengan demikian, boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib berakhir. Namun berakhirnya boikot tidak berarti penderitaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai. Justru setelah itu datang fase yang sangat berat.

Wafatnya Abu Thalib

Setelah fase boikot, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kehilangan salah satu orang yang selama ini menjadi pelindung utama beliau, yaitu Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman Nabi. Walaupun Abu Thalib tidak menerima Islam, ia memberikan perlindungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama bertahun-tahun ia berdiri di depan Nabi untuk melindungi beliau dari tekanan kaum Quraisy.

Ketika Abu Thalib mendekati ajal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Namun Abu Jahal dan orang-orang di sekitarnya terus memengaruhinya agar tetap berada di atas agama Abdul Muthalib. Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan, yaitu tidak menerima Islam.

Peristiwa ini sangat berat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menjelaskan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qasas: 56).

Demikian pula Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak diperbolehkan memohonkan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun mereka adalah kerabat dekat. Ini menunjukkan bahwa persoalan hidayah adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wafatnya Khadijah

Tidak lama kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali kehilangan orang yang sangat dekat dengan beliau, yaitu Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bukan hanya memberikan dukungan secara emosional, tetapi juga memberikan dukungan dengan harta dan tenaga. Ketika Nabi menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan ketakutan, Khadijah menenangkan beliau.

Ia mengingatkan Nabi bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan beliau karena beliau memiliki banyak sifat yang mulia: menyambung silaturahmi, membantu orang yang kesulitan, menolong orang yang membutuhkan, membantu orang yang tidak memiliki pekerjaan, serta berbagai kebaikan lainnya.

Khadijah adalah sosok yang berada di sisi Nabi ketika banyak orang meninggalkan beliau. Ketika kaum Quraisy memusuhi Nabi, Khadijah tetap mendukung beliau. Ketika boikot berlangsung selama bertahun-tahun, harta Khadijah digunakan untuk membantu Nabi dan keluarga beliau. Karena itu, wafatnya Khadijah merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Khadijah dan Kedudukannya di Hati Nabi

Dalam pembahasan disebutkan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingat Khadijah. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah merasa cemburu ketika Nabi masih sering menyebut Khadijah.

Namun Nabi menjelaskan keutamaan Khadijah.

  • Khadijah beriman ketika banyak manusia kafir.
  • Khadijah membantu Nabi dengan harta ketika banyak manusia tidak mau membantu.
  • Khadijah memberikan dukungan kepada Nabi ketika beliau sangat membutuhkan dukungan.

Karena itu, kedudukan Khadijah sangat besar dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kehilangan Abu Thalib dan Khadijah sekaligus menjadikan keadaan Nabi semakin berat.

Abu Thalib selama ini menjadi pelindung beliau dari sisi keluarga dan sosial.  Khadijah menjadi pendukung beliau dari sisi rumah tangga, hati, dan harta. Ketika keduanya wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kehilangan dua orang yang sangat penting dalam kehidupan beliau.

Tekanan Quraisy Semakin Berat

Setelah Abu Thalib dan Khadijah wafat, tekanan kaum Quraisy terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin meningkat.

Dahulu Abu Thalib menjadi salah satu benteng perlindungan Nabi. Dari sisi ekonomi dan rumah tangga, Khadijah memberikan dukungan yang besar. Ketika keduanya tidak ada, tekanan terhadap Nabi semakin terbuka. Kaum Quraisy bahkan bersepakat untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di sinilah kita dapat memahami betapa beratnya apa yang disebut sebagai ‘Amul Huzni, tahun kesedihan. Kesedihan bukan hanya karena kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga karena tekanan dakwah semakin besar. Nabi menghadapi tekanan dari kaum sendiri, dari masyarakat sendiri, bahkan dari orang-orang yang sebelumnya mengenal beliau.

Seorang penyair pernah mengatakan:

“Kezaliman yang datang dari orang-orang terdekat lebih menyakitkan bagi seseorang daripada tebasan pedang yang tajam.”

Mengapa? Karena manusia biasanya mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekat. Ketika justru orang terdekat yang menjatuhkan dan menyakiti, rasa sakitnya menjadi lebih berat.

Nabi Menuju Thaif

Dalam keadaan seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian keluar menuju Thaif. Apa tujuan beliau? Beliau berharap penduduk Thaif dapat menerima dakwah dan memberikan dukungan kepada beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pergi sendirian. Beliau ditemani oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Dalam pembahasan ini dijelaskan sebuah pertanyaan: mengapa Nabi memilih Zaid bin Haritsah dan tidak bersama Abu Bakar atau Umar? Zaid memiliki kedudukan yang berbeda dari Abu Bakar dan Umar. Dengan demikian, perjalanan Nabi bersama Zaid tidak terlalu menimbulkan kecurigaan kaum Quraisy.

Nabi sedang berada dalam kondisi diawasi. Gerak-gerik beliau diperhatikan oleh kaum Quraisy yang sedang mencari kesempatan untuk menghentikan dakwah bahkan membunuh beliau. Karena itu, perjalanan Nabi menuju Thaif juga memperlihatkan adanya strategi. Beliau memilih Zaid bin Haritsah sebagai pendamping.

Beliau juga keluar pada siang hari dan berjalan kaki. Semua itu dipahami dalam pembahasan sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi kecurigaan. Jika beliau keluar bersama tokoh seperti Abu Bakar atau Umar, perjalanan tersebut lebih mudah dicurigai sebagai bagian dari aktivitas dakwah. Adapun bersama Zaid, orang-orang mungkin menganggapnya sebagai perjalanan biasa.

Mengapa Thaif?

Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Thaif?

Dalam pembahasan disebutkan beberapa alasan.

  1. Pertama: Letaknya Dekat dengan Makkah : Thaif merupakan salah satu wilayah yang dekat dengan Makkah. Pada masa tersebut, Thaif telah menjadi kota yang dikenal. Karena itu, secara geografis Thaif merupakan tempat yang strategis untuk dikunjungi.
  2. Kedua: Jalur Perdagangan : Thaif memiliki hubungan dengan jalur perdagangan antara Makkah dan wilayah selatan, termasuk Yaman. Kaum Quraisy memiliki perjalanan perdagangan ke berbagai wilayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perjalanan dagang Quraisy pada musim dingin dan musim panas. Karena posisinya, Thaif memiliki nilai strategis dalam hubungan perdagangan tersebut.
  3. Ketiga: Pasar Transit: Thaif juga dipandang sebagai tempat transit yang penting bagi para pedagang. Para pedagang dapat singgah, memeriksa barang, dan melanjutkan perjalanan. Dengan demikian, kota tersebut memiliki posisi yang strategis dari sisi ekonomi.
  4. Keempat: Investasi Orang-orang Makkah: Orang-orang Makkah juga memiliki investasi di Thaif dan wilayah sekitarnya. Dalam pembahasan disebutkan adanya kebun yang dimiliki oleh orang-orang Quraisy di sekitar Thaif.

Karena itu, jika dakwah Nabi berhasil mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh Thaif, secara strategis hal tersebut dapat memberikan perlindungan dan mengurangi tekanan dari kaum Quraisy.

Inilah salah satu bentuk strategi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah. Namun strategi tersebut tidak menghasilkan apa yang diharapkan.

Penolakan Penduduk Thaif

Ketika tiba di Thaif, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui tokoh-tokoh besar di sana. Di antaranya disebutkan Ibnu ‘Abdi Yalil. Nabi memulai dakwah kepada tokoh-tokoh mereka dengan harapan jika para pemimpin menerima dakwah, masyarakat akan mengikuti.

Namun harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka menolak dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan hanya menolak, mereka bahkan menghasut masyarakat untuk menyakiti beliau.

Nabi kemudian mencoba mengajak masyarakat yang lebih luas. Namun para pemimpin Thaif mengarahkan masyarakat untuk mengusir Nabi. Anak-anak, wanita, dan orang-orang yang berada di sana ikut mengejar dan menyakiti beliau. Mereka melempari Nabi dengan batu dan memukul beliau.

Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau terus menghalangi orang-orang yang ingin menyakiti Nabi sampai dirinya sendiri terluka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya keluar dari Thaif dalam keadaan terluka. Kaki beliau mengalami luka dan darah. Zaid pun mengalami luka ketika melindungi Nabi. Betapa beratnya perjalanan tersebut.

Nabi datang dengan harapan mendapatkan tempat untuk menyampaikan dakwah dan mendapatkan dukungan. Namun yang beliau dapatkan justru penolakan, penghinaan, pengusiran, dan kekerasan fisik.

Berteduh di Kebun

Setelah meninggalkan Thaif, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan hingga sampai di sebuah kebun milik dua orang Quraisy. Beliau kemudian berteduh dan beristirahat di sana. Pemilik kebun melihat keadaan Nabi yang sangat berat. Mereka kemudian memerintahkan seorang budak mereka untuk memberikan air dan makanan kepada Nabi. Budak tersebut bernama Addas dan beragama Nasrani.

Ketika makanan berupa anggur diberikan kepada Nabi, beliau mengucapkan Bismillah sebelum memakannya. Addas merasa heran mendengar ucapan tersebut. Nabi kemudian berbicara dengannya dan bertanya dari mana asalnya. Addas menjawab bahwa ia berasal dari Ninawa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyebut bahwa Ninawa adalah negeri Nabi Yunus. Addas semakin heran. Ia bertanya bagaimana Nabi mengetahui Nabi Yunus. Nabi menjelaskan bahwa Yunus adalah seorang nabi sebagaimana dirinya juga seorang nabi. Percakapan tersebut membuat Addas menerima Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan.

Perhatikan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berdakwah meskipun berada dalam keadaan sangat sulit. Kaki beliau terluka. Beliau baru saja diusir dan disakiti. Namun ketika bertemu seseorang, beliau tetap menyampaikan dakwah.

Doa Nabi Setelah Peristiwa Thaif

Setelah mengalami semua itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara doa yang disebutkan dalam pembahasan adalah:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya kemampuanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara para penyayang, kepada siapa Engkau menyerahkan diriku?”

Ini adalah doa yang menunjukkan betapa beratnya keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu. Beliau tidak mengadukan penderitaannya kepada manusia. Beliau mengadukannya kepada Allah. Ketika semua pintu seakan tertutup, beliau tetap kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Malaikat Penjaga Gunung

Dalam riwayat yang dibawakan dalam pembahasan, setelah peristiwa tersebut Allah mengutus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat menawarkan kepada Nabi untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif sebagai balasan atas perlakuan mereka. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memilih pembalasan tersebut. Beliau justru berharap agar dari keturunan mereka akan lahir generasi yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya.

Ini menunjukkan besarnya kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia. Beliau tidak hanya memikirkan keadaan saat itu. Beliau melihat kemungkinan kebaikan pada generasi yang akan datang. Orang-orang yang hari ini menolak bisa saja memiliki keturunan yang kelak menerima kebenaran. Karena itu, Nabi tidak meminta agar mereka dibinasakan. Beliau berharap agar Allah memberikan hidayah kepada mereka dan keturunan mereka.

Jinn Mendengarkan Al-Qur’an

Setelah perjalanan tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan. Pada malam hari beliau melakukan shalat. Pada saat itulah sekelompok jin mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Peristiwa tersebut disebutkan dalam Surah Al-Jin dan juga Surah Al-Ahqaf.

Dalam pembahasan, peristiwa ini dipandang sebagai salah satu bentuk hiburan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika manusia menolak, ternyata ada makhluk lain yang mendengarkan dan menerima. Jika penduduk Thaif tidak menerima dakwah, ternyata dakwah tersebut tetap sampai kepada makhluk lain. Hal ini menunjukkan bahwa risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah risalah yang terbatas pada satu kelompok atau satu tempat.

Pelajaran dari Peristiwa ‘Amul Huzni

Dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut terdapat beberapa pelajaran penting.

1. Dakwah Membutuhkan Orang yang Mendukung

Dakwah membutuhkan orang-orang yang membantu, membela, mendukung, dan membersamai perjuangan di jalan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekeliling beliau.

  • Ada Abu Thalib yang memberikan perlindungan.
  • Ada Khadijah yang memberikan dukungan dari sisi rumah tangga dan harta.
  • Ada para sahabat yang beriman dan berjuang bersama beliau.
  • Ada pula keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang memberikan perlindungan meskipun tidak seluruhnya beriman.

Dakwah tidak berjalan hanya dengan seseorang. Ada kebutuhan terhadap orang-orang yang membantu agar dakwah dapat terus berjalan.

2. Strategi Juga Dibutuhkan dalam Dakwah

Perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Thaif menunjukkan bahwa dalam berdakwah diperlukan strategi. Pemilihan tempat, pemilihan orang yang menemani, waktu perjalanan, dan cara melakukan perjalanan merupakan bagian dari ikhtiar. Nabi memilih Thaif sebagai salah satu tempat yang dianggap strategis.

Dalam pembahasan dijelaskan bahwa pilihan tersebut merupakan ijtihad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan wahyu. Artinya, Nabi sebagai manusia juga melakukan perencanaan dan pertimbangan dalam dakwah. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan sebab. Seorang muslim berusaha mengambil sebab yang memungkinkan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Loyalitas Keluarga dalam Membela Kebenaran

Peristiwa boikot juga menunjukkan bagaimana keluarga besar Nabi memberikan perlindungan kepada beliau. Bani Hasyim dan Bani Muthalib bersedia menghadapi tekanan demi melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian dari mereka beriman. Sebagian lainnya belum beriman. Namun mereka tetap berdiri membela Nabi dari tindakan zalim yang dilakukan kaum Quraisy. Ini menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu seseorang dapat berdiri membela kebenaran dan melindungi orang yang dizalimi.

4. Kebenaran Akan Mengalami Ujian

Pelajaran berikutnya adalah bahwa orang yang berada di atas kebenaran akan mengalami ujian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”

Dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami ujian. Beliau menghadapi penolakan, boikot, penghinaan, kehilangan orang-orang tercinta, bahkan ancaman pembunuhan. Karena itu, ketika seseorang menyampaikan kebenaran, ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.

  • Dibutuhkan kesabaran.
  • Dibutuhkan ketabahan.
  • Dibutuhkan solidaritas.
  • Dibutuhkan orang-orang yang mau saling menguatkan.

Dan pada akhirnya, kemenangan adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penutup

Demikian pembahasan tentang fase ‘Amul Huzni, tahun kesedihan, sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan kitab Mukhtashar Zaadul Ma’ad.

Kita telah melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi boikot Quraisy, bagaimana Bani Hasyim dan Bani Muthalib menghadapi tekanan selama bertahun-tahun, bagaimana boikot tersebut akhirnya berakhir, kemudian bagaimana Nabi kehilangan Abu Thalib dan Khadijah.

Setelah itu tekanan kaum Quraisy semakin berat hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menuju Thaif dengan harapan mendapatkan dukungan. Namun yang beliau dapatkan justru penolakan dan kekerasan. Meskipun demikian, Nabi tidak berputus asa. Beliau tetap mengharap kebaikan bagi manusia. Beliau tetap berdakwah. Beliau tetap mengadu kepada Allah.

Dan ketika ditawarkan pembalasan terhadap penduduk Thaif, beliau justru berharap agar dari keturunan mereka lahir generasi yang menyembah Allah semata. Inilah besarnya kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia.

Setelah fase kesedihan yang sangat berat tersebut, pembahasan berikutnya akan memasuki fase Isra dan Mi’raj sebagai bentuk hiburan dari Allah Rabbul ‘alamin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

*****

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم