بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi
Muqaddimah
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrofil anbiya-i wal mursalin, nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin, amma ba’du.
Jamaah sekalian, al-ikhwah wa al-akhawat rahimani wa rahimakumullah.
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan taufik, kesempatan, dan kesehatan. Pada pagi hari ini—waktu Qatar—kita dapat berkumpul bersama untuk mengisi waktu dengan mengkaji kitab-kitab para ulama. Semoga Allah memberkahi waktu kita, menganugerahkan ilmu yang bermanfaat sebagai bekal dalam meniti kehidupan hingga akhir hayat, serta mengaruniai kita ridha-Nya dan husnul khatimah.
Setelah menyelesaikan pembahasan dari beberapa kitab sebelumnya, pada kesempatan kali ini kita akan membuka kajian untuk kitab yang baru, yaitu Al-Wasail Al-Mufidah lil Hayat As-Sa’idah. Risalah ini tergolong ringkas, namun memuat kandungan isi yang sangat luas dan sangat kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian risalah ini insya Allah akan kita bahas secara berkala pada halaqah rutin setiap hari Sabtu. Semoga Allah memberikan keikhlasan, keistiqamahan, serta taufik agar kita senantiasa konsisten meluangkan waktu untuk menuntut ilmu agama.
Makna Judul Kitab: Al-Wasail Al-Mufidah lil Hayat As-Sa’idah
Secara bahasa, kata al-wasail merupakan bentuk jamak dari al-wasilah, yang bermakna cara, sebab, atau perantara. Penggunaan bentuk jamak pada judul ini menunjukkan bahwa penulis tidak hanya memaparkan satu jalan atau satu cara saja, melainkan banyak jalan dan sebab untuk meraih tujuan tersebut.
Selanjutnya, kata al-mufidah berarti yang bermanfaat atau berfaedah. Penambahan sifat ini sangat krusial, sebab tidak semua cara atau jalan dapat mengantarkan seseorang pada kebahagiaan yang sejati. Maka, yang dibahas di sini adalah cara-cara yang benar-benar bermanfaat.
Adapun frasa lil hayat as-sa’idah berarti “untuk kehidupan yang bahagia”. Dari judulnya saja, kita dapat memahami isi dan arah tujuan penulis (Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah), yaitu memberikan panduan dan nasihat bagi siapa saja yang merindukan kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia, kitab ini sering diberi judul Nasihat Bermanfaat Menggapai Kehidupan Bahagia.
Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah, risalah ini tergolong ringkas namun memiliki posisi yang sangat penting. Sangat sedikit kitab ringkas yang mampu menyamai kedalaman faedah dan isi kandungan risalah ini. Pujian senada juga datang dari banyak ulama lainnya, seperti Syaikh Nasir Al-Barrak dan para masyayikh lainnya.
Rapuhnya Teori Kebahagiaan Tanpa Iman
Meraih kebahagiaan adalah cita-cita terbesar setiap manusia. Banyak pemikir di luar Islam yang menyusun teori, kiat, atau rumusan kebahagiaan berdasarkan kacamata ekonomi, psikologi, maupun sosial. Namun, tidak sedikit dari para penulis atau pemikir tersebut yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa teori kebahagiaan yang dirumuskan tanpa pijakan agama adalah teori yang rapuh dan lemah. Sebab, sang perumus teori sendiri tidak mampu terselamatkan oleh jalan yang ditulisnya.
Berbeda halnya dengan risalah Al-Wasail Al-Mufidah. Kitab ini ditulis langsung berdasarkan pengalaman spiritual, keimanan, dan pendalaman wahyu oleh penulisnya sendiri, Syaikh Abdurrahman As-Sa meyakinkan bahwa orang yang pertama kali merasakan manfaat dari nasihat di kitab ini adalah sang penulis.
Kisah di Balik Penulisan Kitab
Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah menceritakan riwayat penulisan kitab ini dari putra Syaikh Abdurrahman As-Sa’di yang bernama Muhammad. Pada kisaran tahun 1950-an, Syaikh As-Sa’di mengalami sakit parah di bagian kepala sehingga harus dirawat di sebuah rumah sakit di Lebanon.
Melihat kondisi kesehatannya, tim dokter melarang keras Syaikh As-Sa’di untuk membaca dan menulis agar otaknya tidak bekerja terlalu keras. Awalnya beliau mematuhi arahan tersebut. Namun, karena jiwa beliau hidup dengan ilmu, membaca dan menulis justru menjadi sumber ketenangan bagi beliau.
Di atas pembaringan rumah sakit, secara diam-diam beliau meminta kertas dan mulai menulis risalah ini. Setiap kali ada keluarga atau pengunjung yang datang menjenguk, beliau menyembunyikan lembaran-lembaran kertas tersebut di bawah bantal agar tidak memicu kekhawatiran. Dari pembaringan dan kondisi sakit itulah risalah kebahagiaan ini lahir. Beliau menuangkan pengalaman dan cara-cara menggapai kebahagiaan yang beliau rasakan sendiri meski sedang diuji dengan rasa sakit.
Hakikat Kebahagiaan Seorang Muslim
Kisah di atas memberikan pelajaran penting bahwa bagi seorang mukmin, kebahagiaan tidak diukur dari tingkat kesehatan, status sosial, maupun kondisi ekonomi. Kebahagiaan sejati berakar pada kekuatan iman dan keyakinan di dalam hati.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah, yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di dalam penjara, tetap merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena kebahagiaan itu bersemayam di dadanya. Begitu pula para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Latar belakang mereka beragam—ada yang kaya seperti Utsman bin Affan, ada pula yang sangat fakir seperti Abu Hurairah dan para Ahlus Suffah. Namun, mereka semua disatukan oleh satu hal: kebahagiaan hati berbasis iman.
Hidup ini adalah medan ujian (lyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala). Bagi seorang mukmin, setiap ujian—baik berupa kesempitan ekonomi, masalah keluarga, maupun penyakit—merupakan sarana untuk meraih pahala besar di sisi Allah. Ketika dihayati dengan iman, ujian tidak akan memicu stres berlebihan, melainkan disikapi dengan optimisme dan keridhaan.
Biografi Ringkas Penulis: Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah
Untuk lebih mengambil faedah dari nasihat beliau, penting bagi kita mengenal sosok penulisnya:
– Nama dan Nasab: Beliau adalah Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah bin Nasir Alu Sa’di, berasal dari kabilah Bani Tamim. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Syaikh As-Sa’di (atau As-Si’di).
– Masa Kecil: Beliau lahir di Unaizah, Qasim, pada tahun 1307 H (1889 M). Beliau tumbuh sebagai anak yatim piatu; ibunya wafat saat beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya wafat saat beliau berusia 7 tahun.
– Keilmuan: Meski tumbuh dalam keterbatasan, beliau dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Beliau berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia 11 tahun dan sudah mulai mengajar serta menguasai berbagai cabang ilmu agama pada usia 23 tahun.
– Murid dan Karya: Salah satu murid beliau yang paling menonjol dan diakui keilmuannya oleh dunia Islam adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Karya beliau yang sangat monumental di antaranya adalah kitab tafsir Taisir Karimil Rahman (Tafsir As-Sa’di).
– Karakter dan Keimanan: Beliau dikenal sangat tawadhu, sabar, dan memiliki tawakkal serta keyakinan yang kokoh kepada Allah. Dikisahkan, ketika hendak melangsungkan shalat Istisqa’ (meminta hujan), beliau terlebih dahulu membersihkan atap masjid agar aliran air hujan nantinya lancar. Hal ini menunjukkan betapa besarnya husnudzon dan keyakinan beliau akan dikabulkannya doa.
– Wafat: Beliau wafat di Kota Unaizah pada tahun 1956 M dalam usia sekitar 69 tahun, meninggalkan warisan ilmu yang terus dimanfaatkan oleh umat hingga hari ini.
Pembahasan Muqaddimah Kitab
Penulis rahimahullah membuka risalahnya dengan mukaddimah yang ringkas namun padat makna:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ. أَمَّا بَعْدُ
“Segala puji bagi Allah yang seluruh pujian adalah milik-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du.”
Kalimat “الَّذِي لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ” (yang seluruh pujian milik-Nya) menegaskan rasa syukur yang sempurna dari penulis kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalimat ini ditulis saat beliau sedang berada dalam kondisi sakit, menggambarkan bahwa dalam situasi tersulit pun, pujian dan rasa syukur seorang mukmin kepada Allah tidak boleh berkurang.
Selanjutnya, beliau menjelaskan pokok permasalahan dalam risalah ini:
فَإِنَّ رَاحَةَ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتَهُ وَسُرُورَهُ وَزَوَالَ هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ هُوَ الْمَطْلَبُ لِكُلِّ أَحَدٍ
“Maka sesungguhnya ketenangan hati, ketenteramannya, kegembiraannya, serta hilangnya rasa duka dan kesedihan adalah cita-cita bagi setiap orang.”
Tiga Faktor Kunci Kebahagiaan
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa untuk menggapai kehidupan yang baik (al-hayat at-thayyibah) dan ketenangan jiwa, terdapat tiga faktor (asbab) utama:
- Faktor Keagamaan (Asbab Diniyyah): Berkaitan dengan keimanan, tauhid, dan keyakinan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
- Faktor Alami (Asbab Thabi’iyyah): Berkaitan dengan hal-hal fisik dan medis, seperti pengobatan, terapi, dan menjaga kesehatan tubuh.
- Faktor Perbuatan/Praktis (Asbab ‘Amaliyyah): Berkaitan dengan pengamalan, latihan-latihan fisik/mental, dan penerapkan teori-teori positif dalam tindakan nyata.
Beliau memberi penekanan penting: ketiga faktor ini tidak mungkin terkumpul secara utuh dan sempurna kecuali pada diri seorang mukmin (wa la yumkinuj tima’uha kulluha illa lil mu’min).
Orang-orang di luar Islam mungkin bisa meraih satu dari sisi-sisi tersebut melalui penelitian ilmiah yang panjang di bidang psikologi, sosial, atau ekonomi. Namun, kebahagiaan yang mereka dapatkan sangat terbatas dan didapat dengan bersusah payah, sementara mereka kehilangan sisi-sisi lain yang jauh lebih bermanfaat dan berdampak jangka panjang.
Fenomena Kebahagiaan Semu di Era Modern
Banyak orang pada hari ini terjebak dalam kebahagiaan semu. Di media sosial, fenomena flexing—seperti memamerkan kendaraan, rumah mewah, momen liburan, hingga foto keluarga yang harmonis—sering kali membuat orang lain merasa iri dan menganggap mereka sangat bahagia.
Namun, tidak jarang di balik tampilan tersebut tersimpan kepalsuan: beban utang yang menumpuk, perselisihan rumah tangga yang tiada henti, atau kecemasan batin yang mendalam. Kebahagiaan yang ditunjukkan hanya sebatas panggung sandiwara untuk dinilai oleh orang lain.
Sebagai seorang mukmin, ukuran kebahagiaan bukanlah pandangan atau pujian orang lain, melainkan apa yang dirasakan secara hakiki oleh hati dan rumah tangga kita sendiri. Pintu kebahagiaan yang sejati tidak membutuhkan kepalsuan, melainkan membutuhkan pembenahan iman, amal saleh, dan penerapan tata cara yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Poster Ringkasan
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
