بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Sabtu – Doha
Membahas: Mulakhas Fiqhi – Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah
Bersama Ustadz Hanafi Salihin Abu Arify, Lc, M.A Hafidzahullah
Pertemuan: Doha, 23 Rabi’ul Akhir 1448 / 03 Oktober 2026
Larangan-larangan ihram #4
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin. Wa shollatu wa sallamu ‘ala asyrofil ambiya-i wal mursalin, Nabiyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, wa manihtada bi hudahu wattaba’a atsarahu ila yaumiddin, amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin, para jemaah sekalian a’azzakumullah. Insya Allah pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan kajian dari kitab Al-Mulakhkhas Al-Fiqhi. Pembahasan kita masih berkisar pada bab Mahzhuratul Ihram (larangan-larangan saat berihram).
Telah berlalu pembahasan larangan-larangan Ihram:
- Memotong Rambut
- Memotong kuku dari tangan maupun kaki tanpa alasan
- Menutup kepala untuk laki-laki
- Menutup atau memakai pakaian berjahit bagi laki-laki
- Menggunakan Wewangian (Ath-Thib)
- Berburu Hewan Darat (Shaidul Barr)
- Akad Nikah
- Jima’
9. Larangan Al-Mubasyarah Duna Al-Jima’ [Aktifitas Pendahuluan menuju Jima’] dalam Ihram
Di antara larangan ihram yang ke sembilan adalah melakukan mubasyarah duna al-jima’, yaitu bermesraan, menyentuh, atau melakukan kontak fisik dengan istri yang didasari dengan syahwat tanpa melakukan jima’ (hubungan suami istri). Syaikh Shalih Al-Fawzan menjelaskan dalam kitabnya:
فَلَا يَجُوْزُ لِلْمُحْرِمِ مُبَاشَرَةُ الْمَرْأَةِ؛ لِأَنَّهُ وَسِيْلَةٌ إِلَى الْوَطْءِ الْمُحَرَّمِ
“Bagi orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan melakukan mubasyarah kepada istrinya, karena hal itu merupakan sarana atau wasilah menuju jima’ yang diharamkan.”
Mubasyarah dengan syahwat terlarang karena menjadi pintu masuk menuju pelanggaran yang lebih besar. Oleh karena itu, seseorang yang sedang berihram tidak boleh berprinsip bahwa bermesraan diizinkan selama tidak terjadi jima’. Apabila sentuhan tersebut disertai syahwat, maka hal itu wajib dijauhi oleh suami maupun istri.
Dalam penjelasannya di luar kitab ini, Syaikh Shalih Al-Fawzan menegaskan bahwa barangsiapa yang menikmati (al-istimta’) istrinya tanpa jima’ saat ihram, ia telah terjatuh dalam pelanggaran ihram. Perbuatan tersebut tidak membatalkan umrahnya selama tidak terjadi jima’, namun statusnya tetap sebagai bentuk pelanggaran.
Definisi Al-Mubasyarah
Penulis memberikan batasan mengenai definisi mubasyarah:
وَالْمُرَادُ بِالْمُبَاشَرَةِ مُلَامَسَةُ الْمَرْأَةِ بِشَهْوَةٍ
“Yang dimaksud dengan al-mubasyarah yaitu menyentuh wanita dengan disertai syahwat.”
Batasan ini penting untuk dipahami oleh jemaah yang beribadah bersama pasangannya. Tidak semua bentuk sentuhan dikategorikan sebagai mubasyarah al-muharramah. Sentuhan karena kebutuhan atau tanpa niat mencari kenikmatan (al-istimta’) tidak termasuk dalam larangan ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan rincian terkait hal ini:
وَيَدْخُلُ فِي الرَّفَثِ مُقَدِّمَاتُ الْجِمَاعِ كَالتَّقْبِيْلِ وَالْغَمْزِ وَالْمُدَاعَبَةِ بِشَهْوَةٍ، فَلَا يَحِلُّ لِلْمُحْرِمِ أَنْ يُقَبِّلَ زَوْجَتَهُ لِشَهْوَةٍ، أَوْ يَمَسَّهَا لِشَهْوَةٍ، أَوْ يَغْمِزَهَا لِشَهْوَةٍ، أَوْ يُدَاعِبَهَا لِشَهْوَةٍ
“Dan termasuk dalam rafats adalah pendahuluan-pendahuluan jima’ seperti mencium (at-taqbiil), menyentuh yang membangkitkan syahwat (al-ghamaz), dan bermesraan (al-muda’abah) dengan syahwat. Maka bagi orang yang sedang ihram tidak halal untuk mencium istrinya karena syahwat, menyentuhnya karena syahwat, memegangnya karena syahwat, atau bermesraan dengannya karena syahwat.”
Tiga Perkara yang Wajib Dijauhi Orang yang Berihram
Ibadah haji dan umrah tidak hanya menuntut penyelesaian manasik secara lahiriah, melainkan juga penjagaan lisan, perbuatan, muamalah, dan syahwat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 197:
فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Berdasarkan ayat tersebut, Syaikh Shalih Al-Fawzan membagi tiga perkara utama yang harus dihindari:
1. Ar-Rafats (الرَّفَث)
Makna utama ar-rafats adalah al-jima’. Penulis menjelaskan perluasannya:
وَالْمُرَادُ بِالرَّفَثِ الْجِمَاعُ، وَيُطْلَقُ أَيْضًا عَلَى دَوَاعِي الْجِمَاعِ مِنَ الْمُبَاشَرَةِ وَالتَّقْبِيْلِ وَالْغَمْزِ وَالْكَلَامِ الَّذِيْ فِيْهِ ذِكْرُ الْجِمَاعِ
“Yang dimaksud dengan ar-rafats adalah al-jima’. Kata ini juga digunakan untuk menyebut perantara jima’ seperti bermesraan, mencium, menyentuh dengan syahwat, serta perkataan yang di dalamnya menyebutkan tentang jima’.”
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menguatkan makna tersebut:
وَالرَّفَثُ هُوَ الْجِمَاعُ لِلزَّوْجَةِ، وَهٰكَذَا مَا يَدْعُوْ إِلَيْهِ مِنَ الْكَلَامِ
“Ar-rafats adalah jima’ dengan istri, dan begitu pula perkataan yang mengarahkan kepadanya.”
2. Al-Fusuuq (الْفُسُوْق)
Penulis menjelaskan mengenai kemaksiatan saat ihram:
وَالْفُسُوْقُ هُوَ الْمَعَاصِي؛ لِأَنَّ الْمَعَاصِيَ فِيْ حَالِ الْإِحْرَامِ أَشَدُّ وَأَقْبَحُ؛ لِأَنَّهُ فِيْ حَالَةِ التَّدَرُّعِ
“Al-fusuuq adalah maksiat. Melakukan kemaksiatan saat ihram nilainya lebih berat dan lebih buruk karena seseorang berada dalam kondisi tadarru’ (merendahkan diri kepada Allah).”
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menambahkan:
وَالْفُسُوْقُ الْمَعَاصِي كُلُّهَا
“Al-fusuuq adalah seluruh bentuk kemaksiatan.”
Contoh bentuk fusuuq antara lain mencaci, menyakiti orang lain, ghibah, namimah, dan mengambil harta orang lain. Kemaksiatan haram dilakukan kapan pun, namun larangannya menjadi sangat ditekankan saat seseorang berihram.
3. Al-Jidaal (الْجِدَال)
Mengenai perdebatan, penulis memaparkan:
وَالْجِدَالُ هُوَ الْمُمَارَاةُ فِيْ مَا لَا يَعْنِيْ، وَالْخِصَامُ مَعَ الرِّفْقَةِ وَالْمُنَازَعَةُ وَالسِّبَابُ
“Al-jidaal adalah berdebat pada perkara yang tidak bermanfaat, bertengkar dengan teman seperjalanan (ar-rifqah), berselisih, dan saling mencaci.”
Ibadah haji melibatkan perjalanan panjang dan kepadatan yang berpotensi memicu emosi. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah memberikan rincian:
أَمَّا الْجِدَالُ فَهُوَ الْمِرَاءُ فِي الدِّيْنِ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Adapun jidal (yang dilarang) yaitu berdebat dalam agama tanpa kebenaran.”
Pengecualian Perdebatan yang Diperbolehkan
Tidak semua bentuk diskusi atau perdebatan dilarang. Penulis menyebutkan pengecualiannya:
أَمَّا الْجِدَالُ لِبَيَانِ الْحَقِّ وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ فَهُوَ مَأْمُوْرٌ بِهِ
“Adapun perdebatan untuk menjelaskan kebenaran, memerintahkan kemungkaran, dan melarang kemungkaran, maka hal itu justru diperintahkan.”
Hal ini sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat An-Nahl ayat 125:
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menerangkan kedudukan hukum jidal:
فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَنْهَ الْمُحْرِمَ وَلَا غَيْرَهُ عَنِ الْجِدَالِ مُطْلَقًا، بَلِ الْجِدَالُ قَدْ يَكُوْنُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا كَمَا قَالَ تَعَالَى: (وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ)، وَقَدْ يَكُوْنُ الْجِدَالُ مُحَرَّمًا فِي الْحَجِّ وَغَيْرِهِ كَالْجِدَالِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، وَكَالْجِدَالِ فِي الْحَقِّ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ
“Sesungguhnya Allah tidak melarang orang yang ihram maupun selainnya dari perdebatan secara mutlak. Perdebatan kadang hukumnya wajib atau mustahab sebagaimana firman-Nya: ‘Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.’ Dan kadang perdebatan itu diharamkan dalam haji maupun luar haji, seperti berdebat tanpa ilmu atau membantah kebenaran setelah tampak jelas.”
Adab Lisan dan Amalan Sunnah Saat Ihram
Penulis menjelaskan anjuran menjaga lisan bagi orang yang berihram:
وَيُسَنُّ لِلْمُحْرِمِ قِلَّةُ الْكَلَامِ إِلَّا فِيْمَا يَنْفَعُ
“Disunnahkan bagi orang yang ihram untuk sedikit berbicara, kecuali pada perkara yang bermanfaat.”
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah juga menuturkan:
وَيَنْبَغِيْ لِلْمُحْرِمِ أَلَّا يَتَكَلَّمَ إِلَّا بِمَا يَعْنِيْهِ
“Hendaknya orang yang sedang ihram tidak berbicara kecuali pada hal yang berguna baginya.”
Dalil-Dalil Tentang Menjaga Lisan
Untuk menguatkan ajakan menjaga ucapan, penulis mencantumkan dua hadits:
- Hadits PertamaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)
Sejalan dengan hadits ini, seorang penyair mengungkapkan:
اِحْذَرْ لِسَانَكَ أَنْ تَقُوْلَ فَتُبْتَلَى … فَإِنَّ الْبَلاَءَ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ
“Waspadailah lisanmu jangan sampai engkau mengucapkan kata-kata yang membuatmu tertimpa ujian, karena sesungguhnya ujian itu bergantung pada ucapan.”
- Hadits KeduaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)
Amalan yang Dianjurkan Saat Ihram
Sebagai ganti dari pembicaraan yang tidak bermanfaat, penulis mengarahkan jemaah untuk menyibukkan diri dengan amalan berikut:
وَيُسْتَحَبُّ لِلْمُحْرِمِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالتَّلْبِيَةِ وَذِكْرِ اللهِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَحِفْظِ وَقْتِهِ عَمَّا يُفْسِدُهُ وَيُخْلِصَ النِّيَّةَ لِلّهِ وَيَرْغَبَ فِيْمَا عِنْدَ اللهِ؛ لِأَنَّهُ فِي حَالَةِ إِحْرَامٍ وَاسْتِقْبَالِ عِبَادَةٍ عَظِيْمَةٍ وَقَادِمٍ عَلَى مَشَاعِرَ مُقَدَّسَةٍ وَمَوَاقِفَ مُبَارَكَةٍ
“Disunnahkan bagi orang yang sedang ihram untuk menyibukkan diri dengan bertalbiyah, berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, bernahi munkar, memelihara waktunya dari hal yang merusak ihramnya, mengikhlaskan niat karena Allah, serta mengharapkan pahala di sisi-Nya. Sebab ia sedang berada dalam kondisi ihram, menyambut ibadah yang agung, serta mendatangi tempat-tempat yang suci dan penuh keberkahan.”
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menguatkan hal ini:
وَالْوَاجِبُ عَلَى الْحَاجِّ وَالْمُعْتَمِرِ تَجَنُّبُ ذٰلِكَ طَاعَةً لِلّهِ وَرَغْبَةً فِي إِكْمَالِ حَجِّهِ وَعُمْرَتِهِ
“Kewajiban bagi jemaah haji dan umrah adalah menjauhi hal-hal tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan harapan untuk menyempurnakan ibadah haji serta umrahnya.”
*****
Rangkaian Manasik Umrah Bagi Pelaku Haji Tamattu’
Jemaah yang memilih jenis haji tamattu’ diwajibkan menyelesaikan ibadah umrah terlebih dahulu sebelum bertahallul dan menunggu datangnya hari Tarwiyah (8 Zulhijah) untuk kembali berihram haji. Adapun jemaah yang melakukan haji qiran atau ifrad tetap berada dalam kondisi ihram hingga waktu tahallul hajinya tiba.
Syaikh Shalih Al-Fawzan menjelaskan tahapannya:
فَإِذَا وَصَلَ إِلَى مَكَّةَ فَإِنْ كَانَ مُحْرِمًا بِالتَّمَتُّعِ فَإِنَّهُ يُؤَدِّي مَنَاسِكَ الْعُمْرَةِ
“Apabila ia telah sampai di Makkah dan berihram dengan haji tamattu’, maka ia melaksanakan rangkaian manasik umrah.”
Berikut urutan amalan umrah tamattu’ yang dijelaskan oleh penulis:
1. Thowaf Tujuh Putaran
Amalan pertama yang dilakukan setibanya di Makkah adalah thowaf mengelilingi Ka’bah:
فَيَطُوْفُ بِالْبَيْتِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ
“Maka ia melakukan thowaf di Baitullah sebanyak tujuh kali putaran.”
Setiap putaran dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad pula. Dalil mengenai thowaf dan sa’i ini terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
فَطُفْنَا بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ
“Maka kami melakukan thowaf di Baitullah serta berjalan antara Safa dan Marwah.” (HR. Bukhari no. 1561)
2. Salat Dua Rakaat Setelah Thowaf
Setelah menyempurnakan tujuh putaran thowaf, jemaah disyariatkan mendirikan salat dua rakaat:
وَيُصَلِّيْ بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ وَالْأَفْضَلُ أَدَاؤُهُمَا عِنْدَ مَقَامِ إِبْرَاهِيْمَ إِنْ أَمْكَنَ، وَإِلَّا أَدَّاهُمَا فِي أَيِّ مَكَانٍ مِنَ الْمَسْجِدِ
“Kemudian ia salat dua rakaat setelahnya. Yang paling afdal diringkas di dekat Maqam Ibrahim jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, ia boleh melaksanakannya di bagian mana saja dari Masjidil Haram.”
Ketentuan ini tidak menuntut jemaah untuk memaksakan diri di belakang Maqam Ibrahim apabila kondisi padat. Salat dua rakaat sah dilakukan di area mana pun di dalam Masjidil Haram.
3. Sa’i Antara Safa dan Marwah
Penulis melanjutkan penjelasan manasik berikutnya:
ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّفَا لِأَدَاءِ السَّعْيِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَرْوَةِ، فَيَسْعَى بَيْنَهُمَا سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ، يَبْدَأُهُمَا بِالصَّفَا وَيَخْتِمُهَا بِالْمَرْوَةِ، ذَهَابُهَا سَعْيَةٌ وَرُجُوْعُهَا سَعْيَةٌ
“Kemudian ia keluar menuju Safa untuk melaksanakan sa’i antara Safa dan Marwah. Ia melakukanya sebanyak tujuh kali lintasan, dimulai dari Safa dan diakhiri di Marwah. Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu kali, dan kembalinya dari Marwah ke Safa dihitung satu kali.”
Penulis memberi penegasan (dhahabuha sa’yatun wa ruju’uha sa’yah) agar jemaah tidak keliru menganggap bolak-balik Safa-Marwah-Safa sebagai satu lintasan. Perhitungan sa’i berakhir pada lintasan ke-7 di Marwah.
Selama thowaf dan sa’i, jemaah dianjurkan mengisi waktunya dengan berdzikir dan berdoa:
وَيَشْتَغِلُ أَثْنَاءَ الْأَشْوَاطِ فِي الطَّوَافِ وَالسَّعْيِ بِالدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ إِلَى اللهِ
“Dan ia menyibukkan diri di sela-sela lintasan thowaf dan sa’i dengan berdoa serta tadarru’ (merendahkan diri) kepada Allah.”
Doa yang dilantunkan hendaknya menggunakan doa-doa yang ma’tsur dan disyariatkan, bukan lafaz-lafaz yang dibuat-buat.
4. Tahallul (Memotong Rambut)
Tahapan akhir rangkaian umrah bagi pelaku haji tamattu’ adalah memotong rambut:
فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الشَّوْطِ السَّابِعِ، قَصَّرَ الرَّجُلُ فِيْ جَمِيْعِ شَعْرِ رَأْسِهِ، وَتَقُصُّ الْأُنْثَى مِنْ رُؤُوْسِ شَعْرِ رَأْسِهَا قَدْرَ أَنْمُلَةٍ
“Apabila telah selesai dari lintasan ketujuh, maka jemaah laki-laki memotong/memendekkan (taqsir) seluruh bagian rambut kepalanya, sedangkan jemaah wanita memotong ujung rambutnya seukuran satu ruas jari (anmulah).”
Selesainya Umrah dan Bebas dari Larangan Ihram
Setelah prosesi pemotongan rambut rampung, manasik umrah dianggap selesai:
وَبِذٰلِكَ تَتِمُّ مَنَاسِكُ الْعُمْرَةِ فَيَحِلُّ مِنْ إِحْرَامِهِ
“Dengan demikian selesailah rangkaian manasik umrahnya, lalu ia bertahallul dari ihramnya.”
Dengan bertahallul, seluruh larangan ihram kembali menjadi halal baginya—seperti menyentuh istri dengan syahwat, memakai wewangian, mengenakan pakaian berjahit (bagi laki-laki), serta memotong kuku dan rambut.
Kondisi halal ini berlangsung hingga tiba saatnya berihram kembali untuk haji:
وَيَبْقَى حَلَالًا إِلَى يَوْمِ التَّرْوِيَةِ، ثُمَّ يُحْرِمُ بِالْحَجِّ عَلَى مَا يَأْتِيْ تَفْصِيْلُهُ إِنْ شَاءَ اللهُ
“Dan ia tetap berada dalam kondisi halal hingga hari Tarwiyah (8 Zulhijah), kemudian ia berihram kembali untuk melaksanakan ibadah haji sebagaimana rinciannya akan datang, insya Allah.”
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
