بسم الله الرحمن الرحيم

Bersama: Al Ustadz Isnan Efendi Lc., M.A Hafidzahullah
Materi : Kitab Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah) – Mukadimah
Hari : Jum’at, 29 Syawal 1447 / 17 April 2026
Waktu: Ba’da Ashar – Maghrib’
Tempat: Izghowa – Qatar



Bab-1: Hakikat dan Kedudukan Tauhid

Pembagian Tauhid

Pembagian tauhid merupakan salah satu ijtihad dari para ulama untuk menjelaskan betapa pentingnya aspek-aspek pada ajaran tauhid dalam agama Islam.

Pembagian-pembagian yang disampaikan oleh para ulama adalah hasil telaah (istiqra‘) dari berbagai dalil-dalil dalam syariat. Pembagian ini berguna juga untuk memperingatkan umat Islam terkait aspek-aspek yang dapat merusak nilai keimanan seorang muslim terhadap Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, pembagian tauhid dalam ajaran agama Islam bukanlah sesuatu yang baru alias bid’ah, melainkan hanyalah sebagai sarana untuk memudahkan umat dalam memahami agama sebagaimana para ulama fikih merumuskan berbagai tatanan aspek-aspek yang menjadi rukun dalam suatu ibadah. Itu merupakan hasil ijtihad sebagai cara/metode yang bertujuan memudahkan umat untuk belajar terkait hukum-hukum dalam sebuah ibadah.

Imam Asyafii Rahimahullah dalam kitabnya Ar-Risalah juga membaginya untuk menjelaskan pentingnya Tauhid.

Para ulama ada yang membagi Tauhid menjadi dua:

1. Tauhid ‘ilmi: Ilmu dalam segala hal yang berhubungan dengan Tauhid dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalilnya adalah surat Al-Ikhlas.
2. Tauhid amali: Mengamalkan apa yang telah dipelajari berkaitan dengan Tauhid. Dalilnya adalah surat Al-Kafirun.

Pembagian lainnya:
1. Tauhid Al-Qasdu: Maksud Dan tujuan
2. Al-Iradah: Keinginan.

Tetapi tidak ada masalah dalam istilah, selagi maksudnya sama.

Pembagian Tauhid menjadi tiga:

1. Tauhid Rububiyyah:

Mengesakan Allah ﷻ dalam hal penciptaan, Al-Mulk, pengurusan semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka.

Ringkasnya: Mengesakan Allah ﷻ dalam hal perbuatan Allah ﷻ. Jika hanya mengimani Allah ﷻ dalam hal rubûbiyahnya belum cukup memasukkan ke dalam Islam.

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Tauhid Rububiyyah berkonsekuensi mengharuskan Tauhid ulûhiyyah.
Tauhid Uluhiyyah mengandung Tauhid Rububiyyah.

2. Tauhid Ulûhiyyah

Mengesakan Allah ﷻ dari sisi perbuatan hamba. Yaitu tujuan utama diciptakan jin dan manusia: beribadah kepada Allah ﷻ baik dzahir maupun bathin. Inilah konsekuensi dari syahadatain.

Dalilnya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)

Maka, tauhid ulûhiyyah disebut juga sebagai Tauhid Ibadah dilihat dari dua sisi:

  1. Sisi Penyandaran kepada Allah (Al-Uluhiyyah/Al-Ilah): Tauhid ini disebut Uluhiyyah karena berfokus pada pengesaan Allah sebagai satu-satunya Ilah (sesembahan) yang hak dan berhak disembah. Allah-lah yang memiliki hak mutlak untuk menerima segala jenis ibadah.
  2. Sisi Penyandaran kepada Hamba (Al-‘Ibadah): Tauhid ini disebut Ibadah karena merupakan perbuatan atau tindakan nyata yang dilakukan oleh hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), yaitu dengan memurnikan niat beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Secara ringkas, tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam segala jenis peribadatan (shalat, doa, harap, takut, sembelihan) yang ditujukan oleh hamba hanya untuk-Nya.

Definisi Ibadah

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai beberapa definisi:

Suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.” (lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’ [1/9].

Di dalam kitabnya al-’Ubudiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.

3. Tauhid Asma wa Shifat

Yaitu mengesakan Allah ﷻ dari sisi nama dan sifat Allah ﷻ, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم