بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Senin – Kitab Shahih Fiqh Sunnah
Karya: Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid SalimHafidzahullah
Download Kitab : Versi Arabic di Sini – Halaman 107-110
Bersama: Ustadz Abu Hazim Samsuril Wa’di, SH, M.Pd, Ph.D Hafidzahullah
Pertemuan 38: Al-khor, 05 Oktober 2026 M / 24 Rabi’ul Akhir 1448 H
Masjid: At-Tauhid Al-Khor Community – Qatar
Wudhu
Definisi Wudhu’ dan Dasar Disyariatkannya
- Secara Bahasa (etimologi): wudhu berasal dari kata dasar al-wadha’ah (الوضاءة) yang berarti kebersihan dan kecerahan.
- Kata الوُضوء (wudhu) dengan huruf dammah (u) merujuk pada tindakan berwudu.
- Sedangkan dengan huruf fathah (a) wadhu’ merujuk pada air yang digunakan untuk berwudu, dan dapat juga berupa kata benda verbal (masdar), atau kedua bentuk tersebut. (Al-Qamus (33/1), Mukhtar Al-Sahah (575), dan Al-Majmu’ (355/1)).
- Secara Istilah (terminology): wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau ibadah yang lain.
Disyariatkannya wudhu ditetaspkan dalam Al-Qur’an, Sunnah dan Ijmak para ulama.
1. Dalil dari Al-Quran, Allah ﷻ berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ ۗ
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. (QS. Al-Ma’idah: 6).
Orang-orang syiah tidak membasuh kaki, hanya mengusap kaki.
2. Dalil-dalil dari Sunnah:
Hadits#1 dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
لَا تُقبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.
Tidaklah Allah menerima shalat seseorang apabila ia berhadats hingga dia berwudhu’ [HR. Bukhari (135), Muslim (225), dan lainnya.]
Hadits#2 dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
لا يقبلُ اللَّهُ صلاةً بغيرِ طُهورٍ ولا صدقةً مِن غُلولٍ
Allah tidak menerima shalat tanpa berwudhu, dan sedekah dari hasil haram (Ghulul – harta curang) tidak pula diterima. [HR. Muslim (224).
Hadits#3 dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
إنَّمَا أُمِرْتُ بالوضوءِ إذا قمْتُ إلى الصلاةِ
Aku hanya diperintahkan untuk berwudhu ketika aku hendak berdiri untuk shalat. [Shahih. HR. Tirmidhi (1848), Abu Dawud (3760), dan al-Nasa’i (73/1). Lihat juga Sahih al-Jami’ (2333)].
Hadits#4 dari Abi Sa’id Radhiyallahu’anhu:
مِفتاحُ الصَّلاةِ الطُّهورُ وتحريمُها التَّكبيرُ وتَحليلُها التَّسليمُ
Kunci shalat adalah berwudhu, pembukaannya adalah takbir (mengucapkan Allahu Akbar), dan penutupnya adalah taslim (mengucapkan Assalamu alaykum). [Hassan. HR. Tirmidhi (3), Abu Dawud (60), dan Ibn Majah (275). Disahkan oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami’ (5761)].
3. Ijmak para ulama:
Mereka sepakat bahwa shalat tidak sah kecuali dengan berwudhu jika sarana untuk itu tersedia. (Al-Awsat oleh Ibn al-Mundhir (107/1))
Keutamaan wudhu
-
Dianggap setengah dari iman:
Sebagaimana dalam hadits Abu Malik al-Ash’ari (semoga Allah meridainya) yang berkata:
Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:
الطَّهور شطر الإيمان ….
“Kesucian adalah setengah dari iman…” (HR. Muslim No. 223 dan selainnya).
-
Menghapus dosa-dosa kecil.
Berdasarkan hadits:
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
«إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ. فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَتْ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ. فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang pernah dipandang oleh kedua matanya, bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang pernah dilakukan oleh tangannya, bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah setiap dosa yang pernah dilangkahi oleh kedua kakinya, bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir, hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” [HR. Muslim, no. 232]
- Dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ: «مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً
Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini. Setelah itu beliau bersabda, ‘Barang siapa berwudhu seperti ini, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Shalatnya dan langkah kakinya menuju masjid menjadi amalan tambahan (pahala sunnah). (HR. Muslim, no. 229)
Keutamaan dan pahala ini ditegaskan bagi siapa pun yang mengerjakan shalat wajib atau sunnah setelah wudhu ini:
- Dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:
مِنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ وَضُوئي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barang siapa berwudhu seperti wudhu saya ini, kemudian berdiri dan shalat dua rakaat tanpa membiarkan pikirannya melayang selama shalat, maka dosa-dosanya di masa lalu akan diampuni. [HR. Bukhari (6433), Muslim (226) dan lainnya].
-
Wudhu Mengangkat Derajat Seorang Hamba.
Berdasarkan hadits berikut:
وعن أَبي هريرةَ أَنَّ رسولَ اللَّهِ ﷺ قالَ: أَلا أَدُلُّكُمْ عَلى مَا يمْحُو اللَّهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا: بَلى يَا رسولَ اللَّهِ. قَالَ: إِسْباغُ الْوُضُوءِ عَلى المَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الخطى إِلى المَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بعْد الصَّلاةِ فَذلِكُمُ الرِّباطُ فَذلكُمُ الرِّباطُ رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang Allah gunakan untuk menghapus dosa dan meningkatkan derajat?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Berwudhu dengan sempurna meskipun dalam kesulitan, menempuh banyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah menyelesaikan satu shalat. Itulah ibadah yang benar, itulah ibadah yang benar, itulah ibadah yang benar.” [HR. Muslim (251) dan lainnya].
-
Jalan menuju surga.
Berdasarkan hadits berikut:
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الفَجْرِ: « يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ. [صحيح] – [متفق عليه] – [صحيح البخاري – 1149]
Bahwasanya Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal ketika salat Subuh, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan pahalanya yang engkau kerjakan dalam Islam. Sungguhnya aku mendengar suara langkah sandalmu di hadapanku dalam surga.” Bilal berkata, “Tidaklah ada amalan yang aku kerjakan yang lebih aku harapkan kecuali setiap aku berwudu di suatu waktu, entah ketika malam ataupun siang, melainkan dengan wudu tersebut aku mengerjakan shalat sejumlah yang Allah kehendaki bagiku untuk mengerjakannya.” [Bukhari (1149) dan Muslim (2458)].
- Dari Uqbah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
مَن توضَّأَ فأحسنَ الوضوءَ ثمَّ صلَّى رَكعتينِ يُقبلُ عليْهِما بقلبِهِ ووجْهِهِ وجبَت لَهُ الجنَّةُ
Barang siapa berwudhu dengan benar, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat dengan memusatkan hati dan wajahnya pada shalat tersebut, maka surga dijamin untuknya. [HR. Muslim (234), An-Nasa’i (1/80), dan lainnya].
-
Tanda Umat ini Tatkala Menuju ke Telaga Haudh.
Berdasarkan hadits berikut:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke pemakaman dan berkata:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ إِلَى الْمَقْبُرَةِ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا إِخْوَانَكَ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانِي الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ يَأْتِي بَعْدَكَ مِنْ أُمَّتِكَ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ فِي خَيْلٍ بُهْمٍ دُهْمٍ أَلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ ثُمَّ قَالَ أَلاَ لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ فَأُنَادِيهِمْ أَلاَ هَلُمُّوا فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ وَلَمْ يَزَالُوا أَعْقَابِهِمْ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا
“Salam sejahtera atasmu, wahai tempat tinggal orang-orang beriman. Insya Allah, kami akan segera bergabung denganmu. Seandainya aku dapat melihat saudara-saudara kami.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kalian adalah para Sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum datang. Dan aku akan sampai di Haud (Danau) sebelum mereka.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau akan mengetahui orang-orang dari umatmu yang datang sesudahmu?”
Dia berkata: “Tidakkah menurut kalian jika seseorang memiliki kuda dengan bercak putih di dahi dan kaki putih di antara kuda-kuda yang seluruhnya hitam, dia akan mengenali kudanya?” Mereka menjawab: “Tentu saja.”
Dia berkata: “Mereka akan datang pada Hari Kiamat dengan wajah putih berkilauan dan tangan serta kaki putih berkilauan karena wudhu, dan aku akan sampai di Haud sebelum mereka.”
Kemudian beliau berkata: “Orang-orang akan diusir dari Haud-ku seperti unta-unta yang tersesat diusir. Dan aku akan memanggil mereka: ‘Kemarilah!’ Tetapi akan dikatakan: ‘Mereka berubah setelah engkau pergi, dan mereka terus berpaling dari Islam.’ Maka aku akan berkata: “Pergilah kalian!” (Muslim, no. 249; An-Nasā’ī 150; Ibn Mājah dan lainnya).
- Tanda putih di dahi kuda mengacu pada cahaya yang bersinar di wajah umat Muhammad ﷺ.
- Tanda putih pada tiga kaki kuda juga mengacu pada cahaya. (Tafsir An-Nawawi atas Muslim (100/3))
- (Dan) itu adalah cahaya bagi hamba pada Hari Kiamat:
Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridainya, yang berkata: Aku mendengar sahabatku tercinta, semoga Allah meridainya, berkata:
تَبْلُغُ حِلْيَةُ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ
“Perhiasan orang-orang beriman akan mencapai batasan wudhu.” (HR. Muslim (250) dan An-Nasa’i (1/80).) Perhiasan itu adalah: cahaya pada Hari Kiamat.
-
Cara Melepaskan Ikatan Setan.
Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah, semoga Allah meridainya, bersabda:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ
“Setan membuat tiga ikatan di ujung belakang kepala salah seorang kalian ketika tidur. Setiap ikatan ia tepuk (dengan mengatakan), ‘Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah!’ Jika orang tersebut bangun lalu berzikir kepada Allah Ta’ala, terlepaslah satu ikatan. Lalu jika dia berwudu, terlepaslah satu ikatan yang lain. Kemudian jika dia mengerjakan salat, terlepaslah seluruh ikatan itu. Sebab itu, dia memasuki waktu pagi dengan semangat dan jiwa yang baik. Tetapi jika tidak demikian, pasti dia memasuki waktu pagi dengan jiwa yang jelek dan malas”. (HR. Bukhari (1142) dan Muslim (776)).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
