Kitab Zaadul Ma’ad #7

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

| Kajian Kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad | Karya: Syaikhul Islam Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah
| Bersama Ustadz Nefri Abu Abdillah, Lc. M.A 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
| Grand Mosque Al-Khor Community Qatar
| Al-Khor, 24 Rajab 1447 / 14 Januari 2026


https://ia600902.us.archive.org/6/items/kumpulan-kajian-assunnah-qatar/Zaadul%20Maad%20%237%20-%2014%20Januari%202026%20-%20Ustadz%20Nefri.mp3?_=1

Zaadul Ma’ad #7 : Isteri-isteri Nabi

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Mereka adalah shahabiyyah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau, ummahaatul mukminin.

Dibalik kehebatan para ulama, telah makruf mereka lah para ibu yang telah mendidik dan menjaga mereka sejak kecil. Termasuk para Ummahatul Mukminin yang dengan keteladanan mereka memiliki peran besar dalam perjuangan Nabi ﷺ.

Kemudian, jika membicarakan Isteri-isteri Nabi maka kita membicarakan Ahlul bait, yang memiliki hak yang lebih baik daripada kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ ‌تَطۡهِيرٗا

“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Qs. Al-Ahzab: 33).

Meskipun, ulama berbeda pendapat dalam menetapkan siapa ahlul bait. Sebagian menetapkan Keturunan langsung Nabi ﷺ melalui Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, yaitu Hasan dan Husain serta keturunan mereka. Dan sebagian menetapkan juga Isteri-isteri Nabi ﷺ. Inilah yang lebih kuat. Dan sebagian memperluas seperti sahabat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhum.

1. Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha

Ayahnya: Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza. Digelari Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah dari suku Quraisy.

Beliau menikah dengannya sebelum diangkat menjadi nabi. Ketika itu, Khadijah berusia 40 tahun. Ada yang berpendapat beda umur keduanya 3 tahun, lebih tua Khadijah. Wallohu’alam.

Nabi tidak menikah dengan wanita lain hingga Khadijah meninggal dunia. Ulama ada yang berpendapat, latar belakangnya adalah untuk menghormati beliau Radhiyallahu’anha. Hingga Aisyah pun cemburu kepada beliau. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan,

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ – قَالَتْ – فَغِرْتُ يَوْماً فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْراً مِنْهَا. قَالَ « مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ »

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR. Ahmad, 6:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih.)

Tatkala Nabi ﷺ pertama kali menerima wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril dengan bentuknya yang sangat dahsyat, Nabi pun ketakutan dan segera turun dari gua Hira menuju rumah Khadijah, lantas ia berkata, لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِي “Aku mengkhawatirkan diriku”, maka Khadijah menenteramkan hati suaminya seraya berkata dengan perkataan yang indah yang terabadikan di buku-buku hadits,

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, bergembiralah. Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah.” (HR Al-Bukhari no 3 dan Muslim no 160)

Anak-anak beliau (Tujuh anak) semuanya berasal dari Khadijah kecuali lbrahim. Khadijahlah yang menopang beliau mengemban misi kenabian, berjihad bersamanya, dan berkorban untuk beliau dengan harta dan dirinya. Allah mengirim salam untuk Khadijah melalui perantara malaikat Jibril. Kekhususan ini tidak pernah diberikan kepada wanita manapun selain Khadijah.

Beliau wafat tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah.

2. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha.

Beberapa hari sepeninggal Khadijah, beliau menikahi Saudah binti Zam’ah Al-Qurasyiyah, dialah yang menghibahkan gilirannya untuk Aisyah.

Sebelumnya, Saudah menikah dengan sepupunya, Sakran bin Amr. Beliau masuk islam bersama suaminya dan ikut hijrah ke habasyah. Sepeninggal Sakran, Saudah menjadi janda tanpa keluarga yang melindunginya. Sampai akhirnya dinikahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di usia yang sudah cukup tua.

3. A’isyah bintu Abi Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma

Setelah menikahi Saudah, beliau menikahi Ummu Abdillah Aisyah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq. Wanita yang dibersihkan namanya dari atas langit yang tujuh. Kekasih Rasulullah ﷺ Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shiddiq. Sebelum pernikahan berlangsung, para malaikat
telah memperlihatkan Aisyah kepada Rasulullah (dalam mimpinya) berada dalam kain sutra. Malaikat tersebut berkata, “lnilah isterimu.”

Haditsul Ifki

Kisah fitnah terhadap Aisyah (Haditsul Ifki) terjadi saat kembali dari Perang Bani Mustaliq, ketika ia tertinggal karena mencari kalung dan ditemukan oleh Shafwan bin Mu’attal; kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay menyebarkan tuduhan selingkuh yang menyakitkan, namun kebenaran terungkap melalui wahyu dari Allah ta’aala yang menurunkan Surah An-Nur ayat 11-20, membersihkan nama Aisyah dan menghukum para penyebar fitnah, seperti Mistah, Hasan bin Tsabit, dan Hamnah.

Kronologi Peristiwa:

  • Kehilangan Kalung: Saat pulang dari perang, Aisyah keluar dari tandu untuk buang hajat, kalungnya jatuh dan ia kembali mencari hingga tertidur. Rombongan berangkat tanpa menyadari ketidakhadirannya karena tandu terasa ringan.
  • Ditemukan Shafwan: Shafwan bin Mu’attal, sahabat yang tertinggal, menemukan Aisyah sendirian. Ia menundukkan untanya agar Aisyah bisa menunggangi dan mereka menyusul rombongan.
  • Penyebaran Fitnah: Abdullah bin Ubay memanfaatkan momen ini untuk menyebar kebohongan, dan fitnah ini diikuti oleh beberapa orang seperti Mistah bin Atsatsah, Hasan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahys.
  • Kesedihan Aisyah: Aisyah sakit selama sebulan dan merasa sangat terpukul oleh tuduhan tersebut, bahkan ia meminta izin pulang ke rumah orang tuanya.
  • Wahyu Turun: Rasulullah menunggu wahyu, dan akhirnya Allah menurunkan ayat-ayat dalam Surah An-Nur (ayat 11-20) yang membebaskan Aisyah dari tuduhan, menjelaskan bahwa itu adalah berita bohong dan memerintahkan kaum mukmin untuk berbaik sangka.

Nabi menikah dengannya pada bulan Syawwal dan usianya 6 tahun. Dan berkumpul dengannya pada bulan Syawwal tahun pertama hijrah dan usianya 9 tahun. Beliau tidak pernah menikahi gadis selain Aisyah dan tak pernah turun pada beliau wahyu ketika berada dalam selimut bersama wanita selain bersama Aisyah.

Latar belakang Nabi Muhammad menikahi Aisyah di bulan Syawal antara lain untuk menepis keyakinan takhayul masyarakat jahiliyah bahwa Syawal bulan sial, sekaligus menjadikannya sunah yang menganjurkan menikah di Syawal.

Aisyah adalah manusia paling dicintai. Legitimasi atas perbuatannya diturunkan langsung dari langit. OIeh karena itu, umat ini sepakat mengkafirkan mereka yang menuduh Aisyah berzina. Beliau adalah isteri Nabi yang paling paham tentang agama dan paling tinggi ilmunya. Bahkan, wanita paling paham pada umat ini dan paling tinggi ilmunya secara mutlak. Para pembesar sahabat pun biasa merujuk kepada perkataannya dan minta fatwa darinya.

Sebagian sumber mengatakan beliau pernah hamil namun keguguran. Akan tetapi berita ini tidak memiliki sumber akurat.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan sekitar 2.210 hadits, menjadikannya salah satu sahabat Nabi Muhammad yang banyak meriwayatkan hadits (Al-mukatsirin).

Sifat Malu Ibunda Aisyah Radhiallahu’anha

Seorang wanita yang bertakwa pasti akan memiliki rasa malu kepada semua laki-laki termasuk suaminya sendiri. Aisyah memiliki rasa malu yang sangat besar kerana dia tidak hanya malu kepada yang hidup, tetapi juga kepada yang sudah wafat.

Ummul Mukminin Aisyah meriwayatkan, dia berkata,”Suatu hari aku masuk rumah tempat Rasulullah dan ayahku, Abu Bakar, dimakamkan. Di sana aku menanggalkan bajuku, seraya berkata, ‘Sesungguhnya mereka berdua ini adalah ayah dan suamiku.’ Namun, tatkala Umar dimakamkan di sana, aku tidak pernah masuk ke tempat itu lagi, kecuali aku menutup auratku dengan sempurna kerana malu kepada Umar.” (HR. Ahmad ; hadis Shahih)

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم