بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Ummahat Doha – Senin Pagi
Tanggal: 4 Jumadil Akhir 1447 / 25 November 2025
Bersama: Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc, M.A Hafidzahullah
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 209-210
Telah berlalu pembahasan mengenai tafsir surat Al-Baqarah ayat 208.
Allâh ﷻ berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Kemudian Allah ﷻ berfirman dalam ayat 209:
فَإِن زَلَلْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْكُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ فَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Jika kalian melakukan kesalahan dan penyimpangan setelah datang kepada kalian dalil-dalil yang sangat jelas dan tidak ada kemuskilan sama sekali, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa di dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya, lagi Maha Bijaksana di dalam pengaturan dan penetapan syariat agama-Nya. Maka takutlah kamu kepada-Nya dan taatilah Dia!
Ini adalah pernyataan Allah ﷻ bagi orang-orang yang menyimpang, dan Allah ﷻ Maha Perkasa dalam hal membalas perbuatan hamba-Nya. Bijaksana dalam hukumNya yaitu sifat Adil.
Maka, selama hayat masih dikandung badan, Kembalilah Kepada Allah ﷻ, karena betapa Rahman dan RahimNya Allah ﷻ terhadap hamba-hambaNya yang telah banyak mendzalimi dirinya masing-masing.
Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di:
209. “Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran” atas dasar ilmu dan keyakinan, “maka ketahuilah, Bahwasanya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” Ayat ini menunjukkan ancaman keras dan kengerian yang membawa kepada sikap meninggalkan kesalahan tersebut, karena sesungguhnya yang maha perkasa kedudukanNya lagi maha bijaksana apabila seorang pelaku kemaksiatan berbuat maksiat kepadaNya, pastilah Dia akan memaksanya dengan kekuatanNya dan menyiksanya sesuai dengan konsekuensi kebijaksanaanNya, dan termasuk dari kebijaksanaanNya adalah menyiksa orang-orang yang dan orang-orang yang berbuat jahat.
*****
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 210:
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن يَأْتِيَهُمُ ٱللَّهُ فِى ظُلَلٍ مِّنَ ٱلْغَمَامِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ ۚ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلْأُمُورُ
Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.
Penjelasan:
Allah mengancam orang-orang kafir: tidaklah orang-orang kafir itu menunggu setelah datang kepada mereka hujjah yang jelas melainkan menunggu datangnya Allah kepada mereka dalam kehendak-Nya dalam naungan awan, dan datangnya para malaikat yang diperintahkan untuk melaksanakan perintah Allah terhadap mereka. Dan kepada Allah kembali segala urusan hamba-Nya.
Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di:
210. Dalam ayat ini terdapat ancaman yang keras dan peringatan yang membuat hati gentar. Allah ﷻ berfirman, tiada yang dinanti-nantikan oleh orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, dan orang-orang yang mengikuti langkah-langkah setan kecuali orang-orang yang mencampakkan perintah-perintah Allah, kecuali Hari pembalasan segala perbuatan, dimana pada hari itu disisipkan segala hal yang menakutkan, menegangkan, mengerikan, dan mengguncangkan hati orang-orang zalim, balasan kejelekan atas orang-orang yang merusak.
Hal itu karena akan melipat langit dan bumi, bintang-bintang jatuh berserakan, matahari dan bulan tergulung. Para malaikat yang melihat turun dan melingkupi seluruh makhluk, dan pencipta yang mulia lagi Maha Tinggi turun “dalam naungan awan” untuk melerai di antara hamba-hambaNya dengan keputusan yang adil.
Lalu diletakkanlah timbangan, di bukalah buku buku catatan, lalu memutih wajah-wajah penghuni surga, dan menghitam wajah-wajah penghuni neraka, dan terjadilah perbedaan yang sangat jelas antara orang-orang yang baik dari orang-orang yang jelek. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan perbuatannya, orang dholim akan menggigit jarinya apabila ia mengetahui kondisinya saat itu.
Ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya adalah dalil bagaimana ahlussunnah Waljamaah yang menetapkan adanya sifat-sifat ikhtiyariyah (yang tergantung kepada kehendak Allah) seperti Al-Istiwa (bersemayam), An-Nuzul (turun), al-maji’ (datang) dan yang semacamnya dari sifat-sifat yang telah Allah kabarkan tentang diriNya atau telah dikabarkan oleh rasulNya tentangNya. Mereka menetapkan semua itu sesuai dengan yang patut bagi keagungan Allah dan kebesaranNya tanpa ada penyerupaan dan tidak pula penyimpangan, berbeda dengan kelompok Mu’aththilah dengan berbagai macam cabangnya seperti jahmiyah, Al-Mu’tazilah, Al-Asy’ariyah, dan semisalnya mereka dari kalangan orang-orang yang diadakan sifat-sifat tersebut, dan mentakwilkan ayat-ayat tersebut demi tujuan peniadaan dengan takwil takwil yang tidak ada keterangannya dari Allah, bahkan hakikat takwil itu hanyalah demi mencela penjelasan Allah dan penjelasan rasulNya, dan menganggap bahwa perkataan mereka itu membawa kepada Hidayah dalam masalah ini, akan tetapi mereka itu tidaklah memiliki dalil naqli sedikitpun bahkan tidak pula dalil aqli.
Mengenai dalil naqli, mereka telah mengakui bahwa nash-nash yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik konteks lahirnya atau bahkan kandungan tegasnya, menunjukkan kebenaran apa yang diyakini oleh mazhab ahlussunnah Waljamaah, dan bahwasanya nash-nash itu demi mewujudkan pada mazhab mereka yang batil yang harus dipalingkan dari makna lahirnya, baik ditambah padanya atau dikurangi, hal ini sebagaimana yang anda lihat, tidaklah diridhoi oleh seseorang yang masih memiliki Iman seberat biji sawi sekalipun.
Dan mengenai dalil akal, maka tidak ada sesuatupun dalam logika yang menunjukkan peniadaan sifat-sifat tersebut, bahkan akan menunjukkan bahwa pelaku perbuatan adalah lebih sempurna daripada yang tidak mampu melakukan, dan bahwa perbuatan Allah yang berkaitan dengan diriNya dan yang berkaitan dengan penciptaanNya adalah sebuah kesempurnaan, maka apabila mereka mengira bahwa menetapkan sifat-sifat itu akan menjurus kepada penyerupaan kepada makhluk makhlukNya, maka harus dikatakan kepada mereka bahwa perkataan tentang sifat mengikuti perkataan tentang dzat, sebagaimana Allah memiliki dzat yang tidak serupa dengan segala macam dzat-dzat yang lain, maka Allah juga memiliki sifat yang tidak serupa dengan sifat-sifat yang lain. Oleh karena itu sifatNya mengikuti dzatNya dan sifat-sifat makhluk Nya mengikuti dzat-dzat mereka, sehingga tidaklah ada dalam penetapan sifat-sifat itu suatu tindakan penyerupaan denganNya.
Hal ini juga dikatakan kepada mereka yang menetapkan hanya sebagian sifat saja dan meniadakan sebagian lainnya, atau mereka yang menetapkan nama-namaNya tanpa sifat-sifatNya; karena pilihannya adalah antara menetapkan semua yang telah Allah tetapkan untuk diriNya, dan ditetapkan oleh rasulNya, atau meniadakan keseluruhannya yang merupakan pengingkaran terhadap Rabb alam semesta.
Adapun penetapan mu terhadap sebagiannya dan penilaianmu terhadap sebagian lain adalah tindakan yang saling bertolak belakang. Coba bedakan antara apa yang kau tetapkan dan apa yang kau tiadakan, niscaya engkau tidak akan mendapatkan perbedaan dalam hal itu, lalu apabila engkau berkata, “apa yang telah saya tetapkan itu tidaklah menyebabkan penyerupaan,” Ahlussunnah berkata kepadamu bahwa penetapan terhadap apa yang engkau tiada kan itu tidak menyebabkan penyerupaan, dan bila engkau berkata, “Saya tidak paham dari orang yang saya tiadakan itu kecuali hanyalah penyerupaan,” orang-orang yang meniadakan berkata kepadamu, “dan kami pun tidak paham dari apa yang kau tetapkan itu kecuali hanyalah penyerupaan,” maka apa yang kau jawab untuk orang-orang tersebut adalah apa yang menjadikan jawaban ahlussunnah untuk terhadap apa yang kau tiadakan.
Kesimpulannya, bahwa barangsiapa yang meniadakan sesuatu dan menetapkan sesuatu dari apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah atas penetapannya, maka tindakan itu saling bertolak belakang, yang tidak ada dalil syar’i dan tidak pula akal yang menetapkannya, bahkan menyimpang dari hal yang masuk logika maupun hal yang diriwayatkan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
