بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Sabtu – Barwa Village Doha
Barwa Village, 15 Rabi’ul Akhir 1448 / 26 September 2026
Bersama Ustadz Syukron Khabiby, Lc M.Pd Hafidzahullah
E-book Hadits: Lihat di Sini

https://ia600902.us.archive.org/6/items/kumpulan-kajian-assunnah-qatar/Keutamaan%20Menghafal%20Al-Quran%20-%20Syukron%20Khabibiy_26092026.mp3?_=1

Kitab Al-Lu’lu wal Marjan – Muhammad Fu’ad Abdul Baqi
(Kumpulan hadits yang disepakati Bukhari Muslim)

Hadits ke-460: Keutamaan Penghafal Al-Qur’an

Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059)

Penjelasan dan Faedah Hadits 460:

Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang terkenal. Beliau termasuk orang yang masuk Islam pada masa awal.

Dikisahkan bahwa ketika berada di Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah, Abu Musa Al-Asy’ari mendengar tentang seorang Nabi yang dakwahnya mengajak manusia untuk menyambung silaturahmi. Pada waktu itu, di Yatsrib terdapat dua kelompok besar, yaitu Aus dan Khazraj, yang sering berperang dan saling bermusuhan, padahal mereka memiliki hubungan kekerabatan.

Abu Musa Al-Asy’ari tertarik dengan dakwah tersebut. Ia ingin mengetahui siapa Nabi yang mengajarkan manusia untuk menyambung hubungan dan meninggalkan permusuhan. Akhirnya ia mengutus saudaranya ke Makkah untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, karena dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, saudaranya tidak berhasil menemui beliau dengan sempurna.

Abu Musa kemudian datang sendiri menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia masuk Islam dan sangat bersemangat untuk mendakwahkan Islam. Namun, ia kemudian diberi tahu agar tidak menyampaikan dakwah secara terbuka di tempat tersebut karena saat itu belum waktunya. Ia diminta berdakwah kepada kaumnya sendiri.

Abu Musa tetap sangat bersemangat menyampaikan kebenaran. Akibatnya, ia mendapatkan perlakuan keras dari orang-orang Quraisy hingga dipukuli dan sempat pingsan. Setelah sadar dan ditolong, ia kembali menyampaikan dakwah dan kembali mendapatkan perlakuan yang sama. Dari kisah ini terdapat pelajaran penting bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan semangat menyampaikan kebenaran, tetapi juga membutuhkan fikih dakwah.

Pentingnya Fikih dalam Berdakwah

Kadang-kadang seseorang mengatakan, “Ini kebenaran dan harus disampaikan.” Memang benar, kebenaran harus disampaikan. Akan tetapi, cara, waktu, kondisi, dan dampak penyampaian juga perlu diperhatikan.

Jangan sampai seseorang menyampaikan kebenaran dengan cara yang justru menimbulkan mudarat yang lebih besar, sehingga orang yang hendak didakwahi malah semakin jauh dari kebenaran.

Hal ini sebagaimana kisah Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan kepadanya tentang hak Allah dan hak hamba. Di antaranya bahwa orang yang bertauhid akan mendapatkan surga.

Mu’adz kemudian bertanya apakah hal tersebut boleh disampaikan kepada para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya karena khawatir apabila mereka mendengar hal itu, mereka akan hanya mengandalkan tauhid dan meninggalkan amal.

Maka, dalam berdakwah kita perlu memahami fikih dakwah.

Terlebih pada zaman media sosial. Jangan sampai seseorang merasa bahwa yang penting adalah menyampaikan kebenaran, tanpa memperhatikan dampak dari cara penyampaiannya.

Terutama ketika berdakwah kepada keluarga dan kerabat. Jangan sampai sebelum dakwah kita sampai, mereka sudah menjauh terlebih dahulu karena melihat cara kita yang keras.

Berdakwah hendaknya dilakukan dengan:

  • cara yang santun;
  • memberikan teladan yang baik;
  • menunjukkan akhlak yang baik;
  • memberikan bantuan dan perhatian;
  • memahami kondisi orang yang didakwahi;
  • serta tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan sesuatu yang justru dapat menimbulkan mudarat.

Tidak perlu selalu berdebat dengan keluarga. Sampaikan kebenaran dengan baik dan jangan mudah sakit hati ketika mereka belum menerima apa yang kita sampaikan.

Kita berdakwah karena menginginkan kebaikan bagi mereka. Karena itu, kita perlu lapang dada.

Semangat Berdakwah Harus Disertai Hikmah

Abu Musa Al-Asy’ari akhirnya memahami bahwa larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut memiliki hikmah. Jika dakwah dilakukan pada kondisi yang tidak tepat, mudaratnya bisa lebih besar. Setelah pulang, Abu Musa mempersiapkan diri untuk mendakwahi saudara-saudaranya. Ia kemudian mengajak banyak orang untuk mengikuti dakwahnya.

Dari sini kita memahami bahwa apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam harus kita perhatikan. Jangan melanggar larangan beliau. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tahu bahwa sesuatu harus dilakukan dengan cara tertentu, maka kita mengikuti petunjuk beliau.

Semangat untuk menyampaikan kebenaran memang baik. Akan tetapi, orang yang baru mengenal kebenaran terkadang sangat bersemangat sehingga kurang mempertimbangkan dampaknya. Misalnya, seseorang baru belajar tauhid kemudian memahami larangan terhadap berbagai bentuk kesyirikan. Ia lalu bersemangat mengubah keadaan dengan cara yang keras, tanpa memahami kondisi masyarakat dan aturan dakwah.

Semangat seperti itu harus diarahkan dengan ilmu dan hikmah.

Pelajaran dari Perumpamaan Utrujjah

Kembali kepada hadis Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah. Aromanya harum dan rasanya enak.”

Orang yang beriman sudah memiliki keutamaan yang besar. Ia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hari akhir, Al-Qur’an, para nabi, para malaikat, serta qadha dan qadar.

Kemudian keimanannya disertai dengan membaca Al-Qur’an. Ia diumpamakan seperti buah utrujjah: harum dan rasanya enak.

Ini menunjukkan bahwa orang mukmin yang membaca Al-Qur’an hendaknya baik lahir maupun batinnya.

Membaca Al-Qur’an bukan hanya aktivitas lisan. Al-Qur’an seharusnya juga memperbaiki hati dan akhlak.

Jika seseorang hanya membaca Al-Qur’an tetapi tidak berusaha memperbaiki hatinya, maka ia belum mendapatkan buah Al-Qur’an sebagaimana yang seharusnya.

Orang yang membaca Al-Qur’an hendaknya menjadi pribadi yang:

  • baik akhlaknya;
  • bersih hatinya;
  • baik tutur katanya;
  • menjauhi ghibah;
  • tidak suka mencela;
  • tidak suka menghina;
  • dan berusaha mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang banyak membaca atau menghafal Al-Qur’an tetapi masih suka mencela dan melakukan ghibah perlu memperbaiki dirinya. Ghibah pada zaman sekarang tidak harus dilakukan dengan bertemu langsung. Ghibah juga bisa dilakukan melalui pesan WhatsApp atau media lainnya.

Karena itu, manfaat Al-Qur’an seharusnya tampak pada lahir dan batin seseorang. Inilah gambaran buah utrujjah: baik aromanya dan baik pula rasanya.

Mukmin yang Tidak Membaca Al-Qur’an

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma.

Kurma tidak memiliki aroma, tetapi rasanya manis.

Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tetap memiliki kebaikan dalam dirinya karena adanya iman. Namun, masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki.

Seseorang bisa saja memiliki akidah dan tauhid yang baik, tetapi akhlaknya masih kurang. Karena itu, kita harus terus berusaha memperbaiki diri.

Jangan pula kita mudah mencela orang yang sudah belajar tauhid atau memiliki akidah yang benar hanya karena masih terdapat kekurangan dalam akhlaknya. Manusia tidak ada yang sempurna.

Jika kita melihat saudara kita masih memiliki kekurangan, hendaknya kita mendoakannya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki akhlaknya dan memberikan petunjuk kepadanya. Jangan menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan olok-olokan atau membuat status untuk menyindirnya. Hal semacam itu justru dapat menjadi bahan bagi orang yang tidak suka kepada dakwah untuk mengatakan, “Orang yang rajin mengaji saja akhlaknya seperti itu.”

Padahal, kebaikan dalam satu sisi tidak berarti seseorang telah sempurna dalam semua sisi. Kita tetap harus berusaha memperbaiki akhlak tanpa meninggalkan keimanan dan akidah yang benar.

Jangan Menjadikan Kekurangan sebagai Alasan Meninggalkan Dakwah

Jangan sampai seseorang mengatakan, “Lebih baik tidak usah mengaji, karena orang yang mengaji saja masih memiliki kesalahan.” Ini adalah cara berpikir yang keliru.

Orang yang bertauhid dan mengetahui kesalahannya masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, kita tidak boleh menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk meninggalkan kebaikan.

Cukuplah kita beriman kepada Allah, menjadi ahli tauhid dan memiliki akidah yang benar, kemudian terus berusaha memperbaiki kekurangan yang ada. Adapun kekurangan seseorang antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perumpamaan Raihanah: Membaca Al-Qur’an tetapi Tidak Memperbaiki Hati

Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti buah raihanah.

Raihanah memiliki aroma yang harum, tetapi rasanya pahit.

Ini menggambarkan seseorang yang secara lahir tampak baik, pandai membaca Al-Qur’an, bahkan memiliki kemampuan menyampaikan dalil dan berbicara dengan baik, tetapi batinnya tidak baik. Seseorang bisa saja memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus dan memiliki kemampuan retorika yang luar biasa. Namun, apabila hatinya tidak diperbaiki, maka yang tampak hanya keindahan lahiriah.

Termasuk seorang dai atau ustaz yang membawa Al-Qur’an dalam dakwahnya. Kemampuan berbicara, menghafal ayat dan hadis, serta menyampaikan dalil merupakan nikmat yang besar. Akan tetapi, semuanya harus disertai dengan keikhlasan.

Ada hadis yang menjelaskan tentang tiga golongan yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat, salah satunya adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya agar dikatakan sebagai orang alim atau pandai. Ini menunjukkan pentingnya menjaga niat.

Bukan berarti karena takut riya kemudian seseorang berhenti membaca Al-Qur’an atau berhenti berdakwah. Justru seseorang harus tetap beramal sambil terus memperbaiki hatinya.

Terus Beramal dan Perbaiki Niat

Jangan sampai seseorang tertipu oleh setan dengan mengatakan, “Tidak usah beramal karena nanti bisa riya.” Tidak demikian. Kita tetap beramal dan terus memperbaiki niat.

Para ulama terdahulu juga senantiasa berusaha memperbarui niat mereka. Di antaranya Imam Al-Bukhari, Imam An-Nawawi, Asy-Syaukani, Al-Mawardi, Ibnu Katsir, dan para ulama lainnya.

Mereka tetap berkarya dan menyampaikan ilmu, tetapi hati mereka terus dijaga agar tidak terjatuh dalam kesombongan dan riya. Semakin seseorang berada di depan dan semakin banyak orang mendengarkan perkataannya, semakin besar pula ujian terhadap hatinya. Karena itu, seseorang harus terus belajar menjadi lebih ikhlas dan berusaha memperbaiki hati. Jangan sampai pembahasan tentang bahaya riya justru membuat kita takut belajar Al-Qur’an atau takut berdakwah.

Ada orang yang berkata, “Lebih baik menjadi orang biasa saja. Kalau menjadi ustaz nanti takut masuk neraka karena riya.” Ini adalah pemahaman yang keliru. Sikap seperti itu justru dapat menjadi tipu daya setan agar manusia meninggalkan amal.

Yang benar adalah tetap beramal, tetap belajar Al-Qur’an, tetap berdakwah, tetapi selalu memperbaiki niat dan memohon kepada Allah agar amal tersebut diterima.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal kita dan menyelamatkan kita dari sifat nifak.

Sifat nifak bisa menimpa siapa saja. Bahkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu apakah dirinya termasuk orang-orang munafik. Kalau seorang sahabat yang mulia saja memiliki rasa takut terhadap nifak, maka kita lebih pantas untuk takut dan selalu memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perumpamaan Hanzhalah

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah.”

Hanzhalah tidak memiliki aroma yang harum dan rasanya pahit. Perumpamaan ini menggambarkan kondisi yang buruk, baik dari sisi lahir maupun batin.

Adapun seseorang yang beriman tetapi masih memiliki banyak kemaksiatan, kita tidak boleh mudah mencelanya. Bisa jadi ia sedang berjuang melawan dirinya sendiri. Kita semua memiliki kekurangan dan berpotensi melakukan kemaksiatan.

Terlebih pada zaman sekarang, berbagai pintu kemaksiatan sangat mudah ditemukan. Bahkan terkadang sesuatu yang seharusnya kita hindari sudah dianggap biasa karena terlalu sering melihatnya. Misalnya, ketika melihat aurat yang terbuka lalu kita menganggapnya biasa. Ini perlu kita waspadai, karena bisa jadi hati kita telah terbiasa dengan kemaksiatan.

Demikian pula berbagai hal yang di dalam agama memiliki hukum tertentu, tetapi karena terlalu sering dilihat dan dilakukan oleh masyarakat, akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Kita perlu tetap mengetahui bahwa kemaksiatan adalah kemaksiatan dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi keteguhan iman serta keistiqamahan hingga akhir hayat.

Al-Qur’an Harus Mengubah Diri Kita

Kesimpulannya, ketika kita membaca Al-Qur’an dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Al-Qur’an harus mampu mengubah diri kita.

Orang yang membaca Al-Qur’an hendaknya menjadi seperti utrujjah: baik lahirnya dan baik pula batinnya.

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.

Maka, apabila kita ingin menjadi seperti buah utrujjah yang harum dan manis, bukan hanya membaca Al-Qur’an yang harus kita lakukan. Kita juga harus membiarkan Al-Qur’an memengaruhi dan memperbaiki diri kita sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Hadits ke-461: Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an

Selanjutnya kita masuk kepada hadis berikutnya yang masih berkaitan dengan keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an.

حَدِيْثُ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : مَثَلُ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَ هُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ  وَ مَثَلُ الَّذِيْ يَقْرَأُ وَ هُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَ هُوَ عَلَيْهِ شَدِيْدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ. (رواه البخاري و مسلم).

Hadits Aisyah Radhiyallohu’anha dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur`an dan dia menghafalnya, maka dia akan bersama para malaikat yang mulia dan perumpamaan orang yang membiasakan membaca Al-Qur`an tetapi dia kesusahan, maka dia akan mendapatkan dua pahala.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan dan Faedah Hadits 461:

Orang yang membaca Al-Qur’an dan menghafalnya akan bersama para malaikat yang mulia.

Kita bisa mengingat kembali pembahasan sebelumnya tentang Usaid bin Hudhair. Ketika beliau membaca Al-Qur’an, terjadi peristiwa yang menunjukkan turunnya malaikat.

Ketika Al-Qur’an dibaca, malaikat turun dan mendekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menjelaskan bahwa jika seseorang terus membaca Al-Qur’an sampai pagi, niscaya manusia dapat melihat malaikat.

Hal ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sesuatu yang suci dan disenangi oleh makhluk-makhluk yang suci, yaitu para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menghafal Al-Qur’an Membutuhkan Kesungguhan

Orang yang senang membaca Al-Qur’an dan terus mengulanginya akan semakin mahir dalam membaca. Al-Qur’an dimudahkan untuk dipelajari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran.”

Karena itu, jangan merasa bahwa menghafal Al-Qur’an adalah sesuatu yang mustahil. Jika kita sering membaca, mengulang, dan memurajaah Al-Qur’an, insya Allah kemampuan kita akan semakin baik.

Orang yang membaca Al-Qur’an dengan lancar hingga mampu menghafalkannya mendapatkan keutamaan besar. Ia bersama para malaikat yang mulia. Maka, bagi siapa saja yang pernah menghafal Al-Qur’an, baik satu juz, dua juz, tiga juz, maupun lebih, hendaknya hafalannya terus dimurajaah.

Jangan sampai hafalan hanya pernah dimiliki, tetapi kemudian ditinggalkan. Memurajaah Al-Qur’an bukan hanya memiliki manfaat untuk akhirat. Manfaatnya juga dapat dirasakan dalam kehidupan dunia, karena Al-Qur’an membentuk hati, akhlak, dan kehidupan seseorang.

Penutup

Maka, marilah kita terus bersemangat membaca dan menghafal Al-Qur’an. Jangan berhenti hanya karena takut riya. Jangan pula merasa bahwa diri kita belum sempurna sehingga tidak pantas membaca atau menghafal Al-Qur’an. Kita tetap beramal sambil terus memperbaiki hati.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang membaca Al-Qur’an, menghafalnya, memahami kandungannya, mengamalkannya, serta memiliki akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an.

Semoga Allah menjaga hati kita dari riya, nifak, kesombongan, dan berbagai penyakit hati, serta memberikan kepada kita keistiqamahan dalam membaca dan mengamalkan Al-Qur’an hingga akhir hayat.

Poster Ringkasan

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم