بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 𝕀𝕘𝕙𝕠𝕥𝕤𝕒𝕥𝕦𝕝 𝕃𝕒𝕙𝕗𝕒𝕟 𝕄𝕚𝕟 𝕄𝕒𝕤𝕙𝕠𝕪𝕚𝕕𝕚𝕤𝕪 𝕊𝕪𝕒𝕚𝕥𝕙𝕒𝕟
(Penolong Orang yang Terjepit – Dari Perangkap Syaitan)
Karya: Ibnul Qayyim al-Jauziyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
Pemateri: Ustadz Isnan Efendi, Lc. MA. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan: 7 Jumadil Akhir 1447 / 28 November 2025
TIPU DAYA SYAITAN TERHADAP DIRINYA
Tipu daya syetan terhadap dirinya sendiri adalah sebelum tipu dayanya terhadap ayah dan ibu kita (Adam dan Hawwa’). Bahkan tidak cukup dengan itu, anak keturunannya sendiri dan anak keturunan Adam, juga menjadi korban tipu dayanya, utamanya mereka yang setia dan mentaatinya dari golongan jin dan manusia.
Adapun tipu dayanya terhadap dirinya sendiri adalah bahwasanya Allah memerintahkan kepadanya agar bersujud kepada Adam AlaihisSalam, dan dengan mentaati perintah-Nya tersebut akan membawanya pada kebahagiaan dan kemenangannya. Tetapi ia dikuasai oleh hawa nafsunya yang jahil dan aniaya sehingga menganggap dengan bersujud kepada Adam akan merendahkan dan melumatkan dirinya, sebab ia harus bersujud kepada makhluk yang diciptakan dari tanah, padahal ia diciptakan dari api, sedangkan api -menurut anggapannya- lebih mulia daripada tanah.
Karena itu, makhluk yang diciptakan daripadanya akan lebih baik daripada yang diciptakan dari tanah. Dan ketundukan yang lebih mulia kepada yang lebih rendah daripadanya adalah berarti penghinaan dan pelumatan atas kedudukannya. Ketika bisikan tersebut merasuk ke dalam hatinya dan dibarengi pula dengan iri dan dengki kepada Adam, karena ia melihat Tuhannya memberikan berbagai keistimewaan dan kemuliaan untuknya: Diciptakan-Nya Adam dengan Tangan-Nya, kemudian Ia menghembuskan ruhNya ke dalamnya, lalu menyuruh para malaikat-Nya agar bersujud kepadanya, mengajarinya nama-nama segala sesuatu, dan dilebihkan-Nya Adam atas segenap malaikat serta ditempatkan-Nya di dalam surga. Menyaksikan berbagai hal itu, iri hati musuh Allah tersebut mencapai puncaknya. Lalu musuh Allah itu merasa heran bagaimana ia dijadikan dari tanah kering seperti tembikar. la pun berkata, “Ini adalah perkara besar, seandainya ia diberi kekuasaan atasku tentu aku akan mendurhakainya, dan seandainya aku diberi kekuasaan atasnya, niscaya aku akan menghancurkannya.”
- Dari keterangan Ibnul Qayyim di atas, perlu kita paham bahwa jiwa kita harus dikontrol agar tidak seperti Syaitan yang tidak bisa mengontrol dirinya. Apalagi faktor Syaitan juga mempengaruhi jiwa kita.
- Maka, perlu muhasabah terhadap diri kita masing-masing. Berusaha agar hati kita bersih dari segala penyakit seperti iri, hasad, ujub, sombong, dan lainya yang akan mempengaruhi jiwa kita.
Kemudian setelah sempurnanya penciptaan Adam Alaihis-Salam dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sesempurnasempurnanya dan seindah-indahnya, di samping sempurna pula keindahan batinnya dengan ilmu, kasih sayang dan kerendahan hati, dan Allah menciptakannya sendiri dengan Tangan-Nya, sehingga menjadi makhluk yang paling baik dan paling sempurna bentuknya; panjangnya enam puluh dhira’ (hasta), dan kepadanya dikenakan pakaian yang indah dan baik, penuh wibawa dan kecerdasan, maka melihat semua itu para malaikat benar-benar dipersaksikan makhluk yang tidak ada duanya dalam hal kebaikan dan keindahannya.
Karena itu, mereka semua bersujud kepadanya, atas perintah Tuhan mereka. Kemudian makhluk pendengki tersebut merobek pakaiannya dari belakangnya, dan dalam batinnya api dengki semakin membara, lalu ia pun menentang perintah yang jelas dengan sesuatu yang rasional -menurut anggapannya- sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang batil yang setia kepadanya, ia berkata,
أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raaf: 12).
Syetan tersebut membangkang nash (perintah) yang jelas melalui logika yang rusak dan buruk. Lebih dari itu, ia menentang Dzat Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana, padahal tak suatu akal pun yang mampu mencari jalan untuk menentang-Nya, ia berkata,
أَرَءَيْتَكَ هَٰذَا ٱلَّذِى كَرَّمْتَ عَلَىَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلًا
“Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai Hari Kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (Al-Israa’: 62).
Makna ayat di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: “Jelaskan kepadaku, kenapa Engkau lebih memuliakan manusia daripadaku?” Dan ujung dari penentangan ini adalah bahwa apa yang Engkau lakukan itu tidak benar dan tidak bijaksana. Yang bijaksana adalah hendaknya sujud itu diberikan untukku, sebab yang lebih rendah harus tunduk kepada yang lebih utama, kenapa Engkau menyelisihi kebijaksanaan? Lalu, ia bahkan pengutamaan dirinya, dan membelakangkan Adam seraya berkata, “Saya lebih baik daripadanya.”
Lalu ia menegaskan dengan dalilnya yang lemah tentang keutamaan materi dan asal dirinya daripada materi dan asal Adam. Premis (mukadimah) tersebut kemudian menghasilkan kesimpulan baginya untuk menolak bersujud kepada Adam serta melakukan maksiat kepadaTuhan yang semestinya disembah. Maka syetan tersebut menghimpun antara kebodohan dan kezaliman, kesombongan dan hasad serta maksiat, juga menentang nash dengan pendapat dan akal. Maka ia menghinakan dirinya sehina-hinanya padahal maksudnya adalah ingin mengagungkan dirinya, ia merendahkan dirinya padahal ia ingin meninggikannya, ia menistakan dirinya padahal ia ingin memuliakannya, ia menyakiti dirinya padahal ia menginginkan kelezatan. Maka ia menjerumuskan dirinya, yang sesungguhnya kalau musuhnya yang paling besar berusaha untuk memberikan madharat baginya tentu tak akan mampu mencapai resiko sebesar yang diperolehnya sendiri. Jika demikian penipuan yang dilakukan terhadap dirinya, bagaimana mungkin seorang yang berakal mau mendengarkan, menerima dan setia kepadanya?
Allah befirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِۦٓ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِى وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۢ ۚ بِئْسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلًا
“Dan (ingatlah) ketika Kami befirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai Perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Al-Kahfi: 50).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
