بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: 𝕀𝕘𝕙𝕠𝕥𝕤𝕒𝕥𝕦𝕝 𝕃𝕒𝕙𝕗𝕒𝕟 𝕄𝕚𝕟 𝕄𝕒𝕤𝕙𝕠𝕪𝕚𝕕𝕚𝕤𝕪 𝕊𝕪𝕒𝕚𝕥𝕙𝕒𝕟
(Penolong Orang yang Terjepit – Dari Perangkap Syaitan)
Karya: Ibnul Qayyim al-Jauziyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
Pemateri: Ustadz Isnan Efendi, Lc. MA. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan: 27 Rajab 1447 / 16 Januari 2025



Fir’aun dan Kelompok mu’aththilah (yang menafikan sifat-sifat Tuhan)

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

>وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِۚ وَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذِيْٓ اَجَّلْتَ لَنَاۗ قَالَ النَّارُ مَثْوٰىكُمْ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ ۝١٢٨

“Dan (Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan jin, kamu telah sering kali (menyesatkan) manusia.” Kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan buat kami.” Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.” Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128).

Selanjutnya, penyakit ini (yang disebutkan dalam ayat di atas) menjalar ke berbagai umat, hingga pada kelompok-kelompok mu’aththilah (yang menafikan sifat-sifat Tuhan). Dan di antara imam kelompok mu’aththilah adalah Fir’aun. Ia lalu merealisasikan makna ta’thil dalam bentuk yang nyata. Ia mengumumkan dan menyeru kaumnya kepadanya. Dan ia mengingkari jika kaumnya memiliki tuhan selain dirinya. Ia juga mengingkari jika Allah berada di langit di atas Arasy-Nya, mengingkari jika Allah berbicara dengan Musa, salah seorang hamba-Nya, ia mendustakan Musa dalam hal tersebut. Lebih dari itu, ia meminta kepada menterinya, Haman agar membangun gedung tinggi untuk melongok -dalam anggapan mereka- kepada Tuhan Musa Alaihis-Salam, dan Fir’aun mendustakan hal itu.

Demikianlah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam fiiman-Nya,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبْنِ لِى صَرْحًا لَّعَلِّىٓ أَبْلُغُ ٱلْأَسْبَٰبَ. أَسْبَٰبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّى لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبًا ۚ

“Dan Fir’aun berkata, ‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” (Al-Mu’min: 36-37).

Lalu, orang-orang Jahmiyah mengikutinya. Mereka mendustakan jika Allah berbicara, atau berada di langit di atas Arasy-Nya jauh dari makhluk-Nya. Demikianlah, kaum Fir’aun dan kawan-kawan dekatnya mengikuti dirinya, sampai Allah membinasakan mereka dengan ditenggelamkan dalam lautan. Allah menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi hambahamba-Nya yang beriman dan sebagai ancaman bagi musuh-musuhNya yang menafikan sifat-sifat Tuhan.

Kemudian hal itu berlanjut sampai pada zaman kenabian Musa, Kalimur-Rahman (yang diajak bicara oleh Tuhan). Kepadanya, Allah menegaskan tentang tauhid dan penetapan sifat-sifat (kesempurnaan) bagi-Nya. Tetapi, setelah Musa Alaihis-Salam wafat, dan orang-orang masuk ke dalam negeri Bani Isra’il, dan mereka mengagungkan masalah ta’thil di antara Bani Isra’il, sehingga menjadikan Bani Isra’il menerima ilmu dari para ahli ta’thil, musuh-musuh Musa Alaihis-Salam, maka akibatnya adalah mereka mendahulukan masalah ta’thil tersebut daripada Kitab Taurat. Dari sinilah kemudian Allah memberikan kekuasaan kepada orang yang membinasakan kerajaan mereka, yang mengusir mereka dari tanah air mereka sendiri serta menawan anak-anak dan para wanita mereka.

Demikianlah, sebagaimana kebiasaan dan Sunnah Allah terhadap hamba-Nya jika berpaling dari wahyu dan menggantikan firmanNya dengan perkataan para atheis dan ahli ta’thil dari kalangan ahli filsafat dan lainnya. Demikian pula yang terjadi di maghrib saat munculnya ahli-ahli filsafat dan manthiq, serta mereka tenggelam di dalamnya. Ketika itu, Allah memberikan kekuasaan kepada orang-orang Kristen dan menjadikan penduduk pribumi (umat Islam) sebagai rakyat mereka.

Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri timur. Allah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan para tentara Tartar. Dan itu terjadi di banyak negeri-negeri timur saat mereka menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu filsafat. Demikian pula yang terjadi pada abad ketiga dan awal abad keempat, saat orang-orang Iraq tenggelam dalam ilmu-ilmu filsafat dan atheisme. Pada saat itu Allah menjadikan kekuasaan di tangan Al-Qaramithah Al-Bathiniyah. Mereka berkali-kali menghantam tentara khalifah, menghentikan perjalanan haji bahkan membunuh dan menawan mereka. Kemampuan mereka semakin menguat. Dan karenanya, banyak orang dari kalangan penguasa, menteri, penulis dan sastrawan yang dicurigai menyetujui mereka secara rahasia. Mereka pun akhirnya menguasai negeri-negeri maghrib. Kerajaan mereka berpusat di Mesir, dan pada zaman mereka itulah kemudian dibangun kota Kairo. Pada kelanjutannya, mereka juga menguasai negeri Syam, Hejaz, Yaman, dan Maghrib. Bahkan di Baghdad, kekuasaan mereka itu didukung hingga di atas mimbar Jum’at.

Maksudnya, saat penyakit ini masuk ke Bani Isra’il, maka itulah saat kehancuran dan hilangnya kerajaan mereka.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم