بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Ahad – Doha
Membahas: Mulakhas Fiqhi – Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah
Bersama Ustadz Hanafi Salihin Abu Arify, Lc, M.A Hafidzahullah
Pertemuan: Doha, 16 Syawal 1447 / 5 April 2026


https://ia600108.us.archive.org/1/items/kajian-mulakhas-fiqhi-bersama-ustadz-hanafi-abu-arify/Larangan-larangan%20ihram%20%231-%20Ustadz%20Hanafi.mp3?_=1

Larangan-larangan ihram #1

Larangan-larangan ihram adalah perkara-perkara yang haram yang wajib dijauhi oleh muhrim karena ihram, larangan-larangan ini ada Sembilan, dan akan dijelaskan di Bawah ini.

Pilihan Kafarat (Fidyah)

Pelanggaran larangan ihram dalam ibadah haji atau umrah mewajibkan pelakunya membayar denda atau dam berupa fidyah pilihan (takhyir)

Berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis (seperti kisah Ka’ab bin Ujrah), pelanggar diberi tiga pilihan bentuk denda yang dapat disesuaikan dengan kemampuan:

  • Menyembelih seekor kambing (dzabh).
  • Memberi makan 3 sha’ (sekitar 9 kilogram atau 2,25 kg dalam takaran lain tergantung rincian, atau 3 sha’ untuk 6 orang miskin, masing-masing setengah sha’ / 2 mud).
  • Berpuasa selama 3 hari.

Pelanggar bebas memilih salah satu dari tiga bentuk kafarat tersebut sesuai dengan yang paling ia sanggupi.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

“… Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepa-lanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban…” [Al-Baqarah/2: 196]

Dan hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah:

أَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ بِهِ وَهُوَ بِالْحُدَيْبِيَةِ، قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ، وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَهُوَ يُوْقِدُ تَحْتَ قِدْرٍ، وَالْقَمْلُ يَتَهَافَتُ عَلَىٰ وَجْهِهِ. فَقَالَ: أَيُؤْذِيْكَ هَوَامُّكَ هٰذِهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاحْلِقْ رَأْسَكَ، وَأَطْعِمْ فَرَقاً بَيْنَ سِتَّةِ مَسَاكِيْنَ، (وَالْفَرَقُ ثَلاَثَةُ آصُعٍ) أَوْ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ. أَوِ انْسُكْ نَسِيْكَةً.

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampir menemuinya di Hudaibiyah sebelum beliau memasuki kota Makkah. Ka’ab pada saat itu sedang berihram, ia menyalakan api di bawah panci sedangkan kutunya berjatuhan di wajahnya satu demi satu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, ‘Apakah kutu-kutu ini mengganggumu.‘Benar,’ jawab Ka’ab. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Cukurlah rambutmu lalu berilah makan sebanyak satu faraq untuk enam orang (satu faraq sama dengan tiga sha’) atau berpuasalah tiga hari atau sembelihlah seekor hewan kurban.’”

Muttafaq ‘alaih: Shahiih Muslim (II/861, no. 1201 (83)) ini adalah lafazh beliau, Shahiih al-Bukhari (IV/12, no. 1814), Sunan Abi Dawud (V/309, no. 1739), Sunan an-Nasa-i (V/194), Sunan at-Tirmidzi (II/214, no. 960), Sunan Ibni Majah (II/1028, no. 3079).

Jika kondisi tidak tahu, maka statusnya dimaafkan.

قال الشيخ ابن عثيمين : إذا فعل شيئاً من محظورات الإحرام ناسياً أو جاهلاً فلا شيء عليه ، ولكن يجب عليه بمجرد ما يزول العذر أن يتخلى عن ذلك المحظور والواجب تذكير الناسي ، وتعليم الجاهل .

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalau dia melakukan salah satu larangan ihram karena lupa atau tidak tahu, maka tidak terkena apa-apa. Akan tetapi dikalau uzurnya sudah tidak ada, maka dia harus meninggalkan larangan itu. Dan seharusnya mengingatkan orang yang lupa dan mengajarkan orang yang tidak tahu.

والقاعدة العامة في هذا أن جميع محظورات الإحرام إذا فعلها الإنسان ناسياً أو جاهلاً أو مكرها فلا شيء عليه لقوله تعالى : ( رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ) البقرة /286. فقال الله تعالى : قد فعلت . ولقوله تعالى : ( وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً) الأحزاب /5. ولقوله تعالى في خصوص الصيد ، هو من محظورات الإحرام : ( وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّداً ) المائدة /95. ولا فرق في ذلك بين أن يكون محظور الإحرام من اللباس ، والطيب ونحوهما ، أو من قتل الصيد وحلق شعر الرأس ونحوهما ، وإن كان بعض العلماء فرّق بين هذا وهذا ، ولكن الصحيح عدم التفريق ، لأن هذا من المحظور الذي يعذر فيه الإنسان بالجهل والنسيان والإكراه .

Kaidah secara umum dalam masalah ini adalah bahwa semua larangan ihram, kalau seseorang melakukannya karena lupa atau tidak tahu atau dipaksa, maka tidak terkena apa-apa. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ketika itu Allah berfirman, “Sungguh telah Aku lakukan (tidak menghukum orang yang lupa).

Juga berdasarkan firman-Nya,

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Juga firman Allah terkait masalah memburu hewan buruan yang termasuk salah satu larangan ihram,

“Dan barangsiapa di antara kamu yang membunuhnya secara sengaja.” (QS. Al-Maidah: 95)

Tidak ada perbedaan larangan ihram antara pakaian, wewangian dan semisalnya. Atau orang yang membunuh binatang buruan dan memotong rambut kepala dan semisalnya. Meskipun sebagian ulama membedakan antara yang satu dengan lainnya. Akan tetapi yang kuat tidak ada perbedaan. Karena ini termasuk larangan yang apabila dilakukan seseorang karena ketidaktahuan, lupa dan terpaksa, maka dia dimaafkan.

Sembilan larangan ihram yaitu:

Pertama: MEMOTONG RAMBUT.

Orang yang sedang ihram haram membuang apa yang ada pada tubuhnya tanpa alasan seperti mencukur, mencabut atau memotong, seperti rambut, janggut, bulu ketiak atau lainnya tanpa udzur syar’i, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

… وَلَا تَخْلِقُواْ رُءُ وسَكُمْ حَتَّى بَلّْغَ الْهَدىُ مَحِلَّهً.

” … Dan janganlah kamu mencukur rambutmu sebelum hewan hadyu itu sampai di tempat penyembelihannya … “ (QS. Al-Baqarah: 196)

Allah Ta’ala menyebutkan mencukur rambut, rambut di bagian tubuh lainnya sama dengan rambut kepala dengan kesepakatan, karena ia semakna dan jika ia dihilangkan maka hal itu termasuk bermewah-mewah, karena mencukur rambut mengisyratkan demikian, ia bertentangan dengan ihram, karena orang yang berihram sepatutnya berambut kusut dan berdebu.

Jika di matanya tumbuh rambut maka dia boleh membuangnya tanpa fidyah, karena rambut ini tumbuh bukan pada tempatnya, di samping itu bila dia membuangnya maka dia membuang sesuatu yang mengganggu.

Kedua: MEMOTONG KUKU ATAU MEMENDEKKANNYA DARI TANGAN MAUPUN KAKI TANPA ALASAN.

Jika kukunya patah lalu dia membuangnya atau kuku tersebut lepas mengikuti kulit maka tidak ada kewajiban fidyah atasnya, karena ia hilang mengikuti selainnya, yang mengikuti tidak diberi hukum sendiri.

Lain perkara jika dia mencukur rambutnya karena kutu atau karena pusing, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

” … Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban … “ (QS. Al-Baqarah: 196)

Berdasarkan hadits Ka’ab bin Ujrah berkata, “Di kepalaku ada sesuatu yang menggangguku, lalu aku dibawa kepada Rasulullah, sementara kutu berjatuhan dari kepalaku, maka beliau bersabda:

مَا كُنْتُ أُرَى الْجَهْدَ يَبْلُغُ بِكَ مَا أَرَى، تجَدُ شاةً؟ قُلتُ: لا، فنزلت ﴿ … فَفِديَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْنُسُكٍ … قَالَ: هُوَ صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامِ أَوْ إِطْعَامُ سِتَّةِ مَسَاكِیْنِ أَوْ ذَبْحُ شاةٍ.

“Aku tidak menyangka kesulitan yang menimpamu seberat itu, apakah kamu mempunyai seekor kambing?” Aku menjawab, “Tidak.” Maka turun firman Allah, “Maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban.” (QS. Al-Baqarah: 196) Nabi 323 bersabda, “Puasa tiga hari atau memberi makan enam orang miskin atau menyembelih seekor kambing.”

Muttafaqun ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1816) [IV:22], kitab al-Muhshar, bab 7 dan Muslim (no. 2883) [IV:360], kitab al-Hajj, bab. 10.

Hal itu karena gangguan terjadi bukan dari rambut, yaitu kutu.

Muhrim boleh membasuh rambutnya dengan bidara atau yang semisalnya. Dalam ash-Shahihain dari Nabi bahwa beliau membasuh kepalanya saat ihram, kemudian menggerakkan kepalanya dengan kedua tangannya, beliau menarik keduanya ke depan dan ke belakang.

Muttafaqun ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Ayyub al-Anshari no. 1840) [IV:72], kitab Jaza ash-Shaid, bab 14, dan Muslim (no. 1205, 2889) [IV:363], kitab al-Hajj, bab 13.

Syaikh Taqiyuddin berkata, “Muhrim boleh mandi junub tanpa perbedaan, -maksudnya jika dia mimpi basah- demikian juga untuk selain junub.”

Ketiga: MENUTUP KEPALA UNTUK LAKI-LAKI.

Karena Nabi melarang memakai surban dan burnus (jemper).

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim berkata: “Setiap yang menempel dengan pemakainya dengan maksud menutup kepala seperti surban, topi, peci dan sebagainya dilarang dengan kesepakatan.”

Sama saja apakah kain yang menutupi itu memang biasa dipakai di kepala seperti surban atau tidak biasa seperti kertas, tanah atau (daun ) hena atau slayer.

Muhrim boleh berteduh dengan tenda atau pohon atau rumah, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam, didirikan tenda untuknya kemudian beliau masuk kedalamnya sedang beliau dalam keadaan ihram.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir, dalam hadits yang panjang (no. 1218 (2950)) [IV:411], kitab al-Hajj, bab 19.

Muhrim juga boleh menggunakan payung saat ia diperlukan, boleh mengendarai mobil beratap, boleh membawa barang di atas kepalanya tanpa bermaksud menutupi kepalanya.

Keempat: LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MEMAKAI PAKAIAN BERJAHIT DI TUBUHNYA ATAU SEBAGIAN TUBUHNYA.

Seperti baju gamis atau surban atau celana dan apa yang dibuat seukuran anggota tubuh seperti khuffain (sepasang sepatu), sarung tangan dan kaos kaki, berdasarkan hadits dalam ash-Shahiihain bahwa Nabi ditanya tentang apa yang dipakai oleh muhrim? Beliau menjawab:

لَا يَلْبَسُ الْقَمِيْصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا الْبَرَانِسَ وَلَا السَّرَاوِيْلَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ وَرَسُّ وَلَا زَعْفَرَان وَلَا الْخُفَّيْنِ.

“Tidak memakai baju gamis, surban, burnus dan celana, tidak pula memakai kain yang tercelup waras dan za’faran, tidak juga memakai khuffain.”

  • Waras: Sejenis tumbuhan yang hidup dinegeri Arab, Ethiopia dan India. Buahnya berbentuk tanduk. Jika telah masak maka dia akan ditutupi oleh kelenjar merah yang biasa digunakan untuk mewarnai kain sutera. (Al-Mu’jam al-Wasith,(ورس : akar kata).
  • Muttafaqun ‘alaih, dari Ibnu ‘Umar. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1542) [III:505], kitab al-Hajj, bab 21, dan lafazh ini adalah berdasarkan riwayat beliau. Dan Muslim (no. 1177 (2791) [IV:313], kitab al-Hajj, bab 1.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam, melarang muhrim untuk memakai baju gamis, burnus, celana, khuf dan surban, beliau melarang para sahabat untuk menutupi kepala muhrim setelah dia meninggal, beliau memerintahkan agar orang yang berihram dengan jubah agar melepaskannya, apa pun yang termasuk ke dalam jenis ini maka ia adalah jembatan -dari sisi makna- kepada apa yang dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sesuatu yang semakna dengan gamis maka ia sama dengannya, dia tidak boleh memakai baju gamis dengan lengan atau tanpa lengan, baik dia memasukkan kedua tangannya atau tidak, baik ia bagus maupun sobek, demikian juga orang muhrim tidak memakai jubah atau baju abaya di mana dia memasukkan kedua tangannya ke dalamnya … “

Sampai perkataan beliau: “Ini adalah makna ucapan para fuqaha’, ‘Tidak memakai kain berjahit.’ Berjahit adalah pakaian seukuran anggota tubuh, tidak memakai apa yang semakna dengan celana seperti celana dalam dan lainnya.”

  • Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyab [XXVI:110-111].

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم