بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Ahad – Doha
Membahas: Tematik
Bersama Ustadz Hanafi Abu Arify, Lc 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Doha, 26 Rajab 1446 / 26 Januari 2025
Menemukan Hikmah dibalik Takdir Ilahi
Dunia merupakan tempatnya ujian dan sunnatullah yang pasti terjadi. Bahkan orang-orang terpilih seperti para Nabi ﷺ, semuanya diuji dengan berbagai musibah dan cobaan.
Ujian bermacam-macam seperti firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Ujian merupakan wasilah untuk membedakan antara orang-orang yang beriman dengan orang yang yang lalai. Maka, salah satu diantara ujian adalah pembeda orang yang beriman atau sekedar pengakuan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 2-3:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
3. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Dan sungguh Kami telah menguji umat-umat manusia sebelum mereka dan mengadakan cobaan pada mereka yang merupakan orang-orang yang Kami mengutus rasul-rasul Kami kepada mereka. Maka Allah benar-benar akan mengetahui kebenaran orang-orang yang benar dalam keimanan mereka dan kedustaan orang-orang yang mendustakan, untuk memisahkan yang satu dengan yang lain.
Beriman kepada Takdir Allah ﷻ
Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah. Karena rukun iman ada enam yang salah satunya beriman kepada Takdir Allah ﷻ.
Hal ini sesuai dengan hadits Jibril yang menjelaskan tentang rukun iman.
…Kemudian ia (Jibril) bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. (HR Muslim no. 8).
Kita meyakini segala sesuatu yang Allah ﷻ takdirkan pada seorang hamba, pasti mengandung hikmah. Banyak kejadian yang kita rasakan diluar kendali kita dan itu semuanya mengandung hikmah.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 2:
وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا
dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.
Kejadian apa saja yang terjadi di muka bumi ini telah diketahui dan telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan lagit dan bumi.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash).
Semua takdir baik ataupun buruk mengandung hikmah baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.
Imam Ahmad berkata kita beriman kepada takdir Allah ﷻ baik ataupun buruk, manis ataupun pahit.
Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu takdir merupakan ketentuan Allah ﷻ, maka barangsiapa mendustakan takdir sama dengan mendustakan Allah ﷻ. Maka, takdir merupakan bagian dari kebesaran Allah ﷻ yang tidak boleh kita nafikan.
Hikmah-hikmah di Balik takdir:
1. Musibah mengajarkan kita agar selalu bersabar
Setiap cobaan yang kita alami adalah kesempatan untuk mengasah sifat sabar dan tabah. Kesabaran dalam menghadapi musibah membawa kita pada pemahaman tentang diri sendiri dan tentang bagaimana cara menghadapinya dengan baik. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi)
Ketika kita bersabar dalam menghadapi ujian, kita tidak hanya mendapatkan pahala yang besar, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.
Kita diperintah untuk memberi kabar gembira, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.”
Oleh sebab itu, orang yang tertimpa musibah pada hartanya, kehilangan anaknya, kehilangan orang yang dicintai, seperti dalam firman Allah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)
Kesabaran tak terbatas karena Allah Ta’ala juga menyediakan pahala tanpa batas bagi siapa saja yang mau dan mampu bersabar.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
2. Setiap Musibah Menghapus Dosa-dosa
Ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman adalah sebagai penggugur dosa sekaligus sebagai ladang pahala baginya dengan syarat diterima dengan sabar.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
Hadits ini menunjukkan luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba hamba-Nya yang beriman dengan menjadikan ujian dan musibah itu sebagai penebus dosa dan penambah pahala.
Sekaligus nasihat bagi orang yang sedang mengalami musibah dan cobaan untuk merenungkan akan keutamaan dan kebaikan yang ada di balik musibah dan cobaan yang sedang dia hadapi agar tidak berkeluh kesah dan merasa sedih yang berlebihan.
3. Musibah memiliki peran penting dalam mendekatkan seorang hamba kepada Allah ﷻ
Terkadang manusia terlarut dalam kenikmatan dunia yang bersifat sementara, maka tatkala diberi musibah dia akan menjadi lebih fokus beribadah dan berdo’a.
Bisa jadi, musibah merupakan teguran agar tidak lalai dan segera kembali kepada Allah ﷻ dengan memperbanyak do’a dan istighfar, agar musibah yang menimpa diberikan kesabaran dan ketabahan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 12:
وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖٓ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَاۤىِٕمًا ۚفَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَآ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
12. Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.
Meyakini pertolongan Allah ﷻ akan datang
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Insyirah Ayat 5-6 :
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Inilah yang patut dipahami setiap insan beriman. Bahwa cobaan kadang dapat meninggikan derajat seorang muslim di sisi Allah dan tanda bahwa Allah semakin cinta kepada hamba-Nya. Dan semakin tinggi kualitas imannya, semakin berat pula ujiannya. Namun ujian terberat ini akan dibalas dengan pahala yang besar pula. Sehingga kewajiban kita adalah bersabar. Sabar ini merupakan tanda keimanan dan kesempurnaan tauhidnya.
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).
4. Musibah Mengangkat Derajat.
Diriwayatkan dari Muhammad ibn Khalid As-Salamiy dari bapaknya dari kakeknya yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (radhiyallahu ’anhu) berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditakdirkan padanya suatu tingkatan (di Surga -pent) yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di Surga -pent) yang telah Allah tetapkan untuknya.” (HR. Abu Daud, no. 2686 dengan sanad yang shahih)
5. Allah ﷻ selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya
Jika Allah belum Memberikan janganlah berputus asa, Tetaplah berbaik sangka pada apa yang menjadi ketetapan-Nya.
Allah ﷻ Berfirman:
وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Nasihat Khatimah
1. Bertakwalah dimanapun Berada
Wasiat terbaik adalah wasiat Allah dan RasulNya kepada umat ini. Yakni wasiat untuk bertakwa kepada Allah.
Seperti wasiat Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu kepada anaknya: bertakwalah kepada Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan menjagamu.
Wasiat takwa juga merupakan wasiat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Dimana Beliau mengatakan:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapuskan keburukan, dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Bahkan pakaian takwa inilah yang jadi bekal terbaik. Allah Ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Dengan takwa, Allah ta’ala telah berjanji :
فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ وَأَشۡهِدُواْ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)
Sebuah nasihat penyejuk hati yang mengingatkan kita akan negeri akhirat sekaligus menyadarkan kita akan fananya dunia ini pernah disampaikan oleh salah seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Dalam sebuah momen khutbah beliau berkata,
إِنَّ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ قَرَارِكُمْ، كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهَا الْفَنَاءَ، وَكَتَبَ اللَّهُ عَلَى أَهْلِهَا مِنْهَا الظَّعْنَ، فَكَمْ مِنْ عَامِرٍ مُوثَقٍ عَنْ قَلِيلٍ يَخْرَبُ، وَكَمْ مِنْ مُقِيمٍ مُغْتَبَطٍ عَمَّا قَلِيلٍ يَظْعَنُ، فَأَحْسِنُوا – رَحِمَكُمُ اللَّهُ – مِنْهَا الرِّحْلَةَ بِأَحْسَنِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ مِنَ النُّقْلَةِ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
“Sesungguhnya dunia bukanlah negeri kekal kalian. Allah Taala menetapkan kefanaan padanya dan Allah tetapkan kefanaan pula pada penghuninya. Betapa banyak tempat makmur yang dicatat oleh sejarah hancur dalam waktu sekejap. Betapa banyak orang yang tingggal dalam keadaan senang, tiba-tiba harus hilang dalam sekejap. Oleh karena itu -semoga Allah meramati kalian-, siapkanlah sarana terbaik untuk perjalanan ini, berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm: 516)
2. Istiqamah di Jalan-Nya
Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Hud, Ayat 112
فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ
Oleh karena itu, hendaklah engkau (wahai Muhammad) sentiasa tetap teguh di atas jalan yang lurus sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.
3. Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat
Di antara waktu-waktu yang kita miliki, ada waktu lapang, waktu senggang, atau waktu yang kosong dari kesibukan. Dan waktu luang ini merupakan kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti digunakan sebaik-baiknya sebagai tanda syukur kepada-Nya. Namun kenyataannya, kebanyakan dari kita lalai akan nikmat ini sehingga kita pun merugi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam sabdanya yang agung:
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi (terhalang dari mendapat kebaikan dan pahala) di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)
4. Pilihlah Teman yang baik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
Kita lihat kisah masyhur sejak zaman tabi’in, dengan tokohnya yang bernama ‘Imran bin Hiththan. Pada awalnya ‘Imran adalah seorang tokoh ahlus sunnah yang menikahi seorang wanita khawarij dengan maksud ingin mengembalikannya ke jalan yang benar. Namun yang terjadi selanjutnya justru ‘Imran yang terpengaruh dan malah menjadi pemuka kaum Khawarij.
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga kita dalam kebaikan dan istiqamah dimanapun kita berada.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
