PERKEMBANGAN ILMU FIQIH
DARI MASA KEMASA
(Diringkas dari Penjelasan Dr. Amir Bahjat dan
Kitab Shohih Fiqih Sunnah)
Disusun oleh:
Samsuril Wa’di, S.H., M.Pd., Ph.D.,
Kajian Rutin Senin Pagi di Masjid At-Tawheed
Al-Khor Community Qatar (2025/1447)
FIQIH
Objek
Sumber Ilmu
Keutamaan
Pengertian
Hukum
Mempelajari
Bahasa
Syariat
Istilah
Pemahaman
Ilmu tentang masalah-masalah
agama secara umum
Ilmu tentang hukum-hukum syariat far'iyah
(cabang) atau ilmu tentang hukum-hukum
syariat amaliyah (praktis) yang berkaitan
dengan perbuatan mukallaf
Keutamaan umum menuntut ilmu syari
Keutamaan khusus ilmu fiqih
Fardhu ‘Ain
Fardhu Kifayah
Perbuatan hamba dari segi keterkaitan hukum syariat
dengannya
Kembali kepada ilmu ushul fikih secara
rinci. Ilmu ushul menjelaskan bahwa ia
bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah dan ijma’
Samsuril Wadi
Imam Ibnul Jauzi
rahimahullah berkata:
"Dalil terbesar atas
keutamaan sesuatu
adalah melihat hasilnya,
dan barangsiapa yang
merenungkan hasil
fikih, ia akan
mengetahui bahwa ia
adalah ilmu yang paling
utama."
(Ibnul Jauzi, Saydul
Khatir, hlm. 100)
1
TAHAPAN-
TAHAPAN
FIQIH
Tahap Pertama: Masa Tasyri'
(Legislasi) (sampai 11 H)
Tahap Ketiga: Masa Mazhab
Fiqih (Kira kira sampai 1.300 H)
Tahap Kedua: Masa Fiqih
Sebelum Mazhab Fiqih (Kira
kira sampai 100 H)
Khusus pada masa kenabian.
Setelah wafatnya Nabi
Muhammad , tasyri'
terhenti.
Tahap sebelum mazhab-
mazhab ini meliputi masa
sahabat dan masa tabi'in
Tahap Keempat: Era Modern
(sejak 1.300 H sampai saat ini)
Metode pembagian para peneliti dan penulis buku terhadap sejarah fiqih bervariasi, itu terjadi karena
pembagian mereka terhadap tahapan-tahapan yang dilaluinya. Ada yang membagi fiqih pada masa kenabian,
fiqih pada masa sahabat, fiqih pada masa tabi'in, fiqih pada masa Abbasiyah, fiqih pada masa mazhab-mazhab,
dan seterusnya. Ada yang membaginya menjadi 6 tahapan bahkan ada yang lebih, Ada pula yang membaginya
menjadi 4 tahapan: masa kanak-kanak, masa muda, masa dewasa, dan masa tua. Ada juga yang membagi
menjadi masa stagnasi dan taklid, kemudian masa kebangkitan modern. Namun disini Dr. Amir bahjat merasa
yang lebih sesuai dan mudah diingat adalah pembagian 4 tahapan disertai penjelasannya.
2
Para ulama membahas tahapan fiqih,
dalam beberapa kitab, diantaranya:
Madkhal ila al-Fiqh al-Islami (Pengantar
Fiqih Islam), Madkhal ila asy-Syari'ah al-
Islamiyah (Pengantar Syariat Islam),
Tarikh al-Fiqh al-Islami (Sejarah Fiqih
Islam), maupun Tarikh at-Tasyri' (Sejarah
Legislasi), sebagian besar buku-buku ini
berputar pada satu poros yang sama.
Samsuril Wadi
TAHAP PERTAMA:
MASA TASYRI' (LEGISLASI)
(SAMPAI 11 H)
MASA
TASYRI'
(LEGISLASI)
Sejarah
Sumber-
Sumber
Tasyri'
Mulai sejak
diutusnya Nabi
Muhammad
dan berakhir
dengan wafatnya
beliau
As-Sunnah
Al-Qur'an
Karena suatu sebab
peristiwa tertentu
Tasyri' dalam arti menciptakan hukum syariat hanya khusus pada tahap ini.
Fase Mekkah
Fase Madinah
Secara ibtida' (permulaan)
Perhatian tasyri' ilahi terhadap ushuluddin tetap
berlanjut.
Tasyrihukum-hukum yang bersifat rinci.
Tadarruj (Bertahap) dalam Tasyri'
Karena Sebab pertanyaan
Ciri-Ciri
Penting
Minimnya Peluang Perbedaan
Pendapat Fiqih
Mendidik para sahabat dan
mengajarkan serta
membimbing mereka dalam
fiqih, fatwa, dan ijtihad.
Berfokus pada ushuluddin (pokok-pokok agama)
(berfokus bukan terbatas)
Sedikitnya tasyri' yang bersifat rinci.
Tadarruj dalam pensyariatan hukum
Tadarruj dalam pensyariatan satu hukum
3
Kitab Al-Fikr As-Sami fi
Tarikh Al-Fiqh Al-Islami
karya Al-Hajwi Ats-
Tsa'labi.
Adapun IJMA’ adalah
kesepakatan ulama suatu
zaman setelah Nabi
Muhammad atas
suatu hukum syariat.
Perkataan sahabat adalah hujjah (dalil). Ijtihad
para sahabat dan tabi'in setelah wafatnya Nabi
, tidak disebut tasyri', melainkan ijtihad.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa sahabat yang
berfatwa pada masa Nabi Muhammad berjumlah empat
belas orang, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali,
Abdurrahman bin Auf, Mu'adz bin Jabal, Ammar bin Yasir,
Hudzaifah, Zaid bin Tsabit, Ibnu Ad-Darda', Abu Musa,
Ubay bin Ka'ab, Ubadah bin Ash-Shamit, dan Ibnu Mas'ud.
Samsuril Wadi
TAHAP KEDUA:
MASA FIQIH SEBELUM
MAZHAB FIQIH
(KIRA KIRA SAMPAI 100 H)
MASA
FIQIH
SEBELUM
MAZHAB
FIQIH
Masa Sahabat
Sumber-Sumber
Fiqih Tahap Ini
Masa Tabi’in
Setelah wafatnya Nabi Muhammad , tasyri' terhenti, tetapi ijtihad, istinbath (pengambilan hukum), fatwa, dan
fiqih terus berlanjut. Para sahabat mengambil hukum dari Al-Qur'an dan As-Sunah, kemudian memberikan fatwa
kepada orang-orang. Sejumlah sahabat yang ahli fiqih muncul, tetapi mereka berbeda dalam banyaknya
riwayat fiqih dan fatwa yang dinukil dari mereka.
Kemudian muncul setelah itu sejumlah ahli fiqih dari kalangan Tabi’in yang belajar dari para sahabat, maka
terbentuklah tingkatan Sahabat dan Tabi’in dalam Fase Fiqih Sebelum Madzhab-Madzhab Fiqih.
Sumber yang Musnad
(dengan sanad)
Sumber yang Tidak
Musnad
Mushannaf Abdurrazzaq
Ash-Shan'ani
Mushannaf Ibnu Abi
Syaibah
Al-Ausath karya Ibnu Al-
Mundzir
Kitab-kitab fiqih muqaran
(fiqih Khilaf/ perbandingan
mazhab) secara umum.
4
Samsuril Wadi
Sahabat yang fatwa-nya banyak diriwayatkan berjumlah 130 orang, sebagaimana yang disebutkan
oleh Imam Ibnu Hazm dan dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam I'lam Al-Muwaqqi'in.
Fatwa-fatwa dari masing-masing
mereka dapat dikumpulkan dalam
satu bagian yang sangat kecil.
SAHABAT
YANG BANYAK
BERFATWA
Fatwa dari setiap mereka dapat
dikumpulkan menjadi satu jilid tebal.
Al-Mutawassithun
(Fatwa dalam jumlah sedang)
• Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu
• Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu
• Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu
• Aisyah binti Abi Bakar radhiyallahu anha
• Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu
• Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu
• Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu
13
• Abu Bakar radhiyallahu 'anhu (paling alim)
• Utsman radhiyallahu 'anhu
• Ummu Salamah radhiyallahu 'anha
• Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu
• Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu
• Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
• Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu
• Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu
• Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu
• Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu
• Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu
• Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu.
• Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu
• Al-Hasan radhiyallahu 'anhu
• Al-Husain radhiyallahu 'anhu
• Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu
• Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu
• Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha
• Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu
Tsauban radhiyallahu 'anhu
• Buraidah radhiyallahu 'anhu
• Dan lain-lain radhiyallahu ta'ala 'anhum.
Fatwa-fatwa mereka semua dapat
dikumpulkan dalam satu bagian
kecil, setelah meneliti dengan
menelaah.
Al-Muktsirun
(Yang Banyak Berfatwa) 7
Al-Muqillun
(Fatwa dalam jumlah sedikit) 110
5
Semua sahabat adalah ahli ijtihad bil-
quwwah (karena mereka menyaksikan
turunnya wahyu dan bahasa Arab
adalah bahasa mereka yang fasih),
bukan ijtihad bil-fi'l (secara aktual).
Adapun yang meriwayatkan fatwa dan
menjadi mufti atau qadhi (hakim), tidak
semua sahabat melakukannya.
Samsuril Wadi
MADRASAH
MADINAH
Abdullah
bin Abbas
MADRASAH FIKIH
MASA SHAHABAT
Zaid bin
Tsabit
MADRASAH
MAKKAH
MADRASAH
IRAK/KUFAH
Abdullah
bin Umar
Abdullah bin
Mas’ud
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah ta'ala berkata dalam I'lam Al-Muwaqqi'in: Fikih dan ilmu tersebar di
kalangan umat melalui murid-murid Ibnu Mas'ud, murid-murid Zaid bin Tsabit, murid-murid Abdullah
bin Umar, dan murid-murid Abdullah bin Abbas”.
Pendirinya
6
Imam Malik berkata:
"Imam orang-orang di
Madinah setelah Umar
adalah Zaid bin Tsabit,
dan imam orang-orang
setelahnya adalah
Abdullah bin Umar."
Umar radhiyallahu 'anhu pernah
mengutus Ibnu Mas'ud ke Irak, ke
Kufah, dan berkata kepada
penduduk Kufah: "Belajarlah
darinya. Demi Allah, aku telah
mengutamakan kalian dengannya
daripada diriku sendiri."
Samsuril Wadi
MADINAH
KUFAH
FIQIH PADA
MASA TABIIN
MAKKAH
BASHRAH
SYAM
YAMAN
Tujuh Fuqaha
(Al-Fuqaha As-
Sab'ah)
Alqamah (bin
Qais An-
Nakha'i)
Atha' (bin Abi
Rabah)
Al-Hasan (bin
Yasar Al-Bashri)
Makhul Asy-
Syami
Thowus Bin
Kaisan
Salim (bin
Abdullah bin
Umar
Ibrahim An-
Nakha'i
Thawus (bin
Kaisan)
Muhammad
bin Sirin
Nafi’
(maula/budak
Ibnu Umar)
Hammad (bin
Abi Sulaiman)
Mujahid (bin
Jabr)
Abu Qilabah
(Abdullah bin
Zaid Al-Jarmi)
Az-Zuhri
(Muhammad bin
Ubaidullah bin
Syihab Az-Zuhri)
Abu Hanifah
Ikrimah
(maula Ibnu
Abbas)
Qatadah (bin
Di'amah As-
Sadusi)
Ubaidullah (bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud)
Urwah (bin Az-Zubair)
Qasim (bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq)
Sa'id (bin Al-Musayyib)
Abu Bakar (bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam)
Sulaiman (bin Yasar)
Kharijah (bin Zaid bin Tsabit)
Masruq (bin
Al-Ajda')
Abidah (As-
Salmani)
Syuraih Al-
Qadhi
7
Samsuril Wadi
MADRASAH
MADINAH
Ibnu Abbas
MADRASAH FIKIH
MASA SHAHABAT
& TURUNANNYA
Ibnu Tsabit
MADRASAH
MAKKAH
MADRASAH
IRAK/KUFAH
Ibnu Umar Ibnu Mas’ud
Alqomah
Ibrahim
Hammad
Abu Hanifah
Muhammad bin Al-
Hasan Asy-Syaibani
Amr bin Dinar
Sufyan bin Uyainah
Nafi’
Salim
Az-Zuhri
Malik
Asy-Syafi’i
Ahmad bin Hambal Abu Yusuf
8
Samsuril Wadi
TAHAP KETIGA:
MASA MAZHAB FIQIH
(KIRA-KIRA SAMPAI 1.300 H)
MAZHAB-
MAZHAB
YANG TELAH
PUNAH
Mazhab Sufyan Ats-
Tsauri
Mazhab Imam Abu Amr
Abdurrahman bin Amr
Al-Auza’i di Syam
Mazhab Imam Hasan
Al-Bashri
Mazhab Abu
Muhammad Sufyan bin
Uyainah, berasal dari
Kufah, tinggal di Mekah
Mazhab Abu Tsaur
Mazhab Al-Laits bin
Sa’ad Al-Ashfahany,
tinggal di Mesir
Mazhab Ishak Bin
Rahawaih
Mazhab Ibnu Jarir
Ath-Thobari
(Maliki & Syafi'i mengklaim dia)
W110 H W161 H
W157 H W175 H
W198 H W228 H
W240 H W310 H
9
Bukan berarti bahwa
perkataan mereka tidak
ada lagi dalam kitab-kitab,
tetapi banyak tersebar.
Samsuril Wadi
4 IMAM
MADZHAB
Imam Malik
(Mazhab Maliky)
Imam Abu Hanifah
(Mazhab Hanafy)
Imam Asy-Syafi’I
(Mazhab Syafi’iy)
Imam Ahmad
(Mazhab Hambaly)
150 H80 H
150 H 204 H
179 H93 H
241 H164 H
10
1
3
2
4
Samsuril Wadi
Abu
Hanifah
Tahun
Ilmu &
Kecerdasan
Ibadah &
Ketakwaan
Nama &
Nasab
An-Nu'man bin Tsabit bin Zuta atau Zauta, Ada perbedaan pendapat;
sebagian mengatakan beliau orang Persia, sebagian mengatakan
beliau orang Arab.
Disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam As-Siyar, dikatakan dari dua jalur
bahwa Abu Hanifah membaca seluruh Al-Qur'an dalam satu rakaat.
Abu 'Ashim An-Nabil berkata: “Abu Hanifah dijuluki Al-Watad (pasak)
karena banyaknya shalatnya”.
Beliau lahir pada tahun 80 Hijriah, dan wafat pada tahun 150 Hijriah.
Beliau pernah melihat Anas bin Malik radhiyallohu anhu.
Dikatakan kepada Imam Malik, “Apakah Anda pernah melihat Abu
Hanifah?” Beliau menjawab: “Ya, aku melihat seorang pria yang jika dia
berbicara kepadamu tentang tiang ini untuk menjadikannya emas, dia
akan mampu membuktikan argumennya”.
Seorang pria berkata kepadanya: Bertakwalah kepada Allah!?” Beliau
gemetar, wajahnya pucat, menunduk dan berkata: Semoga Allah
membalasmu dengan kebaikan. Betapa butuhnya manusia setiap saat
kepada orang yang mengatakan hal seperti ini kepada mereka”.
Ibnu Mubarak berkata: “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata: Manusia dalam fikih adalah
tanggungan Abu Hanifah”.
11
Samsuril Wadi
Tahap Ketiga:
Stabilitas
Tahap Kedua:
Perluasan,
Pertumbuhan &
Penyebaran
(sampai 710 H)
Tahap Pertama:
Pembentukan &
Pengumpulan
(sampai 204 H)
Imam Abu Hanifah
Tahapan
Perkembangan
Mazhab Hanafi
& Ulama’nya
Abu Yusuf Al-Qadhi (113-183 H)
Muhammad bin Al-Hasan (W189 H)
Zufar bin Al-Hudzail (W 158 H)
Al-Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu’i (W204 H)
Kitab Al-Kharaj Al-Mabsuth (Al-Ashl)
Al-Jami' Ash-Shaghir
Al-Jami' Al-Kabir
Az-Ziyadat
As-Siyar Al-Kabir
As-Siyar Ash-Shaghir
Zhahir Ar-Riwayah
Ath-Thahawi
As-Sarakhsi
Al-Kasani
Al-Karkhi
Al-Quduri
Al-Marghinani
An-Nasafi
Ibnu Nujaym Al-Hanafi Al-Bahr Ar-Ra'iq Syarh Kanz Ad-Daqa'iq
Ibnu Abidin Radd Al-Muhtar 'ala Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh
Tanwir Al-Abshar (Hasyiyah Ibnu Abidin )
Berkembang
secara kolektif
Mukhtashar Ath-Thahawi
Al-Mabsuth
Bada'i' Ash-Shana’i’
Mukhtashar Al-Karkhi
Mukhtashar Al-Quduri (Al-Kitab)
Bidayat Al-Mubtadi
Kanz Ad-Daqa'iq
Ringkasan Mazhab Imam Abu Hanifah rahimahullah: Mazhab Imam Abu Hanifah rahimahullah adalah mazhab yang berkembang secara kolektif. Beliau memiliki
majelis di mana fikih diajarkan, dan di dalamnya terdapat diskusi dan perdebatan. Terkadang mereka membahas satu masalah selama sebulan hingga mencapai
kesimpulan dan kemudian ditulis dalam kitab-kitab Zhahir Ar-Riwayah. Di antara tokoh mazhab ini adalah Imam Abu Yusuf Al-Qadhi, yang menjabat sebagai hakim di
Kekhalifahan Abbasiyah, dan juga Imam Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani. Keduanya dikenal sebagai Ash-Shahiban. Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani
menyusun kitab-kitab dalam mazhab Imam Abu Hanifah, di antaranya Al-Ashl (yang dikenal sebagai Al-Mabsuth), dan lain-lain. Mazhab ini melewati beberapa tahapan;
Tahap pertama adalah tahap pembentukan, penulisan, dan pengumpulan. Kemudian, para ulama mulai menelaah pendapat-pendapat yang dikumpulkan oleh Muhammad
bin Al-Hasan Asy-Syaibani, dan mereka menyusun kitab-kitab ringkasan, mengoreksi riwayat, dan menentukan mana yang menjadi pegangan dalam mazhab dan mana
yang tidak. Kemudian datanglah tahap berikutnya, yaitu tahap stabilitas, yang berfokus pada penjelasan matan-matan yang telah disusun.
12
(Syarh dari Tuhfat Al-Fuqaha’
Abu Al-Laits As-Samarqandi)
Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah
Samsuril Wadi
Malik
bin
Anas
Tahun
Ilmu &
Kecerdasan
Ibadah &
Ketakwaan
Nama &
Nasab
Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashbahi. Terdapat perbedaan
pendapat mengenai nasab beliau setelah itu, namun disepakati bahwa
beliau berasal dari Qahthan. Beliau terkenal dengan Imam Darul Hijrah.
Saudari Imam Malik ditanya tentang kesibukannya di rumah, ia menjawab,
Kesibukannya adalah mushaf dan tilawah”.
Ibnu Wahb berkata: “Jika aku mau, aku bisa memenuhi papan-papanku dengan
perkataan Malik: 'Aku tidak tahu,' niscaya aku akan melakukannya.
Beliau lahir pada tahun 93 Hijriah, dan wafat pada tahun 179 Hijriah. Beliau
mengucapkan syahadat saat wafatnya, Kemudian beliau berkata: “Bagi Allah-
lah segala urusan, sebelum dan sesudah”.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Manusia benar-benar akan
mengendarai unta untuk mencari ilmu, lalu mereka tidak menemukan orang
yang lebih berilmu daripada ulama Madinah”. (HR. Tirmidzi). Sufyan bin
Uyainah mengatakan: bahwa itu adalah Malik”. Beliau berkata: “Tidak ada
yang seperti beliau di muka bumi ini”.
Ibnu Mahdi rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang
lebih disegani, lebih sempurna akalnya, dan lebih bertakwa daripada Malik”.
Beliau memenuhi syarat untuk berfatwa dan duduk untuk memberikan
manfaat pada usia 21 tahun. Namun, beliau tidak langsung berfatwa pada
usia 21 tahun begitu saja. Beliau berkata: “Aku tidak berfatwa kecuali setelah
70 orang alim yang berpengalaman bersaksi bahwa aku layak untuk itu”.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang beliau: “Jika para ulama
disebutkan, maka Malik adalah bintangnya”.
13
Samsuril Wadi
Tahap Ketiga:
Fase Stabilitas
Tahap Kedua:
Fase
Perkembangan
(sampai 616 H)
Tahap Pertama:
Fase
Perkembangan
(sampai 282 H)
Imam Malik
Tahapan
Perkembangan
Mazhab maliki
& Ulama’nya
Abdurrahman bin Al-Qasim (W191 H)
Asad bin Al-Furat
Sahnun
Muwattha'
Al-Mudawwanah
Imam Asyhab Al-Mishri (W204 H)
Ibnu Abi Zaid
Al-Qadhi Abdul Wahhab
Ibnu Abdil Barr
Al-Baji, Abu Al-Walid
Ibnu Rusyd (Al-Jadd)
Al-Qadhi Iyadh
Ibnu Al-Hajib Jami' Al-Ummahat
Al-Qarafi
Ar-Risalah
At-Talqin
Al-Kafi fi Fiqh Ahlil Madinah
Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatta'
Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat
Al-Mustanbiqah
Masail Sahnun
Ibnu Wahb (W199 H) Al-Jami’
At-Tamhid -khusus sisi hadits
Al-Istidkar -khusus sisi fikih
Ihkam Al-Fushul
Adz-Dzakhirah
Khalil Mukhtashar Khalil
Al-Haththab Mawahib Al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil
Ad-Dardir Asy-Syarh Al-Kabir 'ala Mukhtashar Khalil
Ad-Dasuqi Hasyiyah ala syarah Ad-Dardir
Al-Furuq
14
Samsuril Wadi
Asy-
Syafi’i
Tahun
Ilmu &
Kecerdasan
Ibadah &
Ketakwaan
Nama &
Nasab
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Nasabnya bertemu dengan Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada kakeknya Abdu Manaf.
Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi (murid Asy-Syafi’i) berkata: Beliau
mengkhatamkan Al-Qur'an di bulan Ramadan sebanyak 60 kali khatam”.
Al-Husain Al-Karabisi berkata: “Aku bermalam bersama Asy-Syafi’i, dan beliau
salat sekitar sepertiga malam. Aku tidak melihatnya menambah lebih dari 50
ayat, dan jika lebih, maka 100 ayat”.
Beliau lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriah. Beliau wafat pada tahun 204
Hijriah di Mesir. Beliau melakukan perjalanan Pertama ke Mekkah (Sufyan
bin Uyainah) lalu ke Madinah (Malik) dan Baghdad (Muhammad bin Al-Hasan)
Beliau menghafal Al-Qur'an pada usia 7 tahun dan menghafal Al-Muwattha'
pada usia 10 tahun. Gurunya di Mekah, Muslim bin Khalid Az-Zanji,
mengizinkannya untuk berfatwa pada usia 15 tahun.
Ar-Rabi' bin Sulaiman berkata: Asy-Syafi’i membagi malam menjadi tiga
bagian: sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk salat, dan sepertiga untuk
tidur”.
Sufyan bin Uyainah, guru Asy-Syafi’i, berkata: Asy-Syafi’i adalah orang
terbaik di zamannya”.
Imam Ahmad berkata: "Tidak ada seorang pun yang menyentuh tinta dan
pena kecuali Asy-Syafi’i memiliki kebaikan di lehernya“. Beliau juga berkata:
"Sesungguhnya Asy-Syafi’i seperti matahari bagi dunia dan seperti kesehatan
bagi manusia. Apakah ada yang bisa lepas dari keduanya?“.
15
Samsuril Wadi
Fase Awal
(Mazhab
Qadim/Lama)
Ketika beliau pindah ke Mesir,
beliau menyusun ulang
beberapa kitab tersebut. Karya-
karya, pandangan, dan ijtihad
yang beliau kemukakan di Mesir
FASE
MADZHAB
ASY-SYAFI’I
Ketika Imam Syafii pergi ke
Baghdad, beliau menyusun
kitab-kitab dalam fikih dan usul
fikih.
Fase Akhir
(Mazhab
Jadid/Baru)
Tidak diragukan lagi bahwa Mazhab Qadim dan Mazhab Jadid tidak berarti bahwa Imam Syafii menghapus
seluruh fikihnya di fase sebelumnya, lalu datang dengan fikih baru yang berbeda. Perbedaan ini hanya
terletak pada beberapa ijtihad dan beberapa masalah. Yang menjadi pegangan bagi mazhab Syafi’i adalah
Mazhab Jadid, yaitu yang beliau susun dalam kitabnya Ar-Risalah (yang juga disebut Ar-Risalah Al-Jadidah)
dan juga dalam kitabnya Al-Umm.
16
Samsuril Wadi
Tahap Ketiga: Fase
Pemurnian Mazhab
(At-Tahrir Al-Awwal)
Tahap Kedua:
Fase Perkembangan
dan Penyebaran
Tahap Pertama:
Fase Pendirian
(sampai 282 H)
Imam Asy-Syafi’i
Tahapan
Perkembangan
Mazhab
Asy-Syafi’i
& Ulama’nya
Al-Buwaiti
Ar-Rabi' bin Sulaiman Al-Muradi
Al-Muzani
Al-Umm
Al-Qaffal
Al-Isfarayini
Al-Mawardi
Al-Juwaini
Abu Ishaq Asy-Syirazi
Al-Ghazali
Ar-Rafi'i Al-Muharrar
An-Nawawi
Al-Qaffal Al-Marwazi (Ash-Shogir)
Thariqah Al-Iraqiyyin (Metode Ulama Irak)
Al-Hawi Al-Kabir
Nihayatul Mathlab
Al-Muhadzdzab
Al-Wajiz
Al-Mukhtashar
Thariqah Al-
Khurasaniyyin
(Metode Ulama
Khurasan)
Minhaj At-Thalibin
(Al-Minhaj)
Ar-Ramli Nihayatul Muhtaj Ila Syarhi Al-Minhaj
Ibnu Hajar Al-Haitami Tuhfatul Muhtaj Bisyarhi Al-Minhaj
Al- Mukhtasar
Beliau perawi kitab-kitab Syafii
Ibnu Suraij Al-Qaffal Asy-Syasyi (Al-Kabir)
Al-Wasith Al-Basith
Syarh Fath Al-Aziz -Syarh Al-Wajiz
Raudhat At-
Thalibin
Tahap Keempat:
Fase Pemurnian
Kedua Mazhab (At-
Tahrir Ats-Tsani)
17 Orang pertama penyusun kitab ilmu
usul fikih dengan nama Ar-Risalah
As-Subki, lalu
Al-Muthi’i
Al-MajmuSyarh
Al-Muhadzdzab
Al-Luma’ (Ushul Fiqh)
Samsuril Wadi
Ahmad
Tahun
Ilmu &
Kecerdasan
Ibadah &
Ketakwaan
Nama &
Nasab Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy-Syaibani
Abdullah putra Imam Ahmad berkata: Ayahku shalat setiap siang dan malam 300 rakaat.
Ketika beliau sakit karena luka-luka setelah dicambuk dan diseret, sakit itu
melemahkannya. Maka beliau shalat setiap siang dan malam 150 rakaat”.
Imam Ahmad berkata: “Aku tidak pernah menulis satu hadis pun kecuali aku telah
mengamalkannya. Sampai aku melewati hadits bahwa Nabi Muhammad
berbekam
dan memberi Abu Thayyib satu dinar, maka aku pun memberi tukang bekam satu dinar
ketika aku berbekam”.
Beliau lahir pada tahun 164 Hijriah dan wafat pada tahun 241 Hijriah. Ibnu Al-Jauzi
berkata: “Ahmad mengelilingi dunia dua kali untuk mengumpulkan Al-Musnad”.
Abdullah bin Ahmad berkata: “Abu Zur'ah berkata kepadaku, Ayahmu menghafal
beribu ribu hadits”. Lalu ditanyakan kepadanya, "Bagaimana engkau tahu?" Abu Zur'ah
menjawab, "Aku berdiskusi dengannya, lalu aku mengambil darinya semua bab hadits”.
Ar-Rabi' berkata: “Syafi’i berkata kepada kami, 'Ahmad adalah imam dalam delapan sifat:
Imam dalam hadits, Imam dalam fikih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al-Qur'an, Imam
dalam kefakiran, Imam dalam zuhud, Imam dalam wara' (kehati-hatian), Imam dalam
sunnah”.
Abdurrazzaq Ash-Shan'ani berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih
faqih dan lebih wara' daripada Ahmad bin Hanbal”.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku keluar dari Baghdad dan tidak meninggalkan
seorang pun di sana yang lebih utama, lebih berilmu, lebih faqih, dan lebih bertakwa
daripada Ahmad bin Hanbal”.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata: Wahai Abu Abdillah, jika hadis itu sahih menurut
kalian, beritahukanlah kepada kami agar kami kembali kepadanya. Kalian lebih
mengetahui tentang riwayat-riwayat yang sahih daripada kami”.
18
Samsuril Wadi