Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
"Tiada satu bencanapun yang menimpa di muka bumi dan tidak pula pada dirimu kecuali telah tertulis pada kitab sebelum kami menciptakannya. Sunggguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira dengan apa yang diberikan Allah padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri"(QS. Al-Hadiid: 22-23)
Ketika ada hal-hal yang luput, mengalami penderitaan, menghadapi kesulitan, kita tidak terlalu bersedih hati dan menjadikan kita bersangka buruk kepada Allah.
Ketiga, hendaknya kita bersyukur karena musibah yang menimpa kita tidaklah lebih besar dari yang menimpa orang lain. Begitu banyak orang yang mendapatkan musibah jauh lebih mengenaskan dari kita. Seberat apapun musibah dunia yang menimpa kita, yakinlah masih ada yang lebih berat dari kita. Tidak sedikit orang yang sebenarnya terkena musibah tapi dia tidak menyadarinya, ia tertimpa dalam agamanya. Yang mengherankan adalah tidak sedikit orang terjatuh pada musibah agama (musibah diniyah) dan ia sedikitpun tidak merasa sedih. Terjatuh pada perzinahan, makan riba, membunuh jiwa yang tidak halal, pergi kedukun atau tukang ramal dan membenarkannya adalah di antara musibah diniyah, bahkan yang terakhir bisa menggelincirkan pelakunya dari Islam.. Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan kita sebuah do’a agar kita tidak tergelincir dari musibah ini. Dalam do’anya beliau bersabda:"ya Allah jangan engkau jadikan musibah kami dalam agama kami "(HSR. Tirmidzi dan Hakim)
Keempat, hendaknya kita sedapat mungkin tidak berkeluh kesah, menggerutu atas musibah yang melanda kita. Sebab itu semua tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Berkeluh kesah juga menunjukkan seseorang tidak ridha dengan takdir Allah. Bagi mereka yang menjaga shalatnya, menjaga kehormatannya, menunaikan zakat, beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan berkeluh kesah.
Mengeluh kepada manusia juga tidak tidak memberi banyak manfaat karena bisa menodai kesabaran dan keridhaan. Para salafus shalih jika mereka ditimpa musibah sekecil apapun, ia langsung mengeluhkannya kepada Allah. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh kepada Allah karena tali sendalnya putus. Kalau musibah mereka tergolong berat, seperti kematian anak, orang tua, kerabat dan lain-lain mereka berusaha menyembunyikannya dan tidak mengabarkannya kecuali untuk urusan memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya.
Kelima, kita harus yakin bahwa apa yang menimpa jika kita sabar dan ridha, maka Allah pasti memberikan gantinya. Allah akan memberi kenikmatan, berkah, kelezatan, kebaikan yang berlipat ganda. Bahkan musibah yang melanda akan menghapuskan dosa-dosa dan akan menyucikan jiwa-jiwa kita. Allah ta’ala berfirman:" mereka itulah yang akan mendapatkan shalawat dari Tuhannya, rahmat dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk" (QS.al-Baqarah: 157).
Semoga kita menyikapi setiap bencana yang menimpa kita dengan baik dan benar. Sabar dan ridho serta selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, insya Allah kita akan mendapatkan kelezatan iman.
Sumber : Hikmah dibalik Musibah
(Risalah untuk orang-orang yang tertimpa musibah dan dirindung duka).
Oleh: Fariq bin Gazim Anuz
Penerbit: Darus Sunnah, Jakarta










