Sejak lahir manusia sudah keluar menangis. Ini
pertanda bahwa di dalam hidupnya dia harus menjawab segala macam ujian.
Tidak semua yang diharapkan pasti diprolehnya. Di dalam kehidupan ini
banyak hal-hal yang datangnya secara spontanitas. Tidak terduga
sebelumnya, terkadang kehilangan orang yang dihormati dan dicintai.
Terkadang kehilangan harta, keluarga, bahkan harus meninggalkan tanah
air. Tabiat kehidupan di dunia sama pula dengan tabiat manusia itu
sendiri yang serba penuh ujian dan kesedihan. Allah befirman di dalam
Al-Qur’an : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar”.(Al-Baqarah :155).
Kalau manusia pada umumnya pasti mendapatkan ujian, betapa pula orang mu’min yang pasti lebih besar pula dia untuk mendapatkan ujian. Sebab itu Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- menegaskan di dalam haditsnya :
Kalau manusia pada umumnya pasti mendapatkan ujian, betapa pula orang mu’min yang pasti lebih besar pula dia untuk mendapatkan ujian. Sebab itu Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- menegaskan di dalam haditsnya :
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ.
يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى قَدَرٍ دِيْنِهِ. فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ
صَلْبًا اشتَدَّ بَلاَءً. وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِِ رِقَّةٌ –يَعْنِي
ضَعْفٌ- ابْتَلِي عَلَى قَدَرٍ دِيْنِهِ. وَمَايَزَالُ البَلاَءُ يَنْزِلُ
بِالعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خِطِيْئَةٌ.
"Manusia
yang paling hebat cobaannya adalah para nabi. Kemudian yang paling
sepadan, dan seterusnya dan seterusnya. Seseorang dicoba sesuai kadar
agamanya. Jika agamanya kuat, hebatlah cobaannya. Jika dalam agamanya
lemah, dia dcoba sesuai ukuran agamanya. Cobaan selalu saja menimpa
seorang hamba, sehingga dia berjalan di atas bumi tanpa menanggung
sebuah dosapun."
Dari sinilah,
Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah, ketika orang-orang beriman
menderita dengan berbagai macam cobaan dan penyiksaan kaum kafir ketika
itu, maka diturunkanlah awal-awal surat Al-‘Ankabut yang berbunyi : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”. (QS. Al-‘Ankabut :2). Adakah di sana iman tanpa cobaan dan ujian?! .”
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,
maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS.
Al-‘Ankabut : 3). Begitulah di masa periode perjuangan Islam di Makkah.
Adapun di Madinah, setelah umat Islam tinggal di sana dan mereka
mengira selamat dari ujian dan cobaan, ternyata datang pula berbagai
macam ujian yang bertubi-tubi. Datanglah perang Uhud, datang pula ujian
perang Khandaq. Allah befirman : “Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat”.
(QS. Al-Ahzaab : 11) Maka turunlah ayat : “Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana
halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh
malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah
Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.(QS.
Al-Baqarah : 214). Mereka menunggu pertolongan Allah, dan merasa
terlambat datangnya sehingga bertanya-tanya : “Bilakah datangnya
pertolongan Allah?”. Akhirnya Allah menegaskan : “Ingatlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat!”.
Kalau kita memperhatikan kehidupan para nabi, maka yang dapat kita
ketahui adalah sarat dengan berbagai macam ujian dan cobaan yang
beruntun. Coba perhatikan kehidupan Nabiyullah Yusuf -Alaihissalam-. Di
dalamnya sarat dengan peristiwa-peristiwa berdarah yang bertubi-tubi.
Peristiwa demi peristiwa. Pertama kali saudara-saudara seayahnya
sepakat untuk membunuhnya. Kata mereka : “Bunuhlah Yusuf atau
buanglah dia ke suatu daerah supaya perhatian ayahmu tertumpah
kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang
baik".(QS. Yusuf :9). Di antara mereka yang paling mempunyai rasa kasih sayang berkata : "Janganlah
kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia
dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.".
(QS. Yusuf : 10). Lalu mereka melemparkan Yusuf ke dalam jurang itu
seperti halnya mereka melemparkan batu. Kemudian cobaan berikutnya Nabi
Allah yang mulia ini dijual seperti halnya mereka menjual kambing.
Allah berfirman : “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang
murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik
hatinya kepada Yusuf “. (QS. Yusuf : 20). Cobaan berikutnya Yusuf
menjadi pelayan, seperti halnya kaum sahaya. Cobaan berikutnya, Yusuf
dipenjara seperti halnya kaum penjahat, sehingga tinggal di penjara
beberapa tahun lamanya. Ada pula cobaan berat, yaitu ujian digodanya
isteri pembesar negeri itu. Begitulah rentetan ujian yang menimpa
Nabiyullah Yusuf –Alaihissalam-.
Coba lagi kita menengok ujian yang menimpa Nabiyullah Musa –Alaihissalam-. Sejak dilahirkan beliau sudah harus menjawab ujian. Pada waktu itu dia telah siap untuk disembelih oleh Fir’aun. Kemudian Allah ilhamkan kepada ibunya agar ia menjatuhkannya ke sungai. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul” (QS. Al-Qashash :7). Maka kehidupan Musa -Alaihissalam- penuh dengan hal-hal yang menyedihkan. Demikianlah kehidupan para nabi, sehingga orang mu’min tidak sepantasnya menunggu kehidupan yang selamat dari setiap kesedihan dan kesusahan. Hidup serba selamat dari kesedihan dan kesusahan bukan tabiat kehidupan dunia., melainkan tabiaat kehidupan di surga, sedang di dunia belum ada surga. Sebab itu, hendaklah orang mu’min bersabar menahan diri di dalam menerima segala beban hidup di dunia ini. Allah berfirman : “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Ali ‘Imran :186)
Ujian, susah dan sedih adalah aturan-aturan rabbani yang pasti terjadi kepada setiap orang. Dan setiap orang akan teruji sesuai ukuran imannya.
Kesedihan dan kesusahan akan menimpa manusia atas beberapa faktor. Baik internal ataupun eksternal. Paling berbahaya adalah factor internal, akibat penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh kemajuan dunia kapitalis barat, sehingga menimbulkan keresahan dan kesedihan mendalam bahkan putus asa yang terkadang membuat orang bunuh diri. Terbukti hal ini di Negara Swedia, sebuah negara barat yang terkenal paling sering terjadi orang bunuh diri, walaupun Negara tersebut adalah Negara paling mewah dan tingkat ekonominya paling tinggi. Bahkan di sana terkenal dengan jaminan kesejahteraan sosial bagi kaum lansia, tuna karya, kaum anak dan ibu. Namun demikian, masih saja bertindak dengan tindakan yang paling rendah, yaitu pergi dan bunuh diri apabila dirudung kesedihan, patah hati atau jatuh failid.Berbeda dengan kita umat Islam yang dilindungi oleh iman. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.
Manusia sedih berdasarkan tingkat berfikirnya. Susahnya orang kecil tidak seperti susahnya orang besar. Karena itu, kesedihan itu kembalinya kepada faktor-faktor tertentu. Kesedihan dapat menimpa kepada segala lapisan orang, baik dia orang biasa, orang lemah keperibadian atau orang kuat dan sehat. Tapi pada hakekatnya, ketika seseorang dihadapkan kepada ujian, pasti dia berfikir bagaimana cara menanggulanginya. Mampukan dia atau tidak. Biasanya, kalau tidak mampu dia menjadi resah dan sedih. Kesedihan inilah yang terkadang membuat dia terlempar jauh dari agama, serta tidak tahu bagaimana bertawakkal kepada Allah.
Coba lagi kita menengok ujian yang menimpa Nabiyullah Musa –Alaihissalam-. Sejak dilahirkan beliau sudah harus menjawab ujian. Pada waktu itu dia telah siap untuk disembelih oleh Fir’aun. Kemudian Allah ilhamkan kepada ibunya agar ia menjatuhkannya ke sungai. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul” (QS. Al-Qashash :7). Maka kehidupan Musa -Alaihissalam- penuh dengan hal-hal yang menyedihkan. Demikianlah kehidupan para nabi, sehingga orang mu’min tidak sepantasnya menunggu kehidupan yang selamat dari setiap kesedihan dan kesusahan. Hidup serba selamat dari kesedihan dan kesusahan bukan tabiat kehidupan dunia., melainkan tabiaat kehidupan di surga, sedang di dunia belum ada surga. Sebab itu, hendaklah orang mu’min bersabar menahan diri di dalam menerima segala beban hidup di dunia ini. Allah berfirman : “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Ali ‘Imran :186)
Ujian, susah dan sedih adalah aturan-aturan rabbani yang pasti terjadi kepada setiap orang. Dan setiap orang akan teruji sesuai ukuran imannya.
Kesedihan dan kesusahan akan menimpa manusia atas beberapa faktor. Baik internal ataupun eksternal. Paling berbahaya adalah factor internal, akibat penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh kemajuan dunia kapitalis barat, sehingga menimbulkan keresahan dan kesedihan mendalam bahkan putus asa yang terkadang membuat orang bunuh diri. Terbukti hal ini di Negara Swedia, sebuah negara barat yang terkenal paling sering terjadi orang bunuh diri, walaupun Negara tersebut adalah Negara paling mewah dan tingkat ekonominya paling tinggi. Bahkan di sana terkenal dengan jaminan kesejahteraan sosial bagi kaum lansia, tuna karya, kaum anak dan ibu. Namun demikian, masih saja bertindak dengan tindakan yang paling rendah, yaitu pergi dan bunuh diri apabila dirudung kesedihan, patah hati atau jatuh failid.Berbeda dengan kita umat Islam yang dilindungi oleh iman. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.
Manusia sedih berdasarkan tingkat berfikirnya. Susahnya orang kecil tidak seperti susahnya orang besar. Karena itu, kesedihan itu kembalinya kepada faktor-faktor tertentu. Kesedihan dapat menimpa kepada segala lapisan orang, baik dia orang biasa, orang lemah keperibadian atau orang kuat dan sehat. Tapi pada hakekatnya, ketika seseorang dihadapkan kepada ujian, pasti dia berfikir bagaimana cara menanggulanginya. Mampukan dia atau tidak. Biasanya, kalau tidak mampu dia menjadi resah dan sedih. Kesedihan inilah yang terkadang membuat dia terlempar jauh dari agama, serta tidak tahu bagaimana bertawakkal kepada Allah.
*Majalah Qiblati Vol I Edisi 1










