Shiroh Nabawiyah (19)

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tecurah atas Nabi pilihan, Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam.
Adapun selanjutnya:
Pada hari-hari ini umat Islam melewati kejadian besar yang berelevansi (berkaitan) dengan umat terdahulu yaitu hari Asyuro. Dengan senang hati dalam kesempatan singkat ini akan saya utarakan perkara-perkara yang saya pandangan penting, yang saya ambil dari sunnah Nabi Sholallohu'alaihi wasallam terkait hari Asyuro ini.
Kisah Nabi SHALIH AS Dan Pelajaran Yang Dapat Dipetik
Kaum Tsamud ialah kaum ‘Ad generasi kedua yang tinggal di daerah Al-Hijr dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka itu dikenal sebagai ahli dalam bidang peternakan dan pertanian. Mereka diberi sejumlah ni’mat, sehingga mereka dengan mudah membangun istana-istana yang megah serta pondokan-pondokan yang dibangun di atas gunung-gunung yang diukir dan dihiasi dengan berbagai hiasan yang indah.
Kemudian mereka menyalahgunakan dan mengkufuri ni’mat-ni’mat tersebut serta beribadah kepada tuhan selain Allah, dan Allah mengutus kepada mereka saudara mereka yaitu Nabi Shalih AS dari suku mereka, sehingga mereka pun mengetahui keturunannya, kemuliaannya, keutamaannya, kesempurnaannya, kejujurannya serta keamanahannya. Kemudian Nabi Shalih AS menyeru mereka supaya beribadah kepada Allah Ta’ala, ikhlas dalam menunaikan perintah agama-Nya, meninggalkan kebiasaan mereka beribadah kepada selain-Nya dan mengingatkan mereka dengan berbagai peristiwa yang telah terjadi pada umat-umat sebelum mereka, tetapi tidak ada yang mentaatinya, kecuali hanya sedikit.
Kisah Nabi Ya’qub AS Dan Putranya,Yusuf AS Serta Pelajaran Yang Dapat Dipetik (1-2)
Kisah ini termasuk salah satu kisah dari kisah-kisah yang sangat mengagumkan, yang dijelaskan oleh Allah secara keseluruhan (lengkap), dan Allah menjelaskannya tersendiri dalam suatu surat yang panjang dengan penjelasan yang rinci dan gamblang, yang dapat dibaca dari tafsirnya. Di dalamnya Allah SWT menjelaskan kisah Nabi Yusuf AS dari awal hingga akhir berikut sejumlan perubahan dan peristiwa yang terjadi yang menyertainya. Berkenaan dengan kisah tersebut, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7).
Dalam pembahasan ini, kami akan mengemukakan sejumlah faidah yang besar yang dapat diambil dari penjelasan kisah tersebut seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.
Kisah Nabi YA’QUB AS Dan Putranya,YUSUF AS Serta Pelajaran Yang Dapat Dipetik (2-2)
Faidah lainnya, bahwa Nabi Yusuf AS terkenal memiliki kesempurnaan lahir dan bathin. Kesempurnaan lahirnya bahwa ia memiliki rupa yang sangat tampan yang menyebabkan istri Al-Aziz mencintainya secara mendalam dan mendorongnya untuk menggodanya terus-menerus, dan ketika para wanita mencela dan mencemoohkannya, maka ia pun mengundang mereka, seperti tertera dalam firman Allah SWT, “…diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata, “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (Yusuf: 31)
Sedang kesempurnaan bathinnya yang dimaksud, bahwa ia memiliki sifat ‘iffah (pemeliharaan diri dari segala sesuatu yang tidak baik) yang besar, sehingga meski banyak sekali penyebab yang dapat menjerumuskannya ke dalam keburukan, tetapi karena cahaya keimanannya yang terang benderang dan keikhlasannya yang kuat, yang keduanya hanya bersatu dengan keutamaan dan tidak bersatu dengan kehinaan. Istri Al-Aziz menjelaskan kepada para wanita yang diundangnya tentang dua sifat yang ada pada Nabi Yusuf AS, dimana ketika ia melihat kesempurnaan lahirnya (ketampanannya) yang telah diketahui yang tidak ditemukan pada manusia lainnya, seraya berkata, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak.” (Yusuf: 32)
Nabi Ayub AS adalah salah seorang nabi dari nabi-nabi Bani Israil dan salah seorang manusia pilihan dari sejumlah manusia pilihan yang mulia. Allah telah menceritakan dalam kitab-Nya dan memujinya dengan berbagai sifat yang terpuji secara umum dan sifat sabar atas ujian secara khusus. Allah telah mengujinya dengan anaknya, keluarganya dan hartanya, kemudian dengan tubuhnya. Allah SWT telah mengujinya dengan ujian yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun, tetapi ia tetap sabar dalam menunaikan perintah Allah dan terus-menerus bertaubat kepada-Nya.
Setelah Nabi Ayub AS menderita penyakit kronis dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana sahabat dan familinya telah melupakannya, maka ia menyeru Rabbnya, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya’: 83). Dikatakan kepadanya, “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (Shad: 42). Nabi Ayub AS menghantamkan kakinya, maka memancarlah mata air yang dingin karena hantaman kakinya tersebut. Dikatakan kepadanya, “Minumlah darinya serta mandilah.” Nabi Ayub AS melakukannya, maka Allah Ta’ala menghilangkan penyakit yang menimpa bathinnya dan lahirnya.
KISAH NABI SYU'AIB AS [2-2] (Pelajaran Yang Dapat Dipetik)
Dalam kisah Nabi Syu’aib AS terdapat sejumlah faidah yang dapat diambil di antaranya:
Bahwa mengurangi takaran dan timbangan pada khususnya dan mengurangi segala sesuatu milik orang lain pada umumnya tergolong dosa besar yang mewajibkan siksaan di dunia dan di akhirat.
Faidah lainnya, bahwa kemaksiatan yang dilakukan orang yang tidak ada orang lain yang membujuknya serta tidak ada keperluan baginya untuk melakukannya tergolong dosa besar. Karena itulah; perzinahan yang dilakukan oleh seorang kakek niscaya lebih jelek daripada perzinahan yang dilakukan oleh seorang pemuda, kesombongan yang diperlihatkan orang fakir niscaya lebih jelek daripada kesombongan yang diperlihatkan orang kaya serta pencurian yang dilakukan orang yang tidak memerlukannya niscaya lebih jelek daripada pencurian yang dilakukan orang yang memerlukannya.*
KISAH NABI LUTH AS (1-2)
Kisah Nabi Luth AS mengiringi kisah Nabi Ibrahim AS, karena ia adalah muridnya, dimana ia telah belajar kepada Nabi Ibrahim AS dan kedudukannya bagi Nabi Ibrahim AS ialah sebagai anak (karena ia ialah putra saudara laki-lakinya).
Allah telah menceritakan kepadanya mengenai kehidupan Nabi Ibrahim AS dan mengutusnya ke negeri Sadum salah satu dataran rendah di Palestina, yang penduduknya telah musyrik kepada Allah dan kaum laki-lakinya homoseks; dan tidak ada seorang pun yang mendahului mereka dalam perbuatan keji dan kotor tersebut. Kemudian Nabi Luth AS menyeru mereka supaya beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya, dan mengingatkan mereka mengenai akibat buruk dari perbuatan keji tersebut, tetapi mereka tidak bertambah kecuali kesombongan dan tekun dalam perbuatan keji mereka tersebut.
KISAH NABI LUTH- [2-2] (Pelajaran Yang Dapat Dipetik)
Sebagai bukti terbesar yang menunjukan bahwa homoseks merupakan perbuatan yang sangat keji serta menjadi penyebab turunnya adzab yang menyakitkan. Orang yang terkena bencana dengan melakukan perbuatan keji itu yang dibarengi dengan hilangnya agama dari dirinya, niscaya ia telah menggantikan kebaikan dengan keburukan, sehingga ia akan memandang baik sesuatu yang buruk dan menjauhkan dirinya dari sesuatu yang baik. Hal itu menjadi bukti kerusakan akhlak.*
Dalam kisah Nabi Luth AS serta kisah Nabi Ibrahim AS terdapat ketentuan hukum yang membolehkan sindiran:
Adapun sindiran pada kisah Nabi Ibrahim AS terdapat dalam perkataannya, “Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.” (Ash-Shaffat: 88-89)
Seputar Perjanjian al-Hudaibiyah (Akhir Tahun 6 H)
“Kemudian Rasulullah menetap di Madinah selama bulan Ramadhan dan Syawal. Pada bulan Dzulqa’dah, beliau keluar dari Madinah untuk berumrah dan tidak menginginkan perang.*
“Rasulullah mengajak orang-orang Arab dan orang-orang Badui yang ada di sekitar beliau untuk pergi bersama beliau, karena khawatir orang-orang Quraisy memerangi atau melarang beliau mengunjungi Baitullah. Banyak sekali orang-orang Badui yang menolak ajakan beliau. Kendati begitu, beliau tetap berangkat bersama para sahabat dari kaum Muhajirin, para sahabat dari kaum Anshar, dan orang-orang Arab lainnya. Beliau membawa hewan sembelihan (onta)** dan berpakaian ihram untuk umrah agar manusia merasa aman dan mengetahui beliau keluar untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya”.
BAI'AT AR-RIDHWAN
Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku, “Ketika Rasulullah SAW., mendapat informasi bahwa Utsman bin Affan RA., dibunuh, beliau bersabda, ‘Kita tidak pulang hingga mengalahkan kaum tersebut’. Beliau mengajak kaum muslimin berbaiat, kemudian berlang-sunglah Baiat Ar-Ridhwan di bawah pohon. Kaum muslimin berkata, ‘Rasulullah membaiat kaum muslimin untuk mati’. Jabir bin Abdullah berkata, ‘Rasulullah membaiat kita tidak untuk mati, namun untuk tidak melarikan diri’.” “Rasulullah membaiat mereka semua.”*
Di antara kaum muslimin yang hadir di peristiwa Baiat Ar-Ridhwan namun tidak ikut barbaiat ialah Al-Jadd bin Qais saudara Bani Salamah. Jabir bin Abdullah berkata, ‘Demi Allah, sepertinya aku lihat Al-Jadd bin Qais merapat ke perut untanya dan bersembunyi di baliknya dari penglihatan manusia. Setelah itu, ia datang kepada Rasulullah dan menjelaskan kepada beliau bahwa informasi terbunuhnya Utsman bin Affan hanyalah berita bohong sema-ta’.”










