Sebagaimana hal ini dimisalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya. Akan tetapi di mana kita dari hal yang demikian itu ? Sementara permusuhan dan kebencian telah menyala-nyala di kalangan kaum muslimin sendiri dan hasad menjalar di tengah mereka dan kebaikan telah menipis. Hanya kepada Allahlah tempat mengadu.
UCAPAN SELAMAT DAN KETERANGAN SALAF TENTANGNYA
Tidak ada satu hadits pun dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mengucapkan selamat bagi keluarga yang kelahiran. Yang ada hanyalah atsar yang diriwayatkan dari tabi’in, di antaranya.
1. Dari Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah. Ada seseorang bertanya kepadanya tentang ucapan selamat tersebut ; “Bagaimana cara aku mengucapkannya ?” Kata Al-Hasan : Ucapkanlah.
“Ja’alahu Allahu mubaaraakan ‘alaika wa ‘alaa ummati muhammadin Shallallahu ‘alaihi wa sallam’.
“Artinya : Semoga Allah menjadikannya barakah atas kalian dan atas ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [1]
2. Dari Hammad bin Ziyad ia berkata : “Ayyub As-Sikhtiyani bila memberi ucapan selamat kepada seseorang yang kelahiran anak ia berkata :
“Semoga Allah menjadikannya barakah atas kalian dan atas ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [2]
Atsar semisal ini jauh lebih baik dibanding ucapan selamat yang banyak diamalkan manusia pada hari ini.
Namun bersamaan dengan itu kita tidak boleh melazimkan ucapan selamat ini (seperti tersebut dalam atsar di atas), berbeda bila ada satu hadits (yang shahih) yang menerangkan tentangnya. Dan kita tidak menjadikan ucapan tersebut seperti dzikir-dzikir yang tsabit dalam As-Sunnah (yakni kita tidak terus menerus mengamalkannya karena tidak ada satu hadits pun yang menyebutkan hal ini, -pent). Siapa yang mengucapkannya kadang-kadang maka tidak apa-apa dan siapa yang tidak mengucapkannya maka tidak ada masalah.
_______Foote Note
[1]. Hadits hasan. Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Kitab Ad-Du’a (2/1243) dengan sanad yang rijalnya (rawi-rawinya) tsiqah (orang kepercayaan) selain syaikhnya (gurunya) At-Thabrani yakni Yahya bin Utsman bin Shalih, kata Al-Hafidh tentangnya : “Ia shaduq, tertuduh tasyayyu’ (kesyiah-syiahan), dan sebagian ulama menganggapnya layyin (lemah) karena keadaannya yang meriwayatkan dari selain asalnya”.
Berkata Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wa At-Ta’dil (9/175) : “Aku menulis (hadits) darinya dan juga ayahku, dan mereka memperbincangkannnya”.
Dalam Al-Mizan, Ad-Dzahabi berkata : “Ia shaduq Insya Allah’.
Berkata Al-Mundziri dalam At-Targhib (2/17) : “Dia tsiqah dan padanya ada perbincangan”.
Kami katakan : orang yang semisal Yahya ini haditsnya tidak turun dari derajat Hasan.
[2]. Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Kitab Ad-Du’a (2/1244) dengan sanad yang lemah.
Namun atsar yang lemah ini mendukung atsar sebelumnya. Wallahu a’lam
[Hukum Khusus Seputar Anak dalam Sunnah yang Suci, oleh Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur'ah dan Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabahhal.23-26 Pustaka Al-Haura]










