Penjelasan:
“menghadap kepada manusia (yakni para Shahabat)”, yakni beliau menghadapkan wajahnya kepada para Shahabat apabila telah selesai sholat. Dan beliau tidak tetap duduk menghadap ke kiblat membelakangi makmum sebagaimana kebanyakan imam-imam sholat. Jelas perbuatan ini selain menyalahi sunnah juga disifatkan sebagai sombong. Karena imam itu mempunyai hak membelakangi makmum ketika dia sebagai imam sholat, maka apabila sholat jama’ah telah selesai, hendaklah dia menghadapkan wajahnya kepada makmum. Oleh karena itu, menurut sunnah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam apabila imam telah salam tanda selesai sholat, dia tidak duduk menghadap ke kiblat dengan membelakangi makmum kecuali sekedar membaca ustighfar 3x dan Allohumma antas salam 1x kemudian dia segera menghadapkan wajahnya dan badannya kepada makmum. Setelah itu boleh dia tetap duduk menghadap makmum untuk melanjutkan dzikirnya atau dua langsung berdiri pergi atau pindah. Dalilnya hadits di atas bersama hadits shohih yang lain (lihat masalah 11 hadits no.8 -Al Masa’il Jilid 1-red). Satu lagi kesalahan, yang saya maksud kesalahan di dalam memahami hadits-hadits di dalam bab ini. Yaitu, sebagian imam di antaranya ikhwan kita, apabila telah salam dia tidak membelakangi makmum dan tidak juga menghadap kepada makmum dengan sempurna. Akan tetapi dia duduk menyamping ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri menghadapkan pipinya kepada makmum!? (Insya ALLOH masalah 11 akan disarikan dalam blog ini -red).
“bertasyahud”, Tasyahud artinya mengucapkan dua kalimat syahadat yakni kepada ALLOH dan RosulNya.
4. Dari Abu Humaid As Saa’idiy, dia menceritakan, “Bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah berdiri (khotbah) diwaktu petang sesudah sholat (ashar). Lalu beliau bertasyahud dan menyanjung (memuji-muji) kepada ALLOH yang memang Dia-lah pemiliknya. Kemudian beliau berkata: amma ba’du…” (HR. Bukhari, shohih, juz 1 hal. 222).
Penjelasan:
“Dia-lah pemiliknya”, yakni ALLOH-lah yang berhak memiliki puji-pujian di dunia dan di akhirat. Bacalah keterangan Ibnu Katsir di muqoddimah tafsirnya dan Syanqitiy di tafsirnya Adhwaa-ul Bayan ketika menafsirkan ayat Alhamdulillah… surat Al Fatihah.
5. Dari Miswar bin Makhramah (lafadznya semakna dengan riwayat Aisyah dan Abu Humaid) (HR. Bukhari, shohih, juz 1 hal.222).
6. Dari Ibnu Abbas, dia menceritakan, “Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah naik ke atas mimbar, lalu beliau memuji ALLOH dan menyanjung-Nya kemudian beliau berkata: amma ba’du…” (HR. Bukhari, shohih, juz 1 hal. 223).
(Bersambung ke bagian 2)
Disarikan dari kitab Al Masa’il jilid 1, karya Al Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizahullohu. Penerbit Darul Qolam Jakarta dengan sedikit edit dari redaksi.










